Posts

Showing posts from July 9, 2008

ESSAY - WARTAWAN DAN "PAKET SIMPATIK" DARI ARTALYTA SURYANI

Image
Oleh Satrio Arismunandar
Rapat program Reportase Sore, hari Rabu (25 Juni 2008) pukul 17.45 WIB, akhirnya bukan menjadi rapat rutin biasa. Selaku Executive Producer yang ditugasi menangani program berita ini, saya waktu itu terpaksa memberi teguran keras kepada reporter Trans TV, yang meliput sidang pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Jakarta, dalam kasus Artalyta Suryani.
Artalyta dituduh memberi suap senilai sekitar Rp 6 miliar kepada jaksa, yang menangani penyelesaian kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Artalyta bahkan diduga juga sudah menyuap banyak pejabat Kejaksaan lain.
Dalam berbagai sidang pengadilan yang menghadirkan Artalyta, wanita itu selalu tampil rapi dan cantik. Bahkan, ia juga membagi-bagikan paket makanan untuk pengunjung persidangan, termasuk para wartawan yang meliput, sebagai bagian dari aksi mencari simpati.
Dalam sidang 25 Juni 2008, Artalyta kembali menebar kado untuk para pengunjung di Lantai 1 Pengadilan Tipikor, Jakarta. Dibantu anak peremp…

PENGANTAR KE PELIPUTAN INVESTIGATIF (INVESTIGATIVE REPORTING)

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Apakah yang dimaksud dengan pelaporan investigatif (investigative reporting)? Secara sederhana, peliputan investigatif adalah praktik jurnalisme, yang menggunakan metode investigasi dalam mencari informasi.
Karakter dari berita investigatif adalah: (1) merupakan produk kerja asli jurnalis bersangkutan, bukan hasil investigasi dari sebuah instansi pemerintah atau nonpemerintah; (2) mengandung informasi yang tidak akan terungkap tanpa usaha si jurnalis; dan (3) berkaitan dengan kepentingan publik.[1]
Dari mana munculnya jurnalisme investigatif ini? Di Amerika Serikat, istilah investigative reporting tampaknya mulai populer pada tahun 1975, ketika di Columbia didirikan Investigative Reporters and Editors Inc. Namun, bicara tentang sejarah kemunculan jurnalisme investigatif, tampaknya harus dimulai dari kemunculan apa yang dinamakan muckraking journalism.
Muckraking journalists adalah julukan yang diberikan pada jurnalis Amerika, yang menggunakan suratkabar tempat i…

TEKNIK REPORTASE ATAU PELIPUTAN BERITA

Image
Oleh Satrio Arismunandar
Teknik reportase atau teknik peliputan berita merupakan hal mendasar yang perlu dikuasai para jurnalis. Namun, membahas teknik reportase, berarti juga membahas bagaimana cara media bekerja, sebelum mereka memutuskan untuk meliput suatu acara, kegiatan atau peristiwa.

Setiap media memiliki apa yang disebut kriteria kelayakan berita. Selain itu, mereka juga memiliki apa yang disebut kebijakan redaksional (editorial policy). Kriteria kelayakan berita itu bersifat umum (universal), dan tak jauh berbeda antara satu media dengan media yang lain. Sedangkan kebijakan redaksional setiap media bisa berbeda, tergantung visi dan misi atau ideologi yang dianutnya.
Perbedaan visi, misi dan ideologi ini akan berpengaruh pada sudut pandang atau angle peliputan. Dua media yang berbeda bisa mengambil sudut pandang yang berbeda terhadap suatu peristiwa yang sama. Bandingkan, misalnya, cara pandang redaktur harian Kompas dan Republika terhadap RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, yan…

SOAL IKLAN POLITIK DI MEDIA TELEVISI

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Seorang teman bertanya, apakah tokoh politik atau parpol bebas beriklan di TV, berkaitan dengan kampanye politiknya? Kalau ditanya, apakah mereka boleh memasang iklan, jawabannya tentu boleh. Tapi, jika ditanya, seberapa jauh “bebas beriklan” itu bisa diterapkan dalam praktik, tentu harus ada penjelasan lebih lanjut.

Iklan politik, baik untuk kampanye seorang tokoh politik atau untuk parpol tertentu, adalah sah-sah saja di negara demokratis. Hillary Clinton dan Barack Obama, kandidat dari Partai Demokrat di Amerika, sama-sama beriklan di media massa dalam pertarungan mereka untuk merebut kursi nominasi calon Presiden dari Partai Demokrat. Dalam iklan itu, publik bisa mengetahui pandangan politik, visi, misi, dan program dari tokoh bersangkutan.

Ada dua isu terkait iklan politik ini. Pertama, segi content. Yakni, pesan semacam apa yang boleh dimuat atau ditayangkan. Kedua, siapa yang boleh memasang iklan politik itu, dan bagaimana pengaturan penayangannya (soal k…

SURVEY MEMBUKTIKAN - 96,1 PERSEN BANGGA JADI ORANG INDONESIA

Image
Siapa bilang semangat nasionalisme rakyat Indonesia sudah luntur? Survei yang diadakan Lembaga Survei Indonesia (LSI) April 2007 menunjukkan, 96,1 persen responden merasa bangga, bahkan sangat bangga menjadi orang Indonesia. Hasil survey terhadap 1.680 responden, dengan metode multistage random sampling (margin of error sekitar 3 persen) ini diangkat kembali di Koran Tempo, Rabu (21 Mei 2008).
Mayoritas responden (73,7 persen) juga lebih bangga disebut sebagai orang Indonesia ketimbang disebut sebagai orang dari suku tertentu. Hanya 25,6 persen yang mengaku lebih bangga disebut sebagai orang yang berasal dari etnis asal (hasil survey Maret 2007 dari 1.240 responden).
Namun, dari segi sentimen keagamaan, ternyata masih lebih kuat dari sentimen kebangsaan. Sejumlah 53,9 persen responden lebih bangga disebut sebagai orang Islam, Kristen, Hindu, Buddha, atau Konghucu, ketimbang disebut sebagai orang Indonesia (45 persen). Ini hasil survey Maret 2007 dari 1.240 responden.
Soal mempertahanka…