Tuesday, November 18, 2008

LAGI, PROVOKASI TERHADAP UMAT ISLAM INDONESIA (KASUS BLOG YANG MENGHINA NABI MUHAMMAD SAW)

Baru-baru ini, sebuah provokasi kembali dilancarkan terhadap umat Islam di Indonesia, dengan peluncuran sebuah blog berisi kartun kehidupan Nabi Muhammad SAW. Isi kartun itu berisi penghinaan terhadap Rasulullah, para istri beliau, dan para sahabat.

Begitu vulgarnya kartun itu, sehingga ada adegan persenggamaan segala dimasukkan di dalamnya. Jika penggambaran Rasulullah secara visual saja sudah terlarang di dalam Islam, apalagi penggambaran dalam pose-pose yang sangat menjijikkan.

Yang berbahaya bagi ketenteraman umat, nama blog itu tampaknya sengaja dikaitkan dengan etnis/suku tertentu di Indonesia, yang bisa dikaitkan dengan penganut agama tertentu (non-Muslim). Maaf, saya tidak akan menyebut nama blog itu, karena saya tak mau dianggap ikut menyebarkan atau mempopulerkan blog yang sangat menghina Rasulullah tersebut.

Saya hanya ingin menyerukan kepada seluruh warga, agar hati-hati dan tidak terprovokasi. Saya sendiri tidak percaya bahwa blog ini dibuat oleh orang dari suku/agama bersangkutan, tetapi lebih merupakan provokasi dengan tujuan tertentu. Seolah-olah ada pihak-pihak yang tidak puas dan tidak senang, jika melihat Indonesia dalam suasana tenang dan damai. Seolah-olah ada tangan-tangan yang selalu ingin mengobok-oboknya.

Saat ini, masyarakat Indonesia dalam suasana yang rawan. Eksekusi terpidana mati bom Bali, Amrozi dkk, terbukti tidak menimbulkan reaksi atau gejolak berarti di kalangan umat Islam Indonesia. Meski ada sedikit riak di kalangan tertentu, yang memang dekat dengan lingkungan Amrozi dkk, umumnya umat Islam tampaknya menerima eksekusi itu sebagai hal yang pantas. Episode Amrozi dkk sudah selesai dan diharapkan tidak akan muncul lagi Amrozi-Amrozi baru. Sinyalemen akan ada aksi “balas dendam”, tidak pernah terbukti, dan saya sendiri juga meragukan kredibilitas sinyalemen tersebut.

Namun, masih ada krisis ekonomi sebagai imbas dari ambruknya perekonomian di Amerika. Meski sedikit limbung, ekonomi Indonesia saat ini masih aman, karena kondisinya memang lebih baik daripada kondisi tahun 1997, ketika krisis ekonomi pertama berlangsung. Pemerintah dan masyarakat sendiri tampaknya sudah belajar banyak, dari pengalaman pahit krisis berkelanjutan, akibat penerapan resep IMF yang keliru.

Lima bulan ke depan, juga akan berlangsung pemilu legislatif 2009, yang kemudian akan disusul dengan pemilihan presiden. Pihak-pihak dan partai politik yang bersaing sudah mulai kampanye dan pasang kuda-kuda, untuk jor-joran pada 2009. Namun, kondisi politik nasional umumya masih tertib dan stabil.

Kini, di tengah suasana itu, saat Presiden SBY dan delegasi RI sedang mengikuti pertemuan G-20, di dalam negeri muncul lagi isyu baru bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), yaitu soal kartun Nabi.

Siapa yang bermain di balik munculnya blog provokatif ini? Apa tujuan dan kepentingannya? Keuntungan apa yang akan ia raih dengan provokasi, yang cenderung mengarahkan untuk terjadinya clash antara umat beragama terebut? Pertanyaan-pertanyaan inlah yang harus dicermati, khususnya oleh umat Islam. Jangan terpancing melakukan tindakan kekerasan, karena mungkin memang itulah yang dikehendaki oleh pihak-pihak yang “bermain”.

Jakarta, 18 November 2008
Satrio Arismunandar

BUTUH PRESENTER CANTIK, TAPI TIDAK "MENGANCAM"


Bahwa seorang presenter di media televisi itu perlu berpenampilan menarik atau good looking (baca: cantik), bukanlah hal baru. Saya pikir, semua producer yang mengelola program di media TV, tahu tentang hal itu. Yang saya baru tahu, pengertian “cantik” itu ternyata juga bermacam-macam.

Seorang perempuan producer di Divisi News Trans TV mengatakan pada saya, ada perbedaan antara cantik biasa dan cantik yang “mengancam.” Untuk program magazine siang dan sore, di mana mayoritas penontonnya adalah kaum ibu, yang dibutuhkan adalah presenter yang cantik, namun tidak “mengancam.”

Apa sih yang dimaksud cantik yang “mengancam” tersebut? Lalu, apa pula perbedaannya dengan cantik biasa? Begini penjelasannya. Yang dimaksud cantik biasa adalah, bilamana para bapak melihat penampilan sang presenter di layar kaca, maka paling banter mereka hanya akan berkomentar: “Oh ya, cukup cantik.” Tetapi cukup sampai di situ saja.

Sedangkan, kecantikan yang “mengancam” adalah jika para bapak bukan cuma sekedar berkomentar “cukup cantik,” tetapi mata mereka juga melotot, seolah-olah menikmati setiap lekuk liku tubuh sang presenter. Kondisi semacam ini, terutama saat sang bapak dan sang ibu sama-sama sedang menonton televisi, tentu sangat menimbulkan rasa tidak nyaman di pihak para ibu. Kaum ibu bukannya tidak suka melihat wajah cantik, namun mereka tidak suka pada kecantikan perempuan lain yang merebut perhatian sang bapak begitu rupa.

Jakarta, 18 November 2008

Satrio Arismunandar