Thursday, November 20, 2008

Essay - MUNDURNYA RIZAL MALLARANGENG DALAM KOMPETISI PILPRES 2009


Dalam acara peluncuran buku karyanya di Menteng, Jakarta, 19 November 2008, Rizal Mallarangeng menyatakan batal mencalonkan diri menjadi Presiden RI untuk pilpres 2009. Teman lama saya, yang doktor lulusan Ohio University, Amerika, ini menyatakan: “Saya sudah mencoba dan ternyata memang belum bisa.”
”Sejak Juli kemarin saya telah menerapkan serangkaian metode kampanye untuk menggugah dan mencari dukungan masyarakat akan perlunya kandidat presiden dari generasi baru. Saya sudah mencoba meyakinkan publik bahwa anak-anak muda juga pantas untuk dipertimbangkan sebagai calon-calon pemimpin pada Pemilu 2009,” tutur Rizal, tentang kampanyenya.
Rizal memang sudah berkampanye dengan berbagai cara, dengan iklan di televisi nasional, dalam berbagai acara dialog di radio, TV, koran dan majalah. Ditambah lagi, dalam pertemuan serta keterlibatan di berbagai forum diskusi di banyak penjuru tanah air, dengan penerbitan buku, serta dengan Facebook, Youtube, dan berbagai forum di Internet.

Namun, menurut saya, mungkin salah satu persoalannya adalah ketidaktepatan dalam mengangkat issue. Bagi mayoritas rakyat Indonesia, yang menjadi real issue bukanlah soal muda atau tua. Tetapi soal keberpihakan kepada rakyat.

Kalau ada tokoh muda yang maju jadi capres, bagus-bagus saja. Tetapi, sekadar muda saja tidak cukup. Keberpihakan kepada rakyat perlu ditunjukkan lewat karya nyata di lapangan dan rekam jejak penyikapan. Biarpun muda, jika tidak berpihak pada rakyat, atau sekadar jadi kepanjangan tangan kepentingan "tokoh-tokoh tua," buat apa?

Fenomena Obama yang muda, segar, penuh gagasan perubahan, memang menarik. Tetapi orang sering lupa, Obama merintis jalan ke jenjang puncak lewat karya-karya nyata di lapangan selama bertahun-tahun, tidak sekadar mengandalkan pembangunan citra media (walaupun tim kampanye Obama juga piawai dalam pembentukan citra media ini).

Jika hal-hal yang menyangkut keberpihakan dan track record itu masih meragukan, mungkin rakyat akan bersikap: "Apakah saya akan menyerahkan nasib saya pada orang yang mendadak muncul ini, yang masih saya ragukan keperpihakannya, setidaknya sampai lima tahun mendatang? Tunggu dulu!"

Jakarta, 20 November 2008
Satrio Arismunandar