ASPEK ETIS DAN LEGALITAS LIPUTAN REPORTASE INVESTIGASI

Pengantar:
Sejumlah crew Reportase Investigasi menanyakan sejumlah aspek etis dan legalitas, dari cara-cara peliputan investigative, khususnya yang dipraktikkan di Reportase Investigasi. Kebetulan, dalam suatu liputan di daerah Jawa Barat belum lama ini, ada insiden yang menyebabkan crew Investigasi cedera.

Ada serangan fisik oleh sejumlah preman, yang sebetulnya berawal dari kesalahpahaman. Namun, tak urung ada sejumlah persoalan yang timbul, karena menyangkut tanggung jawab kita pada keselamatan narasumber dan fixer, serta keselamatan crew sendiri. Untunglah sejauh ini tidak berakibat fatal.

Maka, tulisan pendek ini saya susun, berdasarkan pemikiran jurnalis senior Tom Rosenstiel, sebagai bahan pemikiran dan renungan. Semoga bisa bermanfaat. Tentunya, tulisan ini juga bisa menjadi penambah wawasan bagi teman-teman di Divisi News, yang tidak atau belum sempat bertugas di Reportase Investigasi.

Wasalam,
Satrio Arismunandar
===============

“Ujian Ketidakpatuhan Sipil" bagi Jurnalisme

Dalam menjalankan misinya sebagai pengawas (watchdog) bagi kepentingan publik, para jurnalis kadang-kadang ditempatkan dalam situasi di mana mereka harus memutuskan hal-hal yang menimbulkan rasa serba salah.

Misalnya, apakah mereka sendiri harus melakukan sesuatu yang ilegal, atau membantu perilaku ilegal seseorang, atau melakukan hal-hal yang oleh pihak lain dianggap melanggar etika.
Contoh: Apakah seorang reporter harus melompati pagar di sebuah pabrik kimia, dan melanggar larangan menerobos, demi membuktikan bahwa pabrik itu telah membuang limbah kimia berbahaya ke sungai dan mencemari suplai air minum warga?

Apakah penggunaan kamera tersembunyi (hidden camera) atau melakukan penyamaran bisa dibenarkan? Atau haruskah reporter menyiarkan informasi rahasia, yang menurut pemerintah bisa menganggu proses pengumpulan informasi –seperti penyadapan telepon seluler—oleh badan intelijen negara?

Dalam membuat keputusan tersebut, jurnalis senior Tom Rosenstiel menyatakan, jurnalis biasanya menanyakan pada dirinya sendiri pertanyaan-pertanyaan sama, yang biasa ditanyakan oleh mereka yang terlibat dalam aksi ketidakpatuhan sipil (civil disobedience). Ini menjadi semacam “ujian” ketidakpatuhan sipil jurnalistik. Ujian ini memiliki tiga tahapan langkah yang harus ditanyakan oleh si jurnalis:

Pertama, apa kebaikan bagi publik yang bisa diperoleh, manakala informasi ini diberitakan?

Kedua, apakah nilai kebaikan bagi publik itu lebih besar daripada potensi kerugian, yang mungkin muncul dari pemberitaan informasi bersangkutan?

Bahkan, sekalipun Anda beranggapan bahwa apa yang anda lakukan itu baik bagi publik, anda perlu bertanya pada diri sendiri, apakah kebaikan itu cukup serius atau substansial, untuk membenarkan kelayakan tindakan yang akan Anda lakukan?

Apakah bukan tak mungkin, dampak buruk dari tindakan Anda justru lebih besar ketimbang manfaat yang bisa diperoleh, manakala berita itu sudah disiarkan? Apakah tindakan Anda pada akhirnya justru merugikan pencarian informasi berikutnya yang sedang Anda kejar? Bagaimana jika berita yang Anda soalkan mengancam keselamatan atau nyawa seseorang?

Ketiga, apakah ada cara-cara lain dalam menyampaikan berita ini atau untuk memperoleh informasi ini, tanpa mengambil risiko pelanggaran hukum (legal) atau etika?

Misalnya, dengan penggunaan kamera tersembunyi dan melakukan penyamaran identitas, mungkin akan membuat berita jadi lebih dramatik. Namun, jika hal-hal itu digunakan semata-mata hanya untuk tujuan dramatisasi, dan tidak mutlak diperlukan bagi pemberitaan, apakah cara itu layak dilakukan? Apakah ada narasumber lain yang mungkin sanggup memberi informasi serupa yang ingin Anda ketahui? Adakah dokumen-dokumen yang dapat memberikan informasi yang sama?

Terakhir, saat Anda sebagai jurnalis sudah memutuskan untuk maju terus, jurnalis harus siap membayar harga keputusan itu. Bayarlah denda karena melanggar, masuk ke wilayah orang lain tanpa izin. Mungkin Anda juga harus siap masuk penjara. Ini adalah unsur ketidakpatuhan sipil yang pertama.

Salah satu manfaat dari tes ini adalah jika Anda betul-betul memikirkan jawabannya scara mendalam, Anda juga akan dapat menjawab dan menjelaskan tindakan Anda kepada publik. Jika Anda sudah memikirkannya secara mendalam dan bersikap persuasif, publik akan memahami.

Jakarta, 17 Februari 2009 ***

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)