CARL GUSTAV HEMPEL TENTANG EKSPLANASI ILMIAH, TEORI KONFIRMASI, DAN PARADOKS BURUNG GAGAK

Oleh Satrio Arismunandar

I. Pengantar

Carl Gustav Hempel (1905-1997), filsuf kelahiran Jerman yang berimigrasi ke Amerika, adalah salah satu filsuf sains terkemuka pada abad ke-20. Paradoks burung gagaknya (Raven’s Paradox) –sebagai ilustrasi paradoks-paradoks konfirmasi—telah menjadi tantangan tetap terhadap teori-teori konfirmasi.

Bersama Paul Oppenheim, ia mengusulkan perhitungan kuantitatif terhadap derajat konfirmasi hipotesis lewat pembuktian. Model nomologis-deduktif yang diajukannya bagi eksplanasi (penjelasan) ilmiah menempatkan eksplanasi pada landasan logis yang sama seperti prediksi; yakni keduanya adalah argumen-argumen deduktif.

Perbedaannya adalah soal pragmatis, katakanlah bahwa dalam sebuah eksplanasi, konklusi argumen dimaksudkan agar dianggap benar. Sedangkan, dalam prediksi, tujuannya adalah untuk menghadirkan kasus yang meyakinkan untuk konklusi. Hempel juga mengusulkan ukuran kuantitatif bagi kekuatan teori untuk mensistematisasikan datanya.

Dalam kehidupannya kemudian, Hempel meninggalkan proyek logika induktif. Ia juga menekankan problem-problem dengan positivisme logis (empirisme logis), khususnya yang berkaitan dengan kriteria kebisaan untuk diverifikasikan (verifiability). Hempel akhirnya meninggalkan analisis positivis logis terhadap sains, dan berpaling ke arah analisis yang lebih empiris dalam peristilahan sosiologi sains.

Hempel belajar matematika, fisika, dan filsafat di Gottingen, Heidelberg, Vienna, dan Berlin. Di Vienna, ia menghadiri beberapa pertemuan Lingkaran Vienna. Dengan pertolongan Rudolf Carnap, ia dapat meninggalkan Eropa sebelum Perang Dunia II, dan ia datang ke Chicago dengan hibah riset yang diusahakan oleh Carnap. Hempel kemudian mengajar di Universitas Kota New York, Universitas Yale, dan Universitas Princeton.

II. Riwayat Singkat dan Filsuf-filsuf yang Mempengaruhinya

Hempel lahir di Oranienburg, Jerman, pada 1905. Ia belajar di Realgymnasium di Berlin, dan pada 1923 ia diterima di Universitas Gottingen, di mana ia belajar matematika bersama David Hilbert dan Edmund Landau, serta belajar logika simbolis bersama Heinrich Behmann.
Hempel sangat terkesan pada program Hilbert untuk membuktikan konsistensi matematika dengan cara metode-metode elementer. Ia juga belajar filsafat, namun merasakan bahwa logika matematis lebih menarik daripada logika tradisional.

Pada tahun yang sama, ia pindah ke Universitas Heidelberg, di mana ia belajar matematika, fisika, dan filsafat. Dari 1924, Hempel belajar di Berlin, di mana ia bertemu Reichenbach yang memperkenalkannya ke Lingkaran Berlin. Hempel menghadiri kursus-kursus Reichenbach tentang logika matematis, filsafat ruang dan waktu, dan teori probabilitas. Ia belajar fisika bersama Max Planck dan belajar logika bersama von Neumann.

Pada 1929, Hempel ikut serta dalam kongres pertama filsafat ilmiah yang diselenggarakan oleh penganut positivis logis. Ia bertemu Rudolf Carnap dan sangat terkesan pada Carnap, sehingga ia pindah ke Vienna. Di sana ia menghadiri tiga kursus bersama Carnap, Schlick, dan Waismann, dan ambil bagian dalam pertemuan –pertemuan Lingkaran Vienna.

Pada tahun-tahun yang sama, Hempel dianggap layak sebagai guru sekolah menengah, dan akhirnya pada 1934, ia meraih doktor filsafat di Berlin, dengan disertasi tentang teori probabilitas.

Pada tahun yang sama, ia berimigrasi ke Belgia, berkat pertolongan seorang rekan Reichenbach, Paul Oppenheim (Reichenbach memperkenalkan Hempel dengan Oppenheim pada 1930). Dua tahun kemudian, Hempel dan Oppenheim menerbitkan buku Der Typusbegriff im Lichte der neuen Logik tentang teori logis konsep-konsep ilmiah metrik, komparatif, dan pengklasifikasi.
Pada 1937, Hempel diundang—dengan bantuan Carnap—ke Universitas Chicago sebagai Pendamping Riset bidang filsafat. Sesudah sempat tinggal lagi sebentar di Belgia, Hempel berimigrasi ke Amerika pada 1939. Ia mengajar di New York, di City College (1939-1940) dan Queens College (1940-1948).

III. Permasalahan dan Fokus Perhatian Hempel

Pemikiran Hempel tampaknya erat berkaitan dengan filsafat sains. Filsafat sains merangkul seluruh pertanyaan yang muncul dari refleksi terhadap sains. Sains secara meluas diyakini sebagai cara terbaik yang tersedia untuk memperoleh pengetahuan. Selain itu, teori-teori ilmiah tampaknya memberi kita banyak masukan tentang hakikat dan bagaimana berfungsinya dunia. Maka filsafat sains terasa saling tumpang tindih dengan epistemologi dan metafisika.

Pertanyaan yang paling mendasar bagi filsafat sains adalah: Apakah sains itu? (walaupun sejumlah filsuf beranggapan bahwa pertanyaan ini salah arah, karena tidak ada ciri-ciri yang sama pada semua hal yang kita sebut sebagai sains).

Pertanyaan penting lain adalah: Apakah ada metode tunggal dengan mana seluruh sains memperoleh kemajuan (progress)? Apakah yang dinamakan teori ilmiah itu? Derajat kepercayaan seperti apa yang patut kita berikan pada teori-teori ilmiah? Apa hubungan antara teori-teori dalam sains-sains yang berbeda? Dan lain-lain.

Banyak diskusi dalam filsafat sains berkaitan dengan hubungan antara teori dan bukti. Kita biasanya berasumsi bahwa jika sebuah teori memprediksi beberapa hasil (result) bagi sebuah eksperimen tertentu, dan hasil itu kemudian diamati, maka pengamatan itu adalah bukti positif bagi kebenaran teori, dan teori itu dikonfirmasikan olehnya.

Bagaimanapun, problem induksi (lihat epistemologi) adalah tak ada jumlah bukti bagi generalisasi universal tertentu (sebut saja, misalnya “semua angsa berwarna putih”) yang tidak konsisten dengan satu bukti yang menolaknya (katakanlah, angsa berikutnya yang diobservasi berwarna hitam).

Karl Popper telah mencoba menghindari problem ini dengan menyebutkan bahwa teori-teori tidak pernah dikonfirmasikan oleh bukti, tapi hanya difalsifikasi. Sejauh suatu teori belum difalsifikasi, walaupun kita sudah berusaha sekeras mungkin untuk memfalsifikasinya, maka kita punya alasan untuk terus menggunakan teori tersebut. Namun, kita tidak boleh pernah berpikir bahwa teori itu sudah didukung secara induktif.

Filsuf-filsuf lain telah berargumentasi bahwa problem induksi muncul kembali pada teori Popper tentang metodologi ilmiah (yang disebut falsifikasionisme), dan bahwa kita tidak dapat berbuat tanpa semacam teori konfirmasi.
Setiap teori konfirmasi harus menghindari apa yang dinamakan paradoks-paradoks konfirmasi, yang muncul jika kita mengadopsi sebuah teori yang jelas bagi konfirmasi, yang menyiapkan intuisi-intuisi.

IV. Karya-karya Hempel

Pada tahun-tahun sekitar 1939-1948, Hempel tertarik pada teori konfirmasi dan eksplanasi, dan menerbitkan beberapa artikel dengan topik tersebut: "A Purely Syntactical Definition of Confirmation” (The Journal of Symbolic Logic, 8, 1943); "Studies in the Logic of Confirmation" (Mind, 54, 1945); "A Definition of Degree of Confirmation" (dengan P. Oppenheim, di Philosophy of Science, 12, 1945); "A Note on the Paradoxes of Confirmation" (Mind, 55, 1946); dan "Studies in the Logic of Explanation" (dengan P. Oppenheim di Philosophy of Science, 15, 1948).

Antara 1948 dan 1955, Hempel mengajar di Universitas Yale. Karyanya Fundamentals of Concept Formation in Empirical Science diterbitkan pada 1952 di International Encyclopedia of Unified Science. Dari 1955, ia mengajar di Universitas Princeton. Aspects of Scientific Explanation and Philosophy of Natural Science diterbitkan pada 1965 dan 1966 berturut-turut. Sesudah usia pensiun, ia terus mengajar di Berkley, Irvine, Jerusalem, dan dari 1976 hingga 1985, di Pittsburgh.

Sementara itu, perspektif filsafatnya berubah dan ia berpaling dari positivisme logis: "The Meaning of Theoretical Terms: A Critique of the Standard Empiricist Construal" (dalam Logic, Methodology and Philosophy of Science IV, disunting oleh Patrick Suppes, 1973); "Valuation and Objectivity in Science" (dalam Physics, Philosophy and Psychoanalysis, disunting oleh R. S. Cohen dan L. Laudan, 1983); "Provisoes: A Problem Concerning the Inferential Function of Scientific Theories" (dalam Erkenntnis, 28, 1988).

Bagaimanapun, ia tetap setia bergabung dengan empirisme logis. Pada 1975, ia menjabat sebagai redaksi (bersama W. Stegmüller dan W. K. Essler) pada seri baru jurnal Erkenntnis. Hempel meninggal pada 9 November 1997 di kotapraja Princeton, New Jersey.

V. Eksplanasi Ilmiah

Bersama Paul Oppenheim, pada 1948 Hempel mengembangkan teori persis logis, yang dikenal sebagai Model Nomologis-Deduktif (Deductive-Nomological Model) atau Model Hukum yang Mencakup (Covering-Law Model) bagi eksplanasi.

Eksplanasi ilmiah dari sebuah fakta adalah deduksi dari sebuah pernyataan (disebut explanandum), yang menggambarkan fakta yang ingin kita jelaskan; premis-premis (disebut explanans), yaitu hukum-hukum ilmiah; dan kondisi-kondisi awal yang cocok. Agar eksplanasi bisa diterima, explanans itu harus benar.

Menurut model nomologis-deduktif, eksplanasi sebuah fakta dengan demikian direduksi menjadi hubungan logis antara pernyataan-pernyataan. Explanandum adalah konsekuensi dari explanans. Ini adalah metode yang umum dalam filsafat positivisme logis. Aspek-aspek pragmatis dari eksplanasi tidak dipertimbangkan.

Penjabaran lainnya adalah bahwa sebuah eksplanasi mensyaratkan adanya hukum-hukum ilmiah; fakta-fakta dijelaskan ketika mereka digolongkan di dalam hukum-hukum. Maka, pertanyaan pun muncul tentang hakikat suatu hukum ilmiah.
Menurut Hempel dan Oppenheim, sebuah teori fundamental dirumuskan sebagai pernyataan yang benar, di mana pembilang-pembilangnya (quantifiers) tidak dapat dicabut (sebagai contoh, sebuah teori fundamental tidaklah sama dengan sebuah pernyataan tanpa pembilang), dan tidak mengandung konstanta individual.

Setiap pernyataan yang digeneralisasikan (generalized statement), yang merupakan konsekuensi logis dari sebuah teori fundamental, adalah teori turunan (derived theory). Gagasan yang mendasari perumusan ini adalah bahwa sebuah teori ilmiah berurusan dengan properti umum, yang diekspresikan oleh pernyataan-pernyataan universal.

Rujukan terhadap kawasan ruang-waktu spesifik atau terhadap hal-hal individual tidaklah diizinkan. Misalnya, hukum Newton adalah benar untuk semua benda di setiap waktu dan setiap ruang. Namun, terdapat hukum-hukum (misalnya, hukum-hukum Kepler awal) yang sah (valid) di bawah kondisi terbatas dan merujuk ke obyek-obyek spesifik, seperti matahari dan planet-planetnya.

Karenanya, ada pembedaan antara sebuah teori fundamental, yang bersifat universal tanpa pembatasan, dengan sebuah teori turunan yang dapat mengandung rujukan terhadap obyek-obyek individual. Perlu dicatat, di sini dipersyaratkan bahwa teori-teori itu benar. Secara tersirat, ini berarti hukum-hukum ilmiah bukanlah alat untuk membuat prediksi, namun hukum-hukum itu merupakan pernyataan sejati yang menggambarkan dunia –sebuah sudut pandang yang realistis.

Ada karakteristik menarik lain dari model Hempel-Oppenheim, yaitu bahwa eksplanasi dan prediksi memiliki struktur logis yang persis sama. Sebuah eksplanasi dapat digunakan untuk memprakirakan, dan sebuah prakiraan adalah sebuah eksplanasi yang sah.
Akhirnya, model nomologis-deduktif juga berhubungan dengan eksplanasi hukum-hukum. Dalam kasus demikian, explanandum adalah hukum ilmiah dan dapat dibuktikan dengan bantuan hukum-hukum ilmiah lainnya.

Aspects of Scientific Explanation (1965), menghadapi problem eksplanasi induktif, di mana explanans mencakup hukum-hukum statistik. Menurut Hempel, dalam eksplanasi semacam itu, explanans hanya memberi derajat probabilitas yang tinggi pada explanandum, yang bukan merupakan konsekuensi logis dari premis-premis bersangkutan.

Patut dicatat bahwa eksplanasi induktif menuntut suatu hukum yang mencakup (covering law); di mana fakta dijelaskan lewat sarana hukum-hukum ilmiah. Namun sekarang, hukum-hukum itu tidak deterministik; hukum-hukum statistik juga diterima. Bagaimanapun, dalam banyak hal, eksplanasi induktif itu mirip dengan eksplanasi deduktif.

1. Baik eksplanasi deduktif maupun induktif bersifat nomologis (maka, mereka memerlukan hukum-hukum universal).
2. Fakta yang relevan adalah relasi logis antara explanans dan explanandum. Dalam eksplanasi deduktif, explanandum merupakan konsekuensi logis dari explanans. Sedangkan dalam eksplanasi induktif, hubungan itu bersifat induktif. Namun di masing-masing model, hanya aspek-aspek logis yang dianggap relevan. Hal-hal pragmatis tidak diperhitungkan.
3. Simetri antara eksplanasi dan prediksi dipertahankan.
4. Explanans itu harus benar.

VI. Pembentukan Konsep dalam Ilmu Empiris

Dalam monografnya, Fundamentals of Concept Formation in Empirical Science (1952), Hempel menjabarkan metode-metode, yang digunakan untuk merumuskan kuantitas-kuantitas fisik. Hempel menggunakan contoh pengukuran massa.

Sebuah timbangan berlengan sama panjang digunakan untuk menentukan apakah dua benda memiliki massa yang sama, dan apakah massa salah satu benda lebih besar daripada massa benda yang lain. Dua benda itu memiliki massa yang sama jika –ketika dua benda itu masing-masing ditaruh di lengan timbangan—keseimbangan tetap merata (equilibrium).
Jika salah satu ujung lengan timbangan turun, sedangkan ujung yang lain naik, maka benda di sisi yang paling rendah memiliki massa yang lebih besar. Dari sudut pandang logis, prosedur ini merumuskan dua relasi, sebut saja E dan G. Seperti berikut:

· E(a,b) jika dan hanya jika a dan b memiliki massa yang sama;
· G(a,b) jika dan hanya jika massa a lebih besar daripada massa b.

Hubungan (relasi) antara E dan G memenuhi kondisi-kondisi berikut:

1. E adalah hubungan refleksif, simetris, dan transitif.
2. G adalah hubungan irefleksif, asimetris, dan transitif.
3. E dan G sama-sama eksklusif –sehingga, jika E(a,b), maka bukan G(a,b).
4. Untuk setiap a dan b, satu dan hanya satu dari penegasan-penegasan di bawah ini yang benar:
E(a,b) G(a,b) G(b,a)

Hubungan E dan G dengan demikian merumuskan suatu tatanan parsial.

Langkah kedua terdiri dari pendefinisian sebuah fungsi m yang memenuhi tiga kondisi:
5. Sebuah prototip yang cocok dipilih, di mana massanya adalah satu kilogram.
6. Jika E(a,b) maka m(a) = m(b)
7. Terdapat sebuah operasi, sebut saja ©, yang mengkombinasikan dua benda a dan b, sehingga
m(a © b) = m(a) + m(b)

Kondisi (1) sampai (7) menjabarkan pengukuran bukan hanya untuk massa, tetapi juga untuk panjang, waktu, dan setiap kuantitas fisik yang ekstensif. (Sebuah kuantitas dinyatakan ekstensif jika terdapat operasi yang mengkombinasikan obyek-obyek sesuai kondisi 7. Jika tidak memenuhi kondisi seperti itu, kuntatitas itu dinyatakan sebagai intensif. Temperatur, misalnya, adalah intensif).

VII. Perkembangan Pemikiran Hempel

Hempel melihat, tugas sains adalah menunjukkan fenomena sebagai konsekuensi hukum yang tak terbantahkan. Implikasi utamanya adalah model hukum yang mencakup (covering-law) tentang pengertian ilmiah, dengan penekanan bahwa terdapat simetri antara eksplanasi dan prediksi, di mana satu-satunya perbedaan adalah soal temporal.

Dalam kasus eksplanasi, apa yang kita terangkan adalah sesuatu yang sudah terjadi. Sedangkan dalam kasus prediksi, sesuatu yang kita prediksi itu belum terjadi. Namun, kita melihat kini pergeseran dari filsafat sains yang preskriptif ke posisi yang lebih deskriptif. Juga, dari keprihatinan eksklusif terhadap ilmu-ilmu fisik ke minat yang lebih umum di bidang seperti biologi dan psikologi.

Dalam The Meaning of Theoretical Terms (1973), Hempel mengritik sebuah aspek teori positivisme logis tentang sains: pembedaan antara term observasional dan teoretis, dan problem yang berkaitan tentang makna term-term teoretis.

Menurut Hempel, terdapat asumsi tersirat dalam analisis neopositivis terhadap sains, katakanlah bahwa makna term teoretis dapat dijelaskan lewat metode-metode linguistik. Karena itu, problem utamanya adalah bagaimana seperangkat pernyataan dapat ditentukan sehingga memberi makna pada term-term teoretis. Hempel menganalisis berbagai teori yang diusulkan oleh positivisme logis.

Menurut Schlick, makna konsep-konsep teoretis ditentukan oleh dalil-dalil (aksioma) teori. Jadi, dalil-dalil itu memainkan peran sebagai definisi tersirat. Karenanya, term-term teoretis harus ditafsirkan dengan suatu cara yang membuat teori itu benar.

Hempel menyatakan keberatan, karena berdasarkan penafsiran semacam itu sebuah teori ilmiah akan selalu benar, teori itu benar secara konvensi, dan setiap teori ilmiah adalah secara a priori benar. Kata Hempel, ini adalah bukti bahwa penafsiran Schlick tentang makna term-term teoretis tidak dapat dipertahankan.

Solusi lain terhadap problem makna term-term teoretis adalah didasarkan pada aturan-aturan korespondensi (rules of correspondence), yang juga dikenal sebagai postulat-postulat makna. Term-term teoretis dengan demikian memperoleh penafsiran parsial lewat term-term observasional.

Hempel mengajukan dua keberatan terhadap teori ini. Pertama, ia menegaskan bahwa konsep-konsep observasional tidaklah eksis. Ketika sebuah teori ilmiah memperkenalkan term-term teoretis yang baru, term-term itu terkait dengan term-term teoretis lama, yang biasanya menjadi bagian dari teori ilmiah terkonsolidasi yang sudah ada. Karena itu, penafsiran term-term teoretis baru itu tidaklah didasarkan pada term-term observasional, namun diberikan oleh term-term teoretis yang lain. Sehingga, dalam arti tertentu, ini dirasakan lebih familiar daripada yang baru.

Keberatan kedua, menyangkut hakikat konvensional dari aturan korespondensi. Suatu postulat makna merumuskan makna sebuah konsep dan karena itu –dari sudut pandang logis—itu haruslah benar. Namun, setiap pernyataan dalam teori ilmiah berpotensi bisa dibuktikan kekeliruannya (falsifiable).

Tidak ada pernyataan ilmiah yang berada di luar yurisdiksi pengalaman (experience). Jadi, sebuah postulat makna juga dapat keliru. Maka, ini tidak bersifat konvensional dan tidak merumuskan makna sebuah konsep, melainkan benar-benar hipotesis yang bersifat fisik. Postulat makna tidaklah eksis.

VIII. Paradoks Burung Gagak (Raven’s Paradox)

Semua ilmuwan menggunakan penalaran dan logika pada beberapa tahap, untuk menciptakan hipotesis dan merancang eksperimen-eksperimen yang kuat. Secara indah dan anggun, pada 1965, Hempel menunjukkan bahwa terdapat cacat-cacat dalam proses ilmiah yang sudah lama mapan tersebut. Paradoks Burung Gagak yang dikemukakan Hempel mempertanyakan proses penalaran induktif, generalisasi, dan falsifiabilitas (falsifiability) yang sudah mapan tersebut.

8.1. Hipotesis Induktif

Bayangkanlah bahwa seorang ilmuwan, sesudah bertahun-tahun berjalan ke berbagai penjuru lokasi, mengamati bahwa setiap gagak yang pernah ia temui berwarna hitam. Sebagai peneliti yang patuh pada aturan, ia menggunakan penalaran induktif untuk mendalilkan sebuah hipotesis: “Semua gagak berwarna hitam.”

Ini adalah hipotesis kondisional yang secara sempurna bisa diterima. Pertama, hipotesis ini bisa diuji, karena kita dapat membuat sampel populasi gagak dan membuktikan bahwa gagak-gagak itu berwarna hitam. Pernyataan ini juga bisa dibuktikan jika keliru (falsifiable), karena cukup dengan ditemukannya satu ekor gagak berwarna tidak-hitam di antara populasi yang dijadikan sampel, akan membantah hipotesis tersebut.

Seluruh sains sejauh ini mengikuti metode penalaran induktif yang sudah mapan. Peneliti bahkan dapat merancang eksperimen untuk membuat sampel dari populasi gagak, dengan ribuan ekor gagak diamati.

Jika semua burung gagak itu hitam, berarti hipotesis ini didukung dan masuk akal. Dengan berlalunya waktu, eksperimen dan pengamatan yang berulang-ulang juga lebih jauh mengkonfirmasikan hal ini, dan hipotesis itu pun diterima sebagai hukum.

8.2. Problem Generalisasi dan Falsifiabilitas

Bagian pertama dari proposal Paradoks Burung Gagak mempertanyakan proses generalisasi tersebut. Secara praktis, tidaklah mungkin untuk mengambil sampel terhadap setiap burung gagak di dunia, dan mungkin saja ada beberapa gagak yang berwarna tidak-hitam. Hempel tidak mencooba berkomentar tentang sains eksakta, namun sebagai informasi sampingan yang menarik, sekitar 1 dari 10.000 telur gagak mengandung sebagian atau seluruhnya burung albino.

Sebagian besar burung albino lebih jelas terlihat oleh pemangsa (predator), menderita problem kesehatan, dan mungkin merupakan fenomena yang sangat lokal. Maka kemungkinan menemui atau melihat seekor gagak albino sangat tipis. Seorang peneliti bisa membuat sampel atas ribuan gagak, dan tidak melihat satu pun gagak putih, walaupun gagak berwarna putih itu ada.

Maka, gagasan falsifiabilitas itu dipertanyakan dan dirusak oleh Paradoks Burung Gagak. Walaupun hipotesis awalnya secara teknis bisa difalsifikasikan, dalam pendekatan praktis sangatlah sulit untuk menolak hipotesis tersebut. Karena peluang melihat seekor gagak putih sangat tipis. Bahkan jika kita mengambil sampel seluruh populasi gagak yang diketahui, mungkin saja ada kelompok gagak yang belum ditemukan, yang sebagian anggotanya tidak-hitam.

8.3. Cacat-cacat dalam Proses Penalaran Induktif

Bagian berikutnya dari Paradoks Burung Gagak mempertanyakan proses penalaran dan deduksi, yang menjadi bagian integral dari proses ilmiah. Ketika seorang peneliti menyatakan bahwa “semua gagak berwarna hitam,” hukum logika menuntut bahwa pernyataan kondisional ini memiliki pernyataan kontrapositif.

Karena itu, menurut penalaran induktif, “segala sesuatu yang tidak-hitam bukanlah burung gagak.” Ini berarti setiap obyek tidak-hitam yang diamati, yang bukan gagak, secara setara memperkuat hipotesis. Padahal tidak terhitung jumlahnya benda-benda tidak-hitam yang ada di alam semesta ini!

Untuk mengembangkan analogi lebih jauh, seorang peneliti lain di bagian lain dunia, secara kebetulan, mungkin hanya pernah melihat seekor gagak sepanjang hidupnya, dan kebetulan gagak itu berwarna putih. Hipotesis lewat deduksi yang dilakukannya mungkin menyatakan, “semua gagak berwarna putih.”

Jadi, setiap obyek tidak-putih, yang bukan burung gagak, memperkuat hipotesis ini yang bertentangan dengan hipotesis sebelumnya (yang mengatakan, “semua gagak berwarna hitam”). Inilah yang dinamakan Paradoks Burung Gagak.

IX. Arti Penting Pemikiran Hempel dan Konteks Indonesia

Lalu, apa arti keberadaan paradoks ini? Apakah dunia sains lantas runtuh begitu saja? Jawabannya: tidak. Paradoks Burung Gagak adalah observasi filosofis yang bermanfaat, dan membantu memastikan bahwa kita secara terus-menerus mengamati dan menguji langkah-langkah proses ilmiah yang sudah mapan. Contoh-contoh yang diberikan dalam paradoks ini bersifat simplistik dan tampaknya tak akan terjadi. Itu hanya berfungsi sebagai latihan untuk menguji batas-batas filsafat sains.

Dalam kenyataan, pada sebagian besar kasus, cara Hempel tidak membuat perbedaan. Penalaran normal dan proses rancangan eksperimental bekerja cukup sempurna. Paradoks itu tidak lari dari sains, tetapi mengembangkannya, dengan mencegah para ilmuwan dari kepercayaan bahwa mereka telah membuktikan sesuatu yang di luar keraguan.

Paradoks Burung Gagak sepatutnya mengingatkan para ilmuwan tentang bahaya generalisasi, dan bahwa mereka harus memastikan agar semua hipotesis secara realistis bisa difalsifikasi. Jika seorang peneliti mengatakan, “semua burung gagak di Pulau Jawa berwarna hitam,” ini lebih realistis karena para ahli ilmu burung (Ornitologi) secara layak dapat mengamati setiap gagak di Pulau Jawa.

Bahkan teori-teori yang sudah bertahan lama, yang menjadi mapan sebagai hukum dan paradigma yang tidak bisa digeser, suatu waktu dapat dibuktikan keliru. Sains sebenarnya adalah soal menguji probabilitas dan asumsi. Jika sesuatu memiliki 99% peluang untuk benar, maka itu sebaiknya diterima sebagai eksplanasi yang pas.

Peluang seseorang hanya melihat seekor gagak dalam hidupnya, di mana kebetulan gagak yang dilihat itu adalah gagak putih, sangatlah kecil. Meski peluangnya sangat kecil, itu bukan berarti tidak mungkin, dan kemungkinan itu tidak boleh diabaikan. Inilah sebabnya mengapa semua eksperimen harus secara ketat divalidasi dan ditinjau sebelum memperoleh penerimaan secara meluas, untuk meminimalisir dampak Paradoks Burung Gagak.

Misalnya, hukum-hukum Newton telah diterima sebagai kebenaran, sampai teori-teori Einstein meruntuhkannya. Pada gilirannya, teori Relativitas Umum Einstein bukanlah jawaban terhadap fisika fundamental dan telah dilampaui oleh teori-teori lain.

Inilah bagaimana sains berkembang, dengan menantang dan mengadaptasi paradigma dan hukum-hukum yang sudah mapan. Penciptaan Teori Chaos adalah contoh sempurna dari ilmuwan-ilmuwan “pemberontak” yang mengikis hukum-hukum yang sudah mapan, sampai teori baru itu tak bisa lagi diabaikan. Teori itu akhirnya hadir dalam kesadaran publik, dan model-model fractal dari Teori Chaos muncul dalam bentuk desain-desain unik di T-shirt.
Paradoks Burung Gagak dari Hempel hadir untuk mengingatkan kita bahwa tidak ada teori, seberapa mapan pun, yang kebal terhadap tantangan dan debat. Ketika bukti baru terungkap, sains harus beradaptasi dan berubah untuk menyesuaikan diri dengan data yang baru.

Bagi para filsuf, pemikir, dan ilmuwan di Indonesia, pemikiran Hempel masih sangat relevan dan bermanfaat. Tradisi ilmiah dan semangat pencarian kebenaran lewat keilmuan masih belum cukup kuat dan berakar di negeri ini. Oleh karena itu, pemikiran dan semangat Hempel sepatutnya memberi inspirasi pada para ilmuwan, pemikir, dan filsuf Indonesia, untuk giat menggali ilmu dan pemikiran.

Sedangkan, pada saat yang sama, para ilmuwan, pemikir, dan filsuf Indonesia juga harus cermat, teliti, hati-hati, dan waspada terhadap potensi sesat pemikiran dan kekeliruan penalaran, akibat kurang dikuasainya metode berpikir yang benar. Inilah signifikansi sumbangan pemikiran Hempel untuk konteks filsafat dan dunia keilmuan Indonesia. ***

Referensi:

1. Hempel, Carl G. 1945. “On the Nature of Mathematical Truth,” American Mathematical Monthly 52. Dicetak ulang di Feigl, H., dan W. Sellars (ed.). 1949. Readings in Philosophical Analysis. New York: Appleton-Century-Crofts. Dicetak ulang di Newman, James R. 1956. The World of Mathematics, vol. III. New York: Simon and Shuster. Dituliskan ke format hypertext oleh Andrew Chrucky, 4 Feb 2001.
2. Hempel, Carl G. 1945. “Geometry and Empirical Science,” American Mathematical Monthly 52. Dicetak ulang di Feigl, H., dan W. Sellars (ed.). 1949. Readings in Philosophical Analysis. New York: Appleton-Century-Crofts. Dicetak ulang di Newman, James R. 1956. The World of Mathematics, vol. III. New York: Simon and Shuster. Dituliskan ke format hypertext oleh Andrew Chrucky, 7 Feb 2001.
3. Hempel, Carl G. 1950. “Problems and Changes in the Empiricist Criterion of Meaning.” dalam 11 Rev. Intern: de Philos. 41, halaman 41-63.
4.
http://www.iep.utm.edu/h/hempel.htm
5.
http://articlesbase.com/science-articles/the-raven-paradox-how-hempels-treatise-led-to-questioning-of-the-inductive-reasoning-process-559856.html
6.
http://www.experiment-resources.com/
7.
www.amethyst-web.net
8. Kearney, Richard (ed.). 2006. Twentieth-Century Continental Philosophy. Knowledge History of Philosophy Volume VIII. New York: Routledge.
Goldstein, Laurence. 1990. The Philosopher’s Habitat: An Introduction to Investigations in, and Applications of, Modern Philosophy. New York: Routledge.
9. Honderich, Ted. 1995. The Oxford Companion to Philosophy. Oxford/New York: Oxford University Press.
10. Russell, Bertrand. 1948. History of Western Philosophy and Its Connection with Political and Social Circumstances from the Earliest Times to the Present Day. London: George Allen and Unwin Ltd.
* Ini merupakan tugas paper untuk mata kuliah Filsafat Abad XX di Program S3 Ilmu Filsafat FIB-UI, dengan dosen Vincensius Y. Jolasa, Ph.D., Maret 2009.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)