MENULIS LAYAKNYA HARIMAU YANG MENGAUM DAN MAWAR YANG MENYEBARKAN WANGI

Oleh Satrio Arismunandar

Judul tulisan ini mungkin terkesan mengada-ada. Menulis kok disamakan dengan mengaum dan menyebarkan wangi. Tulisan ini memang bukan makalah ilmiah. Jadi, sebagai penulis, saya merasa sah-sah saja memilih judul yang tidak lazim.

Anda juga tidak perlu mengerutkan kening ketika membacanya. Isi tulisan ini adalah tentang “karir kepenulisan,” kalau melihat profesi saya sebagai jurnalis, yang menjadikan keterampilan tulis-menulis sebagai aset untuk mencari nafkah. Namun, tulisan ini juga bisa dipandang sebagai cerita tentang “hobi menulis,” yang tidak harus dikaitkan dengan karir atau profesi jurnalis.

Tetapi apa sih pentingnya kita berdiskusi tentang hobi menulis? Pertanyaan yang bagus. Hobi menulis bisa sangat penting bagi seseorang, tetapi bisa juga tidak penting bagi orang lain, meskipun --sampai tahap tertentu, karena pertimbangan praktis-- kita semua memerlukan keterampilan menulis.

Paling tidak, jika Anda masih berstatus mahasiswa, Anda perlu kemahiran menulis. Pasalnya, dosen Anda pasti akan menyuruh Anda membuat makalah ilmiah dan skripsi sebagai tugas akhir. Tanpa menyelesaikan kewajiban itu, Anda tidak akan lulus.

Jika Anda bekerja sebagai pegawai di kantor pemerintah atau swasta, pimpinan Anda mungkin juga akan menyuruh Anda menulis laporan ini atau laporan itu. Jika Anda tidak terampil menulis, laporan Anda tidak akan enak dibaca dan akan sulit dipahami isinya.

Menulis untuk mengekspresikan diri

Bagi saya sendiri, menulis adalah bagian tak terpisahkan dari diri saya. Entah disadari atau tidak, menulis sebetulnya adalah salah satu cara mengekspresikan diri. Sama halnya seperti melukis, menyanyi, bermain gitar, bercakap-cakap, berolahraga, berpakaian, berdandan, memilih minyak wangi, memilih gaya rambut tertentu, dan seterusnya.

Selama kita masih hidup sebagai manusia, adakah momen di mana kita tidak mengekspresikan diri? Bahkan di dalam mimpi pun, Anda masih mengekspresikan diri. Mengekspresikan diri adalah sesuatu yang sangat manusiawi, sesuatu yang sangat alamiah. Hewan dan tumbuhan pun mengekspresikan diri dengan caranya sendiri-sendiri.

Harimau mengaum, ayam berkokok, mawar menyebarkan wangi, dan jeruk membangkitkan aroma kesegaran. Ekspresi itu menunjukkan adanya kehidupan. Bahkan, alam semesta pun seolah berekspresi, matahari bersinar, bintang berkedip, angin berhembus, air gemercik, ombak berdebur. Ekspresi itu menyiratkan adanya Yang Maha Hidup.

Manusia memiliki kebebasan, maka setiap orang pun bebas memilih cara berekspresi. Ada yang merasa lebih cocok dengan suatu cara ketimbang cara yang lain. Pengarang besar asal Blora, Pramoedya Ananta Toer, jelas memilih menulis sebagai cara mengekspresikan diri, pikiran, gagasan, harapan, impian, dan cita-citanya. Pelukis Affandi lebih memilih goresan kuas dan cat minyak sebagai sarana mengekspresikan diri. Sedangkan musisi Idris Sardi lebih merasa pas menyalurkan getaran hatinya lewat getaran senar biolanya.

Ada orang-orang tertentu yang secara gemilang mampu mengekspresikan diri dengan banyak cara. Bung Karno, presiden pertama Indonesia, adalah insinyur sipil yang brilyan, politisi ulung, orator yang hebat, penulis yang piawai, sekaligus orang yang mampu mengapresiasi berbagai bentuk seni-budaya. Putranya, Guruh Soekarnoputra, mahir mengarang lagu, menari, merancang busana, dan lain-lain.

Tiga faktor untuk tumbuh menjadi penulis

Pertanyaan berikutnya, bagaimana seseorang bisa berkembang menjadi penulis profesional? Atau, bagaimana caranya agar seseorang jadi mahir menulis (meskipun ia tidak harus menggunakan keterampilannya tersebut untuk mencari nafkah)?

Nah, di sini saya ingin meminjam teori Ciputra, pengusaha besar yang sukses melahirkan Dunia Fantasi dan Taman Impian Jaya Ancol dari rawa-rawa Ancol itu. Menurut Ciputra, sedikitnya ada tiga faktor yang berperan. Ciputra menguraikan teori itu dalam konteks tumbuhnya seseorang menjadi entrepreneur atau wiraswasta, namun di sini saya mencoba mengadaptasi teori tersebut dalam konteks dunia kepenulisan.

Pertama, faktor keturunan. Contohnya adalah Faiz, putra rekan saya Tomi Satryatomo dan istrinya Helvi Tiana Rosa. Tomi adalah jurnalis yang biasa menulis, sedangkan Helvi adalah novelis ternama yang juga dosen. Lahir dari ayah dan ibu berlatar belakang seperti itu, saya tidak heran jika Faiz berkembang menjadi anak yang jago menulis, baik menulis karya prosa maupun puisi.

Kedua, faktor lingkungan. Seseorang bisa berkembang menjadi penulis berkat dukungan lingkungan. Misalnya, adanya perpustakaan yang baik dan lengkap di sekolah, orangtua yang rajin membelikan buku-buku bermutu untuk anaknya, guru yang selalu mendorong muridnya untuk menulis, adanya majalah dinding dan penerbitan kampus sebagai media tempat berlatih menulis, dan tersedianya buku-buku yang murah di pasaran. Semua itu adalah kondisi lingkungan yang menunjang.

Ketiga, minat dan tekad pribadi, yang mendorong seseorang untuk belajar dan berusaha menguasai keterampilan menulis. Faktor ketiga ini adalah yang paling menentukan, walaupun mungkin kurang ditunjang oleh faktor keturunan ataupun faktor lingkungan. Jika memiliki minat yang besar dan tekad yang kuat, seseorang yang awalnya biasa saja bukan tak mungkin tumbuh menjadi penulis yang hebat.

Jika melihat diri saya sendiri, sejatinya saya merasa kurang ditunjang faktor keturunan. Mendiang ayah saya, Wiharto Arismunandar, adalah anggota TNI Angkatan Udara, yang pada saat wafatnya akibat stroke tahun 1989 berpangkat Kolonel. Sedangkan ibu saya, Kustiwiyah, adalah mantan guru SMA. Ayah dan ibu saya bukan penulis, namun ibu saya suka membaca novel.

Paling banter, yang saya ingat, ibu adalah pembaca novel-novel karya Motinggo Busye, Asbari Nurpatria Krisna, Emile Zola, dan Alberto Moravia (versi terjemahan). Ketika masih siswa SD, saya diam-diam suka mencuri baca novel-novel tersebut, yang dari segi isi sebetulnya belum cocok untuk dibaca anak seusia saya.

Pernah suatu saat, ayah memergoki saya sedang membaca novel Motinggo Busye, yang menganut gaya “realis” dalam menggambarkan hubungan pria dan wanita. Ayah waktu itu tidak marah-marah, tetapi ia hanya berkata datar: “Kamu belum waktunya membaca novel semacam itu.”

Dari segi faktor lingkungan, untunglah ayah dan ibu mendukung kegemaran saya membaca dan menulis. Saya diizinkan membeli berbagai buku cerita atau komik. Saya ingat dulu rajin membeli komik karya Ganes TH (Jampang Jago Betawi, Si Buta dari Gua Hantu), Wid NS (Godam), Hasmi (Gundala Putra Petir, Maza si Penakluk, Pangeran Mlaar), Kus Bramiana (Labah-Labah Merah), dan lain-lain.

Saya juga rajin membaca cerita silat karangan Asmaraman Kho Ping Hoo, O.K.T, dan Gan KL, yang berjilid-jilid cukup tebal itu. Dengan harga tak terlalu mahal, sekitar tahun 1970-an saya biasa membeli novel terjemahan karya pengarang-pengarang terkenal, seperti: Ian Fleming, Edgar Allan Poe, Erle Stanley Gardner, Agatha Christie, dan Georges Simenon. Harga buku terjemahan itu cuma sekitar Rp 50,- (lima puluh rupiah) per buku. Saya membelinya di emperan, sekitar daerah Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Jadi penjaga perpustakaan

Saya beruntung punya guru seperti Pak Diro Wirawan. Guru dan wali kelas saya di SD I Petang Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, juga sangat mendorong minat saya membaca dan menulis. Pak Wir, begitu kami para murid menyebutnya, waktu itu mengelola sebuah perpustakaan miliknya, yang menyewakan buku cerita dan komik di luar jam sekolah.

Untuk meminjam buku di sana, tidak perlu membayar dengan uang, tetapi cukup dengan kertas koran. Satu jilid komik setebal 64 halaman boleh disewa dengan memberikan tiga lembar koran bekas. Dengan persyaratan semacam itu, saya waktu itu sangat rajin menyewa komik dari perpustakaan Pak Wir. Malah, Pak Wir kemudian mempercayai saya untuk menjaga perpustakaannya dan melayani jika ada pelanggan yang mau menyewa buku. Kesempatan itu saya manfaatkan untuk membaca buku-buku secara gratis di perpustakaannya.

Faktor terakhir, minat dan tekad, tampaknya berperan besar pada pilihan hidup saya menjadi jurnalis. Jurnalis dituntut banyak menggunakan keterampilan menulis dalam pelaksanaan tugas profesi sehari-hari. Karena memang berminat besar, tanpa disuruh siapapun, saya setiap hari selalu membaca berbagai topik yang menarik dari berbagai sumber: koran, majalah, buku, media online, dan sebagainya.

Hobi membaca itu berkaitan erat dengan hobi menulis. Orang umumnya sulit menjadi penulis yang baik jika ia tidak suka membaca. Membaca, selain berarti menyerap informasi dan mencerna makna, secara tak langsung sebetulnya melatih kita dalam menelusuri alur-alur kalimat dan memperkaya perbendaharaan kata-kata.

Susunan kata-kata membentuk kalimat. Susunan kalimat-kalimat membentuk alinea, yang menyampaikan konsep atau gagasan, dan membawa pembaca ke suatu pengertian atau pemahaman. Ketika pengertian yang satu berinteraksi dengan pengertian-pengertian yang lain, terbentuklah dunia ide yang bisa sangat luas, sangat dalam, dan mengasyikkan untuk dijelajahi.

Peran Si Kuncung

Ketika saya masih sekolah di SD, yang banyak membentuk dunia ide saya adalah majalah anak-anak seperti Si Kuncung, yang bisa dibeli di sekolah. Saya juga mulai belajar menulis. Tulisan saya pertama kali dimuat di rubrik anak di Harian Kompas, ketika saya masih duduk di kelas IV SD. Tulisan itu berjudul Membeli Ayam Betina. Tulisan itu adalah sebuah cerita sederhana tentang seorang anak yang menabung uang jajannya untuk membeli ayam betina.

Saya ingat, waktu itu Pak Wir begitu bangga pada saya. Saya pun diperkenalkan kepada para siswa di kelas-kelas yang lebih tinggi, di kelas V dan VI, sebagai contoh siswa yang berhasil memuat karyanya di media cetak untuk umum.

Entah karena kebetulan atau karena memang sudah jalan hidup saya, sejak masih SD sampai SMA, saya selalu berurusan atau disuruh menangani majalah dinding (mading). Saya sangat menikmati pembuatan tulisan untuk ditampilkan di mading. Itu saya lakukan sambil melatih dan mempraktikkan cara menulis, seperti yang diajarkan guru bahasa di sekolah, atau mencoba meniru gaya tulisan pengarang-pengarang yang sudah ternama.

Kecenderungan itu berlanjut ketika saya lulus SMA tahun 1980 dan melanjutkan studi ke Jurusan Elektro Fakultas Teknik UI di kampus Salemba 4, Jakarta Pusat. Sewaktu SMA, saya tergolong siswa yang “belajar terus dan kurang bermain.” Maka ketika jadi mahasiswa, saya justru terjun ke banyak aktivitas kemahasiswaan “sebagai kompensasi.”

Saya ikut aktif di BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) FTUI, Ikatan Mahasiswa Elektro, pencinta alam KAPA FTUI, dan Resimen Mahasiswa Batalyon UI. Hampir di setiap organisasi mahasiswa itu saya selalu kebagian tugas menjadi staf Humas atau pengelola buletin. Saya juga rajin mengirim tulisan ke media penerbitan lain di kampus, seperti ke Majalah Economica (Fakultas Ekonomi UI). Jadi, secara efektif, dalam semua aktivitas itu, kemampuan menulis saya terus terasah.

Apalagi ketika saya terjun ke suratkabar kampus Warta UI, yang staf redaksinya adalah mahasiswa dari berbagai fakultas. Di sini saya banyak menimba ilmu jurnalistik dan teknik penulisan dari rekan-rekan mahasiswa Ilmu komunikasi FISIP UI. Mereka adalah guru-guru pertama saya dalam ilmu jurnalistik dan teknik penulisan.

Menulis di Majalah Remaja

Pada tahun 1980-an atau tahun-tahun pertama kuliah di FTUI inilah, saya mulai giat menulis cerpen untuk dikirim ke berbagai majalah remaja, seperti: Halo, Anita Cemerlang, dan Gadis. Saya juga menulis artikel, resensi buku, laporan perjalanan, puisi, dan macam-macam lagi, dan dikirim ke media yang lebih umum, seperti tabloid Mutiara, koran Kompas, Pelita, dan sebagainya.

Saat itu saya sudah mulai mandiri secara finansial, karena honor yang saya peroleh dari kegiatan menulis saya gunakan untuk membayar uang kuliah. Pada penghujung tahun 1980-an itu, biaya kuliah di FTUI tidak mahal, cuma Rp 22.500,- per semester. Biaya murah ini dimungkinkan karena pemerintah memberi subsidi pada universitas-universitas negeri (sangat kontras dengan kondisi tahun 2009 sekarang). Sedangkan honor menulis satu cerpen di majalah Anita Cemerlang waktu itu sekitar Rp 17.500,-

Berkarya di majalah cerpen remaja memang menyenangkan. Terus terang, banyak sekali gagasan untuk penulisan cerpen itu berasal dari pengalaman saya sehari-hari sebagai aktivis mahasiswa. Bisa dibilang, 50 persen dari isi cerpen itu adalah peristiwa faktual, mencakup lokasi, setting cerita, bahkan nama tokoh-tokohnya. Tokoh utamanya adalah khayalan, namun “tokoh-tokoh figuran” dalam cerpen saya tak jarang adalah tokoh-tokoh nyata, dengan nama, karakter dan ciri fisik yang sama!

Jadi, saya menggabungkan separuh fakta dengan separuh khayalan dalam cerpen-cerpen saya. Saya malah pernah “nakal,” memasukkan nama dan nomor telepon seorang teman perempuan –anggota Marching Band UI-- dalam cerpen. Rupanya, ada seorang pembaca yang iseng menghubungi nomor itu. Bisa dibayangkan, betapa kagetnya teman saya, ditelepon orang yang tak dikenal, dan ternyata orang itu tahu nama dan nomor teleponnya dari cerpen saya! Untungnya dia tidak marah.

Karena asyik terjun di pers kampus dan bidang jurnalistik umumnya, pemikiran saya pun makin terbuka. Dunia ternyata bukan cuma terkait dengan arus listrik, daya, trafo, generator, kabel, dan instalasi penerangan, hal-hal yang biasa saya temui dalam kuliah di jurusan elektro. Saya makin merasa, kuliah teknik elektro terlalu sempit untuk minat saya yang begitu meluas.

Akibatnya, saya mulai malas kuliah, bahkan merasa salah jurusan. Kuliah saya pun jadi kacau. Bayangkan, pernah ketika esoknya mau ujian mata kuliah elektro, saya bukannya belajar tapi malah membaca buku kriminologi! Akibatnya, saya pun dimarahi ayah.

Bekerja di suratkabar profesional

Dalam kondisi seperti itu, tahun 1986, saya diajak seorang teman untuk ikut bergabung di suratkabar Pelita. Pelita adalah suratkabar milik PPP (Partai Persatuan Pembangunan), yang tidak sukses di pasar, dan karena itu lalu saham dan izin terbitnya dijual ke Golongan Karya (Golkar).

Manajemen baru Pelita di bawah Akbar Tandjung membutuhkan beberapa wartawan baru, dan saya pun mengisi lowongan itu. Meski Pelita hanyalah koran kecil, saya puas bisa berekspresi dan bereksperimen di situ. Saya malah pernah diserahi tanggung jawab untuk mengelola halaman opini. Gaji saya waktu itu sedikit di atas Rp 200 ribu.

Manajemen Pelita tidak begitu baik dan penuh konflik. Profesionalisme wartawan tidak mendapat perhatian serius. Karena ikut menggalang pembentukan serikat pekerja di Pelita, saya lalu dipecat. Lalu saya melamar ke harian Kompas. Saya diterima di Kompas pada Oktober 1988, setelah melalui tes dan proses seleksi yang lumayan ketat, meski saat itu saya belum lulus kuliah (kurang skripsi). Saya baru bisa menyelesaikan skripsi dan lulus dari FTUI tahun 1989, sesudah masuk Kompas.

Sesuai tradisi di Kompas waktu itu, selama sekitar tujuh bulan pertama saya bersama tujuh reporter baru lain digembleng di badan Litbang Kompas. Waktu itu Litbang Kompas dipimpin jurnalis senior J. Widodo. Meski saya sudah pernah bekerja di media lain, hal itu tidak dianggap signifikan. Saya diperlakukan sama seperti reporter baru lainnya, untuk “penyamaan visi” dan “penghayatan gaya Kompas” dalam teknik penulisan berita.

Selama masa penggemblengan ini, kami para jurnalis baru tiap hari berdiskusi, berlatih menulis berita, membuat judul, merencanakan peliputan, memilih angle berita, dan sebagainya. Kalaupun ditugaskan di lapangan, hasil liputan kami tidak pernah dimuat, tetapi hanya dijadikan bahan diskusi di kelas. Status saya selama masa penggemblengan ini adalah sebagai karyawan kontrak, dengan gaji Rp 450 ribu per bulan.

Selesai pendidikan, saya bersama tujuh rekan lain seangkatan mulai ditempatkan di desk liputan secara rotasi. Setiap desk dijalani selama sebulan. Sesudah menjalani rotasi itu, kinerja kami akan dievaluasi untuk memutuskan dua hal. Pertama, apakah kami layak diangkat sebagai karyawan tetap. Kedua, jika layak diangkat jadi karyawan tetap, desk liputan mana yang dianggap paling pas sebagai tempat penugasan. Biasanya, sesudah sekian bulan menjalani tugas di berbagai desk liputan, akan terlihat seorang reporter itu cocoknya ditempatkan di desk liputan yang mana.

Saya pernah bertugas di desk iptek dan Kompas Minggu (di bawah Ninuk Mardiana Pambudi), dikbud (di bawah Efix Mulyadi), serta internasional (di bawah Budiarto Shambazy, Rikard Bagun, Pieter Gero). Saya tampaknya dianggap cocok bertugas di desk luar negeri sehingga lama menghabiskan masa kerja di desk tersebut. Di desk ini saya secara tak langsung dipaksa belajar bahasa Inggris, karena tugas harian saya adalah menyeleksi, merangkum, dan menterjemahkan pasokan berita dari kantor berita asing (terutama AP, AFP, dan Reuter).

Meliput Perang Teluk di Irak

Karena dianggap cukup sukses meliput di daerah konflik di Papua (waktu itu masih bernama Irian Jaya) dan Aceh pada awal 1990-an, saya akhirnya dipercaya meliput event yang jauh lebih besar dan bersejarah buat saya. Yaitu, meliput krisis dan Perang Teluk pertama di Irak tahun 1991.

Saya pernah berdoa, agar Allah SWT mengizinkan saya menjadi saksi suatu peristiwa bersejarah yang besar. Rupanya doa saya terkabul. Tahun 1990, Irak menyerbu Kuwait sesudah terjadinya sengketa perminyakan antara kedua negara. Irak menuduh Kuwait mencuri minyak Irak dengan cara pengeboran miring, yang masuk ke ladang minyak Rumaila di wilayah Irak.

Serbuan militer Irak tak bisa diterima Amerika, yang kemudian menggalang sekutu-sekutunya untuk mengusir Irak dari Kuwait. Perang pun tak terhindarkan pada 1991.
Saya masuk ke Irak bergabung dengan Tim Perdamaian Teluk (Gulf Peace Team), bersama dua rekan dari Indonesia: Rizal Mallarangeng dan Taufik Rahzen. Kami bertiga menginap di Hotel Al-Rasheed, Baghdad, ketika bom-bom pertama dari pesawat AS dan sekutunya dihunjamkan ke Baghdad, yang menandai mulainya Perang Teluk. Pengalaman meliput Perang Teluk itu kelak saya bukukan, dalam buku berjudul Catatan Harian dari Baghdad (PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1991).

Pada 21 Juni 1994, pemerintah Soeharto melalui Menteri Penerangan Harmoko, membreidel tiga media: DeTik, Editor, dan Tempo. Ironisnya, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tidak tegas membela para karyawan pers dan malah membuat pernyataan yang “memaklumi pembreidelan.” Para jurnalis muda yang idealis pun menemukan momentum untuk mendirikan organisasi jurnalis alternatif, yang lebih militan dan tegas dalam melawan rezim otoriter Soeharto. Maka berdirilah AJI (Aliansi Jurnalis independen) pada 7 Agustus 1994 melalui Deklarasi Sirnagalih. Saya ikut mendirikan AJI.

Keterlibatan saya dalam berbagai aksi demonstrasi anti-pembreidelan bersama AJI, serta aktivitas lain saya sebagai salah satu pimpinan di SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia), rupanya membuat pemerintah berang. Mereka menekan pimpinan tertinggi Kompas, Jakob Oetama, untuk menindak jurnalis Kompas yang dianggap menentang pemerintah.

Saya pun bersama rekan Dhia Prekasha Yoedha akhirnya dipaksa mundur dari Kompas pada Mei 1995. Kompas bersikap pragmatis. Lebih baik memberhentikan dua jurnalis demi menyelamatkan perusahaan serta 3.000 karyawan yang lain, meskipun pemberhentian itu murni bersifat politis.

Karena nama saya dan Yoedha masuk dalam daftar hitam (black list) penguasa Orde Baru, kami tidak bisa bekerja di media lain waktu itu. Tidak akan ada media yang mau menerima kami, karena tak ada yang mau diangap menentang pemerintah. Dalam kondisi tanpa pekerjaan itu, saya masih bisa bertahan berkat adanya pesangon yang lumayan dari Kompas. Saya juga sempat menerbitkan buku saya yang lain, Di Bawah Langit Jerusalem. Buku ini berisi kumpulan artikel saya tentang politik di Timur Tengah dan konflik Arab-Israel.

Saya dan blog saya sekarang

Sesudah sempat menganggur beberapa lama, sekeluar saya dari Kompas, saya akhirnya bekerja kembali sebagai jurnalis di Majalah D&R, harian Media Indonesia, dan akhirnya di Divisi News Trans TV. Di Trans TV, sebagai Produser Eksekutif, kini saya relatif tidak banyak menulis berita dibandingkan ketika masih bekerja di media cetak.

Kini saya mengisi waktu luang, di sela-sela kesibukan kantor, dengan mengisi dan meramaikan blog saya (http://satrioarismunandar6.blogspot.com/) lewat berbagai tulisan. Biasanya, essay-essay pendek yang berkaitan dengan jurnalisme. Saya kebetulan juga mengajar sebagai dosen jurnalistik di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) dan di FISIP UI. Oleh karena itu, saya menganjurkan para mahasiswa untuk membuka blog saya, jika mereka membutuhkan referensi atau materi kuliah.

Saya bersyukur memiliki hobi membaca dan menulis. Tanpa dua hal itu, mungkin saya tidak akan menjadi seperti yang sekarang ini. Membaca bagi saya seperti membuka jendela untuk melihat dunia. Sedangkan menulis seperti jalan untuk mempengaruhi dan membentuk dunia.

Setiap orang punya pengalaman sendiri-sendiri. Oleh karena itu, saya tidak pernah bermimpi untuk mengajari atau menguliahi Anda. Saya hanya berharap, pengalaman tulis-menulis saya ini bisa menjadi bahan perbandingan, syukur-syukur menjadi inspirasi bagi mereka yang baru memulai untuk jadi penulis, cerpenis, novelis, jurnalis, atau sekadar pengisi buku harian pribadi. Semua itu baik-baik saja.

Jakarta, 8 Mei 2009

Comments

Retty N. Hakim said…
Pertama-tama, foto harimaunya keren...hehehe...

Kedua, ternyata kita sama-sama suka nyolong baca buku ya...(kalau saya suka nyolong waktu, disuruh tidur malah asyik baca...kadang menipu dengan mengecilkan nyala lampu, lupa akibatnya pada mata saya...)

Ketiga, sama-sama tertolong oleh perpustakaan...kalau saya ada perpustakaan gereja, ada perpustakaan sekolah...

Yang beda saya nggak menerbitkan cerpen hehehe...pernah kirim puisi ke Bobo terus nggak ada kabar beritanya, dan nggak pernah ngirim lagi. Pernah coba nulis cerpen tapi begitu dibaca rasanya jelek amat hehehe...masuk tong sampah atau masuk ke map-map terlantar hehehe...

Rasanya sih saya bukan tipe penulis fiksi, tapi siapa tahu nanti ya...sekarang menulis sekedar mencatat aktivitas sel-sel abu-abu yang kumuliki selama mereka masih sanggup aktif berfikir. Terima kasih sharingnya, salam...
Haris Priyatna said…
tulisan saya pun kadang seperti harimau yang mengaum, kadang seperti mawar yang menyebarkan wangi
Ashejun said…
Terima kasih pada bapak Satrio Arismunandar atas blognya yang saya baca ini.

Dengan tidak sengaja saya membuka dan membaca blog ini yang membuat saya sadar dan mengerti apa sesungguhnya yang selama ini saya rasakan dari kesenangan menuangkan ungkapan kata hati yang selalu saya tulis dalam buku catatan saya yang saya beri judul "Kumpulan kata berhikmah" yang artinya dari pemahaman yang dirasakan diri saya sendiri dari apa yang saya lihat, saya rasakan, saya buktikan sendiri kebenarannya walau terkadang ada saja orang yang setuju dan tidak, yang merasakan dan tidak dan saya memaklumi itu.

Sedikit saya punya pengalaman pernah menulis kata-kata sederhana menyerupai kata mutiara mengenai hukum yang saya beri judul "Nasihat sederhana berakhlak dalam hukum" yang saya tulis dengan tidak sengaja tanpa dasar pengetahuan itu hanya sekedar mengikuti ucapan hati yang niatnya ingin agar hukum itu begini kebenarannya, penegak hukum itu begini akhlaknya intinya bila hukum itu sudah jelas ada dibuat dan benar hakikatnya maka terapkan, jalankan, tegakan sesuai dengan hakikat kebenaranny oleh orang-orang yang sudah diberi kewenangan untuk itu dan penegak hukum sendiri jangan sekali-kali pernah melanggarnya atau hukum akan menimpa dirinya juga dengan sanksi lebih berat daripada orang-orang biasa.

Sampai sekarang saya biasa suka menuliskan ungkapan kata hati saya lewat facebook sebagai suatu kesenangan sekaligus sebagai suatu kenikmatan yang saya rasakan sendi
ri terlepas dari adanya komentar pedas yang kadang terasa panas dirasakan hati namun selalu saya padamkan dengan ungkapan kata-kata lainnya sebagai jawaban.

Bagaimana agar saya benar-benar bisa menjadi penulis yang berarti bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain, saya mohon sarannya.

Sebelumnya terima kasih

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI