Posts

Showing posts from June, 2009

ETIKA DALAM PENULISAN ILMIAH POPULER

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Pengantar

Menulis di media massa merupakan salah satu wujud dari kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat. Kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat itu sendiri adalah salah satu hak asasi manusia, yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB.

Untuk menjamin kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat, serta memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, diperlukan landasan moral dan etika bagi mereka yang menulis di media massa. Landasan ini menjadi pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas.

Etika (ethics) adalah suatu sistem tindakan atau perilaku, suatu prinsip-prinsip moral, atau suatu standar tentang yang benar dan salah. Maka etika bagi penulis ilmiah populer adalah semacam standar aturan perilaku dan moral, yang mengikat mereka dalam melaksanakan pekerjaannya.

Etika semacam ini penting. Pentingnya bukan hanya untuk memelihara dan menjaga standar …

KRITERIA PEMILIHAN TOPIK UNTUK TULISAN ILMIAH POPULER

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Sejumlah teman, yang ingin mengirimkan artikel karyanya ke media massa umum, mengeluh bahwa mereka sulit menemukan topik yang tepat. Menulis artikel ilmiah, untuk dimuat di jurnal akademis, memang berbeda dengan membuat tulisan ilmiah populer untuk dimuat di media umum.

Dalam memilih topik tersebut, kita harus memperhatikan selera dan kebijakan redaksional dari media bersangkutan. Yang tak kalah penting, kita juga harus memahami khalayak pembaca yang dituju. Selain itu, kita perlu memahami bagaimana cara media bekerja dan bagaimana pengelola media memutuskan untuk mengangkat satu topik tertentu.

Setiap media memiliki apa yang disebut kriteria kelayakan berita. Selain itu, mereka juga memiliki apa yang disebut kebijakan redaksional (editorial policy). Kriteria kelayakan berita itu bersifat umum (universal), dan tak jauh berbeda antara satu media dengan media yang lain. Sedangkan kebijakan redaksional setiap media bisa berbeda, tergantung visi dan misi atau ideolog…

MENGIDENTIFIKASI, MENGANALISIS, MENENTUKAN DAN MENGUJI IDE UNTUK TULISAN ILMIAH POPULER

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Pengantar

Mendapatkan ide, gagasan, atau topik tulisan, sering menjadi persoalan bagi mereka yang mulai belajar menulis artikel ilmiah populer. Jawaban atas pertanyaan ini mudah sekaligus juga tidak mudah, karena ini seperti pengalaman naik sepeda. Ketika pertama kali belajar naik sepeda, kita mungkin akan jatuh berkali-kali dan menderita lecet di sana-sini. Pengalaman pertama ini terasa berat.

Kemudian, ketika kita sudah mahir bersepeda, semua terasa jauh lebih mudah. Kita bahkan bisa mengobrol, mendengarkan musik, sambil bersepeda. Bersepeda bukan lagi suatu kegiatan yang harus dipikirkan. Bersepeda itu seolah-olah terjadi begitu saja dan terasa begitu alamiah.

Mengidentifikasi ide tulisan juga demikian halnya. Pada awalnya terasa sulit, tetapi kita semakin sering dan terbiasa mempraktikkannya, akan terasa semakin mudah. Hal ini terjadi karena yang dibutuhkan adalah kepekaan dalam menangkap berbagai hal yang sebenarnya sudah ada di sekitar kita. Seringkali ide t…

TANYA-JAWAB SOAL RISIKO BEROPINI DI BLOG, MILIS DAN MEDIA ONLINE (DUNIA MAYA)

Image
Apa sesungguhnya yang paling berbahaya bagi netter jika mereka mengeluarkan opini atau curhat atau komplain di dunia maya?

Bahayanya, sekali kita menulis sesuatu di dunia maya, tulisan itu seperti punya nyawa sendiri. Ia lepas dari kontrol kita dan kita tak bisa menariknya lagi. Orang lain bisa mem-forward opini itu ke mana-mana tanpa bisa kita halangi. Bahkan orang itu bisa mengubah isi opini kita, mendramatisasi, menambahkan sesuatu, menghapus bagian tertentu, dan sebagainya. Bagi orang lain yang menerima pesan itu, mereka tahunya kita adalah penulisnya.

Jika curhat/komplain itu hanya berupa lampiasan emosi belaka, apakah juga bisa dituntut secara hukum?Apakah tidak ada hal untuk membela diri bahwa saat itu kita sedang dalam kondisi emosi, sama seperti orang yang membunuh karena emosi kan ada peringanan hukuman?

Opini tertulis saya kira berbeda dengan reaksi spontan, seperti ketika orang sedang marah atau kalap. Jika kita diserang orang dengan pisau, secara refleks kita bisa menangkis …

HILANGNYA PRIVASI DAN KEBEBASAN DALAM MASYARAKAT INFORMASI

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi akhir-akhir ini telah menghasilkan fenomena yang tak terbayangkan, yaitu makin menipisnya ruang privat. Bahkan muncul ancaman berupa hilangnya ruang privat sehingga anggota masyarakat tidak lagi memiliki privasi. Sebelum terjadinya fenomena kontemporer ini, manusia sebagai anggota masyarakat memiliki ruang privat dan ruang publik. Tetapi ruang privat itu kini terancam benar-benar “lenyap.”
Ada beberapa contoh dari fenomena ini. Pertama, menjamurnya program reality show di berbagai stasiun TV, yang menunjukkan batas antara yang privat dan yang publik telah semakin kabur. Penggunaan kamera atau alat rekam tersembunyi adalah salah satu wujudnya. Sehingga, kita tidak pernah tahu, apakah pada suatu saat dan tempat tertentu kita sedang disorot kamera atau tidak.

KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) di Indonesia melakukan penyadapan telepon dan handphone tanpa harus minta izin pada pihak tersangka korupsi yang disadap.…

PANOPTICON SEBAGAI MODEL PENDISIPLINAN MASYARAKAT (MENURUT MICHEL FOUCAULT)

Image
Pengantar

Panopticon pada awalnya adalah konsep bangunan penjara yang dirancang oleh filsuf Inggris dan teoretisi sosial Jeremy Bentham pada 1785. Konsep desain penjara itu memungkinkan seorang pengawas untuk mengawasi (-opticon) semua (pan-) tahanan, tanpa tahanan itu bisa mengetahui apakah mereka sedang diamati. Karena itu, konsep Panopticon ini menyampaikan apa yang oleh seorang arsitek disebut ”sentimen kemahatahuan yang tidak terlihat”.

Bentham memperoleh ide Panopticon ini dari rencana pembangunan sekolah militer di Perancis, yang dirancang untuk memudahkan pengawasan. Rancangan awal itu sendiri berasal dari kakak Bentham, Samuel, yang menjadikan Panopticon sebagai solusi bagi rumitnya keterlibatan, dalam upaya menangani sejumlah besar orang. Panopticon oleh Bentham dimaksudkan sebagai model penjara yang lebih murah dibandingkan penjara lain pada masanya, karena hanya membutuhkan sedikit staf.

Pada perkembangannya kemudian, Panopticon bukan lagi sekadar desain arsitektur, namun ia …

ALIENASI MANUSIA DI BAWAH SISTEM KAPITALISME MENURUT KARL MARX

Image
Pengantar

Teori alienasi atau keterasingan, sebagaimana diekspresikan dalam tulisan-tulisan Karl Marx muda (khususnya dalam Manuskrip 1844), merujuk ke pemisahan hal-hal yang secara alamiah milik bersama, atau membangun antagonisme di antara hal-hal yang secara pas sudah berada dalam keselarasan.

Dalam penggunaan yang terpenting, konsep itu mengacu ke alienasi sosial seseorang dari aspek-aspek “hakikat kemanusiaannya” (Gattungswesen, biasanya diterjemahkan sebagai species-essence atau 'esensi spesis,' atau species-being). Marx percaya bahwa alienasi merupakan hasil sistematik dari kapitalisme.

Teori-teori Marx ini mengandalkan pada Esensi-esensi Kekristenan (1841) karya Feuerbach, yang berpendapat bahwa gagasan tentang Tuhan telah mengasingkan ciri-ciri makhluk manusia. Stirner akan membawa analisis itu lebih jauh, dengan mendeklarasikan bahwa bahkan “kemanusiaan” itu sendiri merupakan pengasingan dari individu. Marx dan Engels menanggapi pandangan itu dalam Ideologi Jerman (1845…

FENOMENOLOGI SEBAGAI SEBUAH METODE FILSAFAT

Image
Pengantar

Fenomenologi adalah metode filosofis yang berkembang pada tahun-tahun pertama abad ke-20 oleh Edmund Husserl dan lingkaran pengikutnya di Universitas Göttingen dan Munich di Jerman. Setelah itu, tema-tema fenomenologis diangkat oleh para filsuf di Perancis, Amerika, dan bagian dunia lainnya, seringkali dalam konteks-konteks yang jauh dari karya Husserl.

“Fenomenologi” berasal dari kata Yunani phainómenon, yang berarti “yang tampak,” dan lógos, berarti “studi.” Dalam konsepsi Husserl, fenomenologi terutama berurusan dengan pembentukan struktur-struktur kesadaran, dan fenomena yang tampak dalam tindakan-tindakan kesadaran, obyek-obyek refleksi sistematis dan analisis.

Refleksi semacam itu akan terjadi dari sudut pandang “orang pertama” yang sangat dimodifikasi, yang mempelajari fenomena tidak seperti apa tampaknya pada kesadaran “saya”, tetapi terhadap tiap kesadaran apapun. Husserl percaya, fenomenologi dengan demikian dapat menyediakan landasan yang kokoh bagi seluruh pengetahu…