MENGIDENTIFIKASI, MENGANALISIS, MENENTUKAN DAN MENGUJI IDE UNTUK TULISAN ILMIAH POPULER

Oleh Satrio Arismunandar

Pengantar

Mendapatkan ide, gagasan, atau topik tulisan, sering menjadi persoalan bagi mereka yang mulai belajar menulis artikel ilmiah populer. Jawaban atas pertanyaan ini mudah sekaligus juga tidak mudah, karena ini seperti pengalaman naik sepeda. Ketika pertama kali belajar naik sepeda, kita mungkin akan jatuh berkali-kali dan menderita lecet di sana-sini. Pengalaman pertama ini terasa berat.

Kemudian, ketika kita sudah mahir bersepeda, semua terasa jauh lebih mudah. Kita bahkan bisa mengobrol, mendengarkan musik, sambil bersepeda. Bersepeda bukan lagi suatu kegiatan yang harus dipikirkan. Bersepeda itu seolah-olah terjadi begitu saja dan terasa begitu alamiah.

Mengidentifikasi ide tulisan juga demikian halnya. Pada awalnya terasa sulit, tetapi kita semakin sering dan terbiasa mempraktikkannya, akan terasa semakin mudah. Hal ini terjadi karena yang dibutuhkan adalah kepekaan dalam menangkap berbagai hal yang sebenarnya sudah ada di sekitar kita. Seringkali ide tulisan muncul dari hal-hal yang kita anggap sederhana.

Mengidentifikasi Ide

Bayangkanlah, pada pagi hari Anda berangkat ke kantor dengan bus umum. Saat itu Anda melihat, knalpot bus mengeluarkan asap tebal berwarna hitam pekat. Asap ini sudah pasti akan menambah tingkat pencemaran udara di kota. Tiba-tiba Anda berpikir, mengapa tidak menulis tentang dampak asap knalpot kendaraan bermotor terhadap kadar pencemaran udara di kota-kota di Indonesia?

Sesampai di kantor, Anda bertemu seorang teman. Teman Anda bercerita bahwa ia harus ke dokter siang itu untuk memeriksakan diri karena gangguan alergi. Kata dokter, teman Anda itu sebetulnya tidak sakit apa-apa, namun menderita stres berat akibat tekanan kerja di kantor. Mendengar cerita teman Anda, terpikirlah ide untuk menulis artikel tentang dampak lingkungan kerja di kantor terhadap kesehatan karyawan.

Sesudah teman Anda pergi, Anda membaca koran yang disediakan kantor sambil menghirup kopi. Ada berita tentang seorang gadis cantk yang wajahnya rusak karena salah memakai kosmetik. Kosmetik itu ternyata menggunakan bahan kimia berbahaya dan belum mendapat izin edar dari Badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan). Kali ini, Anda juga merasa mendapat ide untuk menulis tentang peredaran kosmetik ilegal, yang membahayakan para konsumen.

Ketika Anda sedang asyik membaca, atasan memanggil Anda ke ruang kerjanya. Ternyata ia menugaskan Anda untuk membuat tulisan khusus, guna dimuat di majalah yang diterbitkan oleh departemen tempat Anda bekerja.

Atasan Anda mengatakan, ada beberapa hasil riset yang sudah tuntas. Sayangnya, hasil riset itu selama ini hanya disimpan sebagai dokumen mati dan tidak termanfaatkan. Sangat memprihatinkan, jika riset-riset yang memakan biaya mahal itu tidak memberi nilai tambah apapun, karena kurang tersosialisasi.

Jadi, dengan menyuruh Anda menuliskan hasil riset itu secara ilmiah populer, diharapkan terjadi sosialisasi yang lebih luas. Siapa tahu akan ada perhatian dari pihak pimpinan departemen, untuk mendayagunakan hasil riset-riset tersebut. Nah, sekali ini Anda juga terdorong untuk menulis, namun lebih karena adanya perintah atasan.

Cerita di atas tadi bisa lebih panjang lagi. Namun, sekadar sebagai ilustrasi, tampaknya cerita itu sudah cukup. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa ide bagi tulisan sebetulnya bisa diperoleh dari mana saja. Marilah saya sebutkan sebagian di antaranya:

*Hasil pengamatan, renungan atau pengalaman sendiri.
*Info, masukan, saran, atau pengalaman orang lain.
*Masukan dari media massa, seperti: buku, koran, majalah, radio televisi, media online, dan sebagainya.
*Hasil riset sendiri atau orang lain, yang sudah dilakukan.
*Dan lain-lain.

Menganalisis Ide

Gagasan atau ide penulisan yang kita peroleh biasanya masih dalam bentuk kasar. Mungkin baru garis besar atau pokok pikiran utama. Untuk diproses menjadi sebuah tulisan ilmiah populer yang layak dimuat di media, ada sejumlah tahapan yang harus dijalani. Tahapan pertama adalah analisis ide.

Seumpama orang mau membuat mobil, tentu dia harus merinci rancangan mobil itu lewat sejumlah pertanyaan:
*Mobil ini mau dipakai untuk apa? (Untuk angkutan barang, patroli polisi, ambulans, taksi, membawa pasangan pengantin, antar-jemput pegawai, dan sebagainya).
*Perlengkapan apa yang harus ada pada mobil ini? (AC, radio, CD/DVD, televisi LCD, anti-lock braking system, dan sebagainya).
*Ukurannya seberapa besar? (Mungil, sedang, besar).
*Kapasitas mesinnya seberapa kuat? (1.300 CC, 1.800 CC, 2.000 CC, dan seterusnya)
*Warnanya apa? (Putih, kuning, merah, biru, metalik, dan sebagainya).
*Jika dijual, harganya berapa? (Harga akan mempengaruhi kualitas bahan yang digunakan).
*Dan seterusnya.

Jadi, seperti contoh membuat mobil tadi, menganalisis ide artinya memecah-mecah ide utama itu menjadi bagian-bagian kecil yang bisa dicermati, ditelusuri, dilengkapi, diperkaya, dan dipulas. Tujuannya, ketika bagian-bagian kecil itu akhirnya disatukan kembali, ia menjadi satu bagian yang utuh, lengkap, informatif, bermakna, dan tentunya harus menarik untuk dibaca.

Untuk memecah ide utama ini, kita bisa menggunakan pisau analisis dengan rumus 5W+1H, yang biasa digunakan dalam dunia jurnalistik. Yaitu: What (apa), who (siapa), where (di mana), when (kapan), why (mengapa), dan how (bagaimana).

Sebagai contoh:
Ide utama:
Pencemaran udara di perkotaan
Apa: Pencemaran udara di kota-kota Indonesia memburuk
Siapa: Pemilik kendaraan bermotor, polisi, DLLAJR, pemerintah kota, produsen mobil, kementerian lingkungan hidup, LSM lingkungan, dll.
Di mana: Kota-kota utama, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dll.
Kapan: Tahun 2000-an, khususnya pada lima tahun terakhir (pemerintahan SBY-JK).
Mengapa: Tidak ada kontrol yang ketat terhadap tingkat polusi, mobil-mobil tua dibiarkan beroperasi, bahan bakar yang digunakan tidak memenuhi standar lingkungan, produksi mobil terus meningkat, dan lain-lain.
Bagaimana: Data jumlah mobil dan sepeda motor yang ada, persentase pertumbuhan angkutan umum dan mobil pribadi, tingkat polusi yang terjadi, daerah yang sudah parah polusinya dan daerah yang relatif masih aman, daftar kota-kota yang polusinya terburuk, perbandingan dengan kondisi polusi di negara-negara tetangga ASEAN, kerugian yang terjadi akibat polusi, dampak pada kesehatan masyarakat, tarik-menarik kepentingan antara berbagai pihak terkait, dan lain-lain.

Menentukan Ide

Menentukan ide, yang dipilih untuk ditulis, bisa dilakukan setelah kita menganalisis beberapa ide utama dan membanding-bandingkannya. Dari perbandingan analisis secara kasar tersebut dapat diketahui, ide mana yang lebih kuat dan lebih layak ditulis. Dapat diketahui pula, ide mana yang masih lemah dan membutuhkan banyak eksplorasi lebih lanjut untuk menguatkannya.

Kekuatan suatu ide dapat diukur dari beberapa hal. Antara lain:
Pertama, seberapa jauh alur logika berpikir, serta argumen-argumen yang kita ajukan, akan mendukung proposisi (what) yang kita kedepankan dan kita pertahankan di depan khalayak pembaca.

Sebagai contoh, ketika proposisi yang kita kedepankan berbunyi “pencemaran udara di kota-kota Indonesia memburuk,” secara logis dapat dilihat, apakah argumen-argumen (why) yang kita paparkan memang mendukung proposisi tersebut. Jika argumen-argumen itu tidak relevan atau tidak berhubungan dengan proposisi yang kita kedepankan, berarti proposisi itu lemah dan tak layak dituliskan.

Kedua, seberapa jauh data dan berbagai penjelasan lain yang kita miliki (how) mendukung argumen-argumen yang ada (why).

Misalnya:
*Betulkah jumlah mobil dan sepeda motor di perkotaan meningkat drastis?
*Betulkah persentase pertumbuhan angkutan umum dan mobil pribadi itu sudah mencapai tingkat yang gawat?
*Bagaimana perbandingan tingkat polusi udara dari kendaraan bermotor dibandingkan dengan polusi yang berasal dari sumber lain (asap pabrik, kebakaran hutan)?
*Berapa persisnya tingkat polusi udara yang terjadi di kota-kota di Indonesia?
Daerah mana saja yang sudah parah tingkat polusinya dan daerah mana yang relatif masih aman?
*Betulkah tingkat polusi udara di kota-kota di Indonesia lebih buruk dibandingkan dengan kondisi polusi di kota-kota ASEAN lainnya?
*Dan lain-lain.

Jika data dan berbagai penjelasan lain itu sangat kurang atau berasal dari sumber yang sumir, tidak kredibel, atau tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka tulisan kita juga akan lemah. Paling jauh, tulisan ini hanya akan bermain di tataran teori, karena kurang didukung data empiris yang memadai.

Menguji ide

Menguji ide sebaiknya dilakukan lewat diskusi, konsultasi, dan pemaparan ide dengan berbagai perangkatnya ke pihak luar. Pihak luar ini bisa orang awam (untuk topik yang relatif sederhana), kalangan profesional, peneliti, pakar, dan seterusnya. Pengujian ide ini cukup dilakukan secara informal.

Pengujian ini perlu dilakukan karena jika menggunakan pertimbangan kita sendiri --sebagai penulis-- tentu terlalu subyektif. Kita perlu opini lain sebagai pembanding, bahkan pengkritisi. Dari masukan pihak luar itu, kita dapat mengetahui berbagai potensi kelemahan dan kekurangan pada tulisan kita, baik yang menyangkut proposisi, alur logika, argumentasi, dan data pendukung.

Masukan dari pihak luar itu kita manfaatkan untuk menambal “bolong-bolong” argumen atau data dalam tulisan kita, sehingga tulisan itu bisa dibuat lebih sempurna.

Jakarta, Mei 2009

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)