PANOPTICON SEBAGAI MODEL PENDISIPLINAN MASYARAKAT (MENURUT MICHEL FOUCAULT)

Pengantar

Panopticon pada awalnya adalah konsep bangunan penjara yang dirancang oleh filsuf Inggris dan teoretisi sosial Jeremy Bentham pada 1785. Konsep desain penjara itu memungkinkan seorang pengawas untuk mengawasi (-opticon) semua (pan-) tahanan, tanpa tahanan itu bisa mengetahui apakah mereka sedang diamati. Karena itu, konsep Panopticon ini menyampaikan apa yang oleh seorang arsitek disebut ”sentimen kemahatahuan yang tidak terlihat”.

Bentham memperoleh ide Panopticon ini dari rencana pembangunan sekolah militer di Perancis, yang dirancang untuk memudahkan pengawasan. Rancangan awal itu sendiri berasal dari kakak Bentham, Samuel, yang menjadikan Panopticon sebagai solusi bagi rumitnya keterlibatan, dalam upaya menangani sejumlah besar orang. Panopticon oleh Bentham dimaksudkan sebagai model penjara yang lebih murah dibandingkan penjara lain pada masanya, karena hanya membutuhkan sedikit staf.

Pada perkembangannya kemudian, Panopticon bukan lagi sekadar desain arsitektur, namun ia menjadi suatu model pengawasan dan pendisiplinan masyarakat, yang juga diterapkan sampai zaman sekarang. Filsuf yang mengulas masalah pendisiplinan masyarakat dengan model Panopticon ini adalah Michel Foucault.

Desain Panopticon ini disebut oleh Michel Foucault dalam bukunya Surveiller et punir: Naissance de la Prison (1975) yang terbit di Perancis, dan lalu diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul Discipline and Punish: The Birth of the Prison (1977). Desain Panopticon ini menjadi metafora bagi masyarakat “disiplin” modern dan kecenderungannya yang menyebar, untuk mengawasi dan menormalisasi.

Struktur Hirarkial

Buku ini merupakan penelaahan mekanisme sosial dan teoretikal di belakang perubahan-perubahan masif, yang terjadi pada sistem penghukuman Barat selama zaman modern. Foucault mengawali bukunya dengan mengkontraskan dua bentuk hukuman: kekerasan dan penyiksaan di depan publik yang kacau pada akhir abad ke-18; serta penjadwalan harian yang sangat teratur bagi para tahanan pada awal abad ke-19.

Contoh-contoh ini menunjukkan gambaran, betapa besarnya perubahan dalam sistem penghukuman Barat sesudah kurang dari seabad. Foucault ingin agar para pembaca bukunya mempertimbangkan hal ini. Bagaimana budaya Barat bisa bergeser begitu radikal?

Untuk menjawab hal itu, Foucault mulai menguji penyiksaan itu sendiri. Menurut Foucault, penyiksaan di depan publik merupakan forum teatrikal yang melayani sejumlah maksud yang diniatkan dan tidak diniatkan bagi masyarakat. Maksud yang diniatkan itu adalah, pertama, pencerminan kekerasan dari kejahatan asal kepada tubuh terpidana untuk dilihat semua orang.

Kedua, melakukan pembalasan terhadap tubuh terpidana, di mana upaya oleh yang pihak berkuasa untuk memilikinya, telah dicederai oleh kejahatan. Di sini Foucault berargumen bahwa hukum dianggap sebagai kepanjangan dari tubuh pihak yang berkuasa, dan dengan demikian pembalasan terhadap terpidana harus berbentuk menyakiti tubuh terpidana.

Pembahasannya terfokus pada dokumen-dokumen bersejarah dari Perancis, namun isu-isu yang ditelaahnya tetap relevan bagi setiap masyarakat Barat modern. Karya Foucault ini dianggap sebagai karya yang punya kemungkinan berkembang, dan telah mempengaruhi banyak ahli teori dan seniman.

Manurut Foucault, dampak utama Panopticon adalah sebegitu rupa sehingga menyebabkan adanya kesadaran dan visibilitas pada tahanan, yang memastikan berfungsinya kekuasaan secara otomatis. Jadi, ia mengatur berbagai hal yang --pada dampaknya pada si tahanan-- pengawasan itu seolah-olah dirasakan bersifat permanen, sekalipun sebenarnya mungkin terjadi ketidaksinambungan pengawasan.

Foucault menyatakan, bukan hanya penjara tetapi seluruh struktur hirarkial --seperti tentara, sekolah, rumah sakit dan pabrik-- telah mengembangkan dalam sejarahnya pembentukan struktur yang mirip Panopticon-nya Bentham. Keterkenalan desain tersebut saat ini (walaupun tidak memiliki pengaruh yang bertahan lama dalam realitas arsitektural) berasal dari analisis Foucault yang terkenal tentang hal tersebut.

Para pengritik sosial kontemporer sering menegaskan bahwa teknologi telah memungkinkan pengerahan struktur-struktur panoptic yang tidak bisa terlihat di seluruh masyarakat. Pengawasan lewat kamera CCTV di tempat-tempat publik adalah contoh teknologi yang membawa cara pandang serius dari orang unggul ke kehidupan sehari-hari populasi.

Menurut Foucault, munculnya penjara sebagai bentuk penghukuman bagi setiap kejahatan tumbuh dari perkembangan disiplin pada abad ke-18 dan ke-19. Ia melihat ke perkembangan bentuk-bentuk disiplin yang sangat dipercanggih. Yakni, disiplin yang terkait dengan aspek-aspek terkecil dan paling persis dari tubuh manusia.

Empat Ciri Individualitas

Institusi-institusi modern mensyaratkan bahwa tubuh harus diindividuasikan sesuai dengan tugas-tugas mereka, serta untuk pelatihan, observasi, dan kontrol. Karena itu, disiplin menciptakan keseluruhan bentuk baru individualitas bagi tubuh-tubuh, yang memungkinkan mereka melaksanakan tugasnya dalam bentuk baru organisasi-organisasi ekonomi, politik, dan militer, yang muncul pada zaman modern dan terus berlangsung sampai saat ini.

Individualitas yang mendisiplinkan konstruksi bagi tubuh yang dikontrolnya memiliki empat ciri, yang katakankah membentuk individualitas, yaitu:
Selular – menentukan distribusi spasial tubuh-tubuh.
Organik – memastikan bahwa aktivitas yang dibutuhkan oleh tubuh-tubuh bersifat “alamiah” bagi mereka.
Genetik – pengontrolan evolusi selama waktu aktivitas tubuh-tubuh tersebut.
Bersifat kombinasi – memungkinkan kombinasi kekuatan dari banyak tubuh ke dalam sebuah kekuatan tunggal yang sangat kuat.

Foucault menduga bahwa individualitas ini dapat diterapkan dalam sistem yang secara resmi egalitarian, namun yang menggunakan disiplin untuk mengkonstruksi relasi-relasi kuasa yang non-egalitarian.

Argumen Foucault adalah bahwa disiplin menciptakan “tubuh-tubuh yang tenang dan mudah dikelola” (docile bodies), yang ideal bagi ekonomi, politik dan perang zaman industri modern – tubuh-tubuh yang berfungsi di pabrik-pabrik, resimen-resimen militer yang diperintahkan, dan ruang-ruang kelas di sekolah.

Namun, untuk mengkonstruksi tubuh yang tenang dan mudah diatur, lembaga-lembaga pendisiplinan harus sanggup untuk: a) secara terus-menerus mengawasi dan merekam tubuh-tubuh yang dikontrol; b) memastikan internalisasi individualitas pendisiplinan di dalam tubuh yang dikontrol.

Maka, disiplin harus datang tanpa kekuatan yang berlebihan melalui pengawasan yang cermat, dan melebur tubuh-tubuh ke dalam bentuk yang benar melalui observasi. Ini menuntut adanya bentuk partikular dari institusi, yang menurut argumentasi Foucault, dicontohkan oleh Panopticon-nya Jeremy Bentham.

Dominasi yang Bersifat Alamiah

Panopticon adalah perwujudan puncak dari institusi pendisiplinan modern. Panopticon memungkinkan observasi terus-menerus yang dicirikan oleh sebuah “tatapan yang tidak setara” (unequal gaze), sebuah kemungkinan observasi yang terus-menerus. Mungkin gambaran yang paling penting dari Panopticon adalah bahwa pengaturan itu secara spesifik dirancang sedemikian rupa, sehingga tahanan tidak pernah bisa merasa pasti, apakah ia sedang diawasi atau tidak.

Tatapan yang tidak setara ini menyebabkan internalisasi individualitas pendisiplinan dan kebutuhan tubuh-tubuh yang mudah diatur itu akan adanya teman setahanan Ini berarti seseorang kecil kemungkinan melanggar peraturan atau hukum jika mereka yakin sedang diawasi, bahkan sekalipun mereka sebenarnya sedang tidak diawasi.

Jadi, penjara, dan khususnya penjara yang mengikuti model Panopticon, menyediakan bentuk ideal penghukuman modern. Foucault menganggap, inilah sebabnya mengapa hukuman “lembut” bersifat umum, yang berupa kelompok-kelompok kerja untuk publik, kalah oleh penjara. Ini adalah modernisasi penghukuman yang ideal, karena dominasinya pada akhirnya bersifat alamiah.

Di sini Foucault menantang ide yang secara umum diterima, bahwa penjara menjadi bentuk penghukuman yang konsisten berkat keprihatinan kemanusiaan dari kaum reformis, walaupun Foucault tidak membantah hal itu. Foucault melakukan hal ini dengan melacak secara cermat pergeseran-pergeseran dalam budaya, yang menjurus ke dominasi penjara, dengan memfokuskan pada tubuh dan pertanyaan-pertanyaan tentang kuasa.

Penjara adalah bentuk yang digunakan oleh “disiplin-disiplin” sebuah kekuatan teknologis baru, yang juga bisa ditemukan –menurut Foucault—pada sekolah, rumah sakit, barak militer, dan sebagainya.

Dalam menguji konstruksi penjara sebagai sarana sentral penghukuman kriminal, Foucault membangun kasus bagi gagasan bahwa penjara menjadi bagian dari sistem yang lebih besar, yang telah menjadi sebuah lembaga berdaulat yang mencakup semuanya.

Penjara adalah satu bagian dari jejaring yang sangat besar, yang mencakup sekolah, lembaga militer, rumah sakit, dan pabrik-pabrik, yang membangun sebuah masyarakat Panoptik bagi anggota-anggotanya. Sistem ini menciptakan karir-karir pendisiplinan bagi mereka yang terkurung dalam koridor-koridornya. Sistem ini beroperasi di bawah otoritas ilmiah kedokteran, psikologi, dan kriminologi.

Sistem ini juga beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip yang memastikan bahwa ia tidak boleh gagal menghasilkan penjahat-penjahat. Kejahatan itu diproduksi ketika kriminalitas sosial kecil-kecilan tak lagi bisa ditoleransi, dan menciptakan sebuah kelas “pelaku pelanggaran” yang terspesialisasi, yang bertindak sebagai proksi (kepanjangan tangan) polisi dalam mengawasi masyarakat. ***

Depok, 31 Mei 2009

Referensi:

Bordieu, Pierre. 1993. The Field of Cultural Production: Essays on Art and Literature. Cambridge: Polity P.
Jenkins, Richard. 1992. Pierre Bourdieu. New York: Routledge.
http://www.exampleessays.com/viewpaper/84179.html
http://www.berpolitik.com/static/myposting/2008/07/myposting_13890.html
Kearney, Richard (ed.). 2006. Twentieth-Century Continental Philosophy. Knowledge History of Philosophy Volume VIII. New York: Routledge.
Goldstein, Laurence. 1990. The Philosopher’s Habitat: An Introduction to Investigations in, and Applications of, Modern Philosophy. New York: Routledge.
Honderich, Ted. 1995. The Oxford Companion to Philosophy. Oxford/New York: Oxford University Press
Lubis, Akhyar Yusuf. 2006. Dekonstruksi Epistemologi Modern: Dari Posmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme, Hingga Cultural Studies. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)