BENARKAH ADA RENCANA TERORIS MEMBUNUH PRESIDEN SBY?

Oleh Satrio Arismunandar
(Penggemar komik detektif Conan dan Kindaichi)

Saya hari Kamis (14 Agustus 2009) diwawancarai wartawan Tabloid Media Umat tentang pemberitaan kasus terorisme di berbagai media. Saya katakan, banyak wartawan dan media yang kurang kritis, sehinga sadar atau tak sadar akhirnya menelan mentah-mentah versi atau “arahan pemberitaan” dari pihak-pihak tertentu, khususnya dari aparat. Padahal banyak yang bisa dipertanyakan dari versi tersebut.

Contoh yang sederhana adalah pernyataan tentang “adanya rencana teroris untuk membunuh Presiden SBY.” Mari kita analisis sinyalemen ini dengan logika sederhana. Saya mulai dengan mengajukan dua pertanyaan:

Pertanyaan 1. Mana yang kira-kira lebih besar dampaknya terhadap kestabilan ekonomi dan politik nasional: Serangan bom ke Hotel JW Marriott ataukah pembunuhan presiden (jika betul-betul terlaksana)? Tampaknya kita bisa sepakat bahwa pembunuhan presiden akan berdampak jauh lebih besar. Daya terornya pasti sangat dahsyat. Jika Presiden yang dikawal Paspampres bisa diserang, bagaimana pula dengan kita semua rakyat biasa, yang tak punya perlindungan apa-apa?

Pertanyaan 2. Mana yang lebih besar dampaknya dalam menghancurkan sendi-sendi pemerintahan dan demokrasi yang sedang dibangun di Indonesia: Serangan bom ke Hotel JW Marriott ataukah pembunuhan presiden? Tampaknya di sini kita juga bisa sepakat bahwa pembunuhan presiden akan berdampak jauh lebih besar.

Dari jawaban dua pertanyaan tersebut, bisa disimpulkan bahwa pembunuhan Presiden –dilihat dari arti strategis dan magnitude dampaknya-- jauh lebih berarti, jauh lebih penting, dan jauh lebih signifikan, ketimbang sekadar mengebom hotel milik asing (yang dalam kasus JW Marriott bukan baru kali terjadi, karena dulu juga sudah pernah dibom). Para teroris, yang kita asumsikan bukan orang bodoh, tentu juga bisa menganalisis dan menyimpulkan hal yang sama.

Oleh karena itu, secara logika yang sederhana, seorang teroris yang cerdas akan lebih mengutamakan sasaran utama (Presiden), ketimbang sekadar sasaran sekunder (hotel milik asing). Seorang teroris yang taktis tidak akan melakukan tindakan bodoh, yang akan menggagalkan atau mempersulit upaya pencapaian sasaran strategis utama.

Nah, persoalannya, pengeboman hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton justru bertentangan dengan logika berpikir itu. Pengeboman itu mengesankan cara berpikir teroris yang tolol, tidak taktis, dan tidak bisa membedakan antara sasaran amat-penting dan sasaran kurang-penting.

Pengeboman hotel sudah bisa ditebak akan berimplikasi pada peningkatan kewaspadaan aparat dan intelijen negara. Juga akan terjadi peningkatan pengamanan terhadap Presiden, Wapres, dan berbagai kantor dan lembaga negara. Lebih parah lagi, pengeboman itu akan memicu pengejaran habis-habisan dengan segala daya terhadap para teroris serta jaringannya.

Pengeboman hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton (yang terhitung bukan sasaran strategis) jelas akan merugikan, membahayakan, bahkan menggagalkan, upaya serangan terhadap Presiden (sasaran strategis). Anda tidak perlu jadi teroris kelas satu untuk mengetahui hal ini.

Pertanyaannya kemudian:

Mengapa harus mengebom JW Marriott dan Ritz-Carlton, yang pastinya akan meningkatkan kewaspadaan aparat dan intelijen, jika sasaran berikutnya adalah membunuh Presiden? Bukanlah lebih baik bergerak diam-diam (”operasi senyap”), dan langsung menyerang Presiden yang sedang lengah dan tidak menduga akan diserang? Kenapa harus bikin heboh lebih dulu?

Seumpama kita mau membunuh ular besar yang sedang tidur, yang harus dilakukan adalah memukul kepalanya keras-keras agar langsung mati. Adalah tindakan bodoh jika kita memukul ekor atau badannya lebih dulu, yang akan membangunkan dan membuat marah ular itu. Ular yang bangun itu bukan saja makin sulit dibunuh, tapi dia justru bisa balik menyerang dan membunuh kita!

Saya tidak betul-betul tahu, apakah memang ada rencana teroris untuk membunuh Presiden. Tapi saya hanya bisa mengatakan, jika betul saat ini ada rencana semacam itu, maka ada beberapa kemungkinan:

1. Teroris yang mengebom JW Marriott tidak berkoordinasi dengan teroris yang mau membunuh Presiden. Ini tentu kesimpulan yang sangat aneh, karena menurut penegasan polisi mereka berasal dari kelompok yang sama.

2. Teroris yang mengebom JW Marriott tidak ada hubungan apa-apa sama sekali dengan teroris yang mau membunuh Presiden. Artinya, ada dua kelompok teroris yang berbeda. Masing-masing dengan agendanya sendiri. Ini kesimpulan yang mengerikan, karena artinya banyak kelompok teroris liar yang sulit ditebak dan dikendalikan arah gerakannya. Berita buruk bagi para investor dan masyarakat yang ingin hidup tenteram.

3. Teroris yang mengebom JW Marriott dan yang merencanakan membunuh Presiden adalah orang bodoh, tolol, tidak mengerti taktik, tak peduli soal strategi, dan tak punya logika berpikir yang jelas. Kesimpulan ini juga aneh, karena jika mereka sebegitu tolol, tentunya jauh-jauh hari sudah bisa diberantas.

Kesimpulan alternatif: Ada pihak-pihak yang ingin membesarkan isu seolah-olah ada ancaman teroris yang sangat besar terhadap keselamatan Presiden SBY, dan pihak-pihak ini telah berjasa besar menggagalkan rencana teroris tersebut.

Di sisi lain, dalam situasi semacam ini, gelombang simpati pada Presiden (pemerintah baru) diharapkan meningkat. Jika masih ada pihak-pihak yang “rewel,” kritis atau berseberangan dengan Presiden pasca pilpres (yang amburadul dan banyak menuai protes di Mahkamah Konstitusi), mereka akan terkesan tidak simpatik, tidak santun, dan tidak mendukung stabilitas ekonomi-politik dan kepentingan nasional. Hal ini karena Presiden diposisikan menjadi simbol negara.

Dan lain-lain, dan sebagainya…... (Anda bebas menambahkan sendiri, berbagai kemungkinannya yang bisa ditelusuri).

Jakarta, 14 Agustus 2009

Comments

defrimardinsyah said…
Mas Satrio...

...........gelombang simpati pada Presiden (pemerintah baru) diharapkan meningkat. Jika masih ada pihak-pihak yang “rewel,” kritis atau berseberangan dengan Presiden pasca pilpres (yang amburadul dan banyak menuai protes di Mahkamah Konstitusi), mereka akan terkesan tidak simpatik, tidak santun, dan tidak mendukung stabilitas ekonomi-politik dan kepentingan nasional.

Kalau menurut saya pribadi... kemungkinan terbesar adalah hal ini dijadikan sebagai bahan untuk propaganda untuk menuai simpatik kepada SBY.... yang akhirnya dapat berdampak negatif.... terulang kembalinya menuhankan pemimpin... seperti yang pernah terjadi pada zaman Pak Karno... Presiden Seumur hidup.... dan zaman Pak Harto.. Bapak pembangunan...

lantas sebagai salah satu orang media yang memiliki akses untuk melakukan gerakan antitesis atas tindakan yang dilakukan oleh Tim SBY... Mas Satrio melakuan apa ?..

Mohon izin Copy paste tulisan ini ke Blog Saya http://defrimardinsyah.worpres.com

salam Indonesia
Bigyst said…
kalo menurut saya sih, tak seharusnya presiden kita mengatakan hal tersebut. yang ada malah akan membuat masyarakat tambah khawatir akan negara ini. Namun memang ada kemungkinan presiden kita dijadikan target oleh para teroris..
Hai said…
Kemungkinan ke 4 : Para teroris yg membom marriot & Ritz terlalu PD utk yakin bahwa dia bisa membom Marriot & Ritz DAN membunuh Presiden tanpa bisa di tangkap...

http://www.tempointeraktif.com/hg/kriminal/2010/02/10/brk,20100210-224820,id.html

http://www.tempointeraktif.com/hg/kriminal/2010/02/10/brk,20100210-224820,id.html

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI