Cerpen - PURI NIRWANA

Oleh Satrio Arismunandar

Hujan rintik-rintik mulai turun. Tipis seperti kabut dan ritmis seperti kelebatan selendang penari. Angin terasa berdesau lebih keras sekarang. Kulihat langit semakin kelam. Ini memang sudah malam, tetapi bahkan malam pun seharusnya mengenal langit cerah. Kali ini, tidak. Tak satu pun bintang yang tampak. Bulan pun tertutup awan pekat.

Langkahku pun mulai terasa berat karena kelelahan. Gerobak bakso yang kudorong bergerak lamban dan terseok-seok, menelusuri pinggiran jalan aspal yang sepi. Aku tak begitu mengenal daerah ini. Rasanya aku agak menjauh dari jalan umum. Aku ingin beristirahat sejenak, namun tak tahu harus berhenti di mana. Tak terlihat halte, warung, atau bangunan lain yang bisa kujadikan tempat mengaso sejenak.

Hari ini baru sedikit daganganku yang terjual. Padahal dua hari lagi aku harus melunasi uang masuk sekolah dasar --sebesar satu juta rupiah-- untuk anakku, Fawwaz. Entah, dari mana aku bisa memperoleh tambahan penghasilan dalam dua hari mendatang. Tanpa uang sejumlah itu, Fawwaz, anak tunggalku, tak akan bersekolah.

Dengan menahan malu, aku tadi pagi sudah meminta istriku untuk mengusahakan pinjaman dari kakaknya, yang relatif agak berkecukupan. Tapi tak ada jaminan permintaan itu akan dikabulkan. Bantuan dari saudara-saudara dan keluargaku sendiri juga tak bisa diharapkan.

Saat itu aku teringat ucapan Mang Karta, pemilik usaha bakso tempat aku bekerja sekarang. ”Pak Hari, kerja apa saja bagus, yang penting halal. Tak usah malu. Memang, kita harus sabar dalam kondisi keterbatasan. Saya dulu juga pernah mengalami jatuh-bangun, sebelum mencoba mandiri dengan berjualan bakso,” ujarnya.

Mang Karta mengucapkan hal itu ketika aku, yang lulusan akademi grafika, terpaksa harus melamar pekerjaan kepadanya sebagai tukang bakso. Aku tak punya pilihan setelah perusahaan percetakan tempatku bekerja bangkrut, dan aku sudah berbulan-bulan menganggur. Aku juga sudah melamar kerja ke beberapa kantor pemerintah dan swasta, namun sejauh ini tak ada hasil. Ini memang zaman krisis ekonomi. Zaman susah.

***
Suara musik sayup-sayup dan suara gelak tertawa menyadarkanku dari lamunan. Sekitar seratus meter di depanku, kulihat berkas cahaya dari sebuah rumah yang berdiri memencil dari rumah-rumah lain. Di sekitar rumah yang besar itu hanya tampak taman, padang ilalang dan tanah kosong. Mungkin pemiliknya seorang yang menikmati kesendirian dan tidak begitu suka tinggal di tengah keramaian.

Semakin aku mendekati rumah itu, suara musik dan nyanyian terdengar semakin keras. Cahaya lampu yang terang benderang memancar dari rumah itu dan menyinari lingkungan sekitar. Aku melihat banyak mobil diparkir di depan rumah itu. Rupanya sedang ada pesta atau resepsi perkawinan yang meriah di sana, jika melihat jumlah tamunya yang banyak. Kalau melihat jenis mobil-mobil mewah yang diparkir, para tamu ini jelas bukan dari kalangan bawah. Jika tamu-tamunya saja termasuk orang terpandang, sang tuan rumah sendiri tentunya juga bukan orang sembarangan.

Semula aku agak gembira, karena kubayangkan banyak sopir yang –sambil menunggu majikan mereka—akan berminat membeli bakso daganganku. Namun, kemudian kegembiraanku sirna karena kupikir para sopir tersebut tentunya juga akan kebagian hidangan dalam pesta semeriah ini.

Akhirnya aku pun sampai di depan rumah tersebut. Harus kuakui, rumah ini sebenarnya lebih tepat disebut istana daripada rumah biasa. Bangunannya luas, tinggi dan megah, serta terbuat dari bahan berkualitas terbaik. Pagarnya saja dari tembok tinggi dan kokoh. Pintu gerbangnya juga gagah, mentereng, berukir indah, dan tampaknya terbuat dari besi yang dipesan secara khusus. Pada pintu gerbang itu terdapat tulisan ”Puri Nirwana.” Dari bentuk bangunan dan pilihan nama tadi, kuduga pemilik rumah ini juga punya selera artistik yang tinggi.

Sejumlah petugas satpam dan penerima tamu yang berdiri di depan gerbang itu melihatku. Beberapa dari mereka menghampiriku. Aku tahu diri. Kupikir, mereka pasti akan segera menyuruhku pergi karena kehadiranku di situ dianggap mengganggu tamu-tamu yang akan datang.

Namun, dugaanku meleset. Mereka tidak mengusirku, tetapi malah mempersilahkanku masuk ke dalam. ”Silahkan masuk, pak! Jangan berdiri saja di situ,” ujar salah seorang yang berseragam khusus, yang tampaknya bertugas sebagai penyambut tamu.

”Lho, saya ini bukan tamu dan bukan undangan. Saya cuma berjualan bakso dan kebetulan lewat di depan rumah ini,” sahutku, terkejut oleh sambutan tiba-tiba itu.
”Oh, kami tidak keliru. Kami menjalankan instruksi dari Pak Subuh, pemilik rumah ini, bahwa siapa saja yang datang ke mari malam ini harus diperlakukan sebagai tamu terhormat. Siapapun orangnya. Bapak pun tidak terkecuali,” tegas mereka.

Wah, pemilik rumah ini rupanya adalah seorang kaya yang eksentrik. Aku seharusnya tak perlu heran karena memang banyak jutawan yang berperilaku nyentrik. Pernah kubaca, misalnya, ada pengusaha kaya yang suka memakai celana pendek butut ke mana-mana, bahkan ke acara-acara yang bersifat resmi. Padahal, kalau mau, ia mampu membeli seribu celana bermerek terkenal, yang jauh lebih layak dipakai.

Ada juga seorang direktur bank, bergaji hampir seratus juta rupiah per bulan, yang selalu bepergian dengan mobil tua. Jika naik kereta api atau pesawat terbang pun, ia selalu memilih kelas ekonomi. Padahal staf dan anak-anak buahnya duduk di kelas bisnis. Mungkin Pak Subuh adalah salah satu orang kaya nyentrik seperti itu.

***
Seorang tukang bakso rendahan seperti aku dipaksa menghadiri pesta yang serba mewah. Wow, yang benar saja! Tapi nyatanya, aku sudah ”digiring” masuk ke ruangan dalam. Gerobak baksoku tentu harus kutinggal di luar. ”Jangan khawatir! Kami akan menjaga barang milik Anda,” kata seorang petugas satpam, mengetahui apa yang kupikirkan.

Seperti sudah kubayangkan, ruangan dalam di rumah ini serba gemerlap. Di beberapa pojok, terpajang perhiasan dari kristal yang berkilau. Pasti mahal harganya. Ada beberapa meja untuk para tamu, yang tersebar di seluruh ruangan. Tamu-tamu, lelaki dan perempuan, duduk bercengkerama mengelilingi meja-meja yang penuh hidangan itu. Sejumlah pelayan hilir-mudik melayani tamu. Mereka membawa minuman dan berbagai macam makanan.

Di salah satu sudut ruangan ada panggung yang tak terlalu tinggi. Sejumlah pemain musik dan penyanyi tampil di sana. Bukan cuma suasananya yang meriah. Ruangan ini pun berbau harum menyegarkan, seolah-olah pesta ini diadakan di tengah taman yang penuh mawar, melati, dan bunga-bunga lain yang semerbak wanginya.

Saat aku sedang asyik mengamati suasana, seorang laki-laki berusia sekitar 65 tahun menyambutku. Rambutnya sudah memutih, tetapi wajahnya terlihat segar dan bersemangat. Mulutnya menyunggingkan senyum ramah dan sinar matanya terkesan bersahabat. Tanpa basa-basi, ia langsung menjabat tanganku erat-erat.

“Selamat datang di pesta kami! Nama saya Subuh, pemilik rumah ini. Saya tahu, Anda baru saja tiba dan masih merasa lelah. Jangan sungkan-sungkan di sini. Silahkan beristirahat sambil mendengarkan musik dan menikmati hidangan yang tersedia,” ucapnya.

“Maaf, Pak Subuh. Nama saya Hari. Saya sebenarnya hanya kebetulan lewat di depan rumah Anda, tetapi karyawan Anda mendesak saya masuk dan hadir di sini. Sejujurnya, saya tak mau merepotkan dan tak ingin mengganggu pesta Anda,” sahutku.

”Oh, sama sekali tidak merepotkan, dan juga tidak mengganggu. Saya malah senang jika kedatangan banyak tamu. Banyak tamu artinya banyak membawa berkah dan rezeki.”
”Syukurlah kalau Bapak beranggapan begitu. Kalau saya boleh tahu, ini pesta untuk perayaan apa, Pak?”

”Bukan untuk apa-apa, tetapi sekadar untuk mengucapkan rasa syukur pada Allah karena pada usia setua ini saya oleh Allah masih dianugerahi kesehatan yang baik, rezeki yang lancar, dan seorang putri yang solehah dan berbakti. Maka saya mengundang banyak teman dekat, serta siapa saja yang kebetulan lewat, untuk ikut berbagi rasa syukur tersebut.”

”Wah, saya amat jarang bertemu orang seperti Bapak. Mohon maaf kalau saya katakan, kekayaan dan kemakmuran biasanya justru membuat orang jadi lupa diri.”
”Ah, saya ini orang biasa saja seperti Anda,” sahut Pak Subuh, merendah. ”Tetapi saya sadar, usia saya sudah semakin tua. Orang bilang, sudah semakin dekat ke liang kubur. Karena itu, saya harus semakin banyak mengingat Tuhan, semakin banyak ingat akhirat dan semakin banyak beramal.”

”Omong-omong, saya kok tidak melihat istri dan anak Pak Subuh.”
”Oh, istri saya sudah meninggal tujuh tahun yang lalu karena sakit. Sedangkan anak tunggal saya, Syarifa, saat ini tinggal dan indekos di luar kota. Ia sedang melanjutkan kuliah ekonomi di sebuah universitas di sana, jadi tak bisa hadir di pesta. Saya di rumah ini jadi tinggal sendiri, hanya ditemani beberapa pembantu dan satpam.”

”Maafkan saya kalau terlalu ingin tahu, Pak.”
”Jangan khawatir. Anda tidak bersalah apa-apa kok,” Pak Subuh meredakan kegelisahanku. ”Sekarang giliran saya yang bertanya. Pak Hari bekerja di mana, ya?”

Entah karena terlalu lelah, atau mungkin karena sekadar ingin melepaskan beban pikiran, aku akhirnya bercerita apa adanya kepada Pak Subuh. Khususnya tentang pekerjaanku dan masalah yang sedang kuhadapi. Sikapnya yang ramah, akrab dan penuh pengertian membuat aku tidak merasa sungkan lagi. Kukatakan terus terang bahwa aku sedang butuh uang, untuk membayar biaya masuk sekolah bagi anakku, Fawwaz.

”Wah, kalau cuma itu masalahnya, saya rasa, saya bisa membantu. Berapa uang yang Pak Hari butuhkan untuk membayar biaya masuk sekolah Fawwaz itu?”
”Satu juta rupiah, Pak,” sahutku.

”Kalau begitu, terimalah uang ini, Pak,” ujar Pak Subuh, sambil menggenggamkan sepuluh lembaran uang seratus ribuan ke tanganku. ”Jumlahnya pas satu juta. Cukup untuk kebutuhan anak Pak Hari. Ini bukan utang, tetapi anggap saja pemberian dari saya. Jadi, Pak Hari tidak perlu mengembalikannya.”

Dengan terkejut, aku berusaha menolak pemberian itu. Aku benar-benar tak menyangka, laki-laki tua ini begitu murah hati. Ia mau memberikan uang sejuta rupiah begitu saja kepadaku, orang yang baru dikenalnya. Tanpa banyak tanya, ia percaya saja terhadap semua ceritaku. Orang kaya ini benar-benar dermawan dan polos.

Keseriusan Pak Subuh membuatku sulit berbasa-basi lagi. Akhirnya, karena aku memang betul-betul butuh, kumasukkan uang itu ke dompetku. ”Saya tak tahu bagaimana dapat membalas budi Bapak. Suatu saat, kalau saya sudah mampu, Insya Allah akan saya kembalikan uang ini,” kataku.

”Oh, itu sama sekali tidak perlu. Jika Pak Hari suatu saat sudah punya uang dan masih ingin mengembalikan uang ini, berikan saja uang itu kepada orang lain yang betul-betul membutuhkan. Misalnya, ke anak yatim piatu, korban bencana, atau orang kesusahan lainnya. Jadi rezeki itu berputar dan terdistribusi makin luas,” lanjut Pak Subuh.

”Maaf, saya tak bisa terus menemani Anda karena masih banyak tamu lain yang harus saya sambut. Silahkan menikmati hidangannya. Ayo, jangan sungkan-sungkan!” Pak Subuh memberi isyarat dengan tangannya ke arah berbagai hidangan mewah yang sudah tersedia di meja. Piring, sendok dan peralatan makan lainnya juga sudah ditata rapi di meja di depanku.

Aku merasa tidaklah sopan jika menolak keramahtamahan Pak Subuh ini. Kebetulan, perutku juga merasa amat lapar. Maka, tanpa ragu-ragu lagi, aku pun menyantap berbagai hidangan itu sesukanya. Hidangan yang disajikan di pesta ini, harus kuakui, memang bervariasi dan berkualitas kelas satu. Rasanya lezat dan jumlahnya berlimpah-limpah. Setiap ada pinggan yang kosong, langsung dipenuhi lagi oleh para pelayan dengan makanan, seolah-olah masih ada satu truk cadangan makanan di dapur.

Perut kenyang, suara musik yang mendayu-dayu, dan kelelahan fisik, membuat aku mengantuk. Sehabis makan, aku menggeser kursiku ke dinding dan menyandarkan kepalaku ke tembok. Tanpa sadar, aku jatuh tertidur. Tidur yang sangat lelap dan dalam. Rasanya lama sekali.

***
Akhirnya aku terbangun karena tubuhku terasa sangat gerah dan berkeringat. Pelan-pelan kubuka mataku. Sinar matahari pagi memancar, menghangatkan tubuhku yang tergolek di tanah. Pakaianku kotor dan lusuh karena rupanya semalaman aku berbaring di tanah, yang penuh debu dan puing kehitaman.

Sesudah benar-benar terjaga, aku kaget karena ternyata aku berada di tengah reruntuhan bangunan, yang hangus dan remuk redam seperti bekas terbakar hebat. Tidak ada rumah mewah seperti yang kulihat semalam. Tidak ada pagar, gerbang, panggung, mobil, satpam, pelayan, tamu, dan lain-lain.

Tidak ada seorang pun di sini kecuali aku sendiri. Apakah aku semalam ketiduran dan bermimpi di sini? Aneh! Jika semua yang kualami itu cuma mimpi, rasanya begitu nyata, seperti kejadian sebenarnya.

Aku pun bangkit. Gerobak baksoku masih teronggok di pinggir jalan, seperti semalam. Gerobak itu terlihat sangat kotor akibat lumpur dan terpaan hujan. Aku harus pulang. Pasti istriku sudah cemas menanti. Aku pun segera mendorong gerobak baksoku, meninggalkan reruntuhan bangunan yang hangus tersebut.

Baru sekitar dua ratus meter meninggalkan tempat itu, tak sengaja tanganku menyentuh saku celana. Ingat sesuatu, kukeluarkan dompetku. Jantungku berdebar keras ketika dalam dompet itu kutemukan uang satu juta rupiah. Uang yang diberikan Pak Subuh semalam! Jadi, kejadian semalam itu bukan mimpi biasa. Aku bergidik.

Tak jauh dari situ, akhirnya kutemukan perumahan penduduk. Sesudah bertanya ke warga di sana, aku diberitahu bahwa di tempat aku tertidur semalam memang pernah ada bangunan bernama Puri Nirwana, yang dimiliki Pak Subuh. Pak Subuh adalah hartawan yang amat dihormati warga sekitar karena kebaikan hati dan kedermawanannya.

Namun, suatu malam, sekitar tiga tahun yang lalu, terjadi musibah kebakaran hebat yang menghancurleburkan rumah itu. Penyebab kebakaran itu tak pernah diketahui pasti. Pak Subuh bersama beberapa pembantunya tewas dalam kebakaran itu. Namun, putrinya, Syarifa, selamat karena saat itu sedang kuliah di kota lain. Dari warga sekitar situ pula, aku mendapatkan alamat Syarifa dan berhasil menemuinya.

Syarifa ternyata tinggal tak jauh dari bekas rumah ayahnya. Ia sekarang sudah menikah, punya satu anak, dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Ketika bertemu dengan Syarifa di rumahnya, dari tampilannya kulihat ia adalah seorang perempuan terhormat. Wajahya teduh dan bersinar, mirip ayahnya. Syarifa mengaku, ia tidak membangun kembali Puri Nirwana yang lebur terbakar itu karena masih merasa trauma dengan musibah yang menewaskan ayahnya.

Kepada Syarifa kuceritakan semua kejadian misterius yang kualami di reruntuhan Puri Nirwana. Ia mendengarkan dengan tenang, seolah-olah kisah itu bukan hal baru baginya. Kemudian ia berkata, ”Pak Hari, Anda adalah orang ketiga yang pernah mengalami hal semacam itu. Sebelum ini, sudah ada dua orang yang menemui saya karena mengalami hal yang hampir serupa.”

”Apapun yang terjadi, meski di luar jangkauan akal yang bisa saya pahami, ayah Anda telah membantu saya dan saya merasa berutang budi pada almarhum. Tolong ceritakan, seperti apakah beliau itu, jika saya boleh tahu?” tanyaku.

”Ayah saya memang seorang yang sangat dermawan dan senang beramal. Ia suka menyantuni anak yatim piatu. Ada tiga puluh orang yang dijadikan anak asuhnya. Ayah membantu membiayai sekolah mereka, bahkan memberikan asuransi pendidikan AJB Bumiputera 1912 untuk menjamin kelangsungan pendidikan mereka,” tutur Syarifa.

”Ayah sangat cermat dalam menggunakan uang, tetapi tidak pelit. Ia mengikuti banyak program asuransi, mulai dari asuransi kecelakaan, asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, asuransi jiwa, dan hampir semuanya menggunakan layanan AJB Bumiputera 1912, yang sangat ia percayai. Sepeninggal beliau, saya bisa menyelesaikan kuliah dan tidak terganggu secara finansial juga berkat jasa asuransi yang disediakan ayah tersebut,” lanjutnya.

”Kebaikan itu ternyata abadi. Tak dinyana, meski sudah lama meninggal dunia, ternyata ayah –dengan cara yang tak bisa saya pahami—masih melakukan kebaikan-kebaikan juga. Ini mungkin anugerah dari Allah atas amal ibadah dan kebajikan yang telah dilakukannya kepada orang lain semasa hidupnya,” ujar Syarifa.

Aku tak bertamu berlama-lama. Sesaat kemudian, aku pamit pada Syarifa. Langit senja berpendar dengan warna kemerah-merahan, ketika aku meninggalkan rumah Syarifa.
Bertahun-tahun kemudian, kesejahteraan hidupku pun membaik. Kejadian misterius di reruntuhan Puri Nirwana telah membawa hikmah bagiku. Aku telah belajar dari almarhum Pak Subuh tentang cara hidup cermat dan penuh berkah. Rezeki kita tidak akan berkurang, tetapi justru akan melimpah karena banyak beramal dan memberi pada sesama. Percayalah! ***

Depok, Juni 2009

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)