SEKILAS TENTANG EKSISTENSIALISME DAN JEAN PAUL-SARTRE


Eksistensialisme adalah filsafat dan gerakan kesusastraan yang sebagian besar diidentifikasikan pada intelektual Perancis, Jean-Paul Sartre, dan memperoleh pengaruh cukup besar sesudah Perang Dunia II, terutama tahun 1945-1955. Makin lama, aliran ini tersebar ke seluruh Eropa, bahkan pengaruhnya meluas sampai ke benua-benua lain pula.

Eksistensialisme secara populer diasosiasikan dengan keterkenalan yang dinikmatinya di Paris pada tahun 1940-an, ketika oposisi terhadap bentuk-bentuk dominasi yang tersirat pada kekuasaan dan ideologi didiskusikan dan mungkin dihidupkan di suasana khas kafe-kafe dan klub malam Paris. Identifikasi sebuah gerakan filosofis dengan gaya hidup itu berumur pendek, namun filsafat eksistensialisnya memiliki implikasi yang lebih luas daripada sekedar revolusi muda yang terkungkung dalam gerakan protes.

Akar-akar eksistensialisme bervariasi, dan bisa ditemukan pada karya-karya pemikir religius Denmark Søren Kierkegaard, novelis Rusia Fyodor Dostoyevsky, dan filsuf Jerman Friedrich Nietzsche. Filsafat Sartre sendiri dipengaruhi oleh fenomenolog Jerman, Edmund Husserl dan filsuf Martin Heidegger.

Tokoh filsuf pertama yang dianggap penganut eksistensialis adalah teolog Denmark dari abad ke-19, Søren Kierkegaard (1813-55), yang membela pengalaman subyektif terhadap totalisasi dan obyektivisasi sistem Hegelian. Sedangkan kaum eksistensialis abad ke-20 umumnya lebih bergairah mengeksplorasi seluruh implikasi dari ateisme yang sempurna, walaupun ada beberapa tokoh eksistensialis Katolik ternama, seperti Gabriel Marcel di Perancis.
Eksistensialisme religius dari Kierkegaard, Karl Jaspers, dan Gabriel Marcel berbeda dengan ateisme yang tegas dari Sartre, Simone de Beauvoir, dan Albert Camus. Meskipun demikian, ada asumsi-asumsi esensial tertentu yang sama.

Karya Martin Heidegger, Sein und Zeit (Being and Time, 1927), dan karya Jean-Paul Sartre L'Être et le néant atau Being and Nothingness (1943) mungkin adalah karya eksistensialis yang paling banyak dikenal pada abad ke-20. Tak satu pun dari karya-karya itu yang mendiskusikan eksistensi manusia dalam arti yang biasa.

Pemikir-pemikir eksistensialis berfokus pada eksistensi manusia yang konkret dan kondisi-kondisi eksistensi ketimbang berhipotesis tentang esensi manusia, dengan menekankan esensi manusia ditentukan melalui pilihan-pilihan kehidupan. Bagaimanapun, meskipun eksistensi individu yang konkret harus menjadi prioritas dalam eksistensialisme, kondisi-kondisi tertentu secara umum dianggap endemik bagi eksistensi manusia.

Eksistensi mendahului esensi

Proposisi utama eksistensialisme adalah bahwa eksistensi mendahului esensi, yang berarti bahwa kehidupan aktual individu adalah yang membentuk apa yang dapat disebut sebagai “esensi” dirinya. Jadi, bukan esensi yang sudah ditentukan sebelumnya (predetermined), yang merumuskan apa arti menjadi manusia. Maka manusia –melalui kesadarannya—menciptakan nilai-nilainya sendiri dan menentukan makna bagi kehidupannya. Walaupun Sartre adalah yang secara eksplisit menyebutkan hal ini, pandangan serupa dapat ditemukan pada pemikiran banyak filsuf eksistensialis, mulai dari Kierkegaard sampai Heidegger.

Sering diklaim dalam konteks ini bahwa seseorang merumuskan dirinya sendiri. Hal ini sering dianggap sebagai pernyataan bahwa kita dapat “berharap” (wish) menjadi sesuatu –menjadi apa saja, menjadi burung, misalnya-- dan kemudian terjadilah. Bagaimanapun, menurut sebagian besar filsuf eksistensialis, ini akan menjadi sebuah eksistensi yang tidak otentik (inauthentic).
Yang dimaksud dengan pernyataan tersebut sebenarnya adalah bahwa seseorang: (1) dirumuskan hanya sejauh dia bertindak dan (2) bahwa dia bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya. Misalnya, orang yang bertindak jahat pada orang lain. Dengan tindakannya itu, ia dirumuskan sebagai seorang yang jahat. Lebih jauh, dengan tindakan jahatnya ini, orang-orang semacam itu sendiri bertanggung jawab atas identitas baru mereka (sebagai orang jahat). Ini bertentangan dengan praktik umum yang menyalahkan gen (faktor keturunan, yang artinya sudah ditentukan sebelumnya) atau “hakikat manusia” (human nature).

Seperti dinyatakan Sartre dalam Existentialism is Humanism: “manusia pertama-tama eksis, menghadapi dirinya sendiri, bangkit tegak di dunia –dan merumuskan dirinya sendiri sesudahnya. Tentu daja, aspek yang lebih positif dari ini adalah juga berimplikasi: Seseorang dapat memilih untuk bertindak dengan cara yang berbeda, dan untuk menjadi orang baik ketimbang seorang jahat. Di sini juga jelas bahwa karena manusia dapat memilih menjadi orang jahat atau baik, dia –pada faktanya—secara esensial bukan salah satu dari dua hal ini.[1]

Konsep eksistensialis tentang kebebasan sering disalahartikan sebagai semacam liberum arbitrium di mana hampir segala sesuatu dimungkinkan dan di mana nilai-nilai tidak memberi konsekuensi pada pilihan dan tindakan. Interpretasi dari konsep ini sering dikaitkan dengan penegasan pada absurditas dunia, serta asumsi bahwa dunia itu ada tanpa relevansi atau tanpa nilai-nilai mutlak baik ataupun buruk.

Bagaimanapun, bahwa tidak ada nilai-nilai untuk ditemukan di dunia dalam dirinya sendiri (in-itself) tidaklah berarti bahwa tidak ada nilai-nilai sama sekali. Kita biasanya dibesarkan dengan nilai-nilai tertentu, dan bahkan sekalipun kita tidak dapat membenarkan nilai-nilai itu pada akhirnya, nilai-nilai tersebut akan menjadi nilai-nilai “kita.”

Apa yang tidak terimplikasi dalam kebebasan eksistensial semacam ini, bagaimanapun, bahwa nilai-nilai seseorang tidak bisa dibungkam; sebuah pertimbangan terhadap nilai-nilai seseorang mungkin menyebabkan seseorang itu untuk mempertimbangkan kembali dan mengubahnya.
Sebuah konsekuensi dari fakta ini adalah bahwa seseorang tidak hanya bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya, tapi juga bagi nilai-nilai yang ia anut. Ini mencakup bahwa suatu rujukan ke nilai-nilai bersama tidaklah dapat menjadi dalih atas tindakan-tindakan individu. Meskipun itu adalah nilai-nilai masyarakat, di mana individu adalah bagian darinya, nilai-nilai itu juga milik si individu dalam arti dia dapat memilih untuk jadi berbeda kapan saja.

Jadi, fokus pada kebebasan dalam eksistensialisme dihubungkan dengan batas-batas tanggung jawab, yang bisa dipikul seseorang sebagai hasil dari kebebasannya. Hubungan antara kebebasan dan tanggung jawab adalah saling-ketergantungan, dan sebuah klarifikasi dari kebebasan juga mengklarifikasikan hal itu terhadap mana seseorang bertanggung jawab.

Dapat dikatakan, Eksistensialisme adalah filsafat yang memberi prioritas pada eksistensi manusia, atau dengan kata lain, prioritas pada pengalaman subyektif terhadap dunia, ketimbang yang abstrak atau struktur-struktur “obyektif” atau esensi. Eksistensi manusia secara radikal pada hakikatnya dipandang berbeda dengan dunia fisik, sejauh manusia bebas membentuk dirinya sendiri seperti apa yang diinginkan, dan sampai tahapan tertentu, membentuk jenis dunia untuk dirinya sendiri yang ingin mereka tempati.

Kebebasan ini mensyaratkan tanggung jawab yang mengiringinya. Ini bukan kebebasan kosong, karena kebebasan tiap orang akan bersentuhan dan mungkin berkonflik dengan kebebasan orang lain. “Mengada-dalam-dunia” (being-in-the-world) kita dibatasi oleh “mengada-bersama-yang-lain” (being-with-others). Eksistensialisme menjauhkan diri dari setiap aturan atau kemutlakan moral. Kenyataannya, kaum eksistensialis biasanya mendukung sebuah etika situasional, di mana konsekuensi dari tindakan tertentu dalam lingkungan historis dan sosial tertentu mengambil prioritas di atas norma-norma etis absolut.[2]

Eksistensialisme dapat diringkas sebagai keyakinan bahwa manusia adalah seluruh keberadaannya. Hal ini diekspresikan sebagai reaksi terhadap desain-desain besar dalam sejarah manusia yang dilihat oleh Hegel dan para pengikutnya. Khususnya, eksistensialisme membantah keberadaan hukum alam (natural law), hakikat manusia (human nature) yang tidak berubah, atau setiap aturan-aturan obyektif lainnya.

Setiap individu dikutuk dengan kebebasan dan harus menentukan atau memilih jalannya sendiri di dunia, walaupun banyak orang mencoba berlindung untuk menyembunyikan hal ini dari dirinya sendiri. Kehidupannya adalah tanpa makna mutlak, namun manusia dipaksa untuk membuat pilihan-pilihan sepanjang waktu.

Otentisitas dan ketidakotentisitasan

Tema eksistensi otentik adalah umum bagi banyak pemikir eksistensialis. Hal ini sering diartikan bahwa seeorang harus “menemukan dirinya sendiri” dan kemudian hidup sesuai dengan dirinya (self) itu. Kesalahpengertian yang umum terjadi adalah anggapan bahwa orang bisa menemukan dirinya itu jika ia berupaya cukup keras, dan bahwa diri sejati (true self) adalah bersifat substansial.

Yang dimaksud dengan otentisitas adalah bahwa dalam melakukan tindakan (acting), orang harus bertindak sebagai dirinya sendiri, bukan seperti yang diminta oleh Orang, gen-gen seseorang, atau esensi lain apapun. Tindakan otentik adalah tindakan yang sesuai dengan kebebasan seseorang.

Sebaliknya, yang tidak otentik adalah penolakan untuk hidup sesuai dengan kebebasan manusia. Ini bisa mengambil bentuk yang beragam, mulai dari berpura-pura dengan menganggap pilihan-pilihan itu tidak bermakna atau acak, dengan cara meyakinkan bahwa beberapa bentuk determinisme adalah benar, sampai ke semacam peniruan (mimicry) di mana orang bertindak “sebagaimana Orang seharusnya bertindak.”

Bagaimana Seseorang bertindak sering ditentukan oleh suatu citra yang dipegangnya, tentang bagaimana seseorang sebagai suatu diri (misalnya, sebagai manajer bank) bertindak. Citra ini biasanya berhubungan ke beberapa macam norma sosial, namun hal ini tidak berarti bahwa semua tindakan yang sesuai dengan norma sosial adalah tidak otentik. Butir utamanya adalah sikap yang diambil seseorang terhadap kebebasan dan tanggung jawabnya sendiri, dan seberapa jauh orang itu bertindak sesuai dengan kebebasannya ini.

Dengan menekankan tindakan, kebebasan dan keputusan sebagai hal yang bersifat mendasar, kaum eksistensialis menentang rasionalisme dan positivisme. Mereka berargumen, menentang definisi-definisi bahwa manusia terutama adalah bersifat rasional. Sebaliknya, kaum eksistensialis melihat ke arah di mana orang menemukan makna. Eksistensialisme menegaskan bahwa orang sebenarnya membuat keputusan-keputusan berdasarkan apa makna keputusan itu terhadap mereka, ketimbang pertimbangan rasional.

Penolakan nalar (reason) sebagai sumber pemaknaan adalah tema umum dalam pemikiran eksistensialis, manakala fokus terhadap perasaan-perasaan cemas (anxiety) dan ketakutan (dread) yang kita rasakan di hadapan kebebasan radikal kita sendiri serta kesadaran kita akan kematian.

Kierkegaard melihat rasionalitas yang kuat sebagai mekanisme yang digunakan manusia untuk menandingi kecemasan eksistensial mereka, ketakutan mereka pada keberadaan di dunia. Bagaimanapun, Kierkegaard menyarankan rasionalitas sebagai sarana untuk berinteraksi dengan dunia obyektif (misalnya, dalam ilmu-ilmu alam). Namun, ketika ia tiba pada problem-problem eksistensial, nalar tidaklah memadai. Kata Kierkegaard: “Nalar manusia memiliki batas-batas.”

Pada eksistensialisme, eksistensi berarti kebebasan dan sekaligus keputusasaan. Dalam dunia yang tanpa arah dan makna yang jelas, individu secara radikal bebas untuk bertindak. Sebagian besar individu takut menghadapi tanggung jawab yang terkandung dari kebebasan radikal.
Dalam terminologi Sartre, kepercayaan yang buruk (bad faith) dan ketidak-otentikan (inauthenticity) memungkinkan individu untuk menganggap dirinya sendiri sebagai esensi, sebuah entitas yang tetap (fixed entity); mereka bermain sandiwara dalam kehidupan.
Sebaliknya, individu eksistensial menolak ilusi-ilusi. Jalinan kematian sebagai situasi batas, menentukan batas-batas. Pengenalan atas batas-batas tersebut dan tanggung jawab atas tindakan-tindakan seseorang menjurus ke keputusasaan eksistensial, yang dapat menindas individu.

Bagaimanapun, Sartre, Beauvoir, dan kaum eksistensialis religius menganggap keputusasaan itu perhentian yang menyakitkan namun diperlukan, dalam jalan menuju kebebasan. Karena eksistensi dianggap mendahului esensi, individu eksistensial pada setiap momen menghadapi ketiadaan (nothingness) eksistensi.

Transendensi terjadi ketika individu memikul sebuah proyek yang akan memberi makna pada kehidupannya. Sementara tindakan-tindakan semacam itu secara individu bersifat subyektif, mereka saling terkait dengan realitas setiap orang lain. Tidak ada tindakan, atau kegagalan untuk bertindak, yang tanpa makna lebih besar dan konteks. Eksistensialisme, yang diawali dengan keputusasaan subyektif individu, berakhir dengan sebuah etika yang didirikan di atas tujuan bersama solidaritas kemanusiaan.

Kritik terhadap Sartre

Salah satu kritik yang ditujukan pada pandangan Sartre tentang kebebasan dilontarkan oleh Albert Camus, sastrawan Prancis yang juga pernah bersahabat dengan Sartre, serta sama-sama tergolong dalam aliran eksistensialisme.

Camus menyatakan, dengan mencanangkan bahwa manusia adalah kebebasan dan dengan menganggap kebebasan manusia itu absolut, maka terselubunglah kenyataan bahwa dalam banyak hal manusia sama sekali belum bebas. Jika ditekankan bahwa manusia adalah bebas seratus persen, maka orang tidak dikerahkan untuk mengusahakan pembebasan. Manusia yang dilukiskan oleh Sartre itu hidup dalam suatu surga firdaus, yang jauh berbeda dengan kenyataan konkret, di mana serring kali ia terbelenggu oleh berbagai macam ketidakbebasan.

Sedangkan dalam Letter on Humanism, Heidegger mengritik eksistensialisme Sartre. Heidegger menyatakan: “Eksistensialisme mengatakan, eksistensi mendahului esensi. Dalam pernyataan ini, dia (Sartre) menempatkan existentia dan essentia menurut makna metafisika mereka, di mana, dari zaman Plato dan seterusnya telah mengatakan bahwa essentia mendahului existentia. Sartre membalik pernyataan ini. Namun pembalikan dari sebuah pernyataan metafisika tetaplah sebuah pernyataan metafisika. Dengan ini, dia (Sartre) tetap dengan metafisika, dengan melupakan kebenaran dari Mengada (Being).”

[1] Existentialism is Humanism adalah judul ceramah Sartre pada 1946, yang kemudian diterbitkan dalam Kaufman, Walter (ed.). 1989. Existentialism from Dostoyevsky to Sartre. Meridian Publishing Company. Dalam ceramah ini, Sartre menjawab sejumlah kritik yang ditujukan pada pandangan filsafatnya.
[2] Ini bertentangan dengan pandangan-pandangan “hukum moral” (misalnya, dari Kant), namun tidak harus secara radikal dipandang tak cocok dengan pandangan tertentu kaum Kristen liberal.
Jakarta, Januari 2010
Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI