SEBELAS EXECUTIVE MBA UNTUK TRANS TV



Langit di atas Manila, Filipina, terlihat tidak begitu cerah, ketika pesawat Philippine Airlines yang saya tumpangi merendah, untuk mendarat di bandara internasional Ninoy Aquino. Hari itu Sabtu, 12 Desember 2009. Kedatangan saya ke Manila adalah untuk mengikuti wisuda para lulusan program Executive MBA (Master of Business Administration) Para Group, sesudah mengikuti program studi manajemen itu sejak 2005.

Saya mencoba mengingat-ingat, apa saja yang sudah berubah sejak kunjungan saya sebelumnya ke Manila pada 4-24 Februari 2007, dalam kaitan studi di program EMBA. Sesudah melalui seleksi dan tes yang diselenggarakan Human Capital Department (HCD), sejak 2005, ada 34 karyawan Para Group yang diikutsertakan dalam program EMBA, bekerjasama dengan AIM (Asian Institute of Management) di Manila, Filipina.

Dari 34 peserta itu, 11 berasal dari Trans TV, dua dari Bandung Supermal, dan sisanya yang merupakan mayoritas berasal dari Bank Mega. Peserta yang berasal dari Trans TV adalah: Hannibal Karunia Pertama, Widuri Diyah Astuti, Rowina Hafny Nur, Herny Mulyani, Mira Amiranti Soenoto, Emil Syarif, Achmad Ferizqo Irwan, Latif Harnoko Hadiputro, Shanta Curanggana, Muhammad Agus Riyadi, dan Satrio Arismunandar. Peserta berasal dari bagian Finance, Production, Programming, HCD, dan News. Jadi, cukup mewakili unsur-unsur penting di organisasi Trans TV.

Menjalin kerjasama dengan AIM guna pengembangan karyawan, adalah pengalaman pertama bagi Para Group. Dibandingkan dengan stasiun TV swasta lainnya di Indonesia, Trans TV tampaknya juga adalah stasiun TV pertama yang menyekolahkan sekaligus 11 karyawannya untuk mengikuti program EMBA. Keputusan Pak Chairul Tanjung, selaku pimpinan Para Group, untuk bekerjasama dengan AIM tentunya juga dengan pertimbangan yang matang.

Manajemen berwawasan Asia

Berdiri sejak 1968, AIM adalah salah satu perintis sekolah bisnis di Asia. AIM mengajarkan ilmu manajemen yang relevan dengan budaya dan kebutuhan Asia. Kuliah dilakukan dengan sistem dosen terbang. Seminggu dalam setiap bulan sejak 2005, AIM mengirim dosen-dosennya ke Jakarta untuk mengajar para karyawan Para Group, peserta program EMBA.

Kuliah yang berlangsung selama periode satu setengah tahun itu diadakan di lantai 12 gedung Bank Mega, Jl. Kapten P. Tendean. Kuliah berlangsung dari pagi sampai maghrib, hanya diselingi makan siang dan dua kali rehat kopi. Biaya total program EMBA per peserta adalah US$ 12.500 (sekitar Rp 125 juta). Tak heran, jika para peserta harus menjalani ikatan dinas. Paling tidak, sekitar lima tahun setelah lulus tidak boleh pindah kerja ke tempat lain, atau harus mengganti biaya kuliah.

Tujuan program EMBA adalah mengembangkan bisnis dan daya saing perusahaan yang mensponsori (Para Group), dengan cara mengembangkan manajer-manajer umum yang secara efektif mampu memimpin unit-unit bisnis. Peserta diharapkan nantinya akan memiliki perspektif manajemen umum yang berwawasan Asia, kewiraswastaan, wawasan sosial dan pengembangan. Serta memiliki keterampilan yang tinggi dalam analisis, pengambilan keputusan, penerapan, dan kepemimpinan, baik di tingkat manajemen strategis maupun operasional.

Bedanya dengan program MBA di tempat lain, metode pengajaran oleh AIM tidak mendahulukan teori-teori manajemen, tetapi lebih menekankan pada studi-studi kasus nyata dan partisipasi aktif di kelas. Jadi, pada setiap kuliah, para peserta wajib mempelajari kasus-kasus manajemen, untuk didiskusikan dalam kelompok, dianalisis, dipresentasikan dan dipertahankan di kelas.

Tiap minggu biasanya kami tiap peserta diberi satu ordner setebal hampir 10 cm, berisi penuh dengan makalah dan bahan kuliah, yang harus dibaca untuk diskusi di kelas. Biasanya, isinya adalah studi kasus perusahaan dan bisnis dari berbagai negara, lengkap dengan data keuangannya, latar belakang industrinya, dan sebagainya. Jika tidak dibaca, pasti akan bingung mengikuti kuliah dan tak bisa menjawab pertanyaan dari dosen para AIM. Bagi saya, yang tak punya dasar pendidikan ekonomi (S1 saya adalah Elektro FTUI), ini benar-benar kerja berat. Apalagi bahan kuliahnya begitu banyak dan dalam bahasa Inggris pula.

Ujungnya, juga ada tugas analisis kasus tertulis (WAC, written analysis of cases), yang sering harus dikirim via e-mail ke para pengajar di AIM Manila. WAC terkadang merupakan tugas individual, tapi juga bisa tugas kelompok. Jadi, sejak awal, peserta program EMBA dikondisikan untuk terbiasa berpikir, melihat persoalan, dan berperilaku layaknya seorang manajer, bahkan seorang pemimpin perusahaan. Yakni, melihat kasus secara holistik, keseluruhan, dan utuh, tidak cuma dari aspek sempit tertentu.

Dua kali “dikarantina”

Setelah hampir semua kuliah selesai dijalani di Jakarta, ada sesi kuliah terakhir yang diadakan di di kampus AIM, yang berlokasi di distrik bisnis ternama Makati City, Manila. Waktu itu, Februari 2007, seluruh peserta program EMBA ditempatkan di asrama kampus. Kami sempat menjalani kuliah gabungan bersama mahasiswa dari berbagai negara lain yang juga kuliah di AIM. Di hari terakhir kuliah di Manila itu, ada ujian lisan yang harus dijalani.

Selesai ujian lisan di Manila itu, para peserta program EMBA pun pulang kembali ke Indonesia dan diwajibkan mengerjakan tugas akhir, sebagai syarat kelulusan. Tugas akhirnya bukan membikin skripsi atau tesis, tetapi menjalankan dan memimpin suatu proyek, yang dinamakan SMP (Strategic Management Project). Proyek ini dibiayai kantor dan harus sejalan dengan visi, misi, tujuan, dan kepentingan Para Group. Jadi, kurikulum AIM memang sedemikian rupa, agar para lulusannya diarahkan menjadi praktisi, bukan ahli teori.

SMP ini dikerjakan per kelompok. Idealnya, SMP harus bernilai strategis serta memberi dampak signifikan bagi kepentingan perusahaan. Jadi, bukan proyek asal jadi. Ujian akhirnya, kami harus mempresentasikan hasil proyek itu di depan tiga profesor dari AIM dan pimpinan perusahaan. Jika pihak penguji dari AIM dan pimpinan Para Group sepakat bahwa SMP kami telah memberi hasil yang diharapkan, barulah kami dinyatakan lulus dan boleh menyandang gelar MBA (kata “Executive” di depannya tidak perlu dicantumkan).

Dalam pelaksanaan SMP, yang dikerjakan per kelompok, saya berpasangan dengan Pak Latif Harnoko. SMP kami mengambil topik pendayagunaan sumberdaya manusia di Trans Corp, sangat cocok dengan posisi jabatan Pak Harnoko yang memimpin HCD Trans TV. Persisnya, tentang dampak sinergis dan strategis dari program pelatihan bersama (joint training) bagi karyawan Trans TV dan Trans7, dalam mencapai tujuan Trans Corp.

Intinya, program pelatihan bersama bagi karyawan Trans TV dan Trans7, yang sudah berlangsung beberapa tahun sejak akuisisi TV7 dan perubahan namanya menjadi Trans7 pada tahun 2006 itu, telah memberi manfaat penting. Pertama, tercapai efisiensi dan penghematan biaya pelatihan, serta memudahkan penyamaan nilai dan budaya organisasi pada karyawan dari kedua perusahaan. Kedua, ternyata pelatihan bersama itu juga memberi dampak strategis yang positif bagi pengembangan Trans Corp di masa mendatang. Potensinya masih sangat besar.

Meskipun dikerjakan keroyokan, mengerjakan SMP ini tidaklah mudah. Kesulitan yang dialami rata-rata peserta program EMBA dari Trans TV adalah ketiadaan waktu luang, karena jadwal kerja yang padat, serta tekanan pekerjaan yang seperti tak habis-habisnya. Itulah sebabnya, beberapa kali penyelesaian SMP ini tertunda, sehingga harus dirundingkan penjadwalan ulang dengan pihak AIM.

Menyadari hal itu, para peserta EMBA sempat dua kali “dikarantina” di hotel, agar bisa lepas sementara dari urusan kerja, dan terfokus untuk menyelesaikan SMP. Kami bahkan difasilitasi oleh kantor untuk berkonsultasi dengan sejumlah pakar manajemen dalam proses pengerjaan SMP ini. Maklum, tak satu pun peserta EMBA yang akrab dengan format SMP. Untuk pencarian data bagi SMP ini, saya dan Pak Harnoko juga mendapat dukungan dan bantuan, terutama dari staf HCD.

Dicecar di ujian SMP

Setelah kerja keras “jungkir balik,” akhirnya selesailah SMP itu. Hasil SMP dalam format tercetak dikirim ke AIM Manila, dan kemudian AIM menetapkan waktu untuk ujian presentasi di Jakarta. Sesuai standar AIM, yang berhak memberi nilai adalah tiga profesor dari AIM bersama satu wakil dari perusahaan (Para Group). Tiga dosen dari AIM itu adalah: Prof. Gracia S. Ugut, PhD, Prof. Buenaventure F. Canto, dan Prof. Antonio M. Perez.

Pihak AIM menilai SMP kami dari aspek akademis, sedangkan perusahaan menilai dari seberapa jauh SMP itu memang sejalan dengan visi, misi, tujuan dan kepentingan perusahaan. Juga, seberapa jauh SMP itu telah menghasilkan pencapaian bisnis yang signifikan bagi kemajuan perusahaan. Jadi, kami tidak bisa asal “ngecap” di depan panel penguji ini. Ujian akhir presentasi, yang antara lain dihadiri Pak CT, Dirut Trans TV Wishnutama, Direktur Keuangan Warnedy, serta tiga profesor dari AIM, diadakan di ruang pertemuan Lantai 25, gedung Bank Mega, Tendean, 3-5 Agustus 2009.

Waktu maju sidang bersama Pak Harnoko, 4 Agustus 2009, saya sempat grogi. Di depan para penguji, kami menguraikan gagasan bahwa suatu saat, dari modul pelatihan bersama yang sudah ada, Trans Corp bisa mengembangkannya menjadi sekolah broadcasting. Berbekal brand name Trans TV yang sangat kuat, pastilah banyak peminat dari luar yang ingin bersekolah di sini.
Sekolah ini diharapkan juga bisa jadi sumber pemasukan keuangan baru untuk Para Group. Para lulusan terbaiknya bisa diberi bea siswa dan diserap untuk jadi karyawan Trans Corp, sehingga ada keuntungan berganda karena Trans Corp memperoleh karyawan yang berkualitas.

Pak CT tapi menohok saya dengan pertanyaan, yang kira-kira maksudnya begini: “Kalau orang luar ini diajari ilmu broadcasting dan nilai budaya organisasi, yang selama ini jadi poin keunggulan Trans TV, terus mereka malah memilih kerja di stasiun TV kompetitor, bukankah itu bermasalah? Jadi, proyek Anda ini malah memperkuat kompetitor dan mengancam stasiun TV kita? Bagaimana mengatasinya?”

Saya bilang, siswa di sekolah itu sebelumnya harus diikat kontrak, agar tidak pindah ke stasiun TV lain. Tetapi jawaban saya dihantam lagi oleh salah satu dosen senior AIM, Prof. Gracia S. Ugut. “Saya sepenuhnya tidak setuju, Satrio, karena pada dasarnya orang tidak bisa diikat seperti itu. Jadi, jika mereka mau pindah, ya mereka tetap akan pindah juga tanpa bisa dihalangi!” tegas Ugut.

Wah, untunglah Mas Wishnutama akhirnya menengahi. Katanya, ilmu yang diajarkan pada sekolah broadcasting Trans TV itu hanyalah ilmu broadcasting yang dasar saja, yang bisa diperoleh di sekolah-sekolah lain. Jadi, orang luar boleh saja kuliah di sana, tetapi nilai-nilai dan budaya organisasi –yang menjadi kunci keunggulan Trans Corp dalam kompetisi—tidak perlu diajarkan pada mereka.

Saya sempat was-was, karena merasa tidak sanggup menjawab pertanyaan secara memuaskan. Saya mungkin akan dinyatakan gagal dalam ujian presentasi SMP ini. Tetapi, alhamdulillah, kelompok kami ternyata dinyatakan lulus, meski --seperti pada beberapa kelompok lain-- harus melakukan perbaikan dan revisi pada SMP kami. Tidak ada peserta EMBA dari Para Group yang gagal, meski dalam sidang ujian sempat dicecar banyak pertanyaan, yang membuat kami stres dan berkeringat dingin.

Tetapi, Mas Wishnutama tampaknya selalu ingat pertanyaan Pak CT, yang sempat bikin saya grogi itu. Jika bertemu saya, kadang-kadang secara bercanda ia suka nyeletuk, “Inside or outside?” Maksudnya, yang boleh ikut kuliah di sekolah broadcasting Trans TV itu hanya orang dalam, ataukah orang luar juga boleh ikut. Ada-ada saja!

Transformasi diri

Kelulusan itulah yang membawa saya dan 32 peserta program EMBA lainnya (seorang karyawan Bank Mega mundur, dan tak meneruskan lagi program ini) kembali ke Manila untuk diwisuda. Namun, hal yang membuat saya masih bertanya-tanya, adalah seberapa jauh perubahan atau “transformasi” diri yang terjadi pada saya, sesudah menuntaskan program EMBA ini?

Jangan-jangan, saya cuma jadi “telur setengah matang.” Harus diakui, memang banyak tambahan ilmu yang saya serap selama mengikuti program EMBA. Meskipun begitu, saya terkadang merasa belum 100 persen layak menyandang gelar MBA. Juga, saya belum merasa matang sebagai manajer atau pemimpin di unit bisnis.

Tetapi, sesudah saya pikir ulang, mungkin cara berpikir saya yang keliru. Seharusnya semua pencapaian ini saya pandang sebagai sebuah proses berkelanjutan, bukan ujung perjalanan. Meraih gelar MBA bukanlah tahapan final, di mana saya lalu bisa bersantai atau berleha-leha, tetapi justru tahapan awal dari sebuah perjalanan yang baru. Manajemen Trans Corp tentunya justru mengharapkan ada pasokan “energi segar” dari para lulusan EMBA ini, karena Trans Corp sendiri masih terus berkembang. Belajar, berinovasi, dan berkreasi adalah hal mutlak yang harus terus-menerus dilakukan jika mau bertahan dalam bisnis ini, termasuk bagi para lulusan EMBA.

Maka saya pun menyambut acara wisuda dengan hati yang lebih lapang. Ada rasa lepas dari beban dan tanggung jawab berat, sesudah masa penantian yang panjang. Acara wisuda di AIM Conference Center-Manila, hari Minggu, 13 Desember 2009 itu, dihadiri oleh President AIM Dr. Edilberto de Jesus, Associate Dean Prof. Ricardo A. Lim, PhD, dan Prof. Gracia S. Ugut, PhD.

Sejumlah pimpinan Para Group juga menyempatkan hadir di acara bersejarah bagi Para Group tersebut. Mereka adalah Pak CT, Komisaris Para Group Ishadi SK, Dirut Bank Mega Yungki Setiawan, Direktur Risk Compliance & HR Suwartini, dan Dirut Para Bandung Propertindo, Wibowo Iman. Yang agak istimewa, Ibu Anita Ratnasari, istri Pak Chairul Tanjung juga hadir.

Pada acara wisuda itu, selain 33 lulusan program EMBA dari Para Group, terdapat lebih dari seratus wisudawan lain dari program MBA reguler. Mereka menjalani kuliah rutin dari awal sampai lulus di Filipina. Ada yang kuliah dengan biaya sendiri, ada juga yang dibiayai oleh perusahaannya. Saya lihat banyak mahasiswa program MBA asal India. Kesadaran akan pentingnya arti pendidikan telah membangkitkan India, menjadi salah satu negara dengan angka pertumbuhan ekonomi tertinggi di Asia sesudah Cina. Ini sepatutnya dicontoh oleh Indonesia.

Bagi AIM sendiri, momen wisuda kali ini tampaknya juga menjadi sejarah baru, karena untuk pertama kalinya AIM meluluskan sekaligus 33 peserta program EMBA dari sebuah grup perusahaan. Belum pernah ada grup perusahaan lain, yang mengirimkan karyawannya secara besar-besaran untuk mengikuti program EMBA, seperti yang dilakukan Para Group. Jika gelombang pertama dengan pengikutsertaan 34 karyawan bagi program EMBA ini dianggap sukses, bukan tak mungkin Trans Corp dan Para Group akan melakukan seleksi baru, untuk pengiriman gelombang kedua peserta program EMBA.

Pentingnya mitra kehidupan

Pada acara wisuda itu, Pak CT selaku pendiri dan ketua Para Group didaulat oleh AIM menjadi pembicara tamu. CT pun memberikan ceramah dalam bahasa Inggris tentang visi dan pengalamannya berbisnis di depan hampir 140 lulusan MBA, yang berasal dari berbagai negara. Uraian CT tentang lika-liku dan proses jatuh-bangunnya dalam berberbisnis cukup panjang.

“Ketika baru merintis bisnis di usia muda, saya menghabiskan 18 jam setiap hari untuk urusan bisnis. Saya hanya punya waktu sisa enam jam untuk istirahat dan tidur. Hari libur pun, saya juga bekerja,” tuturnya. “Namun kini, seiring dengan perkembangan jaringan bisnis, saya menyadari bahwa saya juga harus membagi waktu untuk anak dan keluarga. Maka saya mulai mengurangi waktu untuk bisnis!”

Pernyataan CT tentang etos kerja yang keras, untuk mencapai sukses dalam bisnis itu, pastilah sangat menarik bagi para wisudawan. Namun, ucapannya yang menurut saya paling berkesan adalah ketika ia mengatakan, dalam berbisnis hal yang sangat penting adalah memilih pendamping atau mitra (partner). “Yang saya maksud di sini bukan sekadar mitra dalam bisnis, tetapi mitra dalam kehidupan,” ujar CT.

Ucapan CT ini saya yakin bakal membuat hati Ibu Anita berbunga-bunga, karena peran sang istri sebagai pendukung kesuksesan suami yang berbisnis, ternyata diapresiasi sangat tinggi oleh CT. Uraian CT secara keseluruhan rupanya sangat mengesankan. Tak heran, tepuk tangan sangat meriah –tepatnya standing ovation— pun diberikan oleh para wisudawan, seusai CT memberi ceramah.

Usai acara wisuda, Pak CT, Ibu Anita dan para pimpinan Para Group pulang ke Jakarta dengan pesawat pribadi CT. Sebagian wisudawan EMBA juga buru-buru pulang, karena mereka punya tanggung jawab lain, mengurus acara peringatan HUT Trans TV di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, 15 Desember 2010. Hal ini menunjukkan, bagi crew Trans TV, pekerjaan selalu jadi prioritas nomor satu.

Menyandang gelar MBA, yang dicapai lewat perjuangan dan kerja keras sekian lama, tentu terasa membanggakan. Namun, dengan ataupun tanpa gelar MBA, memberikan karya yang terbaik untuk dipersembahkan pada masyarakat, sebenarnya sudah menjadi “ideologi sehari-hari” karyawan Trans TV. Nah, totalitas berkarya seperti itulah, yang sebenarnya merupakan sumber kebanggaan yang lain lagi. ***

Jakarta, 19 Februari 2010

Ir. Satrio Arismunandar, M.Si., MBA

Comments

lam kenal mas
trs...
selamat ya atas wisudanya
God job..
he,,he,, jadi termotivasi ni
biar sukses n bisa kerja di TraNs Tv

sIpp deH!
indah bogor said…
: ky bayuh bukan main kehebatan ramalan anka mu aky sya terusteran tadik sy ragu kiriman angka 2dmu yaitu 06= sio 8 saya pasn anka itu 06x200 56x200 sio 8x7000 sya menam angkaya 12jt+sio 7jt total 19juta AKY eman hebat luar biasa aky sy punya nmr hp nya aky 082_315_999_679_.yg berminat jgn ragu-ragu untk daftra dan laksanakan syartya'minta bicara langsun aky bayuh gendeng dan bicara ke sopanan krn orng nyah baik

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI