Essay - ILMU BELA DIRI TERTINGGI

Oleh Satrio Arismunandar

Ilmu bela diri itu ada berbagai jenis dan memiliki tingkatan-tingkatan, dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Banyak orang sudah tahu tentang adanya tingkatan-tingkatan ini.
Namun, tingkatan-tingkatan yang akan saya sebutkan ini mungkin agak berbeda dengan yang pernah Anda tahu.

Terus terang, saya sebenarnya memang bukan ahli bela diri. Saya hanyalah sekadar penggemar film kungfu dan fans aktor-aktor laga semacam Bruce Lee, Jet Li, Jacky Chen, Ti Lung, Chen Kuan Tai, David Chiang, dan sebagainya. Saya juga penggemar kisah-kisah silat klasik, yang dulu pernah dituliskan oleh Gan KL, O.K.T, Asmaraman S. Kho Ping Hoo, dan lain-lain. Jadi, tingkatan ilmu bela diri yang saya paparkan di sini lebih merupakan hasil perenungan saya, dari sekian banyak bacaan yang campur aduk, termasuk hasil membaca kisah-kisah sufi.

Supaya tidak berkepanjangan, langsung saja saya mulai dari tingkatan ilmu bela diri yang paling rendah. Ini adalah bela diri yang semata mengandalkan kekuatan fisik kasar. Di tingkatan terendah ini, orang yang berbadan gede, berotot kuat, bertubuh seperti badak, akan memiliki keunggulan nyata terhadap orang yang berbadan kerempeng. Sebagaimana seorang petinju kelas berat sudah dipastikan akan menang melawan petinju kelas layang.

Tingkatan kedua, yang lebih tinggi, adalah ilmu bela diri dengan penggunaan tenaga dalam. Tenaga dalam ini bisa dibangkitkan dan dilatih, misalnya, lewat olah pernapasan. Di tingkatan kedua ini, seorang bertubuh kerempeng –yang memiliki tenaga dalam-- bisa saja mengalahkan seorang pegulat berbadan kekar. Bahkan kita bisa mementalkan dan merubuhkan lawan tanpa harus menyentuh tubuhnya.

Tingkatan ketiga, ini sudah melebihi sekadar tenaga dalam. Pada tingkatan ini Anda bahkan tidak perlu bertarung sama sekali. Begitu menatap Anda, misalnya, lawan anda sudah gentar atau sungkan, dan memilih urung bertarung. Padahal Anda tidak melakukan apa-apa.

Bisa juga, Anda dilindungi “secara halus atau gaib” oleh Allah SWT. Misalnya, rumah Anda dikepung oleh musuh atau gerombolan perampok ganas yang ingin membunuh Anda. Secara logika awam, Anda tidak mungkin selamat dan tidak mungkin bisa lolos dari kepungan mereka. Namun, mata para pengepung yang mengincar Anda itu “dibutakan” oleh Allah. Sehingga Anda dengan tenang bisa melangkah ke luar meninggalkan rumah, dan anehnya tidak ada satu pun dari para pengepung itu yang melihat Anda. Padahal Anda jelas-jelas melintas di depan hidung mereka.

Tingkatan ketiga itu sudah cukup tinggi. Namun, masih ada tingkatan keempat, tingkatan yang saya anggap paling tinggi. Nah, pada tingkatan ini, ilmu bela diri atau kiat-kiat menyelamatkan diri secara fisik sudah kehilangan makna, sudah kehilangan relevansi, bahkan sudah tidak penting lagi. Itu bukan lagi merupakan isu, sesuatu yang masih dipentingkan pada ilmu bela diri tingkatan pertama, kedua, dan ketiga. Mengapa? Karena di tingkatan keempat ini, orang bersangkutan sudah bertawakal dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah.

Bagi orang semacam ini, ia sudah tidak lagi mendahulukan kehendak atau keinginan hawa nafsunya sendiri. Ingin menang dalam pertarungan dan ingin selamat secara fisik adalah kehendak diri kita. Ingin menang dan ingin selamat bukanlah sesuatu yang salah, namun tetap bahwa itu adalah keinginan dan hasrat kita. Sesuatu yang berkaitan dengan ego dan kepentingan diri kita.

Pada tingkatan keempat ini, orang bersangkutan sudah lepas dari cara pandang yang menekankan pada egoisme atau rasa ke-aku-an. Semua hal sudah ia kembalikan kepada Allah SWT, yang kepada-Nya semula makhluk bergantung.

Pada tingkatan ini, kita yakin seyakin-yakinnya bahwa apapun yang diputuskan oleh Allah SWT, Tuhan yang Maha Bijaksana dan Maha Tahu, adalah yang terbaik untuk kita. Kalau Allah menghendaki kita selamat secara fisik, jadilah. Kita bersyukur pada-Nya. Sebaliknya, jika Allah menghendaki kita mati sekarang, kita pun menerima dengan ikhlas dan ridla atas semua kehendak-Nya.

Menurut dugaan saya, itulah sebabnya kita tidak pernah membaca riwayat atau hadist yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW mengajarkan ilmu kebal, ilmu tenaga dalam, ilmu menghilang, dan sebagainya. Padahal, jika Rasulullah mau, dengan mudah beliau bisa memohon kepada Allah agar diberi ilmu kebal, sehingga tidak mempan bacokan pedang musuh, atau ilmu kontak yang bisa merobohkan musuh tanpa menyentuh.

Nyatanya, Rasulullah terluka dan berdarah oleh pedang lawan pada Perang Uhud. Namun, pada tingkatan batin tertinggi itu, bagi Rasulullah dan bagi kaum Muslimin yang percaya penuh pada kebijaksanaan Allah, semua yang diberikan oleh Allah SWT padanya adalah yang terbaik.

Jika Allah menghendaki keselamatan untuk kita, maka tidak ada satu pun kekuatan di muka bumi ini yang bisa mencelakai kita, meskipun seluruh manusia dan jin berkomplot untuk mencelakai kita. Sebaliknya, jika Allah menghendaki sesuatu terjadi pada kita, tidak ada satu kekuatan pun di muka bumi ini yang bisa mencegahnya. Seluruh hidup dan mati kita adalah untuk Allah SWT. Semua di luar itu sudah tidak lagi penting.

Jakarta, 21 April 2010

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)