MEDIA DAN REFORMASI SEKTOR KEAMANAN (5) - HUBUNGAN MEDIA DENGAN TNI

Oleh Satrio Arismunandar

Hubungan Media dengan TNI

Kalau toh ada ganjalan dalam hubungan antara media dan TNI, itu adalah warisan Orde Baru, dengan dominasi militer di berbagai sektor, yang sebetulnya sudah di luar ranah pertahanan yang menjadi tugas pokoknya. Ikut campurnya militer di berbagai urusan sipil, termasuk kontrol terhadap media, menimbulkan hubungan yang tidak nyaman bagi media.

Sesudah era reformasi, institusi TNI harus menyesuaikan diri dengan tuntutan refortmasi dan sadar bahwa pihaknya tidak bisa lagi mengontrol media dengan pendekatan represif seperti dulu. TNI tahu, zaman sudah berubah. Namun, kebutuhan TNI akan media sebagai sarana pencitraan, penggalangan, sosialisasi, dan mobilisasi opini, tidaklah berubah. Apalagi, harus diakui, TNI tetap merupakan salah lembaga strategis yang harus diperhitungkan di negara ini.

TNI sejak awal sangat sadar tentang pentingnya penguasaan dan kontrol terhadap pemberitaan media massa. Dalam sejarahnya, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia bahkan pernah menerbitkan suratkabar sendiri, yaitu harian Berita Yudha (1965) dan Angkatan Bersenjata (1965), yang secara tegas menyatakan berideologi “Pancasila.” Pada saat itu, banyak media menyuarakan aspirasi partai politik dengan warna ideologis tertentu, seperti: Suluh Indonesia (Partai Nasional Indonesia), Duta Masyarakat (Partai Nahdlatul Ulama), Abadi (Partai Masyumi), Harian Rakyat (Partai Komunis Indonesia), Pedoman (Partai Sosialis Indonesia), dan lain-lain.[1]

Panglima TNI Marsekal TNI Djoko Suyanto, pada 2 Januari 2008, juga mengingatkan pada seluruh prajurit dan PNS di lingkungan TNI Angkatan Laut agar dapat meningkatkan hubungan dengan media massa, baik media cetak maupun elektronik.[2]

Dikatakannya, peran untuk mengelola hubungan baik dengan media massa bukan hanya tugas orang perorang, dalam hal ini Kepala Staf Angkatan dan Kepala Dinas Penerangan masing-masing angkatan, namun juga tugas seluruh prajurit TNI. Dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin modern, ditambah dengan adanya tuntutan reformasi untuk lebih terbuka terhadap masyarakat, prajurit TNI hendaknya dapat menjaga citranya agar tidak tercoreng dengan adanya perbuatan-perbuatan negatif yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Panglima TNI menegaskan, berbagai masalah yang timbul di masyarakat terkadang ditimbulkan oleh prajurit TNI sendiri. Jika hal tersebut tidak disikapi dengan baik, maka akan menjadi bola liar yang berkembang panas di media massa dan menimbulkan citra negatif dalam masyarakat. ”Oleh karena itu, agar informasi yang ada di media tidak simpang siur, hendaknya kita mampu mengelola media massa dengan baik,” ujarnya.[3]

Untuk menjaga atau menciptakan hubungan baik dengan media, TNI melakukan berbagai cara, mulai dari yang formal dan murni kejurnalistikan, sampai yang sangat informal. Misalnya, kegiatan outbound wartawan dan staf Dinas Penerangan TNI AU dengan sandi “Media Dirgantara 2009.” Acara ini dilaksanakan bersamaan dengan 208 prajurit Pasukan Khas Angkatan Udara yang sedang melaksanakan latihan Komando Angkatan ke-33.

Outbound yang diikuti 43 peserta dan berlangsung selama tiga hari ini pada fase HTF (How To Fight) dari latihan Komando Korpaskhas. Media elektronik/cetak yang berpartisipasi diantaranya Trans TV, SCTV, TPI, SUN TV, Radio Elshinta, Radio D FM, Rakyat Merdeka, Harian Merdeka, Suara Pembaruan, Suara Karya, Pelita, Majalah Angkasa, Majalah Commando, Sport and Health dan Majalah Health and Turism.

Kadispenau Marsekal Pertama TNI FHB Soelistyo, S.Sos mengungkapkan, melalui kegiatan outbond ini pimpinan TNI Angkatan Udara berharap, dapat diperoleh beberapa sasaran. Antara lain: menjalin hubungan silaturahim secara perorangan, kelompok maupun institusi antara komunitas media dengan TNI Angkatan Udara, sehingga mampu dicapai hubungan yang harmonis dan dinamis atas dasar saling memiliki dan saling menghormati satu dengan yang lain.[4]

[1] Arifin, H. Anwar. 1992. Komunikasi Politik dan Pers Pancasila: Suatu Kajian Mengenai Pers Pancasila. Jakarta: Penerbit Media Sejahtera. Hlm. 40.
[2] Hal tersebut disampaikan saat Panglima TNI memberikan pengarahan kepada lebih kurang 1500 prajurit TNI AL di Gedung Balai Prajurit Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan.
[3] http://www.tnial.mil.id/tabid/61/articleType/ArticleView/articleId/347/Default.aspx diunduh pada 26 Januari 2010.
[4] http://www.tni-au.mil.id/content.asp?contentid=5932 diunduh pada 26 Januari 2010.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI