POLEMIK DI MILIS TENTANG DISKUSI JARINGAN ISLAM LIBERAL (JIL) - "KISAH FIKSI DAN NON-FIKSI DALAM KITAB SUCI"

Bermula dari posting Saidiman pada 28 Oktober 2010 di milis Kahmi dan jurnalisme, tentang Diskusi Bulanan Jaringan Islam Liberal (JIL). Topik: "Kisah Fiksi dan Non-Fiksi dalam Kitab Suci". Narasumber: Ioanes Rakhmat & Hamid Basyaib. Pelaksanaan: Jumat, 29 Oktober 2010. Pukul 19.00 WIB di Teater Utan Kayu, Jakarta.

Deskripsinya: Semua kitab suci memuat kisah tentang berbagai peristiwa. Bagi penganutnya, semua kisah itu adalah kenyataan yang pernah terjadi di masa lalu. Sebagian besar dari mereka meyakini bahwa kisah-kisah tersebut merupakan kebenaran yang tidak dapat diragukan. Mereka meyakini bahwa tujuan dari kisah-kisah tersebut adalah untuk menanamkan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
Namun sebagian kisah dalam kitab suci mengandung masalah ketika masuk dalam penalaran akal sehat. Para Pemuda Goa (Ashaabul Kahfi) yang diceritakan tertidur di dalam sebuah goa selama ratusan tahun. Begitu pula cerita tentang Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri.
Apakah kisah-kisah yang ada dalam kitab suci benar-benar terjadi dalam sejarah (non-fiksi) atau semua itu hanya fiksi belaka? Atau ada cara lain untuk memahami kisah-kisah tersebut, selain mengkategorikannya sebagai fiksi dan non-fiksi?

Pada tanggal yang sama, saya (Satrio) menanggapi sbb:

Kalau hasil diskusi JIL menyimpulkan, kisah-kisah dalam Al Quran itu fiksi, atau ada sebagian kisah dalam Al Quran itu fiksi, maka itu adalah "bahasa halus dan tersamar" dari forum JIL untuk mengatakan bahwa Allah SWT telah berbohong pada umatnya, atau Nabi Muhammad SAW berbohong pada umatnya.

Letak "kebohongannya" adalah mempresentasikan dongeng (fiksi) sebagai sesuatu yang non-fiksi kepada masyarakat. Kalau bersikap jujur, kan seharusnya sebuah dongeng ya disebut dongeng. Jangan diceritakan kepada masyarakat seolah-olah sebagai fakta historis ("kisah umat-umat terdahulu sebelum kamu"). Begitu, bukan?

Cukup SATU SAJA kisah di dalam Al Quran disimpulkan sebagai fiksi, maka seluruh bangunan kebenaran Al Quran bisa runtuh, karena akan timbul keraguan orang ke bagian-bagian lain dalam Al Quran, dan akhirnya kepada Al Quran itu sendiri dan orang yang menyampaikannya (Muhammad).

Konsekuensi berikutnya: kalau Muhammad disimpulkan berbohong (atau tepatnya, orang dibuat percaya bahwa Muhammad telah menyiarkan kabar bohong melalui Al Quran / "wahyu" yang disampaikannya), maka praktis ini adalah langkah menuju penghancuran kepercayaan kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada agama yang disebut Islam ini. Karena, logisnya, kenapa orang harus mengikuti ajaran agama yang dianut dan didakwahkan oleh seorang pembohong?

Pertanyaan saya:

Apakah memang penghancuran iman umat Islam itu yang menjadi target JIL? Apakah orang-orang di JIL menyadari betul konsekuensi dari "permainan"mereka ini? Atau apakah orang-orang di JIL akan tetap bersikeras dengan mengatakan bahwa forum diskusi JIL ini 100% "murni ilmiah", sehingga tidak relevan dikait-kaitkan dengan iman? (Maksudnya, kalau orang Islam sedang "berdiskusi ilmiah," sementara dia harus menganggap Allah tidak ada!) Marilah kita tunggu "kesimpulan-kesimpulan dahsyat" dari hasil Diskusi JIL ini!

Komentar saya itu rupanya memancing komentar ramai di milis jurnalisme, kahmi, dan AJI (saya tak pernah memposting ke milis AJI, tetapi rekan Eko Maryadi justru yang melempar tanggapannya ke sana). Saya dituding macam-macam. Ada yang menyebut wartawan kompor lah. Ada yang mengomentari isi posting saya dengan memberi argumen tandingan (tetapi tak saya masukkan di sini, karena tidak ada yang secara memadai menolak argumen saya).

Tanggapan saya berikutnya terhadap semua itu, pada 29 Oktober 2010:

Loh, kok pada heboh? Karena saya sekarang kuliah di Filsafat, jadi saya sebetulnya sekadar melatih ilmu logika yang saya pelajari dari Pak Dosen.

Kan dari logika jurnalistik, posting saya betul:
Fiksi = tidak faktual.
Jadi, kalau fiksi ditampilkan oleh seorang jurnalis sebagai fakta historis, jelas si jurnalis melakukan kebohongan publik.

Nah, sekarang di Al Quran ada "kisah-kisah umat terdahulu," yang disampaikan oleh Allah atau diceritakan oleh Muhammad sebagai fakta historis.

Kalau Anda (atau JIL atau siapapun juga) menyimpulkan bahwa fakta historis menurut versi Al Quran itu sebetulnya hanyalah fiksi semata (apapun niat baik yang menjadi tujuannya), berarti "pengarang/penyusun Al Quran" (Allah dan atau Muhammad) --sebagai konsekuensi dari kesimpulan Anda-- telah melakukan kebohongan publik.

Secara tak langsung, Anda mungkin telah menurunkan derajat Al Quran menjadi sekadar "Kisah Seribu Satu Malam" (kumpulan fiksi) atau dongeng "Kancil Mencuri Ketimun" (fiksi juga), betapapun baik dan mulia niat memberi pelajaran moral dan akhlak lewat kisah-kisah fiksi tersebut. Bahkan nilai Al Quran praktis ditempatkan lebih rendah dari buku "Chicken Soup for the Soul" yang konon masih berdasarkan kisah-kisah nyata.

Kalau sampai seorang Islam berani mengatakan seperti itu, per definisi sebetulnya dia sudah keluar dari Islam, karena sudah tidak beriman pada Allah dan tidak percaya pada Rasulullah.

Jelas, kan? Alur berpikir saya, sejauh yang saya pahami, sangat logis. Logika dijawab dengan logika. Bukan retorika. Tetapi mungkin teman-teman di JIL punya cara berpikir yang amat canggih, yang melampaui logika saya. Siapa tahu? Makanya, kata saya, tunggu saja kesimpulan diskusinya nanti.

Satrio Arismunandar

NB:
Oleh pihak JIL, diskusi itu ditunda sampai hari Kamis, 4 November 2010. Tidak jelas, apakah penundaan itu karena kehebohan yang terjadi di kalangan panitia (dan pembicara) sebagai hasil postingan saya, atau ada sebab teknis lain. Sesudah itu, tidak muncul lagi penjelasan dari pihak JIL tentang hasil diskusi 4 November 2010.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI