SOREN KIERKEGAARD DAN EKSISTENSIALISME

Kebebasan dan tanggung jawab adalah tema-tema yang secara kuat diangkat oleh eksistensialisme. Sebagai filsafat yang menjadikan eksistensi manusia sebagai tema sentral, eksistensialisme tumbuh sebagai ragam filsafat manusia yang sangat berkembang terutama setelah Perang Dunia II. Namun, ini bukan berarti eksistensialisme itu baru terwujud sesudah Perang Dunia II, karena Kierkegaard sebagai peletak fondasinya menulis karyanya bahkan sebelum Perang Dunia I. Sebagian karya Heidegger, Jaspers, dan Sartre pun ditulis sebelum Perang Dunia II. Bahkan, terdapat alasan untuk menunjukkan bahwa dasar-dasar eksistensialisme juga ditemukan pada karya tokoh pengarang Rusia, seperti Dostoyevski, atau filsuf Jerman, Nietzsche, padahal keduanya tidak sampai mengalami Perang Dunia I.

Eksistensialisme pada abad ke-20 adalah filsafat dan gerakan kesusastraan yang terutama diidentifikasikan pada sejumlah intelektual Perancis, di mana salah satu tokohnya yang terkemuka adalah Jean-Paul Sartre. Eksistensialisme memperoleh pengaruh cukup besar sesudah Perang Dunia II, terutama pada tahun 1945-1955. Perwujudan populer lewat karya-karya kesusastraan dengan tema eksistensialis juga membantu masyarakat untuk menangkap pesan-pesan eksistensialisme tersebut. Makin lama, aliran ini tersebar ke seluruh Eropa, bahkan pengaruhnya meluas sampai ke benua-benua lain.

Suasana psikologis masyarakat di Perancis saat itu adalah adanya perang dan pendudukan Perancis oleh Jerman, yang meningkatkan keprihatinan eksistensial tentang tema-tema kebebasan, tanggung jawab, dan kematian. Ada suatu perasaan bahwa individualitas manusia semakin dikaburkan dan ditolak oleh adat-istiadat atau aturan-aturan sosial yang umum dari massa. Sehingga muncul perlawanan terhadap determinasi moralitas atau nilai-nilai dari luar, serta penolakan terhadap penekanan yang berlebihan pada rasionalitas dan kemajuan, yang dikedepankan oleh zaman Pencerahan (Enlightenment).

Eksistensialisme secara populer diasosiasikan dengan keterkenalan yang dinikmatinya di Paris pada tahun 1940-an, ketika oposisi --terhadap bentuk-bentuk dominasi yang tersirat pada kekuasaan dan ideologi-- didiskusikan dan mungkin dihidupkan di suasana khas kafe-kafe dan klub malam Paris. Identifikasi gerakan filosofis dengan gaya hidup itu berumur pendek.

Namun, filsafat eksistensialisnya sendiri memiliki implikasi yang lebih luas daripada sekedar revolusi muda yang terkungkung dalam gerakan protes.
Akar-akar eksistensialisme bervariasi, dan bisa ditemukan pada karya-karya sejumlah pemikir. Jika para eksistensialis ini secara garis besar harus dibagi dalam dua mazhab, maka mazhab pertama adalah mereka yang theis atau percaya pada Tuhan, sedangkan mazhab kedua adalah mereka yang atheis atau tidak percaya pada Tuhan. Filsuf pertama yang dianggap perintis eksistensialisme dan mewakili mazhab pertama adalah teolog Denmark dari abad ke-19, Søren Kierkegaard (1813-55).

Kierkegaard pernah mengagumi filsafat Hegel karena dianggap mampu memberikan jawaban yang sangat mendalam dan menyeluruh tentang sejarah umat manusia, dalam perspektif yang sama sekali baru saat itu. Namun, kemudian Kierkegaard melihat idealisme Hergel itu terlalu abstrak, serta tidak mampu menjangkau kehidupan konkret dan faktual manusia serta permasalahannya. Persoalan-persoalan manusia seperti kebahagiaan, kebebasan, kecemasan, penderitaan, dan sebagainya harus dicari jawabannya atau maknanya. Namun, persoalan-persoalan seperti itu tidak mungkin diterangkan oleh --atau dapat dijelaskan dalam kerangka pemikiran – Hegel.
Kritik Kierkegaard atas idealisme Hegel, teori-teori umum, dan obyektivisme ilmu adalah bahwa pendekatan Hegel itu seperti menganjurkan manusia untuk sekadar menjadi pengamat bisu, yang tidak punya komitmen dan keterlibatan dengan hal-hal yang terjadi di pentas teater dunia. Padahal, sebenarnya manusia adalah aktor yang secara langsung atau tak langsung juga berperan dalam cerita yang dipentaskan di teater tersebut.

Dalam kaitan itulah, Kierkegaard berpendapat, subyektivitas merupakan kebenaran pertama, hal mana menjadi dasar bagi eksistensi pribadi. Bahkan, menjadi subyektif adalah tugas bagi setiap manusia. Kierkegaard membela pengalaman subyektif terhadap totalisasi dan obyektivisasi sistem Hegelian. Kierkegaard juga menolak segala bentuk ilmu tentang manusia, jika ilmu-ilmu itu justru mengorbankan individualitas dan keunikan manusia yang dikajinya.

Dalam kaitan agama, Kierkegaard beranggapan, kepercayaan pada Tuhan akan selalu melibatkan pilihan individual, suatu ”loncatan iman” individual. Apa yang dilibatkan dalam kehidupan iman tidak dapat disangkal, atau dalam hal ini divalidasi, oleh logika konvensional atau sintesis rasional. Dengan demikian, Kierkegaard praktis menolak pandangan Hegel. Jika filsafat agama secara tradisional berusaha mendamaikan iman dan nalar (rasio), Kierkegaard justru mengambil langkah yang bertentangan dan menegaskan ketidakcocokan antara keduanya. Yakni, ada diskontinuitas mutlak antara yang manusiawi dan yang ilahiah.

Perlu diakui bahwa –setidaknya menurut pemahaman superfisial tentang kaum eksistensialis pasca-Heidegger-- eksistensialisme tampaknya menolak kemungkinan iman. Padahal iman adalah sesuatu yang oleh Kierkegaard –dengan caranya sendiri-- justru dipegang dengan kukuh. Jean-Paul Sartre dan para eksistensialis Perancis lainnya adalah atheis, bahkan sekalipun Merleau-Ponty pernah jadi penganut Katolik.

Bagaimanapun, perlu digarisbawahi di sini bahwa Sartre mengisyaratkan, deklarasi atheisme bukanlah komponen yang diperlukan dalam pemikiran eksistensial. Hal ini karena eksistensialisme bukanlah, atau setidaknya bukan dimaksudkan untuk menjadi, metafisika. Eksistensialisme bukanlah upaya metafisis untuk menjelaskan dan mengkategorikan apa itu dunia dan apa yang melampaui dunia, dan karena itu eksistensialisme tidak berusaha membuktikan ada-tidaknya Tuhan.

Berbeda dengan Kierkegaard, kaum eksistensialis abad ke-20 umumnya lebih bergairah mengeksplorasi seluruh implikasi dari atheisme yang sempurna, walaupun ada tokoh eksistensialis Katolik ternama, seperti Gabriel Marcel di Perancis, dan tokoh eksistensialis Protestan, Karl Jaspers di Jerman. Eksistensialisme religius dari Kierkegaard, Jaspers, dan Marcel berbeda dengan atheisme yang tegas dari Sartre, Simone de Beauvoir, dan Albert Camus. Meskipun demikian, pada semua tokoh eksistensialis tersebut terdapat asumsi-asumsi esensial tertentu yang sama.

Dalam kaitan dengan eksistensialisme, ada tokoh lain yang terkadang disebut, yakni filsuf Jerman ternama, Friedrich Nietzsche (1844-1900). Nietzsche sangat menaruh perhatian pada masalah moral dan nilai. Memandang bahwa moralitas yang ada di masyarakatnya sering digunakan untuk melayani tujuan-tujuan yang tidak bermoral, Nietzsche pun menyerukan evaluasi ulang terhadap seluruh nilai-nilai. Ia menegaskan, tidak ada penentu akhir atas nilai-nilai itu di luar pengalaman kepuasan (satisfaction). Penolakan Nietzsche terhadap setiap standar moral yang absolut jelas sangat berpengaruh pada Sartre dan Albert Camus. Namun, kecenderungan Nietzsche untuk menolak bahwa manusia bertindak secara bebas, serta pandangan Nietzsche tentang naturalisme biologis, menempatkannya pada jarak tertentu dari eksistensialisme.

Seperti pada Kierkegaard, eksistensialisme juga tumbuh di sejumlah kalangan religius, seperti Karl Jaspers dan Gabriel Marcel. Filsuf asal Jerman, Jaspers (1883-1969), berusaha mengkombinasikan wawasan-wawasan terbaik Kierkegaard dan Nietzsche, dan memperluas pemikiran mereka ke masalah hubungan antara agama dan sains.

Jaspers juga mengangkat tema existenz (eksistensi), yang dapat diringkas sebagai gagasan bahwa tidak ada diri (self) yang tetap atau esensial. Sebaliknya, diri itu hanyalah kemungkinan-kemungkinannya dan apa yang akan menjadi dari kemungkinan-kemungkinan tersebut. Pernyataan bahwa diri itu tidaklah tetap, namun hakikatnya terutama adalah tentang orientasinya ke masa depan, berpengaruh secara langsung terhadap karya Heidegger, dan secara tak langsung pada Sartre, Merleau-Ponty, dan Simone de Beauvoir. Pandangan Jaspers ini bisa dikatakan sampai sekian lama tetap dominan pada pemikiran kontemporer Perancis.

Yang lebih penting, Jaspers berpendapat bahwa kondisi existenz, pengungkapan bahwa tidak ada diri apapun yang esensial, akan terungkap dengan sangat jelas pada ”situasi-situasi batas,” termasuk kematian, penderitaan, rasa bersalah, dan –seperti dinyatakan Kierkegaard—situasi ketidakpastian keputusan.

Keyakinan bahwa perasaan dan suasana hati tertentu dapat mengungkapkan kebenaran-kebenaran filosofis tentang struktur dunia, juga memainkan peran yang lebih besar dalam karya Heidegger dan Sartre. Namun bagi Jaspers, penderitaan, rasa bersalah, dan ketidakpastian terjadi ketika terdapat konflik antara situasi menggantung (contingent) dan kebutuhan untuk memilih secara mutlak: dengan kata lain, antara situasi --di mana di dalam dan dari dirinya sendiri tidak terdapat makna inheren-- dengan aspirasi-aspirasi manusia.

Sementara itu, filsuf Perancis, Gabriel Marcel (1889-1973), memberikan pandangan yang lebih optimistis tentang dunia dan hubungan manusia dengan yang lain, dibandingkan pandangan Sartre, Kierkegaard, dan tokoh-tokoh eksistensialis lainnya. Pada saat yang sama, seperti para eksistensialis lain, Marcel juga menolak pandangan eksklusif teknis terhadap dunia.

Arti penting Marcel bagi eksistensialisme terutama adalah upayanya memperkenalkan kembali masalah tubuh (body). Secara historis, banyak tradisi filsafat Barat yang mengecilkan arti tubuh, karena dipandang dapat menyimpangkan kita, dan jelas bahwa tubuh tidaklah seandal pemikiran abstrak. Plato dan Rene Descartes adalah contoh nyata dalam tradisi pemikiran ini. Walaupun isu tubuh dalam karya Heidegger itu rumit, cukup aman untuk mengatakan bahwa seluruh pemikir eksistensialis abad ke-20 menekankan pentingnya pengalaman yang kita jalani dan menubuh (embodied experience), serta pentingnya relasi perseptual terhadap dunia. Bahkan, sekalipun mereka tidak sepakat satu dengan yang lain tentang bagaimana persisnya bentuk hubungan tersebut.

Penekanan pada pengalaman yang menubuh ini juga melibatkan penekanan pada seksualitas. Bahkan sebelum Simone de Beauvoir menulis karyanya yang monumental, The Second Sex (1949), Sartre dan Merleau-Ponty telah menulis sejumlah karya tentang seksualitas.

Sementara itu, novelis, dramawan, dan filsuf Perancis, Albert Camus (1913-60), tidak sering disinggung dalam pengajaran eksistensialisme dewasa ini. Walaupun selalu membantah bahwa dirinya adalah seorang eksistensialis, Camus selalu diasosiasikan dengan sebutan itu. Dalam bukunya The Myth of Sisyphus (1942), Camus tidak memfokuskan diri pada masalah-masalah yang terkait dengan isu kebebasan, tetapi menekankan pada hakikat absurd dari eksistensi, bagaimana manusia menanganinya, dan bagaimana meneruskan kehidupan.

Camus merujuk absurditas sebagai jurang antara apa yang diharapkan manusia dalam kehidupan dan apa yang mereka benar-benar temukan. Individu-individu yang mencari ketertiban, harmoni dan bahkan kesempurnaan, menurut Camus, tidak bisa menemukan bukti bahwa hal-hal yang diharapkannya itu eksis.

Figur lain yang menonjol dalam hubungan dengan eksistensialisme adalah filsuf Jerman, Martin Heidegger (1889-1976). Hubungan Heidegger dengan eksistensialisme menjadi isu yang agak kontroversial, bukan hanya karena kritiknya --dalam esei Letter on Humanism (1945)-- terhadap fokus Sartre tentang kesadaran dan subyektivitas, tetapi juga karena beberapa perbedaan filosofis substantif antara proyek Heidegger dengan tokoh-tokoh filsuf Perancis saat itu. Pada saat yang sama, tak perlu diragukan begitu besarnya pengaruh Heidegger pada eksistensialisme.

Bahkan faktanya, pemahaman yang memadai tentang eksistensialisme tidaklah dimungkinkan tanpa sedikitnya mengulas karya Heidegger, Sein und Zeit (Being and Time, 1927). Karya Heidegger itu dan karya Sartre L'Être et le néant (Being and Nothingness, 1943) mungkin adalah karya eksistensialis yang paling banyak dikenal pada abad ke-20. Tak satu pun dari karya-karya itu yang mendiskusikan eksistensi manusia dalam arti yang biasa.

Sebagian besar ”analisis eksistensial” Heidegger dalam Being and Time menangani analisis tentang bagaimana manusia secara tak terhindarkan terperangkap dan terseret ke dalam banalitas sehari-hari (kejatuhan dan ketidakotentisitasan). Juga, untuk mengungkapkan gerakan yang berlawanan, di mana anonimitas ini diekspos sebagaimana apa adanya, dan kita secara radikal diindividualisasikan lewat pengalaman kecemasan (anxiety), ketika kita dipaksa untuk membuat keputusan yang sulit, atau ketika berkonfrontasi dengan kemungkinan kematian kita sendiri (otentisitas). Di sini terlihat adanya hubungan yang jelas terhadap konsep Jaspers tentang situasi-situasi batas, walau hal ini tidak diakui Heidegger.

(Dikutip dari berbagai sumber)

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI