TIP MENGHADAPI WARTAWAN DAN MEDIA


Oleh Satrio Arismunandar

Apakah Anda suka atau tidak suka dipublikasikan, atensi atau perhatian dari media adalah kenyataan hidup yang harus dihadapi.
Apalagi jika bisnis kita sangat berkaitan dengan kepentingan publik (air minum, listrik, bahan bakar minyak, gas elpiji, jasa transportasi umum, dsb).

Jangan menghindari media, karena media justeru bisa menguntungkan kita.
Media bisa mensosialisasikan/mempromosikan produk kita.
Media bisa menjelaskan posisi/sikap kita terhadap suatu hal.
Media sebagai kontrol sosial terhadap praktik bisnis kita.
Media yang bersahabat adalah aset kita untuk jangka panjang.

Bersiaplah menghadapi wawancara dengan media.
Wartawan ingin jawaban atas lima pertanyaan dasar, plus penjelasan tambahan.
Persiapkan pemahaman Anda dengan rumus: 5W + 1H
What (apa)
Who (siapa)
Why (mengapa)
When (kapan)
Where (di mana)
How (bagaimana)

Berbicara jelas, tidak terburu-buru, dan langsung.
Bersikap terus terang, meyakinkan, dan bisa dipahami.
Berperilaku ramah, bersahabat, dan hindari bersikap defensif.

Ketika mau diwawancarai oleh wartawan, Anda harus tahu dengan siapa Anda berhubungan.
Meskipun wartawan bersikap ramah, mereka bukan sekutu Anda.
Mereka sedang menjalankan tugas, dan mereka digaji untuk untuk menggali informasi dari Anda.
Wawancara adalah bentuk diskusi yang penting bagi bisnis Anda.
Maka Anda harus tetap fokus pada butir-butir informasi, yang ingin Anda sampaikan kepada publik.

Sebelum wawancara, ada baiknya Anda menyiapkan daftar pertanyaan yang kemungkinan besar akan diajukan oleh wartawan.
Siapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Buatlah jawaban yang masuk akal.
Jika ada problem-problem dalam industri, akuilah dan jelaskan langkah-langkah yang sudah Anda lakukan untuk memperbaikinya.
Hal ini akan memberi gambaran positif pada pihak Anda.

Sebagai pihak yang akan diwawancarai, dan wartawan membutuhkan Anda untuk diwawancarai, sedikit-banyak posisi Anda memiliki kekuatan.
Manfaatkan posisi ini.
Jika ada butir tertentu yang penting bagi bisnis Anda, ulangi beberapa kali butir penting itu selama wawancara.
Jika menghadapi wawancara yang berpotensi negatif, bersiaplah untuk bicara terbuka, jujur, dan penuh kasih. Serta, dengan apologi, jika dibutuhkan.
Jelaskan dan ajukan, bagaimana rencana bisnis Anda untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Tangani hal tersebut dengan menyatakan, misalnya:
”Yang dapat saya katakan pada Anda adalah ....”
”Kami merasa terganggu oleh tuduhan-tuduhan ini dan kami akan berusaha sebaik-baiknya untuk ...”


Perlakukan wartawan dengan hormat.
Tidak ada gunanya sesumbar, menggertak, atau menjahili.
Jika hasil wawancara itu dimuat atau ditayangkan di media, sikap kita yang keliru justru akan mempermalukan kita.
Hindari penggunaan jargon-jargon spesifik, yang hanya Anda sendiri pahami, tetapi tak akan dipahami khalayak pembaca umumnya.

Sedapat mungkin, hindari penggunaan ”off the record.”
Di era serba internet saat ini, terkadang penggunaan “off the record” tidak efektif.
Jika Anda tidak ingin informasi tertentu digunakan oleh media, tidak usah diungkapkan ke wartawan.
Jangan pernah meminta untuk membaca suatu konsep berita, sebelum berita itu disiarkan. Media yang baik tidak akan pernah mengabulkan permintaan semacam itu.

Menghindari wartawan/media tidak akan menyelamatkan kita dari pemberitaan negatif, malah bisa sebaliknya.
Hindari jawaban ”no comment” (tak ada komentar).
Jawaban ini membuat kita terkesan arogan, atau malah membuat khalayak curiga bahwa kita menyembunyikan sesuatu.
Jawaban ”no comment” bukan berarti wartawan tidak mendapat berita.
Jawaban ”no comment” itu justru akan dijadikan berita (baca: berita negatif terhadap kita).
Atau, berita tetap dimuat/disiarkan tanpa pengimbang informasi dari sisi pandang kita, yang justru merugikan posisi kita sendiri.

Jika informasi yang dimuat/disiarkan media itu keliru, Anda memiliki hak jawab.
Kontak redaktur media bersangkutan.
Siapkan surat tanggapan, yang menjelaskan posisi Anda dan menjelaskan secara rinci di bagian-bagian mana pemberitaan itu keliru.
Awali dan akhiri surat tanggapan Anda dengan sesuatu yang positif.

Jakarta, Juli 2011

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)