ANAK DI TENGAH HUJAN - Cerpen Nadhifa Annisa Satrioputri (Kls. 7, Pesantren Nurul Fikri, Anyer)


Libur panjang tahun ini sungguh menyebalkan. Hujan selalu turun tiap detik, menit, jam, bahkan hari. Semua rencana pergi jalan-jalan dibatalkan hanya gara-gara hujan, pikirku, sambil melihat hujan turun di depan jendela kamarku.

“Al…,” suara itu membuyarkan lamunanku. Aku hanya menengok sedikit ke belakang. Kulihat mama sudah mengenakan baju yang sangat familiar di depanku.
“Kenapa, ma..?” jawabku singkat.
”Al, anterin mama ke optik yuk..!”.

“Emang mama gak liat kalau sekarang lagi hujan?” jawabku sinis.
”Memang hujan, tapi mama mau nunggu sampai kapan? Mama matanya gak enak. Kamu mau kan temenin mama?”

Wajahku mengerut. ”Ya udah ku temenin!” jawabku sebal, sambil pergi ke luar.
Aku sudah duduk di kursi mobil paling depan sambil melipat tangan. Mama, yang baru masuk, melihatku dengan penuh tanda tanya. Terlihat jelas di wajahnya.
Ia mulai bertanya, ”Kamu kenapa sih, Al?”

Aku membisu. Karena tak mau berlama-lama, mama mulai menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan rumah.
Sesampainya di optik, hujan turun makin deras. Aku dan mama berlari memasuki optik. Aku menggigil, begitu juga mama.
Seorang pramuniaga berdiri. ”Selamat datang di Optik Cempaka. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan dan lembut.

Dengan cepat, mama mendekat dan mulai menceritakan masalahnya. Aku tidak ingin mendekat. Aku hanya mencari-cari kursi yang kosong untuk duduk. Aku beruntung karena menemukan kursi yang menghadap jendela berkaca bening.

Awalnya aku mulai merasa bosan, namun sesuatu menarik perhatianku. Kulihat seorang anak laki-laki, umurnya sekitar 7 sampai 6 tahun. Ia mengenakan kaos berlengan pendek yang lusuh. Ia memegang payung, bajunya basah, dan tidak mengenakan alas kaki. Terlihat jelas tubuhnya yang kurus itu menggigil. Wajahnya pucat.

Aku prihatin sekali melihat keadaannya. Kulihat ia berusaha untuk berjalan namun… Brukkk! Ia tersungkur. Aku langsung berdiri dan berlari ke luar.
“Siapapun tolong bantu! Anak ini pingsan!” teriakku, lantang.

Terlihat ada beberapa orang mendekat. ”Mungkin ia kelaparan.” Kelaparan… otakku berputar. ”Mas, tolong angkatin anak ini ke pinggiran toko yang tutup ya? Saya mau beli makanan dulu buat anak ini.”
“Iya, mbak. Anak ini biar saya jagain.”

Dengan sigap aku berdiri dan mulai mencari warteg atau warung kecil. Kulihat ada warteg kecil dekat kantor pos. Kelihatannya tempat itu tidak begitu bersih, tapi tidak apalah. Yang penting, aku bisa membeli makanan untuk anak itu.

Tidak mau terlalu lama berpikir, aku langsung masuk. Kulihat ada ibu setengah baya yang sepertinya kaget melihat aku nyelonong masuk. ”Ada apa toh, nduk?”
“Bu, saya mau beli nasi bungkusnya, pakai ayam,” jawabku tergesa-gesa.
”Iya, nduk. Tunggu sebentar, simbok buatkan dulu.”

Tak lama aku menunggu, simbok sudah selesai dengan tugasnya. Kubayar dan aku langsung berlari ke tempat di mana anak itu pingsan. Kudengar seseorang berkata,”Hei, dia siuman!”

Lega kudengar kata-kata itu. Dengan cepat aku mendekat ke anak itu. Terlihat jelas, wajahnya penuh tanda tanya karena dikelilingi oleh orang yang tidak ia kenal.
”Hei, kau lapar, kan? Ini dimakan ya?” kataku dengan lagak dewasa. Anak itu terlihat ragu namun akhirnya mau juga.

Ia makan dengan begitu lahap, seperti orang yang sudah seminggu tak makan. Malang nasib anak itu. Berceceran nasi di bajunya yang basah dan kulihat dia sudah sehat.
Dia menengok ke arahku.”Terima kasih, kak, atas makanannya.”
“Sama-sama, dik.”
“Sekarang aku mau cari uang lagi. Alhamdulillah, hujannya masih deras.”

Aku terdiam mendengar perkataan itu. Teringat omelanku tentang hujan, yang kukira hanya membawa masalah. Namun, ternyata hujan itu membawa berkah untuk anak ini, yang bekerja sebagai ojek payung.

Ya, Allah, aku merasa malu terhadap anak ini. Ia masih mau bekerja di tengah hujan sampai kelaparan. Sementara aku hanya bisa marah karena hujan selalu turun. Ya, Allah, maafkan aku. Semoga anak ini diberi ketabahan.”

Anak itu berdiri dan mulai bekerja lagi. Sebelum berjalan, ia menengok lagi ke arahku dan berkata, ”Sekali lagi terimakasih ya kak, atas makanannya.”
Ucapannya hanya kubalas dengan senyum.
Anak itu pun berlalu dan aku kembali ke optik. Kulihat mama seperti sedang menunggu sesuatu. ”Mama!” kataku, sedikit berteriak.

”Al, kamu kemana aja tadi? Mama cariin juga!”
“Maaf, ma. Tadi aku hanya keluar sebentar.”
“Lain kali, kalau mau keluar bilang dulu.”
“Iya, ma. Pulang yuk!”

“Kamu mau pulang? Padahal tadinya mama mau ngajak kamu jalan-jalan sebentar.”
Dengan senyum, aku menjawab, ”Gak usah deh. Gak jadi. Lihat aja sekarang, kan lagi hujan. Nanti aja kalau sudah reda.”

Terlihat wajah mama seperti bingung, namun kubiarkan. Segera aku masuk ke dalam mobil. Masih kulihat anak itu mengojek payung, membuatku mengerti, apa arti hujan yang sesungguhnya.


Depok, 17 September 2010

Nadhifa Annisa Satrioputri

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI