Gerakan Tutup Mulut Nazaruddin = Pisau Bermata Dua?


Dengan Nazaruddin berjanji, tidak akan membuka nama pejabat Partai Demokrat atau parpol manapun dalam kasus korupsi/suap yang melibatkannya, sepertinya ini kabar baik buat SBY, Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng, Ibas Yudhoyono, dan lain-lain, yang sudah pusing dengan berbagai pengungkapan yang dilakukan Nazaruddin.

Tetapi ucapan Nazaruddin yang seolah-olah ”pasang badan” itu --di mata rakyat/publik—sebenarnya seperti pisau bermata dua. Karena Nazaruddin seolah membenarkan bahwa para petinggi partai itu memang sebenarnya busuk semua.

Nazaruddin tidak pernah membantah bahwa mereka busuk. Nazaruddin bahkan sebenarnya tidak pernah mencabut ucapannya, yang penuh tuduhan kepada sejumlah nama petinggi parpol, yang pernah ia lontarkan ketika masih buron dulu.

Nazaruddin seperti orang yang terlihat sedang berdiri di tengah kumpulan bangkai, dan lalu berkata: ”Jangan khawatir, saya akan tutup mulut. Saya tidak akan menyebut-nyebut soal bau, yang ada di sekitar saya sekarang. Asalkan istri dan keluarga saya tidak diganggu.”

Dengan mengirim surat khusus kepada SBY, lewat ucapan ”tolong agar istri dan keluarga saya tidak diganggu,” Nazaruddin justru melontarkan pesan/tudingan baru ke depan publik. Artinya, Nazaruddin memunculkan dugaan/spekulasi di masyarakat bahwa istri dan keluarganya saat ini sedang ”disandera” atau ”diancam akan diganggu,” jika Nazaruddin berani buka mulut di sidang KPK.

Orang awam pun bertanya, jika Nazaruddin yang buron dengan paspor palsu saja bisa ditangkap, apa susahnya sih menangkap atau memulangkan istri Nazaruddin, yang pergi bersama suaminya dengan menggunakan paspor asli? Bahkan, dengan melacak pergerakan paspor asli istri Nazaruddin, sebetulnya sudah jauh-jauh hari lokasi keberadaan Nazaruddin dan istrinya diketahui aparat. Jika Nazaruddin baru ditangkap belakangan, itu sebenarnya hanya karena aparat menunggu ”titah dari penguasa tertinggi.” Singkat kata, istri Nazaruddin sebetulnya saat ini sebenarnya sudah berada dalam ”genggaman” aparat atau pihak tertentu di kekuasaan.

Lantas, siapa yang mengganggu dan mengancam istri/keluarga Nazaruddin? Ya, siapa lagi kalau bukan pihak-pihak yang akan terlibat dalam kasus korupsi/suap, jika Nazarudin konsisten blak-blakan, membuka semua nama yang kecipratan duit haram hasil kejahatan tersebut....

Dus, sikap baru Nazaruddin sebenarnya adalah justru pisau bermata dua, yang bagian tajamnya bisa menusuk ke mana-mana. Lewat gerakan tutup mulutnya, Nazaruddin praktis sudah melontarkan tuduhan-tuduhan baru kepada pihak-pihak tertentu, khususnya pada elite politik petinggi Partai Demokrat.

Permainan belum selesai, dan rakyat maupun media sekarang semakin pintar. Tidak mudah ditipu dengan sandiwara murahan. Sinetron yang terlalu sering diputar ulang akan mudah ditebak jalan ceritanya...

Jakarta, 19 Agustus 2011
Satrio Arismunandar
(Pengamat politik jalanan)

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)