(3) JURNALISME INVESTIGATIF DAN REDAKSI MEDIA MASSA (Wawancara Septiawan Kurnia Santana dengan Satrio Arismunandar)


Wawancara tertulis Septiawan Santana Kurnia dengan Satrio Arismunandar, sebagai bagian dari penelitian disertasi S3 Ilmu Komunikasi di Universitas Padjajaran, Bandung, 2011. Untuk memudahkan dibaca, wawancara ini diupload ke blog dalam beberapa bagian. Diharapkan isinya juga bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang berminat pada studi Ilmu Komunikasi atau Jurnalisme:

Mengapa pola liputannya investigasi di majalah (cetak), koran (cetak), dan media televisi, radio, online (elektronik) berbeda-beda?

Karena perbedaan medium, berarti berbeda pula format berita, pola konsumsi media, audience, selera dan kebutuhan audience. Pola liputan dan pemberitaan otomatis berubah pula, menyesuaikan dengan kebutuhan audience.

Mengapa media cetak dan elektronik yang serius masih tetap menugaskan wartawan mereka melakukan investigasi dengan cara dan gaya masing-masing?

Pengertian media “serius” di sini adalah media yang pengelolanya memang betul-betul menyadari fungsi media dalam masyarakat demokratis, yakni sebagai sarana kontrol sosial, bukan sekadar industri pencari profit biasa. Investigasi adalah salah satu cara media, dalam menghasilkan liputan/berita yang memenuhi unsur kontrol sosial, unik, serta eksklusif, manakala cara-cara liputan biasa tidak bisa menghasilkan berita yang tajam dan mendalam.

Investigasi yang diklaim beberapa media televisi harus dilihat secara kritis (programa siaran televisi memiliki acara “investigasi”: Metro, TvOne, Anteve, Trans, Trans7). Media Televisi kerap melakukan investigasi dengan cara masing-masing. Dan media televisi, dalam menyoroti satu hal, proses liputannya lebih banyak yang memilih liputan mendalam, atau komprehensif. Mengapa media televisi cenderung memakai liputan berbentuk liputan mendalam, bukan investigatif seperti yang diharapkan dalam liputan penyelidikan?

Pertanyaan ini kurang pas. Liputan mendalam/komprehensif tidak perlu didikotomikan atau dipertentangkan dengan liputan investigatif, karena suatu liputan bisa bersifat mendalam, komprehensif, sekaligus investigatif. Suatu liputan investigatif biasanya juga diharapkan bersifat mendalam dan komprehensif, tidak sekadar menangkap gejala di permukaan. Walaupun, tingkat atau kadar kedalaman dan kelengkapan suatu liputan investigatif memang bisa beragam. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: mengapa media TV cenderung memakai liputan investigatif yang kedalamannya dan kelengkapannya tidak terlalu dalam dan lengkap?

Jawabannya: media TV sebagai media audio-visual yang durasinya terbatas tidak punya kemewahan untuk menyajikan liputan yang terlalu detail dan komprehensif. Sifat media TV memang begitu. Pemirsa tidak bisa mengulang, jika ada informasi yang kurang jelas atau tidak tertangkap secara akurat (beda dengan media cetak yang bisa dibaca berulang-ulang jika informasi yang disajikan kurang jelas).

Ditambah lagi, format tayangan televisi yang reguler harian atau mingguan, memberi keterbatasan tersendiri dalam upaya menghadirkan liputan investigatif yang dalam dan lengkap. Selain itu, mayoritas pemirsa TV di Indonesia memandang TV lebih sebagai sarana hiburan (sinetron, musik, film, lawak, dsb), bukan sarana mencari informasi. Buktinya, TV berita seperti TV One dan Metro TV secara konsisten adalah dua TV dengan rating paling rendah di bandingkan TV-TV lain yang bersiaran nasional (RCTI, SCTV, Trans TV, Trans 7, Indosiar, dll).

Biaya peliputan investigasi mahal, serta memerlukan ketekunan konsentrasi wartawan yang bisa sangat menyita waktu. Maka itu, berbagai media terpaksa melakukan skala prioritas yang ketat. Bagaimanakah, dalam kondisi tersebut, media mengagendakan investigasi?

Prioritas liputan nomor satu adalah liputan reguler, yang mau tak mau harus dilakukan untuk mengisi space di suratkabar atau durasi di media elektronik (TV dan radio). Liputan investigatif dianggap sebagai hidangan istimewa, yang disajikan hanya pada saat-saat tertentu kepada audience, karena secara teknis lebih sulit dilakukan, lebih berisiko, lebih memakan biaya, dan lebih butuh SDM trampil.

Yang konsisten cuma melakukan peliputan investigatif diantaranya hanyalahTempo, dan Kompas hanya sesekali. Media lain tidak mau, berani, terampil dan punya komitmen untuk melaksanakan investigasi. Mengapa, hanya Tempo?

Dugaan saya, Tempo sebagai majalah berita mingguan akan kedodoran jika hanya mengandalkan berita-berita yang sifatnya hanya kompilasi atau rangkuman dari berita harian, yang sudah tersaji di media suratkabar selama seminggu. Tempo harus membuat liputan eksklusif (untuk tidak mengatakan “investigatif”), jika ingin kehadirannya masih dirasa “enak dibaca dan perlu.” Tanpa liputan investigatif atau eksklusif, sebetulnya Anda tidak perlu membeli Tempo. Keberadaan Tempo tidak dibutuhkan. Cukup jika Anda rajin membaca berita suratkabar atau online selama seminggu.

Sumber daya dan dana media Indonesia umumnya terbatas (misal, untuk melakukan liputan investigasi, atau mau mendidik wartawannya menjadi wartawan investigasi). Padahal liputan investigatif dapat menjadi penanda kualitas sebuah media. Bagaimanakah, dari hanya sedikit itu, media memberi peluang wartawannya melakukan investigasi?

Seperti sudah saya katakan, berbeda dengan kasus Tempo, di mana liputan investigatif merupakan sarana penting untuk bertahan di tengah iklim persaingan yang ketat, bagi sejumlah media lain liputan investigatif tidak menjadi prioritas. Jadi, jika memang ada dana, SDM, dan isyu yang cukup menarik untuk digarap, akan dilakukan liputan investigatif. Jika tidak ada dana dan sumberdaya yang memadai, ya tidak dilakukan. Begitu saja.

Kalau Anda mengatakan, “padahal liputan investigatif dapat menjadi penanda kualitas sebuah media,” ya itu benar secara akademis dan idealisme jurnalistik. Tetapi, media di Indonesia bekerja lebih dengan pertimbangan bisnis dan logika profit.

Apa sajakah naskah liputan investigasi di media di Indonesia yang cukup solid hasilnya?

Tidak ada jawaban yang lengkap dan memuaskan untuk pertanyaan ini. Tetapi, untuk media yang sudah memiliki tradisi liputan investigatif yang cukup kuat, seperti Majalah Tempo, misalnya, naskah liputan investigatifnya menurut saya umumnya terlihat cukup solid.

Mengapa rutinitas kantor (media lokal) menghambat untuk mengerjakan liputan investigasi?

Pertama, di media lokal yang cakupan liputannya juga terbatas, umumnya mereka memang tidak memiliki tradisi liputan investigatif yang kuat. Baik dari sisi praktik, maupun pemahaman konseptual. Maka rutinitas kantor di media lokal tidak memberi cukup rangsangan bagi dilakukannya liputan investigatif. Kedua, keterbatasan sumberdaya di media lokal (ketersediaan tenaga jurnalis yang handal, dukungan keuangan, waktu, kepustakaan, dan sebagainya) juga membatasi langkah media lokal, ketika mereka ingin melakukan liputan investigatif.

Jakarta, 6 Oktober 2011

Ir. Satrio Arismunandar, M.Si, MBA

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)