"NOVEL SINETRON" KARYA KEROYOKAN 11 PENGARANG (Resensi Buku "Sengatan Sang Kumbang")


Resensi Buku:
“Novel Sinetron” Karya 11 Pengarang

Judul : Sengatan Sang Kumbang
Pengarang : Dewi Yanthi Razalie dkk (11 pengarang)
Tebal : 241 halaman.
Penerbit : Teras Budaya, Jakarta, 2011.

Oleh Satrio Arismunandar


Jika Anda penggemar sinetron, besar kemungkinan Anda akan sangat menikmati novel populer ini. Jalan ceritanya mudah dipahami, ringan, cair, dan alur ceritanya juga mengalir lancar. Tokoh-tokoh dalam novel ini juga berkarakter sederhana, dalam arti tidak ada tokoh-tokoh yang berperilaku rumit atau membuat kening pembaca berkerut.

Malah, bak sinetron atau opera sabun yang sering kita tonton di layar televisi, novel ini bertaburan dengan tokoh yang kaya, ganteng, gagah, macho, cantik, seksi, bertubuh aduhai, dan seterusnya. Tokoh dengan ciri-ciri seperti itulah yang mendominasi dan menghidupkan cerita dalam novel ini. Ditambah lagi banyak ”unsur kebetulan” yang mewarnai novel ini, yang mengaitkan satu tokoh dengan tokoh-tokoh lain. Toh itu sah-sah saja untuk sebuah ”novel sinetron.”

Tokoh utama dalam novel ini adalah Herman, seorang pengusaha kaya yang juga seorang penikmat hidup sejati. Tidak begitu jelas, siapa orangtua Herman, bagaimana latar belakang kehidupannya, bagaimana ia bisa memperoleh kekayaan seperti itu, dan bisnis apa persisnya yang digelutinya. Sebagaimana cerita sinetron, rincian semacam itu tampaknya dianggap tidak terlalu penting.

Herman sudah memiliki seorang istri yang baik dan cantik, Yeni. Pasangan itu belum dikaruniai anak. Meski hidupnya nyaris sempurna, dan dicintai sepenuh hati oleh istrinya, hal itu tidak menghalangi Herman untuk berselingkuh dan bertualang cinta dengan sejumlah perempuan lain. Tentunya, tanpa setahu istrinya, yang sejak muda sudah menderita penyakit jantung bawaan.

Namun, suatu saat Herman pun terkena batunya. Ketika sedang bermesraan dengan Helen, seorang perawat molek yang dikenal Herman ketika sedang menjalani perawatan di rumah sakit, perbuatan itu dipergoki Yeni. Yeni, yang berpenyakit jantung, tak tahan melihat pengkhianatan suaminya. Yeni jatuh koma dan akhirnya meninggal.

Mulai dari sinilah, kehidupan yang semula dirasakan bak surga oleh Herman mulai berubah menjadi neraka. Helen yang semula tampil lugu, ternyata adalah perempuan licik, yang sejak awal memang berencana merebut Herman dari isterinya, serta ingin menguasai kekayaan Herman. Helen diam-diam telah merekam hubungan intim mereka dan mengancam akan menyebarkan isi rekaman itu, jika Herman tidak mau menikahinya.

Menyadari karir dan nama baiknya terancam, Herman malah nekad mengupah orang untuk menyingkirkan Helen, dan membuat Helen jadi gila. Herman juga tidak lantas kapok dengan pengalaman pahit itu. Sepeninggal istrinya dan sesudah mengenyahkan Helen, Herman terus bertualang cinta dengan sejumlah perempuan lain. Seperti dengan Titania dan Jeanette, mantan-mantan pacarnya semasa sekolah.

Sayangnya, sejak wafatnya Yeni, semua petualangan cinta itu gagal memberi kebahagiaan bagi Herman. Sebaliknya, semua itu justru mendatangkan berbagai petaka baru untuknya. Namun, Herman seperti tidak pernah belajar dari pengalaman. Cahaya keinsyafan dan penyadaran, yang terkadang menyinari hatinya, dengan cepat padam kembali oleh hasrat libidonya yang melonjak-lonjak setiap ia bertemu perempuan cantik.

Herman digambarkan sebagai pribadi yang lemah dan plin-plan. Terkadang, ia digambarkan merasa berdosa dan menyesali perbuatan selingkuhnya, yang secara langsung atau tak langsung telah menewaskan istrinya, Yeni. Namun, sesaat kemudian, Herman seperti lupa pada semua penyesalan dan kesedihan itu, karena dengan enteng dia sudah jatuh ke pelukan perempuan lain lagi. Tetapi, kemudian ia akan tenggelam lagi dalam penyesalan. Dan begitu seterusnya, silih berganti.

Barulah ketika penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya semakin parah, bahkan Herman sempat menderita amnesia karena penyakitnya itu, pelan-pelan Herman dapat memperoleh kesadaran diri sejati. Itu pun terjadi karena ternyata masih ada orang-orang yang tulus mau membantunya menuju kebaikan.

Keunikan dan kelebihan novel ini bukan terletak pada tema atau jalan cerita, tetapi bahwa novel ini digarap oleh 11 pengarang secara ”keroyokan.” Bisa dibilang, sangat langka ada novel yang ditulis dengan cara demikian, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain.

Ada 11 penulis yang terlibat dalam penulisan novel ini. Mereka adalah: Dewi Yanthi Razalie (sebagai penggagas, yang merangkap koordinator dan editor), Ariana Pegg, Ari Kinoysan Wulandari, Raya Henri Batubara, Fanny J. Poyk, Dianing Widya Yudhistira, Eva Budiastuti, Ris Prasetyo, Bamby Cahyadi, Hany Iskadarwati, dan Tiara Widjanarko.

Masing-masing menulis satu bab, kecuali Dewi Yanthi Razalie yang menulis dua bab, yakni bab pertama dan bab terakhir. Dalam menulis, setiap pengarang diberi keleluasaan untuk berkreasi sesukanya di bab yang menjadi tanggung jawabnya. Meski, tentu saja mereka harus saling berkoordinasi, agar terdapat kesinambungan dalam nama dan karakter tokoh-tokohnya.

Yang menarik, ketika membaca novel ini, kita tidak merasa bahwa novel ini ditulis oleh 11 pengarang, karena alur ceritanya sangat mulus mengalir. Relatif tidak terasa adanya ganjalan atau perbedaan dalam gaya penulisan maupun teknik bercerita, dari bab satu ke bab yang lain. Sehingga, seolah-olah seluruh bagian dalam novel ini ditulis oleh satu pengarang yang sama.

Dari uraian tersebut, bisa dibilang bahwa Dewi Yanthi selaku koordinator dan editor sangat berhasil melaksanakan tugasnya. Ia berhasil memadukan seluruh bab --yang ditulis oleh pengarang yang berbeda-beda-- menjadi satu kesatuan utuh, yang mudah dicerna dan dinikmati pembaca.

Kalau pun ada yang harus dikritik dalam novel ini, maka itu ada dalam bab XII, atau bab terakhir. Dalam bab penutup itu terasa adanya ”sedikit pemaksaan” dalam alur cerita, seolah-olah penulis sudah tidak sabar, dan ingin agar cerita itu secepatnya diakhiri. Dalam bab terahir itu, jalan cerita terlalu diringkas dan dipadatkan, sehingga tidak jelas penggambaran dan perkembangan karakter tokoh-tokohnya.

Misalnya, tidak jelas prosesnya, bagaimana pramugari cantik Lidya Prameshwarie bisa jatuh cinta pada Herman. Padahal mereka cuma berkenalan sekilas di pesawat, ketika Herman sedang terbang dari Jakarta ke Singapura, untuk mengobati penyakit kankernya di rumah sakit Singapura. Penjelasan tentang jatuh cintanya Lidya muncul secara tiba-tiba dan hanya tercantum dalam satu kalimat. Masih ada beberapa lagi contoh semacam itu di berbagai bagian novel ini, di mana pembaca tidak mendapat penjelasan memadai.

Bagaimanapun juga, sebagai suatu bacaan populer yang tidak berambisi muluk-muluk, novel ini cukup memadai dan bisa dinikmati oleh para pembacanya. Upaya para pengarang untuk menghadirkan suatu karya unik dan langka, hasil kerja keras 11 penulis dari berbagai latar belakang, tetaplah sesuatu yang layak kita apresiasi. ”Sesuatu banget gitu loh,” kalau boleh menggunakan kutipan khas dari penyanyi Syahrini. ***

* Satrio Arismunandar adalah jurnalis, praktisi media, dan dosen ilmu komunikasi. Cerpen, esai, resensi buku, laporan perjalanan dan artikel karyanya pernah dimuat di berbagai media, seperti majalah Halo, Anita Cemerlang, Gadis, tabloid Mutiara, dan harian Kompas.

HP: 081908199163

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI