Monday, August 01, 2011

Tokoh dan Karakter Utama PINTU SURGA - Drama Ramadhan 2011 Trans TV



Tokoh-tokoh Utama “Pintu Surga”
Drama Ramadhan 2011 Trans TV
(Tayang tiap hari pkl. 16.30 WIB, pada 1 – 30 Agustus 2011)

Ningrum (Berliana Fibriyanti):

Ningrum digambarkan sebagai seorang janda, ibu dari dua anak, yang ingin memberikan yang terbaik pada anak-anaknya. Ia sangat perhatian dan mudah cemas pada nasib anak-anaknya. Tetapi di balik penampilannya yang bijak, lembut, sebetulnya ada rasa kekosongan tertentu di dalam hatinya. Ada kerapuhan yang tak mau ditunjukkan pada anak-anaknya, tetapi kadang-kadang tercetus ke luar lewat ingatan/lamunan pada mendiang suami.

Ningrum terombang-ambing antara rasa cinta lama pada almarhum suami, dan kenyataan real bahwa dia sebetulnya merasa berat menafkahi keluarga sendirian. Serta, ada kebutuhan akan kehadiran seorang laki-laki dewasa dalam rumah tangga (yang belum siap diterima oleh anak-anaknya, terutama Nadya).

Problem lain adalah rencana relokasi pasar tradisional, yang kemungkinan mengganggu nafkah/penghasilan Ningrum yang relatif sudah kecil. Keuangan Ningrum sudah pas-pasan untuk membiayai sekolah anak-anaknya, tetapi dengan sukarela ia masih menampung adik kandungnya, Satrio, sarjana yang pengangguran.

Nadya (Dhea Imut):
Nadya digambarkan sebagai gadis yang baik, penurut, perhatian pada orangtua (Ningrum), tidak banyak menuntut, sayang pada adiknya. Nadya tampil sebagai siswa yang cukup pintar dan kreatif di sekolahnya, berani bersikap berbeda, mengidolakan almarhum ayahnya (yang mdembuatnya tidak mudah menerima kehadiran seorang ayah tiri di rumahnya). Keinginannya memakai jilbab dan masuk pesantren juga antara lain karena pesan almarhum ayahnya.

Nadya berkonflik dengan pihak sekolah karena tekadnya memakai jilbab, dan berkonflik dengan teman sekelas, Gita, yang suka meremehkannya. Konflik dengan Gita berkembang ketika cowok yang ditaksir Gita, Damar, justru mulai menunjukkan ketertarikan ke Nadya.
Sifat Nadya yang spontan, cuek, dan agak tomboy justru menjadi daya tarik tersendiri bagi cowok sebaya. Tetapi Nadya sendiri tidak pernah menunjukkan rasa ketertarikan pada lawan jenis, meskipun dikelilingi oleh teman-teman yang tergila-gila pada cowok cakep.

Fahmi (Reihan Mufur):
Fahmi, adik Nadya ini, awalnya digambarkan sebagai bocah yang penurut dan agak manja karena selalu dilindungi oleh Nadya dan Ningrum. Meskipun digambarkan kritis (banyak bertanya dan selalu ingin tahu), Fahmi tidak pernah digambarkan memiliki prestasi khusus di sekolah. Kemudian dia bisa juga usil dan jenaka pada orang yang dikenal dekat (Oom Satrio). Karakter Fahmi mengalami perkembangan sejak berkenalan dengan Adam, yang mengajarinya mengamen dan berjualan koran, dan mengalami kehidupan sebagai anak jalanan. Meski bertujuan baik, membantu keuangan keluarga, Fahmi mulai “kurang jujur” (kucing-kucingan dan tidak terbuka) pada ibu dan kakaknya.

Satrio (Rayendra):
Satrio, adik Ningrum, meskipun berwajah lumayan keren, digambarkan sebagai lulusan universitas berkualitas pas-pasan. Terbukti dari sekian lama gagal memperoleh pekerjaan (dibandingkan dengan teman-temannya yang lain). Dia juga terkesan kurang mandiri, karena dengan enaknya “menumpang hidup” pada kakaknya, yang juga sudah hidup kekurangan. Yang positif adalah Satrio berusaha hidup jujur, tak mau mengambil uang yang bukan haknya.

Untuk kebutuhan akan harga diri, Satrio mengandalkan pada cerita pengalamannya sebagai aktivis mahasiswa, meskipun tingkat aktivitasnya juga tidak luar biasa (hanya sekadar ikut aksi protes internal universitas, bukan jadi aktivis politik anti-Soeharto, yang marak pada 1997). Satrio baru merasakan kebutuhan serius akan pekerjaan yang “cukup bermartabat” ketika naksir Ibu Ida, karena calon mertua tidak akan mau menerima pemuda berprofesi tak jelas sebagai menantu. Satrio akhirnya mau kerja apa saja demi martabat itu, meski dirasakan tak sesuai suara hati nurani.

Neng Siti (Genta Windi):
Neng Siti digambarkan sebagai pengamen jalanan dengan tampilan dan suara pas-pasan. Berpenampilan selalu norak dan sok selebriti, Neng Siti menjalani profesinya dengan jujur, menolak hal-hal yang tidak-halal, dan masih bermimpi bahwa suatu saat dengan satu dan lain cara karirnya akan terangkat jadi penyanyi tenar. Hal lain yang membuat Neng Siti galau, selain kondisi keuangannya yang kekurangan, adalah belum ada pria yang serius mendekatinya. Tetapi karena pembawaannya yang easy going, terkesan Neng Siti tidak punya konflik atau masalah serius.

Maeng (Ozan Ruz):
Berasal dari latar belakang ekonomi yang sebetulnya lumayan, Maeng adalah keponakan Neng Siti. Maeng memilih jadi pendamping Neng Siti dalam mengamen, karena sering dimarahi di rumah. Pada dasarnya Maeng adalah orang yang baik, sehingga tidak begitu jelas bagaimana pergulatan batinnya ketika ia memutuskan mau membantu pencopet melaksanakan aksinya demi menambah penghasilan (meski lalu digambarkan, Maeng menyesali perbuatannya).

Sebagai waria, pria yang kewanita-wanitaan akibat sosialisasi yang salah semasa kecil, problem utama Maeng adalah problem identitas. Ia menyadari bahwa status waria adalah status yang “salah” secara norma agama, tetapi ia merasa belum mampu mengubah diri jadi sepenuhnya laki-laki.

Alim Himawan (Marcell Domits):
Sering tampil murung, dingin, dan tanpa ekspresi, kontraktor muda yang dipercaya menangani pemindahan pedagang di pasar tradisional tempat Ningrum berjualan, ini hadir sebagai figur yang punya integritas dan profesional. Ia ingin menyelesaikan tugas secara prosedural, bermartabat, dan tidak ingin menyusahkan pedagang tradisional. Konflik yang dihadapi adalah tekanan dari pimpinan untuk segera menyelesaikan tugas, tetapi ada kendala di lapangan, sementara Alim enggan menggunakan cara-cara kotor untuk menyelesaikan tugas.

Konflik kedua adalah adanya kebutuhan kehadiran seorang pendamping yang betul-betul bisa menjalankan peran sebagai istri sepenuhnya, sedangkan istrinya menderita sakit parah. Ada ketertarikan pada Ningrum, tetapi tertahan oleh rasa kesetiaan terhadap istri dan anak, yang selama ini selalu suportif.

Putri (Dwi Anastasya):
Anak perempuan satu-satunya Alim, yang sabar dan tabah mendampingi ibunya yang lumpuh. Putri tidak pernah menyalahkan ayahnya. Karena kemunculannya yang singkat, peran Putri belum cukup tereksplorasi.

Anggi (Lydia Agatha):
Istri Alim yang lumpuh akibat kecelakaan. Karena peran lumpuhnya, karakter Anggi juga tidak tereksplorasi.

Beberapa tokoh Penunjang:


Tini:
Penjual yang kiosnya bersebelahan dengan kios Ningrum. Meskipun kurang jujur dalam berjualan, Tini sebetulnya bukan orang yang betul-betul jahat. Sifatnya yang nyinyir, sok mau tahu urusan orang, dan suka ngomongin orang lain, menjadi gangguan tersendiri bagi Ningrum. Sejauh ini kehadirannya cukup menarik dan mewarnai cerita, sehingga disayangkan jika terlalu lama hilang dalam beberapa episode.

Rini:
Sahabat Nadya yang suka membantu. Ingin berjilbab tetapi merasa belum siap mental. Suka memandang cowok-cowok cakep, dan bersaing dengan temannya Gita dalam merebut perhatian Damar, teman sekelas yang jago basket.

Bondang:
Preman tanggung yang naksir Ibu Ida, dan bakal jadi pesaing Satrio. Bondan yang urakan, berhobi naik motor secara ugal-ugalan. Perannya sebetulnya tidak signifikan, sekedar untuk melucu atau memeriahkan cerita.

Damar:
Siswa SMP jago basket, yang jadi incaran Rini dan Gita.

Gita:
Teman sekelas yang jadi “musuh” Nadya dan Rini. Bersaing dengan Rini untuk merebut perhatian Damar.

Reyhan:

Putra pemilik pesantren yang ganteng. Membantu ayahnya mengelola pesantren dan program pesantren kilat.

Pak Bimo:
Tukang kredit yang biasa menagih uang ke Ningrum, tapi lalu ingin mendekati Ningrum.

Kepala Sekolah (Tarsan):

Kepala sekolah yang sok disiplin, sehingga menghambat keinginan siswi mengenakan jilbab di sekolah.

Ibu Ida:
Guru Nadya yang cantik dan dikejar-kejar oleh Satrio.

Ayu:
Pencopet cantik, yang kemudian jatuh hati pada Maeng.

Adam:
Pengamen cilik, teman Fahmi.

Jakarta, 1 Agustus 2011

Satrio Arismunandar

Sinopsis Episode 1-7 PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV



SINOPSIS PER EPISODE - PROGRAM PINTU SURGA, TRANS TV
untuk diupload ke detik.com selama bulan Ramadhan (1 – 29 Agustus 2011)
Pintu Surga tayang tiap hari pkl. 16.30 – 17.30 WIB

Episode 1


Nadya, putri dari Ningrum, adalah siswa SMP dan gadis tomboy yang pemberani. Sejak ayahnya, Pak Deden, meninggal dunia, Nadya dan adik lelakinya, Fahmi, tinggal bersama ibu di sebuah rumah sederhana. Gara-gara Fahmi terluka akibat ditabrak seorang pencopet di pasar, Nadya sempat berkelahi dengan copet itu.
Sesuai pesan almarhum ayahnya, Nadya ingin meneruskan sekolah ke pesantren. Tapi ia menghadapi persoalan lain di sekolah, dan sempat ditegur kepala sekolah, karena menunggak SPP sampai tiga bulan. Untuk bisa membayar SPP Nadya itu, Ningrum berkorban dengan menggadaikan cincin kawinnya.
Sementara itu, Satrio, adik Ningrum yang sarjana tapi penganguran, mulai menumpang tinggal di rumah Ningrum sambil mencari pekerjaan. Ningrum, yang bekerja sebagai pedagang di pasar tradisional, menghadapi persoalan rencana relokasi pasar, yang bisa menggusur pedagang kecil. Ningrum masih suka terkenang pada mendiang suaminya. Sedangkan Fahmi masih merasa kehilangan atas wafatnya sang ayah, sehingga sering terbawa mimpi.

Episode 2

Maeng dan Nengsi adalah pengamen, yang sering mengamen di pasar tradisional tempat Ningrum berdagang. Maeng, pria yang penampilannya feminin, adalah keponakan Nengsi. Nengsi suka menyanyi dangdut. Tapi penghasilan dari mengamen tidak memadai sehingga bikin mereka kecut. Maeng, yang jadi banci akibat salah sosialisasi sejak kecil, juga merasa sedih karena krisis identitas.
Bimo, tukang kredit yang biasa menarik tagihan, jatuh hati pada Ningrum yang masih cantik, meski berstatus janda. Bahkan Bimo sempat menyambangi Ningrum ke rumah, tapi tak diacuhkan oleh Ningrum. Sementara itu, para pedagang pasar yang gelisah karena akan tergusur oleh proyek relokasi, urunan uang untuk menyelenggarakan aksi demonstrasi, guna menentang renovasi.
Untuk menebus cincin ibunya yang tergadai, Nadya ikut lomba karya tulis. Temanya tentang nasib pedagang kecil di pasar tradisional, yang terancam tergusur oleh renovasi tanpa mendapat lokasi pengganti yang memadai. Di sekolah, Nadya sering direndahkan oleh Gita, yang anak orang kaya, tetapi Nadya selalu didukung oleh sahabatnya, Rini.

Episode 3

Karena mau masuk bulan Ramadhan, Ningrum mencoba menambah penghasilan dengan berjualan makanan untuk berbuka puasa di dekat rumahnya.
Di sisi lain, rencana renovasi pasar tradisional akan segera dilakukan, tetapi banyak pedagang yang enggan direlokasi. Oknum pelaksana proyek renovasi pasar diam-diam melakukan cara-cara kotor, dengan merusak kios para pedagang yang dianggap enggan disuruh pindah.
Sementara itu, Nadya dan sahabat-sahabatnya digelisahkan oleh rencana pimpinan sekolahnya untuk melarang pemakaian jilbab oleh siswa di sekolah. Tetapi keinginan Nadya untuk berjilbab malah diejek oleh Gita dan teman-temannya.
Menyadari kesulitan keuangan yang dihadapi keluarganya, Fahmi ingin ikut berjualan koran dengan Adam, untuk tidak menambah beban ibunya.
Satrio masih sibuk mencari lowongan pekerjaan, tetapi tidak mudah rupanya mencari lowongan yang cocok dengan kualifikasinya.

Episode 4


Ibu Ida kecopetan di angkutan umum, tetapi si copet tak sempat membawa lari isi dompet itu, karena secara tak sengaja dompet yang dicopet itu jatuh dan sampai ke tangan Satrio. Satrio menghadapi pertentangan batin, antara kebutuhan nyata untuk menggunakan uang di dalam dompet itu, dan rasa kejujurannya yang ingin mengembalikan dompet itu ke tangan pemiliknya yang berhak.
Fahmi akhirnya mencari uang dengan cara mengamen bersama Adam. Ini dilakukan diam-diam agar tidak diketahui ibunya, Ningrum. Tetapi karena kecapekan mengamen, Fahmi sempat sakit.
Alim, kepala proyek renovasi pasar, mendapat tekanan dari kliennya untuk segera melakukan renovasi, meski banyak pedagang masih enggan direlokasi. Alim ingin menjalankan proyek secara jujur, tanpa terlalu menyusahkan para pedagang kecil, meskipun anak buahnya sendiri ingin menghalalkan segala cara untuk menyelesaikan proyek itu.

Episode 5

Kehidupan jalanan yang keras dijalani Fahmi bersama Adam, sebagai pengamen cilik. Mereka harus berkonflik dengan sesama pengamen, yang dikoordinir preman penguasa wilayah. Karena Fahmi lama mengamen dan pulang terlambat, Ningrum sempat khawatir terhadap Fahmi.
Sementara itu, Nadya dan Satrio membantu Ningrum, berjualan penganan untuk berbuka puasa di dekat rumah. Untuk meningkatkan omzet penjualan, Nadya berinisiatif menawarkan dagangannya dengan cara berkeliling menggunakan sepeda.
Satrio tahu bahwa pemilik dompet yang kini ada di tangannya itu adalah Ibu Ida, guru Nadya. Satrio akhirnya memutuskan untuk mengembalikan dompet itu ke Ibu Ida, dengan langsung mendatangi rumah Ibu Ida.
Di saat lain, Ningrum mengikuti pengajian di masjid yang dipimpin oleh Nyai, istri pemilik pesantren.

Episode 6

Memasuki bulan puasa, Ningrum tiba-tiba merasa kangen sekali dengan almarhum suaminya. Dulu –saat suaminya masih ada- dia tidak merasa begitu susah sebab dia punya tempat untuk curhat dari segala permasalahan yang dia hadapi. Dia juga punya tempat berbagi sehingga persoalan apapun menjadi tak begitu berat, seperti dalam menangani anak-anak, atau urusan rumah tangga lainnya.
Satrio yang masih mencari-cari pekerjaan, kini punya kesibukan baru yakni melakukan pendekatan ke Bu Ida, guru sekolah Nadya. Salah satu yang dilakukannya adalah dengan berpura-pura menjemput Nadya di sekolahnya.
Alim, orang yang diserahi tanggung jawab mengurus relokasi pasar, ternyata memiliki masalah pribadi. Ia harus mengurus putrinya sendiri, karena istrinya lumpuh akibat kecelakaan mobil. Alim datang ke pasar untuk mengetahui kondisi sebenarnya, kenapa relokasi pasar begitu sulit dilakukan. Saat itulah dia bertemu Ningrum. .
Nadya mendapat masalah baru, sebab dagangan kelilingnya tanpa sengaja ditabrak oleh Bondang, preman pengangguran yang sering membawa motor secara ugal-ugalan.

Episode 7

Kerena dagangannya ditabrak Bondang, kaki Nadya terluka dan berdarah. Alim yang kebetulan lewat menolong Nadya, mengantarkannya ke rumah, dan bertemu Ningrum lagi. Simpati Alim bertambah setelah tahu kehidupan Ningrum dan perjuangannya menghidupi anak-anak setelah suaminya meninggal. Namun, kehadiran Alim di rumah Ningrum menimbulkan praduga dan bisik-bisik tetangga. Apalagi mengingat status Ningrum sebagai janda yang masih cantik.
Untuk memulai hubungan baru dengan perempuan lain, Alim sendiri masih merasa berat karena dihantui rasa bersalah akibat kecelakaan yang menimpa istrinya, Anggi. Namun, Putri, anak perempuan Alim, tidak menyalahkan ayahnya atas kecelakaan itu.
Di waktu lain, untuk membalas perlakuan Bondang, Nadya dan kawan-kawan mengerjai Bondang ketika preman tanggung itu sedang petantang-petenteng di sekolah. Bondang, yang kebetulan juga alumnus sekolah itu, terkecoh oleh jebakan Nadya dan terpaksa harus mengantarkan Kepala Sekolah pulang.
Pada suatu kesempatan, Adam dan Fahmi bertemu dengan Maeng dan Nengsi yang barusan mengamen. Lewat percakapan mereka, Maeng merasa diingatkan untuk insyaf dan kembali menjalani kehidupan sebagai laki-laki normal, bukan banci.

(BERSAMBUNG)

Satrio Arismunandar