Posts

Showing posts from October 7, 2011

MEDIA MASSA SEBAGAI SUMBER BELAJAR KEJAHATAN

Image
(Materi kuliah Newsmaking Criminology di Departemen Kriminologi FISIP UI)

Apakah membaca berita kejahatan di suratkabar atau menyaksikan aktivitas kejahatan dalam berita televisi atau film-film Hollywood akan menimbulkan lebih banyak kejahatan?

Apakah ekspos media tentang kejahatan akan menginspirasikan peniruan tindakan kejahatan tersebut di dunia nyata (copycats)? Ada beberapa contoh ekspos media, yang sering disebut telah menginspirasikan tindakan kejahatan, antara lain:

• Percobaan pembunuhan yang ditampilkan di film Taxi Driver (1976).
• Tersedianya Buku Pegangan Teroris di Internet sebelum dan sesudah serangan pemboman terhadap gedung federal di Oklahoma City, Amerika (1995).
• Sebuah film (1993), yang menggambarkan seorang remaja mempertaruhkan hidupnya dengan berbaring di jalan raya yang padat lalu lintas, dikatakan telah “menginspirasi” sejumlah remaja untuk mencoba aksi serupa.
• Ada salah satu episode tokoh kartun MTV, Beavis and Butt-Head, yang menyarankan anak-anak untuk …

(5) JURNALISME INVESTIGATIF DAN FAKTOR PELIPUTAN (Wawancara Septiawan Kurnia Santana dengan Satrio Arismunandar)

Image
Wawancara tertulis Septiawan Santana Kurnia dengan Satrio Arismunandar, sebagai bagian dari penelitian disertasi S3 Ilmu Komunikasi di Universitas Padjajaran, Bandung, 2011. Untuk memudahkan dibaca, wawancara ini diupload ke blog dalam beberapa bagian. Diharapkan isinya juga bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang berminat pada studi Ilmu Komunikasi atau Jurnalisme:


Bagaimana pola teknik investigasi di masa pasca Orde Baru dengan masa sebelumnya?

Teknik dasar liputan investigasi di masa Orba maupun pasca Orba sebenarnya sama saja: menelusuri jejak dokumen, mencari nara sumber yang relevan, melakukan pengamatan langsung di lapangan, dan sebagainya. Bedanya, kondisi lingkungan pasca Orde Baru sudah jauh lebih terbuka. Bahkan sekarang sudah ada UU Keterbukaan Informasi Publik. Orang relatif lebih berani bersuara sekarang ketimbang di masa Orde Baru.

Bagaimana pemahaman tentang laporan investigatif (investigative report) itu?

Laporan investigatif adalah liputan jurnalistik yang menggunakan…

(4) JURNALISME INVESTIGATIF DAN FAKTOR WARTAWAN (Wawancara Septiawan Kurnia Santana dengan Satrio Arismunandar)

Image
Wawancara tertulis Septiawan Santana Kurnia dengan Satrio Arismunandar, sebagai bagian dari penelitian disertasi S3 Ilmu Komunikasi di Universitas Padjajaran, Bandung, 2011. Untuk memudahkan dibaca, wawancara ini diupload ke blog dalam beberapa bagian. Diharapkan isinya juga bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang berminat pada studi Ilmu Komunikasi atau Jurnalisme:

Bagaimanakah kompetensi wartawan Investigasi dalam melakukan: a) pencarian “sumber-sumber investigative reporting” (sumber konvensional, dan sumber inkonvensional; b) upaya check and recheck untuk setiap fakta?

Kompetensi untuk mencari sumber-sumber peliputan investigatif, baik sumber konvensional maupun nonkonvensional, menurut saya secara umum cukup baik. Cuma dugaan saya, mereka masih kurang memiliki ketekunan untuk melakukan upaya check and recheck untuk setiap data yang diperoleh. Tetapi, untuk hal yang kedua ini, sebenarnya bisa dilatih lewat pembiasaan dan praktik, yang diajarkan langsung oleh para jurnalis atasannya.…

(3) JURNALISME INVESTIGATIF DAN REDAKSI MEDIA MASSA (Wawancara Septiawan Kurnia Santana dengan Satrio Arismunandar)

Image
Wawancara tertulis Septiawan Santana Kurnia dengan Satrio Arismunandar, sebagai bagian dari penelitian disertasi S3 Ilmu Komunikasi di Universitas Padjajaran, Bandung, 2011. Untuk memudahkan dibaca, wawancara ini diupload ke blog dalam beberapa bagian. Diharapkan isinya juga bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang berminat pada studi Ilmu Komunikasi atau Jurnalisme:

Mengapa pola liputannya investigasi di majalah (cetak), koran (cetak), dan media televisi, radio, online (elektronik) berbeda-beda?

Karena perbedaan medium, berarti berbeda pula format berita, pola konsumsi media, audience, selera dan kebutuhan audience. Pola liputan dan pemberitaan otomatis berubah pula, menyesuaikan dengan kebutuhan audience.

Mengapa media cetak dan elektronik yang serius masih tetap menugaskan wartawan mereka melakukan investigasi dengan cara dan gaya masing-masing?

Pengertian media “serius” di sini adalah media yang pengelolanya memang betul-betul menyadari fungsi media dalam masyarakat demokratis, yakni …

(2) JURNALISME INVESTIGATIF DAN INDUSTRI MEDIA (Wawancara Septiawan Santana Kurnia dengan Satrio Arismunandar)

Image
Wawancara tertulis Septiawan Santana Kurnia dengan Satrio Arismunandar, sebagai bagian dari penelitian disertasi S3 Ilmu Komunikasi di Universitas Padjajaran, Bandung, 2011. Untuk memudahkan dibaca, wawancara ini diupload ke blog dalam beberapa bagian. Diharapkan isinya juga bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang berminat pada studi Ilmu Komunikasi atau Jurnalisme:

Media kini, secara ironis, bergerak ke arah komodifikasi informasi dan komersialisasi, sehingga jalannya tidak selalu pararel dengan arah reformasi yang mestinya saling menopang dengan kekuatan kontrol publik melalui pers. Bagaimanakah terjadinya komersialisasi dan sensasionalisme, pada era industri media yang makin menggurita, di Indonesia?

Menurut dugaan saya, ini bermula dari era Orde Baru, yang sangat represif terhadap sikap kritis media dan aspirasi politik. Pembatasan partai politik menjadi hanya tiga (Golkar, PPP, PDI); diredamnya berbagai aspirasi kritis melalui media (media hanya bisa menampilkan hal-hal yang positi…