Tantangan Utama dalam Pengintegrasian Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) pada Bidang Pendidikan


Dikutip dari "ICT in Education" karya Victoria L. Tinio, yang disusun sebagai bagian dari “ICT for Development,” proyek regional yang dilakukan oleh badan PBB, UNDP (United Nations Development Programme), Bureau for Development Policy. Yakni, melalui the Asia-Pacific Development Information Programme (APDIP) yang bekerjasama dengan Sekretariat ASEAN. Paper ini ditampilkan dalam acara the World Summit on the Information Society. (Bab V, halaman 22-26).

Secara umum, penggunaan ICT dalam pendidikan harus mengikuti penggunaan dalam masyarakat, bukan mendahuluinya. Program pendidikan yang menggunakan teknologi terkini jarang mencapai kesuksesan jangka panjang. Lebih mudah dan lebih murah untuk memperkenalkan sebentuk teknologi dalam pendidikan, dan menjaganya agar tetap bekerja, di mana pendidikan itu mengikuti pembangunan skala-besar dari pemerintah atau sektor swasta. Televisi bekerja untuk pendidikan ketika ia mengikuti ketimbang mendahului penggunaan televisi untuk hiburan.

Apa tantangannya dalam kaitan dengan pembangunan-kapasitas?

Berbagai kompetensi harus dikembangkan melalui sistem pendidikan bagi integrasi ICT, agar berhasil.

Guru. Pengembangan profesi guru harus mencakup lima hal:
1) keterampilan dengan penerapan tertentu
2) integrasi ke dalam kurikulum yang ada
3) perubahan kurikulum terkait dengan penggunaan IT (teknologi informasi)
4) perubahan dalam peran guru
5) teori-teori pendidikan yang menyokongnya.

Idealnya, hal-hal ini harus ditangani dalam pelatihan guru pra-pelayanan dan dibangun serta dikembangkan di dalam pelayanan. Di beberapa negara, seperti Singapura, Malaysia dan Inggris, persyaratan akreditasi pengajaran mencakup pelatihan dalam penggunaan ICT. ICT berkembang dengan sangat cepat sehingga bahkan guru-guru yang paling fasih ICT perlu terus-menerus memperbarui keterampilannya, sehingga tetap sejalan dengan perkembangan teknologi terbaru dan praktik-praktik terbaik.

Sementara fokus pertama –keterampilan dengan aplikasi tertentu—sudah terbukti dengan sendirinya, empat hal lainnya punya arti penting yang setara, jika tidak lebih besar. Riset tentang penggunaan ICT pada setting pendidikan yang berbeda selama bertahun-tahun menunjukkan adanya hambatan bagi keberhasilan penerapan ICT.

Hambatan itu adalah ketidakmampuan guru untuk memahami mengapa mereka harus menggunakan ICT dan bagaimana persisnya mereka dapat menggunakan ICT untuk membantu mereka mengajar lebih baik. Sangat disayangkan, sebagian besar pengembangan profesi guru dalam ICT terlalu ditekankan pada aspek “pengajaran tentang alat-alat” dan kurang menekankan aspek “penggunaan alat-alat untuk mengajar.”

Kecemasan para guru bahwa posisi mereka akan digeser oleh teknologi atau kewenangannya akan hilang di dalam ruang kelas, mengingat proses belajar menjadi lebih berorientasi pada peserta didik, diakui sebagai penghambat bagi adopsi ICT. Hambatan ini hanya dapat diatasi jika guru telah memiliki pemahaman dan apresiasi tentang perubahan peran mereka.

Administratur Pendidikan. Kepemimpinan memainkan peran kunci dalam integrasi ICT di bidang pendidikan. Banyak proyek ICT yang diprakarsai guru atau siswa menjadi gagal karena kurangnya dukungan dari atas. Agar program-program ICT bisa efektif dan berkesinambungan, para administratur sendiri harus kompeten dalam penggunaan teknologi. Mereka harus memiliki pemahaman yang luas tentang dimensi teknis, kurikulum, administratif, keuangan, dan sosial dari penggunaan ICT dalam bidang pendidikan.

Spesialis Dukungan Teknis. Apakah disediakan oleh staf di dalam sekolah, atau oleh penyedia jasa dari pihak luar, atau kedua-duanya, spesialis dukungan teknis sangat penting bagi ketersediaan yang berkesinambungan dalam penggunaan ICT di sekolah bersangkutan. Persyaratan dukungan teknis dari sebuah lembaga akhirnya memang tergantung pada apa dan bagaimana teknologi itu dikerahkan dan digunakan. Meski demikian, kompetensi umum yang dibutuhkan adalah dalam instalasi, operasi, dan pemeliharaan perlengkapan teknis (termasuk perangkat lunak), administrasi jejaring, dan keamanan jejaring. Tanpa dukungan teknis di lokasi, banyak waktu dan uang akan terbuang sia-sia akibat kegagalan teknis.

Di Filipina, misalnya, salah satu penghambat utama pengoptimalan penggunaan komputer di sekolah menengah adalah kurangnya dukungan teknis yang sewaktu-waktu dibutuhkan. Dalam beberapa kasus ekstrem yang terjadi di sekolah-sekolah di daerah terpencil, komputer yang rusak butuh waktu berbulan-bulan untuk diperbaiki, karena tidak ada teknisi yang tersedia di lokasi berdekatan. Akibatnya, komputer itu harus dikirim ke kota terdekat yang jaraknya ratusan kilometer dari sekolah tersebut.

Pengembang Konten. Pengembangan konten adalah masalah kritis yang juga sering diabaikan. Sebagian besar materi pendidikan berbasis-ICT yang tersedia kemungkinan dalam bahasa Inggris, dan tidak begitu relevan dengan pendidikan di negara berkembang, khususnya di tingkatan sekolah dasar dan menengah (SD dan SMP).

Ada kebutuhan untuk mengembangkan konten pendidikan yang orisinal (misalnya, program radio, materi pembelajaran multimedia yang interaktif dengan CD-ROM atau DVD, kursus berbasis Web, dan sebagainya). Juga, kebutuhan untuk mengadaptasi (menyesuaikan) konten yang sudah ada, dan mengubah konten yang berbasis cetakan ke media digital.

Ini adalah tugas-tugas yang membutuhkan spesialis pengembangan konten, seperti perancang instruksional, penulis naskah, spesialis produksi audio dan video, pembuat program (programmer), pengarang kursus multimedia, dan para pengembang-Web.

Seperti spesialis pendukung teknis, pengembang konten adalah profesional yang sangat terampil dan bukan orang yang dipekerjakan oleh sekolah dasar atau menengah bersangkutan (terkecuali perancang instruksional). Banyak universitas yang menyelenggarakan program pendidikan jarak jauh, dan mereka yang menggunakan ICT, mendedikasikan dukungan teknis dan unit-unit pengembangan konten.

Apa Tantangan yang Perlu Ditangani dalam Bidang Bahasa dan Konten?


Bahasa Inggris adalah bahasa dominan di Internet. Diperkirakan, 80% dari konten online adalah dalam bahasa Inggris. Sebagian besar perangkat lunak pendidikan yang diproduksi di pasar dunia adalah dalam bahasa Inggris. Untuk negara-negara berkembang di Asia-Pasifik, di mana kefasihan berbahasa Inggris tidaklah tinggi, khususnya di luar wilayah metropolitan, hal ini menjadi penghambat yang serius dalam memaksimalkan manfaat-manfaat World Wide Web bagi pendidikan.

Bahkan di negara-negara di mana bahasa Inggris adalah bahasa kedua (seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan India), ada kewajiban untuk dikembangkannya materi pengajaran dan pembelajaran, yang harus cocok dengan persyaratan kurikulum nasional dan secara lokal memiliki konten yang bermakna (bisa dimengerti), lebih disukai dalam bahasa lokal.

Hal ini akan memastikan bahwa Web pada dasarnya adalah ruang multikultural, dan bahwa orang yang berasal dari budaya yang berbeda-beda memiliki saham dan suara yang setara, dalam komunitas global untuk pembelajaran dan praktik online. Kelompok yang rawan dikucilkan dari peluang pembelajaran ini adalah penduduk pedesaan yang terisolasi, kaum minoritas budaya, dan kaum wanita pada umumnya. Maka perhatian harus diberikan bagi kebutuhan khusus mereka.

Salah satu tren yang membesarkan hati adalah munculnya jejaring sekolah nasional dan regional, atau SchoolNets, yang memfasilitasi pembagian konten dan informasi. Antara lain, bimbingan kurikulum, sumber pengajaran dan pembelajaran, pendaftaran telekolaboratif, petunjuk sekolah dan guru, materi dan kurikulum pengajaran, makalah riset dan kebijakan, bimbingan manajemen teknologi, dan perangkat awal cara penggunaan alat (start-up toolkits).

Negara-negara seperti Australia, Perancis, Finlandia, Jepang, Kanada, Thailand, Ghana, Afrika Selatan, dan Zimbabwe, untuk menyebut sebagian kecil saja, semua memiliki SchoolNets nasional. Program Enlaces di Amerika Latin menghubungkan sekolah-sekolah dari negara berbahasa Spanyol, seperti Chile, Paraguay, Costa Rica, Colombia, dan Peru. Di Asia Tenggara, upaya-upaya sedang dilakukan untuk percontohan SchoolNets di Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam, dan untuk menghubungkan semua itu dengan ScholNets nasional yang sudah ada, guna membentuk sebuah SchoolNet ASEAN berskala regional.

Dalam pembelajaran berbasis-Web, standarisasi teknis dari konten juga menjadi isu yang mendesak. Standarisasi memungkinkan aplikasi-aplikasi yang berbeda untuk berbagi konten dan sistem pembelajaran. Spesifikasi dalam konten, struktur, dan format test diusulkan agar bisa terjadi kecocokan operasional (interoperability) antara sistem-sistem manajemen yang berbeda, yang akan menghasilkan efisiensi biaya.

Standar itu harus cukup umum untuk mendukung semua jenis sistem pembelajaran dan konten. Layak disebutkan di sini beberapa prakarsa yang diselenggarakan oleh Instructional Management System (IMS), Advanced Distributed Learning /Shareable Courseware Object Reference Model (ADL/SCORM), Aviation Industry Computer Based Training Committee (AICC), dan proyek ARIADNE dari Eropa, mengingat beberapa standar yang mereka usulkan itu sudah dipergunakan secara meluas.

Kemudahan di mana konten edukasi berbasis-Web bisa disimpan, dikirimkan, diduplikasi, dan dimodifikasi, juga mengangkat keprihatinan tentang perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HaKI). Misalnya, apakah hak-hak ini akan dilanggar ketika suatu kuliah disiarkan di televisi atau di Web, manakala kuliah itu memasukkan materi-materi yang sebelumnya sudah ada? Atau, bagaimana jika seorang siswa merekam siaran pendidikan di televisi dalam tape, untuk ditonton kemudian?

Sejumlah sekolah dan universitas mungkin sudah memiliki perjanjian, yang secara jelas memberi wewenang bagi penggunaan materi tertentu untuk digunakan di ruang kelas. Namun, persetujuan ini mungkin tidak cukup luas untuk mengakomodasi transmisi telekomunikasi, rekaman videotape, atau distribusi materi terkait-kursus (kuliah) yang melampaui lingkungan ruang kelas. Dalam kaitan ini, informasi dan pelatihan bagi guru dan siswa, tentang aspek etis penggunaan karya intelektual, patut menjadi komponen yang penting dalam program-program berbasis-ICT.

Apa Tantangan yang Terkait dengan Pembiayaan Penggunaan ICT?

Salah satu tantangan terbesar dalam penggunaan ICT untuk pendidikan adalah menyeimbangkan antara tujuan-tujuan edukasi dengan realitas ekonomi. ICT dalam program pendidikan membutuhkan investasi modal yang besar. Maka negara-negara berkembang perlu hati-hati dalam membuat keputusan tentang model-model penggunaan ICT yang akan diterapkan, dan mereka juga harus sadar tentang pemeliharaan kelayakan ekonomi karena skalanya yang besar (economies of scale).

Pada akhirnya, ini adalah isu tentang apakah nilai tambah yang diperoleh dari penggunaan ICT cukup layak dan seimbang dengan biaya yang dikeluarkan, dibandingkan dengan biaya bagi alternatif lain. Jika dinyatakan lewat ungkapan lain, apakah pembelajaran berbasis-ICT merupakan strategi yang paling efektif untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan? Dan, jika demikian, modalitas (pilihan cara) dan skala penerapan yang seperti apa, yang dapat didukung, berdasarkan ketersediaan sumberdaya keuangan, SDM, dan sumber lain yang ada?

Whyte menyarankan daftar berikut ini, sebagai sumber dana dan sumberdaya bagi program-program yang menggunakan ICT:
1. Hibah
2. Subsidi publik
3. Donasi swasta, acara-acara penggalangan dana
4. Dukungan niat baik (misal, berbentuk perlengkapan, sukarelawan)
5. Dukungan komunitas (misalnya, bangunan bebas sewa)
6. Iuran keanggotaan
7. Pendapatan yang diperoleh dari bisnis inti: Konektivitas (telepon, faxcimile, Internet, halaman Web); akses langsung komputer ke pengguna (fotokopi, scanning, bantuan audiovisual)
8. Pendapatan yang diperoleh dari aktivitas penyokong: Layanan bisnis (layanan pengetikan, spreadsheet, penyiapan anggaran, percetakan, jasa resepsi); layanan pendidikan (pendidikan jarak jauh, kursus-kursus pelatihan); layanan komunitas (ruang rapat, peristiwa sosial, informasi lokal, kiriman uang dari pekerja migran); kerja jarak jauh dan konsultasi; aktivitas khusus (pengobatan jarak jauh); penjualan (alat perkantoran, perangko, penyegaran, dan lain-lain).

Kemitraan sektor swasta dan sektor publik untuk mengawali atau mengikuti secara cepat proyek-proyek berbasis-ICT, adalah strategi yang telah beredar di kalangan Kementerian Pendidikan di negara-negara berkembang.

Kemitraan ini bisa berbentuk berbagai macam, termasuk hibah sektor swasta dengan kontribusi mitra pemerintah, sumbangan perlengkapan dan konten terkait-pendidikan oleh perusahaan untuk sekolah-sekolah negeri, dan ketentuan bantuan teknis bagi perencanaan, manajemen, dan penguatan sumberdaya manusia di tingkatan akar rumput. Organisasi multilateral dan badan-badan bantuan internasional juga telah mendorong banyak ICT yang paling signifikan dalam upaya pendidikan di negara berkembang.

Namun ujian keberhasilan finansial dari program-program berbasis-ICT adalah seberapa jauh mereka bisa bertahan, suudah uang hasil sumbangan itu habis. Banyak program edukasi berbasis-ICT yang didanai badan-badan bantuan atau oleh perusahaan, tidak mampu bertahan terus karena pemerintah gagal memberi dukungan, dengan pembiayaan yang dibutuhkan. Atau, komunitas lokal setempat tidak sanggup membangkitkan sumberdaya yang dibutuhkan untuk meneruskan program-program tersebut. Ini terjadi pada beberapa proyek Instruksi Radio Interaktif yang diprakarsai USAID. Karena itu, strategi dua sisi adalah kunci: dukungan pemerintah dan mobilisasi komunitas lokal.

Apakah Penggunaan ICT akan Mampu Melenyapkan Semua Problem Pendidikan di Negara Berkembang?

Jika ada kebenaran yang tak dapat disangkal, yang muncul dari sejarah singkat penggunaan ICT dalam pendidikan, maka kebenaran itu adalah bahwa permasalahannya bukan terletak pada teknologi, tetapi pada bagaimana manusia menggunakan teknologi!

Dengan kata lain: Bagaimana Anda menggunakan teknologi adalah jauh lebih penting daripada soal apakah Anda menggunakan atau tidak menggunakan teknologi sama sekali. Kecuali pemikiran kita tentang persekolahan juga berubah --di sepanjang proses perluasan dan keberlangsungan penggunaan ICT di ruang kelas-- maka investasi teknologi itu akan gagal membangkitkan seluruh potensi yang dimilikinya.

Jadi, teknologi tidak boleh mengarahkan atau mengendalikan pendidikan. Namun, justru tujuan-tujuan dan kebutuhan pendidikan, serta ekonomi yang cermat, itulah yang harus mengarahkan penggunaan teknologi. Hanya dengan cara ini, institusi pendidikan di negara-negara berkembang secara efektif dan layak dapat mengatasi kebutuhan-kebutuhan kunci dari penduduk, untuk membantu mereka keseluruhan menanggapi tantangan-tantangan dan peluang baru, yang diciptakan oleh ekonomi global.

Karena itu, ICT tidak dapat dengan sendirinya memecahkan problem-problem pendidikan di negara berkembang, seperti problem-problem berat yang berakar pada isu kemiskinan, ketidaksetaraan sosial, dan pembangunan yang tidak merata. Yang bisa dilakukan ICT sebagai alat pendidikan, jika ICT digunakan secara hati-hati, adalah membuat negara berkembang itu meluaskan akses dan meningkatkan kualitas pendidikan.

Kehati-hatian membutuhkan pertimbangan yang seksama, dari berbagai isu yang berinteraksi satu sama lain, yang menentukan penggunaan ICT di sekolah. Seperti: Kebijakan pemerintah dan politik, pembangunan infrastruktur, kapasitas manusia, bahasa dan konten, budaya, ekuitas, biaya, dan --yang tidak kalah penting-- kurikulum dan pedagogi. ***

Jakarta, 20 Januari 2012
Diterjemahkan secara bebas oleh Satrio Arismunandar
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UI
HP: 0819 0819 9163

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI