TEKNIK PENULISAN ESSAY OPINI


Oleh Satrio Arismunandar

Banyak orang merasa punya segudang ide atau opini tentang suatu hal atau masalah. Mulai dari hal/masalah yang menyangkut seni, budaya, ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, fenomena sosial, dan sebagainya. Persoalannya, kita sering menghadapi kesulitan dalam menuangkan ide atau opini tersebut dalam bentuk tulisan atau esei (essay). Padahal, lewat tulisan tersebut kita berharap bisa menyebarkan ide atau opini itu ke khalayak yang lebih luas, melalui media massa.

Essay adalah sebentuk tulisan yang sering ditulis dari sudut pandang pribadi seseorang. Tujuan utama dari setiap essay adalah penyampaian pesan yang jelas, padat dan utuh.

Penulisan essay itu sendiri adalah proses yang melibatkan pengorganisasian informasi dan opini. Informasi yang dimaksud di sini tentunya harus berlandaskan fakta, bukan khayalan. Maka penulis essay harus memahami dulu, apa perbedaan antara pernyataan faktual dan opini.

Pernyataan faktual adalah pernyataan yang bisa dibuktikan benar-tidaknya. Contohnya: ada apel di atas meja. Jika isi pernyataan itu memang sesuai fakta (yang dengan gamblang bisa dilihat oleh semua orang), maka semua pihak akan setuju dan tak ada seorang pun yang bisa membantah Anda.

Sedangkan, opini adalah pernyataan yang menunjukkan perasaan atau keyakinan seseorang, namun itu tidak bisa dibuktikan. Misalnya: lebih enak makan apel daripada durian. Pernyataan ini tidak bisa dibuktikan. Tidak semua orang akan setuju bahwa apel lebih enak daripada durian, karena ini adalah soal selera yang memang sulit diperdebatkan.

Kadang-kadang pernyataan faktual bisa tercampur dengan opini. Misalnya: apel yang dibeli dari toko buah itu rasanya lebih enak daripada jeruk. ”Dibeli dari toko buah” adalah pernyataan faktual, yang bisa dibuktikan benar-tidaknya. Tetapi, ”rasanya lebih enak daripada jeruk” adalah opini yang tidak bisa dibuktikan.

Dalam penulisan essay opini terdapat dua aspek yang perlu diperhatikan. Yaitu, aspek pendekatan personal (sudut pandang pribadi si penulis) dan aspek pendekatan argumentatif (mengedepankan argumen-argumen untuk mendukung opini dalam penulisan).

Berikut ini adalah unsur-unsur utama sebuah essay opini:
1. Topik/permasalahan yang mau ditulis.
2. Opini/pandangan pribadi si penulis tentang topik/permasalahan itu.
3. Argumen-argumen yang menjelaskan dan mendukung opini/pandangan tesebut.

Sedangkan struktur sebuah essay opini secara sederhana dapat dibagi menjadi tiga bagian: Pengantar/pendahuluan; tubuh tulisan; dan kesimpulan/penutup. Isi tiap bagian itu dapat dirinci sebagai berikut:

Pengantar/Pendahuluan:

- Penjelasan tentang topik/permasalahan
- Topik ini terkadang disajikan dalam bentuk pertanyaan (yang akan dijawab secara lebih mendalam dalam tubuh tulisan)
- Pandangan penulis secara umum tentang topik itu.
- Pembaca perlu mendapat kejelasan tentang sikap dan pandangan penulis tentang masalah tersebut sejak awal tulisan.

Si penulis sendiri sejak awal harus paham betul tentang apa yang mau ditulisnya. Kejelasan tentang topik dan gagasan itu bisa diperoleh dengan, misalnya, mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
- Apa tujuan utama Anda menulis essay ini?
- Pembelajaran apa yang sekiranya akan diperoleh para pembaca sehabis membaca tulisan ini?
- Apa pesan utama tulisan ini?

Tubuh Tulisan:

- Penjelasan secara lebih rinci dari penulis tentang opininya
- Argumentasi yang dikedepankan untuk mendukung opini tersebut.

Ada dua macam argumentasi yang mendukung opini si penulis:
Pertama, argumentasi yang berbasis pada pribadi si penulis (latar belakang budaya, usia, status keluarga, pengalaman pribadi, aktivitas di organisasi, dan sebagainya). Biarkan pembaca menempatkan dirinya dalam situasi Anda, dalam kaitan dengan topik/permasalahan yang sedang dibahas.

Kedua, penggunaan berbagai sumber informasi untuk memvalidasi opini atau pandangan penulis. Penggunaan perspektif dari berbagai disiplin ilmu dapat digunakan untuk membuat permasalahan makin mudah dipahami, misalnya, pendekatan sosiologis, ilmu budaya, dan sebagainya. Lewat cara berargumentasi seperti ini, di mata khalayak pembaca, si penulis terkesan otoritatif, dan memiliki kapasitas yang layak untuk membahas topik/masalah bersangkutan. Selain itu, pemikiran si penulis terkesan telah dipertimbangkan dengan matang, dan bisa dibenarkan oleh pembaca.

Tapi harus diingat pula bahwa suatu pernyataan bisa didukung, namun juga bisa ditentang, dengan menggunakan referensi sejarah, ilmiah, aksiologis (nilai-nilai), dan sebagainya.

Kesimpulan/Penutup

Kesimpulan menjadi penutup essay dan memberi tanda pada pembaca bahwa si penulis telah mengakhiri diskusi/pembahasannya. Kesimpulan ini merangkum seluruh argumen dan pembahasan yang telah disajikan pada tubuh tulisan, dan bagaimana argumen-argumen itu mendukung sikap atau opini si penulis. Sering terjadi, dan hal ini tidak jadi masalah, jika kesimpulan itu tampak mirip dengan pengantar/pendahuluan tulisan.

Bagi Anda yang baru belajar menulis essay opini, bisa belajar bisa lebih mudah dengan bantuan outline (garis besar isi tulisan). Essay yang mau ditulis tidak usah panjang-panjang. Cobalah membuat sebuah ”essay opini lima paragraf.” Kira-kira outline itu seperti contoh di bawah:

Paragraf 1:
Pernyataan tesis (topik/masalah) dan opini Anda terhadapnya.

Paragraf 2:
Argumen yang mendukung opini penulis berdasarkan fakta/rincian, dengan menggunakan unsur:
Pemaparan
Contoh-contoh
Elaborasi, perluasan/penambahan informasi
Penjelasan rinci
Bantahan

Paragraf 3:
Argumen yang mendukung opini penulis berdasarkan fakta/rincian, dengan menggunakan unsur:
Pemaparan
Contoh-contoh
Elaborasi, perluasan/penambahan informasi
Penjelasan rinci
Bantahan

Paragraf 4:
Argumen yang mendukung opini penulis berdasarkan fakta/rincian, dengan menggunakan unsur:
Pemaparan
Contoh-contoh
Elaborasi, perluasan/penambahan informasi
Penjelasan rinci
Bantahan

Paragraf 5:
Kesimpulan, yang terdiri dari:
Penyebutan kembali tesis essay Anda
Penyebutan kembali rangkuman argumen
Doronglah pembaca ke arah tindakan (action)

Tentang Penggunaan dan Gaya Bahasa

Penulis harus menghindari gaya bahasa yang terlalu personal. Jangan ungkapkan terlalu banyak atau terlalu rinci tentang kehidupan pribadi Anda kepada pembaca.
Hindari uraian yang terlalu melantur atau melebar ke mana-mana. Setiap argumen yang ditulis harus mendukung tesis Anda.

Hindari pernyataan emosional yang berlebihan. Karena, pada dasarnya, essay opini itu menyajikan pandangan si penulis, serta bagaimana pandangan itu dibangun oleh penulis berlandaskan pada argumen-argumen yang mendukungnya. Tulisan yang bernada terlalu emosional akan terlihat kurang profesional.

Penulis juga harus menghindari nada yang agresif, penghakiman moral, dan sebagainya. Jangan menyerang pihak lain yang berbeda pandangan. Cukuplah opini penulis dan argumen yang mendukung opini tersebut diajukan dalam tulisan. Di situlah letak kekuatan tulisan, bukan pada caci maki atau serangan personal.

Sebagai saran tambahan: Walaupun opini Anda sebagai penulis sangat kuat, tidak perlu terlalu berapi-api atau emosional dalam mengekspresikannya. Fokuslah pada penyusunan alur yang logis dari argumen-argumen yang Anda ajukan, serta contoh-contoh yang penting untuk mendukung opini Anda, jika ada.

Jakarta, 19 Januari 2012


Daftar Pustaka:
http://daria-przybyla.suite101.com/how-to-write-an-opinion-essay-a104337
http://www.ehow.com/how_5619030_write-opinion-essay.html
http://custom-writing.org/blog/writing-tips/free-essay-writing-tips/231.html
http://homeworktips.about.com/od/essaywriting/a/opinion.htm
http://www.essay-paper.net/opinion_essay.html
http://opinion-essay.com/

Satrio Arismunandar, adalah Executive Producer di News Division TRANS TV. Pernah menjadi wartawan Harian Pelita (1986-1988), Harian Kompas (1988-1995) dan Media Indonesia (2000-2001).

E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com
Blog: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
HP: 081908199163

Comments

mantapss gan
Anonymous said…
terima kasih atas bantuan dan sarannya. salam kenal.
Lailatul Budri said…
mksi kk

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI