Korlip dan Korda Trans TV: Ujung Tombak yang Harus Tajam


Apa sih yang membedakan satu stasiun TV dengan stasiun TV lain? Filmnya, sinetronnya, program musiknya, ataukah program komedinya? Jawabannya: bukan semua itu. Karena, yang secara mendasar membedakan sebuah stasiun TV dengan stasiun TV lainnya adalah pemberitaannya (news).

Asalkan punya cukup uang, setiap stasiun TV bisa membeli program film, sinetron, musik, komedi, atau kuliner dari mana saja. Sehingga tidak ada bedanya, menonton film Tom Cruise di RCTI atau di Trans TV. Tetapi RCTI berbeda dengan Trans TV, dan berbeda pula dengan Metro TV dalam pilihan item berita, gaya pemberitaan, dan ”pemihakan” dalam pemberitaan.

Maka, sangatlah tepat ketika pimpinan tertinggi CT Corp, Pak Chairul Tanjung, dalam suatu rapat koordinasi program (PCM), mengatakan, ”Flag carrier Trans TV adalah Reportase Sore.” Reportase Sore, beserta saudara-saudaranya Reportase Siang, Reportase Pagi dan Reportase Malam, membutuhkan item-item berita yang kuat. Nah, ujung tombak yang berperan menghasilkan item-item berita yang kuat itu adalah jajaran koordinator peliputan (Korlip) dan koordinator daerah (Korda) di Divisi News.

Korlip bekerja berdasarkan permintaan dari produser program berita bersangkutan. Korlip bertugas mengkoordinasikan liputan yang dilakukan oleh reporter, camera person, dan kontributor di wilayah DKI Jakarta. Sedangkan Korda mengkoordinasikan liputan yang dilakukan oleh para koresponden dan kontributor Trans TV di luar Jakarta, baik yang dari Jawa maupun luar Jawa.

Pembagian Tugas

Koresponden dan kontributor adalah wartawan (reporter/camera person) yang berbasis di luar kantor Trans TV Jakarta. Koresponden berstatus karyawan tetap Trans TV, sehingga mereka mendapat gaji bulanan. Sedangkan, kontributor tidak berstatus karyawan tetap, sehingga tidak mendapat gaji. Penghasilan mereka tergantung pada jumlah item berita yang mereka buat dan ditayangkan di Trans TV.

Saat ini, Trans TV memiliki 30 koresponden dan 64 kontributor dari berbagai kota di Indonesia. Mereka dikendalikan oleh Korda, yang memiliki dua produser (Dedi Suchyar, Desi Ardiana Hapsari), empat asprod (M. Fakhrulwardi, Dian Indra Kencana, Monalisa, Dwi Erna), dan satu staf (Trisnawati).

Sedangkan di Korlip ada tiga producer (Frans Ruffino, Muhammad Walid, Hidayat S. Gautama), dua asprod (Fajar Nuryadi, Albert Sumilat), dan satu staf (Teti Rahmawati). Pembagian kerja mereka diatur berdasarkan shift, karena dinamika berita sebetulnya berlangsung 24 jam sehari.

Misalnya, Frans menangani shift 1, yaitu dari pukul 7.00 sampai 15.00. Fajar menangani shift 2, dari pukul 15.00 sampai 22.00. Sedangkan Walid bertugas di shift 3, pukul 22.00 – 7.00 pagi hari berikutnya. Pembagian shift ini juga menyesuaikan dengan jadwal tayang Reportase, dari yang Pagi, Siang, Sore sampai Malam.

Karena itu, dalam rapat yang diadakan oleh produser Reportase, ketika merancang topik yang akan diliput dan mengevaluasi item berita yang sudah ditayangkan, crew Korlip dan Korda juga dilibatkan.

Korlip dan Korda pada pukul 8.30 pagi mengikuti rapat budgeting Reportase Siang. Sesudah tayang, pukul 12.30 ada rapat evaluasi Reportase Siang, dilanjutkan dengan budgeting Reportase Sore bersama Produser, Asprod, dan Eksekutif Produser Reportase. Pukul 13.00, rapat evaluasi Reportase Siang. Setelah rapat, hasil evaluasi –terutama jika ada kritik dan masukan-- disampaikan ke tim liputan bersangkutan.

Setelah melihat tayangan Reportase Sore pukul 17.00, diadakan rapat evaluasi serta perencanaan liputan untuk besok. Pukul 18.30, ada rapat budgeting Reportase Malam. Terakhir, pukul 22.00, ada rapat budgeting Reportase Pagi.

Dimarahi Produser


Ada empat tim liputan yang didedikasikan khusus untuk Reportase (dua tim untuk Siang dan dua lainnya untuk Sore). Tiap tim terdiri dari satu reporter dan satu camera person. Selain empat tim ini, terdapat 58 reporter, camera person, dan presenter yang harus dikoordinasikan tugasnya oleh Korlip. Selain itu, juga ada enam kontributor wilayah DKI Jakarta yang bisa ditugaskan.

Apa sih suka-dukanya bertugas di Korlip? ”Enaknya, saya bisa belajar tentang man power planning,” ujar Frans Ruffino.
Tetapi, untuk orang yang suka aktivitas di lapangan, bertugas seharian di dalam ruangan mungkin bisa membosankan. ”Kami sangat jarang bisa DLK (dinas luar kota),” sambung Fajar Nuryadi.

Proses liputan di lapangan juga tidak selalu berjalan mulus, dan hal ini harus diatasi oleh crew Korlip dan Korda. Misalnya, mobil operasional tidak tersedia pada waktunya, sehingga liputan bisa gagal hanya gara-gara terlambat datang ke lokasi.
Kasus lain, nara sumber ternyata menolak diwawancarai, sehingga Korlip harus cepat menginstruksikan reporter ke nara sumber pengganti. Penugasan yang sudah dirancang cermat juga bisa dirombak total, jika ada perkembangan peristiwa yang tak terduga, seperti: ledakan bom oleh teroris, gempa bumi, pesawat terbang jatuh, dan sebagainya.

Bagi yang bertugas di Korda, juga punya suka-duka. ”Nggak enaknya kalau dimarahi produser, karena kiriman naskah atau gambar dari daerah datang terlambat,” tutur Monalisa. Lebih gawat lagi, jika item berita itu tayang lebih dulu di stasiun TV kompetitor.

Inti dari kerja Korlip dan Korda adalah seni mengelola manusia, dengan berbagai problemnya. Jika ada yang menurun kinerjanya atau kurang bersemangat, harus dimotivasi. Jika punya masalah, harus didengar dan dicarikan solusi. Dalam proses itu, kadang-kadang terjadi friksi, salah pengertian, dan sebagainya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, crew Korlip dan Korda telah berusaha bekerja maksimal, untuk mendukung program news Trans TV.

Singkatnya, dengan arahan dari produser program, Korlip dan Korda adalah ujung tombak yang menentukan efektivitas pergerakan reporter dan camera person di lapangan. Jika pergerakan di lapangan ini kacau, tentu hasil liputan tidak akan optimal, dan hal itu akan terlihat di layar televisi.

Maka, sebagai ujung tombak, Korlip dan Korda harus ”tajam,” artinya harus bisa mendayagunakan seluruh potensi reporter, camera person, koresponden, kontributor, untuk menghasilkan materi berita yang akurat, lengkap, proporsional, dan tentunya menarik bagi pemirsa. ***

Jakarta, 16 Maret 2012

SATRIO ARISMUNANDAR
Executive Producer
Divisi News, Trans TV
HP: 0819 0819 9163

Comments

Anonymous said…
Mas Satrio...mohon jangan dilupakan pula kinerja UPM News Trans TV. terutama yang mengurus Koresponden Daerah dan Program Reportase tersebut. Saya sebagai salah seorang mantan UPM News yang pernah berkutat dengan Koresponden daerah selama 2 tahun dikejar-kejar reimbursement, jantungan ketika laporan tak kunjung dikirim padahal konsekuensi hold gaji koresponden itu sendiri,walaupun akhirnya Saya menyerah juga merasa memiliki kontribusi yang sangat besar demi kelancaran berita yang akan tayang di layar. sekian terima kasih. Sukses untuk Mas Satrio.

Jakarta, 6 Agustus 2012

RIKA AMALIA PUTERI
Mantan UPM News Trans TV
Anonymous said…
kata seorang teman ex Trans TV, tv ini dikenal sebagai TV pahe-pahe dalam urusan karyawan ya ... cmiiw
Muhammad Irfan said…
mas satrio, aku udah lama mau menjadi koresponden atau kontributor trans TV, tapi aku nggak tau gimana caranya untuk gabung.. mohon pencerahannya bang..

Bontang, Kalimantan Timur
14 Mei, 2014

Hormatku..
MUHAMMAD IRFAN

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI