Urutan Langkah dalam Membuat TKA (Tugas Karya Akhir) Broadcasting di Ilmu Komunikasi FISIP UI

Kadang-kadang ada mahasiswa broadcasting yang mau main cepat dalam membuat TKA (tugas karya akhir). Ini kasus di Ilmu komunikasi FISIP UI, di mana saya sering diserahi tugas sebagai pembimbing TKA. Persoalannya adalah si mahasiswa yang sedang membuat TKA tidak secara step by step berkonsultasi dengan saya. Tahu-tahu saya disodori TKA yang sudah jadi.

Tetapi, TKA itu seumpama masakan yang sudah terlanjur jadi. Ternyata ketika dirasai, bumbunya tidak pas, atau urutan cara memasaknya tidak urut, sehingga hasil masakannya tidak jelas rasanya. Maka kita harus berpikir ulang dan memulai proses memasak dari awal lagi. Inilah yang terjadi pada TKA yang diserahkan oleh seorang mahasiswa ke saya, pada minggu terakhir Mei 2012.

Maka saya memberi masukan ke mahasiswa itu, agar berpikir dan bekerja runtut sebagai berikut:

1. Rumuskan dengan jelas, program TKA kamu itu esensinya tentang apa sih? Dalam kasus mahasiswa saya, itu masih tidak jelas. Ini program tentang SEKOLAH atau tentang ANAK yang sekolah. Di konsep sepertinya tentang sekolah, tetapi di tayangan yang dibikin kok seperti kisah tentang ANAk sekolah (sekolahnya cuma sebagai pelengkap!). Ini harus dituntaskan dulu.

2. Siapa yang diperkirakan MAU atau BERMINAT nonton program ini? Anak? Remaja? Muda? Dewasa? Tua? (masing-masing ada rentang umurnya sendiri menurut kategori yg sudah dibuat lembaga pemeringkat rating Nielsen. Jadi jangan ngarang sendiri). Juga, Male atau Female? Status sosial-ekonomi, dsb.... Kalau bingung, coba lihat TKA teman-teman lain yang sudah lulus. Pilihan penonton akan mempengaruhi format program. Program untuk anak, misalnya, jelas tidak boleh mengangkat isu orang dewasa. Jam tayangnya juga tidak mungkin di atas pukul 22.00, dst...

3. Jika SEGMEN penonton sudah ditetapkan, bikin survey untuk mengukur selera dan keinginan mereka. Format, konten, dan kemasan tayangan seperti apa sih yang mereka sukai. Jam berapa dan hari apa program itu perlu ditayangkan, dsb... Bikin selengkap mungkin. Survey bisa dengan metode wawancara mendalam, kuesioner, atau diskusi (Focus Group Discussion). Tetapi narsumnya tentu harus mewakili atau sesuai dengan target audience yang ditetapkan.

4. Dari hasil riset pasar itu dibuatlah rumusan kemasan program (mulai dari format, pakai presenter atau tidak, jam tayang, hari tayang, feature yang seperti apa, pembagian segmentasi kontennya bagaimana, bahasa yang digunakan, narsumnya siapa, dsb). Kemasan inilah yang dibikin versi VIDEO/TAYANGANNYA (cukup 8 menit, sekedar bisa mewakili atau menjelaskan konsep program yang sudah dibuat) Dalam riset itu juga dicek, apakah sudah ada program sejenis yang muncul di TV kita? Jika sudah ada, apa letak bedanya dengan program TKA yang dibikin ini? Jika sama saja, berarti TKA ini kurang orisinil (nilainya kurang).

Selain itu, program-program apa yang akan menjadi PESAING dari program yang dibikin ini? Pesaing itu bisa dari arti ada kemiripan/kesamaan dengan format program yang kita buat. Bisa jadi dari segmen penonton yang akan diperebutkan di jam tayangan yang sama. Misalnya, program TKA jika ditayangkan pagi hari mungkin akan bersaing dengan film kartun anak di TV kompetitor. Anak-anak/remaja mungkin lebih tertarik nonton film kartun ketimbang nonton program Bella di jam tayang yang sama. Maka harus dirumuskan bagaimana mengatasi tantangan ini?

5. Yang bakal disorot oleh penguji TKA adalah:
a. Apa sih letak keunikan, keunggulan, dari program yang dibikin ini? Seberapa orisinil (sama, mirip, atau berbeda dengan program lain). Apakah program itu memang pas ditayangkan di slot hari dan jam yang diusuilkan?
b. Apa ada kesuaian antara konsep tertulis dengan tayangan video yang dibikin (sekitar 8 menit) yang akan ditampilkan di depan penguji. Seberapa jauh konsep itu mampu diwujudkan dalam tayangan?
Sekarang: Kerjakan mulai dari NOMOR 1 dulu!

Ir. Satrio Arismunandar, M.Si, MBA
Dosen Produksi Feature buat Media TV.
HP: 0812-862-99061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI