Bagaimana Menyikapi Konflik Internal Antar-Kurawa?


Alkisah, di negeri Astinapura terjadilah konflik internal, antara Duryudana (dengan para pengikutnya) melawan Sengkuni (dengan para fansnya). Saya sebagai rakyat kecil tidak mau jadi korban dalam konflik antar elite Kurawa tersebut: yang satunya licik, yang satunya durjana.

Siapapun yang menang tidak ada pengaruhnya bagi saya, karena mereka berperang bukan dalam konteks membela rakyat kecil, tetapi demi kursi kekuasaan mereka sendiri.

Ketika saya bertemu pimpinan Pandawa yang sangat penyabar dan jujur, Yudhistira, dia bertanya: saya mau ikut siapa.

Saya jawab: "Paduka, saya sebetulnya sangat ingin bergabung dengan Pandawa. Tetapi saya mungkin belum level bergaul dengan para putra raja seperti Anda. Izinkanlah saya bergabung dengan Ki Semar bersama Petruk dan Gareng saja. Setidaknya kami tidak menimbulkan kerusakan pada masyarakat, dan syukur-syukur bisa menghibur. Tetapi kalau para penguasa sudah gila kuasa dan asyik dengan diri sendiri, hati-hatilah karena dewa bisa memberi peluang pada Petruk untuk jadi Ratu, sekadar sebagai peringatan buat kalian para elite penguasa yang melupakan rakyatnya."

Satrio Arismunandar
Februari 2013

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI