Merancang Materi dan Desain Berdasarkan Platform Media (Uji Kompetensi Jurnalis)


Oleh Satrio Arismunandar

Merancang materi dan desain pemberitaan adalah kompetensi yang diujikan dalam Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ). Perancangan materi dan desain pemberitaan meliputi beberapa komponen. Meskipun dalam bentuk praktis ada perbedaan platform media (cetak, elektronik, online), komponen-komponen ini pada dasarnya sama.

Dalam uji kompetensi jurnalis, materi ini harus dilakukan per kelompok yang idealnya mewakili unsur jurnalis muda, madya, dan utama. Masing-masing dengan tugas dan tanggung jawab yang berbeda, namun membentuk satu kesatuan terpadu dan kerjasama tim, sebagaimana layaknya kerja jurnalistik di dunia nyata. Kerja jurnalistik pada dasarnya adalah kerja kolektif, meskipun setiap individu memiliki ruang kreatif tersendiri dalam berpartisipasi.

Komponen pertama adalah konten berita atau materi. Konten berita atau topik-topik liputan yang dipilih untuk diberitakan dipengaruhi oleh segmen audiens yang dituju. Pilihan berita untuk media nasional, jelas berbeda dengan media lokal. Pilihan berita untuk majalah berita umum jelas berbeda dengan majalah yang audiensnya segmented, seperti majalah khusus wanita atau pria. Dan seterusnya.

Dalam media berita yang bersifat umum pun, masih ada pemilahan lebih spesifik. Berita yang dipilih untuk dimuat di rubrik metropolitan suatu suratkabar, misalnya, akan berbeda dengan di rubrik ekonomi, rubrik seni-budaya, atau rubrik daerah. Bahkan untuk halaman atau rubrik yang sama, juga ada pemilahan dari aspek urgensi atau nilai pentingnya bagi audiens.

Maka ada pembedaan antara topik berita yang sangat penting dan layak dijadikan berita utama (headline), dengan topik berita yang bersifat sebagai pelengkap, dan topik yang bersifat ringan-menghibur (buat feature). Ada lagi topik penting yang tidak bisa diliput dengan cara biasa, sehingga layak dijadikan topik liputan investigatif.

Contoh-contoh yang saya sampaikan ini banyak menggunakan contoh media cetak. Namun sebetulnya ini juga berlaku untuk media elektronik dan online. Tayangan Reportase Sore di Trans TV, misalnya, juga mencakup unsur berita utama, pelengkap, dan feature. Sedangkan materi investigatif dimasukkan di program terpisah, Reportase Investigasi.

Komponen kedua adalah desain. Yakni, bagaimana kita menempatkan seluruh topik berita yang sudah diliput dan diseleksi dalam format tampilan media, yang sudah kita tetapkan sebelumnya. Lebih mudah membayangkan desain ini dalam format media cetak (suratkabar dan majalah), karena desainnya berdasarkan pada aspek space (ruang yang tersedia di halaman media cetak).

Prinsip yang sama juga berlaku untuk media online dan media elektronik. Namun, karena perbedaan format media, untuk media TV dan radio, desainnya tentu dilihat dari aspek durasi siar, bukan space seperti suratkabar atau majalah.

Sedangkan untuk media online, ada aspek space seperti pada media cetak. Tetapi juga ada aspek "durasi" atau "waktu," di mana topik yang muncul di layar tidak bersifat permanen, tapi bisa cepat diganti-ganti sesuai perkembangan peristiwa di lapangan. Media online juga memiliki unsur link, yang mengaitkan satu topik berita dengan topik berita atau informasi yang lain di dunia maya.

Kembali ke soal penempatan berita, di halaman pertama suratkabar, kita sudah tahu bahwa berita utama biasanya akan ditempatkan di posisi paling atas, dengan ukuran judul paling besar dibandingkan dengan berita-berita lain. Jika perlu, akan ditambah dengan foto besar di sampingnya. Berita-berita lain diposisikan kurang mencolok dibandingkan berita utama.

Selain pemilahan dari aspek nilai berita, pilihan format media juga berpengaruh pada kuantitas atau jumlah topik berita, yang bisa dimuat di media cetak atau ditayangkan di media televisi. Di halaman 1 suratkabar nasional seperti Kompas atau Republika, biasanya hanya ada 5-6 topik berita. Sisanya yang dianggap kurang penting harus mengalah dan ditempatkan di halaman dalam.
Sedangkan dalam format tayangan Reportase Sore di Trans TV, misalnya, tidak banyak materi yang disampaikan. Dalam format acara dengan durasi 30 menit itu, akan ada dua commercial break (iklan) dengan durasi sekitar 2 x 4 menit = 8 menit.

Jadi untuk materi berita sendiri cuma tersisa 22 menit (sudah termasuk kemunculan presenter, bumper, dan lain-lain). Anggaplah, secara bersih ada 21 menit. Jika durasi setiap topik berita berkisar antara 1,5 sampai 2,5 menit, berarti hanya ada antara 10 sampai 14 topik berita yang ditayangkan.
Keterbasan serupa juga berlaku untuk media online dan media radio. Seperti televisi, radio memiliki keterbatasan durasi. Apalagi radio tidak bisa menampilkan gambar.

Sedangkan media online, meski secara teknis bisa diisi dengan banyak topik berita sesuka kita, tampilan layar yang terbatas tidak memungkinkan semua topik dimuat sekaligus, karena akan terkesan kacau dan tidak mermarik. Di sini kembali berlaku ketentuan bahwa pengelola harus memutuskan skala prioritas, topik berita mana yang dianggap paling penting, lumayan penting, kurang penting, dan sebagainya.

Jakarta, 22 Maret 2012
081286299061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI