Posts

Showing posts from April, 2013

Kita Memang Bisa Dilemahkan oleh Kecantikan...

Image
Sehabis institusi Polri jungkir balik ditimpa skandal korupsi gila-gilaan oleh para jenderalnya, di media sosial kita tiba-tiba disodori Polwan-polwan cantik yang simpatik. Sesudah lembaga Kopassus dikecam oleh kelompok HAM dan media, akibat kasus eksekusi 4 preman di Lapas Cebongan, Yogyakarta, eh di Facebook juga muncul soal Sersan Dua Kopassus yang cantik. Sang Sersan cantik bilang, dia juga bingung bagaimana fotonya bisa muncul bertebaran di media sosial.

Saya jadi kepikiran, jangan-jangan sesudah munculnya pemberitaan dugaan korupsi di Kementerian Pertanian dan kegagalan pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan soal pelaksanaan Ujian Nasional yang acak adut, nanti akan muncul staf Kementerian Pertanian cantik, staf Kemdikbud cantik, aspri Presiden cantik, dan lain-lain. Apapun, harus diakui, kita memang bisa dilemahkan oleh kecantikan.

Pengalaman waktu saya masih bekerja di Trans TV, beberapa tahun lalu. Waktu itu, ada seorang pensiunan jenderal yang jadi pimpinan parpol. Aga…

Penelitian Saya "Dibantai," Tapi Alhamdulillah Lulus Sementara

Image
Waduh, hari Kamis pagi (25 April 2013) ini saya betul-betul "dibantai" di Seminar Hasil Penelitian, program S3 Filsafat di gedung FIB-UI Depok. Saya mengajukan hasil penelitian (masih 3 bab) berjudul "Perilaku Korupsi dan Tanggung Jawab Etis dalam Perspektif Pemikiran Sartre."

Komentar dari para penguji Prof. Dr. A. Agus Nugroho, Dr. A. Harsawibawa, Dr. Naupal, Vincensius Y. Jolasa, Ph.D (Kepala Program Studi Filsafat), Dr. Akhyar Yusuf Lubis (ko-promotor), dan Prof. Dr. Soerjanto Poespowardojo (promotor), betul-betul telak dan cermat menunjukkan berbagai kekurangan dari apa yang seharusnya jadi "hasil penelitian."

Pilihan konsep kebebasan eksistensial Jean-Paul Sartre sebagai landasan etika dipertanyakan. Apakah etika Sartre itu memang layak karena kebebasan a'la Sartre memang "liar," tidak secara tegas bisa mengatakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Sangat berbeda dengan konsep etika Kant, yang berangkat dari sosok manusia rasi…

Pemred RCTI Arief Suditomo Jadi Caleg Hanura

Image
Arief Suditomo, yang selama ini dikenal Pemimpin Redaksi RCTI, dikabarkan maju sebagai caleg partai Hanura. Mengingat boss-nya pemilik grup MNC, Hary Tanoesoedibjo, sudah bergabung ke Hanura yang dipimpin Wiranto, bisa dipahami bahwa Arief mungkin "sulit menolak" imbauan dari bossnya, jika si boss meminta Arief ikut mendukung langkah Hary di Hanura.

Apapun alasannnya, baik atas inisiatif sendiri ataupun diminta oleh pihak luar, majunya seorang wartawan aktif menjadi calon legislatif (masuk ke arena politik praktis) jelas problematik dan sangat berpotensi memunculkan konflik kepentingan. Secara kode etik jurnalistik, pasti bisa menimbulkan masalah. Saya yakin, Arief pasti sangat memahami hal ini.

Organisasi profesi seperti AJI, dengan tegas melarang anggotanya menjadi pengurus atau anggota (bukan sekadar simpatisan) partai politik. Saya belum tahu penyikapan PWI atau IJTI. Waktu saya masih bekerja di Harian Kompas (1988-1995) dan Trans TV (2002-2012) dulu, si wartawan yang …

Dark Justice, Inikah yang Akan Muncul di Negeri Kita?

Image
Di layar TV kita dulu ada film seri ini. Kisah seorang hakim yang karena keterikatan pada hukum atau sistem legalistik formal, terpaksa harus membebaskan penjahat-penjahat yang memang benar penjahat, tetapi tidak bisa dihukum karena kurang bukti, atau bukti yang cacat, atau sebab-sebab lain.

Pada siang hari, si hakim tampil senagai "tokoh putih" yang patuh hukum. Tetapi di malam hari, ia tampil berbeda sebagai "tokoh gelap" yang berusaha menegakkan keadilan dengan cara-caranya sendiri. Ia mengubah penampilan total. Tampil sebagai cowok kekar berambut gondrong, berjaket kulit hitam, mengendarai sepeda motor bermesin besar, dan mengejar bajingan-bajingan yang selama ini lolos dari kejaran hukum karena keterbatasan peraturan formal.

Jangan sampai, negara kita memunculkan figur-figur semacam ini, karena peraturan hukum formal terbukti gagal menjerat leher penjahat-penjahat besar, yang sekarang malang melintang tanpa tersentuh hukum.

Saya paling suka ungkapan yang s…

Efek Lanjut yang Mengerikan, Dari Pembunuhan 4 Preman oleh Oknum Kopassus di Yogya

Image
Sebelumnya, harus dijelaskan bahwa komentar ini tidak untuk membenarkan tindakan main hakim sendiri, membunuh orang tanpa proses hukum yang benar. Tetapi saya mau menunjukkan, logika hukum formal tidak selalu sejalan (bahkan kadang-kadang bertentangan) dengan logika keadilan versi rakyat. Apalagi dalam situasi-kondisi luar biasa, di mana negara terasa tidak hadir, kejahatan narkoba, korupsi, aksi premanisme merajalela di mana-mana tanpa hukuman, sedangkan rakyat merasa tertekan oleh beban kehidupan yang makin berat (walau pemerintah SBY selalu menggembar-gemborkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi).

Misalnya, atas tewasnya 4 preman di Lapas Cebongan Yogya yang dieksekusi oleh oknum Kopassus, sebagian rakyat akan berkomentar: "Ya, main bunuh seenaknya itu memang salah. Tapi biarlah, yang dibunuh itu toh juga preman, yang suka memeras para pedagang kecil dan memalak rakyat. Hidup kita sudah susah, kok masih dipalak juga...."

Nah, dengan pemahaman terhadap "situasi batin ra…

Gerilya Pihak Asing untuk Memperpanjang Penguasaan Blok Migas Mahakam

Image
Kontrak blok sumur gas Mahakam di Kalimantan Timur akan berakhir 2017. Pihak asing yang takut pada ketidakpastian politik, di mana pemimpin baru RI 2014 mungkin akan tidak memperpanjang kontrak (dan bahkan mengalihkan pada Pertamina), kini "bergerilya" dengan memanfaatkan antek-anteknya di pemerintahan rezim SBY, supaya kontrak itu diperpanjang sekarang saja. Tidak perlu menunggu sampai mendekati 2017, ketika Presiden RI sudah berganti.

Pihak asing sudah melihat tren bangkitnya nasionalisme anak negeri. Lahirnya generasi baru yang percaya diri, yakin pada kemampuan bangsa sendiri untuk mandiri, tidak membebek di bawah ketiak asing.

Perusahaan minyak asing takut, penguasa baru tidak bisa disetir sesukanya lagi. Jadi mumpung rezim neoliberal SBY sekarang masih tunduk dan bisa dikendalikan, bagi mereka kini harus ada kepastian kelanjutan kontrak untuk pihak asing.

Kawan-kawan, jangan biarkan pihak asing menguras kekayaan alam Indonesia dengan menyisakan recehan untuk anak n…

Acara Perpisahan di News Trans TV, 17 Juli 2012

Image
Pada acara perpisahan crew News Trans TV yang mundur, Selasa sore (17 Juli 2012), teman-teman yang masih bertahan menyerahkan kenang-kenangan sebuah foto besar potret saya, yang didesain secara unik dari puluhan/ratusan foto kecil...

Ini surprise buat saya. Ternyata rasa kekeluargaan di News Trans TV sangat tinggi. Itu tampak ketika melihat betapa sulitnya acara perpisahan ini bubar. Secara spontanitas, tanpa diatur dan diorganisir, momen perpisahan ini mengalir alami begitu saja.

Ada tangis keharuan yang tidak dibuat-buat... Kebersamaan dan ikatan emosional/batin ini lebih tinggi nilainya dari sekadar pencapaian share/rating dan sales, meski owner media mungkin tidak sependapat... Ternyata kita tidak sendirian..... Dan kita tidak akan pernah sendirian.....

Jakarta, Juli 2012
Satrio Arismunandar
Mantan Executive Producer
HP: 081286299061

Joke Politik - Cita-cita Siswa SD 2013

Image
Alkisah, Ibu Guru berdialog dengan para siswa SD di kelas, tentang perlunya punya cita-cita tinggi. Kebetulan saja, nama siswa-siswa ini mirip nama sejumlah tokoh politik. Jadi tolong jangan dipolitisir.

Begini dialognya:
Ibu Guru: Angie, cita-cita kamu ingin jadi apa?
Angie: Jadi anggota DPR, Bu Guru....

Ibu Guru: Aduuh, bagus. Kalau kamu, Anas?
Anas: Ingin jadi Ketua Partai besar, Bu...

Ibu Guru: Wah, bagus juga. Andi, apa cita-citamu?
Andi: Ingin jadi menteri, Bu...

Ibu Guru: Hebat! Nah, bagaimana dengan kamu, Susilo?
Susilo: Saya ingin jadi Presiden, Bu Guru!

Ibu Guru: Ibu sangat salut. Sekarang kamu, Samad. Ingin jadi apa jika sudah dewasa nanti?
Samad: Ingin jadi Ketua KPK, Bu Guru.

Ibu Guru: Itu juga bagus. Tetapi kenapa ingin jadi Ketua KPK?
Samad: Sebab ditakuti oleh anggota DPR, Ketua Umum partai besar, menteri, dan presiden, Bu...."


Jakarta, 2013
Satrio Arismunandar

Orang Indonesia Bangga Bersahabat dengan Koruptor Besar

Image
Mengapa koruptor banyak dan seolah-olah tidak pernah berkurang di Indonesia? Sederhana kok. Sebab tidak ada hukuman sosial buat para koruptor.

Para koruptor tetap diundang di acara perkawinan, bahkan sering diminta jadi saksi pula di acara yang sakral tersebut. Kalau seorang koruptor datang ke acara yang berkaitan dengan agama, ia malah diberi forum untuk berkotbah atau pidato tentang etika dan moral. Kalau ada acara salaman, banyak yang berebut ingin mencium tangannya. Kalau ada momen foto bersama, orang berebut ingin difoto di samping koruptor besar. Orang bangga bersahabat dan dekat dengan koruptor kakap, tapi malu jika punya teman maling ayam!

Selain itu, saat ini ada sebutan pujian untuk politisi koruptor yang tampil "manis" di depan publik. Terus terang, saya suka heran jika ada orang yang memuji politisi tertentu di sebuah partai besar(dari kubu manapun) sebagai figur yang "halus" dan "santun."

Menurut saya, tampilan luar itu bisa sangat mengecoh…

Nasehat Eyang Tahun 2113

Image
"Cucuku, belajarlah dari para politisi perusak bangsa kita 100 tahun yang lalu....

Kalau mau korupsi, jangan tanggung-tanggung. Tetapi korupsilah secara halus, lemah-lembut, sopan, dan santun...

Sehingga ketika sudah korupsi gila-gilaan, banyak rakyat dan fans mereka yang tidak percaya dia korupsi.

"Tidak mungkin tokoh yang begitu santun melakukan korupsi," kata para fans.

Jadi, cucuku, bahkan untuk jadi bajingan paling busuk pun harus ada etiketnya..."

===================
Satrio Arismunandar


Saya Tidak Percaya Konsep Quality Time (Kebersamaan Orangtua dan Anak)

Image
Untuk bisa dekat dengan anak, Anda harus meluangkan waktu untuk mereka, tidak ada cara lain. Mengajak ngobrol, jalan-jalan, nonton film anak bersama, bermain bersama. Susah jadi akrab dengan anak, apalagi jika mereka masih kecil, jika Anda terlalu sibuk dengan urusan lain.

Ada yang membantah sinyalemen itu dengan pernyataan: "Yang penting bukan lamanya interaksi dengan anak, tetapi quality time, kualitas kebersamaan."

Oke. Tapi saya bisa balik tanya, jika Anda cuma punya waktu 15 menit dengan anak tiap hari (apalagi jika anak sudah kecapekan, ngantuk, tidur, atau buru-buru mau berangkat sekolah), kualitas kebersamaan macam apa yang bisa kita peroleh dari interaksi kilat macam itu? Apalagi ketika berinteraksi dengan anak, kepala Anda masih setengah dipenuhi dengan urusan kantor. Anda seperti hadir di depan anak, tetapi sebenarnya "sedang berada di tempat lain"...

Satrio Arismunandar
HP: 081286299061


Butuh Tulisan untuk Majalah Ilmiah-Populer Bisnis dan Manajemen

Image
Kepada Yth.
Para kolumnis/akademisi/praktisi bisnis/rekan-rekan lain

Dengan hormat,

Saya saat ini diminta oleh sebuah PTS untuk merintis penerbitan majalah ilmiah populer bisnis dan manajemen. Majalah yang sedang dirintis dan rencananya akan bisa diakses masyarakat luas ini (bukan cuma untuk internal), akan berisi liputan dan artikel-artikel yang menyangkut bisnis, manajemen, finance, pasar modal, teknologi informasi/komunikasi, kewirausahaan, ekonomi makro, resensi buku, dll.

Untuk persiapan penerbitan edisi perdana majalah tersebut, kami sangat mengharapkan kontribusi artikel dari Anda sekalian.

Adapun persyaratan tulisan adalah sbb:

1. Tema/topik tulisan relevan dengan topik-topik yang sudah saya sebutkan di atas (menyangkut bisnis/manajemen). Jadi, jika menulis soal teknologi informasi, misalnya, bukan teknis teknologi tetapi tetap dalam perspektif bisnis/manajemen.

2. Jika menulis topik yang terkait dengan tren atau isu tertentu (current affairs), karena majalah ini rencananya…

Kurikulum 2013 dan Paradigma Belajar Abad 21

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Pemerintah Indonesia akan menerapkan kurikulum baru tahun ini, untuk pendidikan di tingkat SD, SMP, SMA dan SMK, yang kita kenal sebagai kurikulum 2013. Telah muncul pro-kontra di kalangan pendidik dan masyarakat tentang sejumlah aspek dalam penerapan kurikulum 2013. Tulisan ini tidak ingin masuk ke arena pro-kontra tersebut, tetapi ingin menggarisbawahi bahwa perubahan kurikulum pada dasarnya adalah suatu keniscayaan, karena telah terjadinya pergeseran paradigma belajar abad 21.

Perubahan dan pembaruan kurikulum harus dipahami sebagai hal yang biasa, karena kurikulum memang harus selalu bersifat adaptif. Kurikulum harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, tuntutan kebutuhan, serta tantangan, yang selalu berubah sesuai perkembangan zaman. Abad 21 telah menghadirkan berbagai perubahan lingkungan yang mendasar, yang menuntut adaptasi tersebut.

Pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sendiri tampak telah menyadari terjadinya pergeseran p…

Kucing-kucingan dengan Allah

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Presiden pertama Indonesia, Bung Karno, pernah mengecam keras perilaku sebagian umat Islam, yang pada masa itu menurutnya sangat tidak pantas, karena memanipulasi aturan dan ajaran Islam. Kritik keras Bung Karno itu dituangkan dalam artikel berjudul "Islam Soontooloojoo" (baca: Islam Sontoloyo), yang pernah dimuat di majalah Pandji Islam (1940), dan lalu diterbitkan sebagai bunga rampai dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi.

Judul tulisan Bung Karno memang terkesan "provokatif," tetapi mohon jangan salah paham. Dalam artikel itu, Bung Karno, yang adalah pengikut Muhammadiyah, sama sekali bukan mau mengritik Islam, tetapi ia mengritik sebagian penganut Islam, yang menurut beliau mempermainkan aturan-aturan agama untuk kepentingannya sendiri. Yakni, mereka yang memanipulasi aturan keagamaan untuk mencari pembenaran bagi perilaku mereka yang menyimpang.

Sebagai contoh, Bung Karno menyebutkan sebuah fenomena di sebuah daerah di Jawa Barat. Pad…