Kita Memang Bisa Dilemahkan oleh Kecantikan...


Sehabis institusi Polri jungkir balik ditimpa skandal korupsi gila-gilaan oleh para jenderalnya, di media sosial kita tiba-tiba disodori Polwan-polwan cantik yang simpatik. Sesudah lembaga Kopassus dikecam oleh kelompok HAM dan media, akibat kasus eksekusi 4 preman di Lapas Cebongan, Yogyakarta, eh di Facebook juga muncul soal Sersan Dua Kopassus yang cantik. Sang Sersan cantik bilang, dia juga bingung bagaimana fotonya bisa muncul bertebaran di media sosial.

Saya jadi kepikiran, jangan-jangan sesudah munculnya pemberitaan dugaan korupsi di Kementerian Pertanian dan kegagalan pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan soal pelaksanaan Ujian Nasional yang acak adut, nanti akan muncul staf Kementerian Pertanian cantik, staf Kemdikbud cantik, aspri Presiden cantik, dan lain-lain. Apapun, harus diakui, kita memang bisa dilemahkan oleh kecantikan.

Pengalaman waktu saya masih bekerja di Trans TV, beberapa tahun lalu. Waktu itu, ada seorang pensiunan jenderal yang jadi pimpinan parpol. Agak sulit untuk minta waktu buat wawancara eksklusif dengan sang jendral. Tetapi Koordinator Liputan tidak kurang akal. Maka dikirimlah salah satu reporter News Trans TV yang "cantik dan imut" untuk melobi.

Sang jenderal ternyata "takluk," dan dengan mudah memberi waktu untuk diwawancarai di kantornya. Tetapi pada hari dan jam yang dijanjikan untuk wawancara, yang dikirim untuk mewawancarai bukanlah si reporter cantik, tetapi reporter cowok yang (sudah pasti) tidak cantik.

"Lho, kok kamu yang mewawancarai saya? Bukannya si Anu? (si jenderal menyebut nama sang reporter jelita)," tanya Pak Jenderal. Jelas sekali terlihat rasa kecewanya.

Tetapi dia tidak bisa membatalkan wawancara. Karena dalam kesepakatan wawancara, memang tidak disebutkan siapa yang akan mewawancarai. Artinya, siapa saja yang resmi ditugaskan mewakili News Trans TV bisa mewawancarai sang jenderal.
Sekali lagi, terbukti kecantikan bisa melemahkan kita. Maka: Waspadalah! Waspadalah!

Jakarta, April 2013
Satrio Arismunandar

Comments

rusydi hikmawan said…
naluri kemanusiaan yg berlebihan tuh jenderal, wkwkwk

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)