Orang Indonesia Bangga Bersahabat dengan Koruptor Besar


Mengapa koruptor banyak dan seolah-olah tidak pernah berkurang di Indonesia? Sederhana kok. Sebab tidak ada hukuman sosial buat para koruptor.

Para koruptor tetap diundang di acara perkawinan, bahkan sering diminta jadi saksi pula di acara yang sakral tersebut. Kalau seorang koruptor datang ke acara yang berkaitan dengan agama, ia malah diberi forum untuk berkotbah atau pidato tentang etika dan moral. Kalau ada acara salaman, banyak yang berebut ingin mencium tangannya. Kalau ada momen foto bersama, orang berebut ingin difoto di samping koruptor besar. Orang bangga bersahabat dan dekat dengan koruptor kakap, tapi malu jika punya teman maling ayam!

Selain itu, saat ini ada sebutan pujian untuk politisi koruptor yang tampil "manis" di depan publik. Terus terang, saya suka heran jika ada orang yang memuji politisi tertentu di sebuah partai besar(dari kubu manapun) sebagai figur yang "halus" dan "santun."

Menurut saya, tampilan luar itu bisa sangat mengecoh. Maaf, ular yang sangat berbisa pun mungkin punya tampilan kulit yang sangat indah dan berwarna-warni. Saya malah lebih suka pada tampilan politisi Partai Demokrat semacam Ruhut Sitompul, yang terkesan kasar dan norak, tetapi lebih menampilkan keaslian. Ketimbang politisi yang tampil halus, lembut, santun, tetapi menyembunyikan kebusukan.

Kalau dalam film, seorang bajingan besar atau pembunuh yang sadis sering digambarkan menunjukkan perilaku "halus" dan "lembut" untuk memperkuat kontras. Misalnya, tokoh mafia yang suka mengelus-elus kucing, melelehkan air mata ketika menonton opera, atau bersikap khidmat di acara pembaptisan anaknya di gereja (ketika pada saat yang sama, anak buah sang boss besar mafia sedang membantai orang di lokasi lain).

Jakarta, 2013
Satrio Arismunandar
HP: 081286299061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI