Mengapa Kecaman Terhadap PKS atau Pimpinannya Tidak Masuk ke Hati Warga PKS?


Oleh Satrio Arismunandar

Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa sekian kritik, kecaman, dan ungkapan ketidaksukaan yang dilontarkan terhadap PKS ataupun person-person tertentu di kepemimpinan PK (LHI) di media sosial atau Facebook seolah-olah membentur tembok, dan tidak masuk ke hati warga PKS?

Apakah warga PKS itu bodoh, tidak kritis, atau tidak punya akses memadai ke media sosial? Jawabannya jelas tidak sesimpel itu. Saya akan melihatnya dari aspek ilmu komunikasi. Ada beberapa faktor sebenarnya, tapi saya di sini hanya akan membahas dari satu faktor kecil saja.

Yaitu, beberapa bentuk serangan terhadap PKS itu secara visual menunjukkan ketidakpekaan terhadap "rasa keislaman" para kader PKS dan simpatisan, yang harus diakui memang banyak yang masih murni. "Murni" yang dimaksud di sini artinya dukungan mereka pada PKS bukan karena mereka mendukung korupsi atau kelakuan bejat sejumlah elite PKS, tetapi justru karena mereka sangat yakin bahwa seburuk-buruknya PKS relatif masih "lebih Islami" ketimbang partai-partai lain yang sudah jelas sekuler.

Nah, cara-cara yang digunakan untuk menyerang PKS itu secara visual semakin menegaskan sifat tidak-Islami dari si penyerang itu sendiri. Misalnya, dalam posting status di FB, si penyerang PKS memuat foto-foto perempuan berpakaian sangat minim (bahkan setengah telanjang), menunjukkan bagian-bagian tubuh terlarang --singkat kata, cara berbusana yang tidak Islami-- yang disebut-sebut sebagai perempuan/wanita simpanan di sekitar AF atau LHI.

Nah, mengumbar foto-foto tidak senonoh itu dan disebarluaskan di media sosial (FB), di mata para warga PKS (dan warga Muslim lain yang ingin menjaga akhlak religius), jelas adalah perbuatan yang tidak Islami. Ini makin mempertebal keyakinan di sebagian warga PKS bahwa kelompok dan media yang menghantam PKS dan LHI saat ini adalah kubu yang "tidak Islami", bahkan "anti-Islam," persis seperti pernyatan sejumlah elite PKS. Walaupun posting-posting di FB dan media sosial itu mungkin mengusung "niat luhur" untuk "memperbaiki PKS," kritik sosial, dan mengangkat kasus korupsi yang merugikan rakyat, dan sebagainya.

Jadi, mengumbar serangan terhadap PKS dengan cara-cara yang dipandang "tidak Islami" oleh warga PKS (dan warga Muslim lain yang religius) justru akan kontra-produktif. Itulah yang terjadi sekarang, jika serangan itu dianggap tidak proporsional.

Artinya, dalam konteks ini, para wartawan yang berniat baik untuk "mendidik warga PKS supaya kritis terhadap kelakuan menyimpang elite-elitenya" melalui pemberitaan media juga harus berintrospeksi, apakah cara penyampaian message-nya sudah pas. Kecuali kalau niatnya memang cuma sekadar mengangkat aspek sensasional atau mengejar oplaag/rating saja (tidak ada niat edukasi buat audiens).

Oh ya, mohon dicatat. Saya bukan kader PKS, juga bukan kader partai manapun. Saya warga Depok, Jawa Barat, yang kebetulan pernah kerja jadi wartawan di Harian Pelita, Kompas, Majalah D&R, Media Indonesia, dan terakhir sempat jadi Executive Producer di Trans TV (tapi pensiun dini bersama 24 karyawan lain pada Juli 2012, karena Trans TV mau mengurangi karyawan/wartawan demi efisiensi).

Jakarta, 22 Mei 2013

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)