Tiga Tingkatan Kesabaran (Akhlak), Ketika Mobil Anda Ditabrak Orang Lain


Insiden lalu lintas, mulai dari serempetan sampai tabrakan, bukan hal yang aneh terjadi di kota-kota besar, yang lalu lintasnya sangat padat seperti Jakarta. Nah, jika suatu ketika mobil Anda ditabrak oleh mobil orang lain di jalan, hal ini tentu bukan insiden yang disengaja (siapa sih yang ingin sengaja menabrak atau suka mobilnya ditabrak?). Tetapi, dalam situasi itu, bagaimana cara Anda bereaksi terhadap insiden itu menunjukkan tingkatan kesabaran atau seberapa mulia akhlak Anda.

Tingkatan pertama, adalah tingkatan kesabaran yang biasa/proporsional. Tidak tercela, tetapi juga tidak luar biasa. Ketika mobil Anda tertabrak, Anda tentu berhak minta ganti rugi pada si penabrak (walau dia tidak sengaja). Nah, dalam kasus ini Anda minta ganti rugi persis sebesar biaya perbaikan mobil yang harus dikeluarkan, tidak lebih satu sen pun.

Hati-hatilah, dalam situasi ini awalnya Anda adalah korban. Namun, bisa muncul bujukan setan sehingga sang korban pun tergoda untuk melakukan kedzaliman. Misalnya, Anda lalu “main mata” dengan petugas bengkel, dan menuntut ganti rugi Rp 1.000.000, padahal biaya perbaikan cuma Rp 600.000.

Atau, Anda berpikir, “Mumpung ada yang mau mengganti kerusakan, sekalian saja kerusakan lain, yang sudah lama terjadi dan tidak terkait dengan insiden terakhir, sekalian saja diperbaiki. Toh nanti biayanya akan ditanggung oleh orang yang menabrak ini!” Waspadalah! Jika Anda melakukan hal ini, berarti Anda memanfaatkan situasi sebagai korban, untuk berbalik mencari keuntungan. Di sini Anda telah gagal dalam ujian kesabaran, malah terpancing berbuat dosa.

Tingkatan kedua, ini adalah tingkatan kesabaran yang lebih tinggi. Anda sadar bahwa si penabrak betul-betul tidak sengaja menabrak mobil Anda. Baik mobil Anda maupun mobil si penabrak, sama-sama rusak. Maka, Anda mengharap ridho Allah dengan cara memaafkan si penabrak. Anda menganggap ini sebagai musibah bersama, dan Anda sama sekali tidak menuntut ganti rugi apapun. Si penabrak sendiri juga sudah rugi akibat tabrakan itu, karena mobilnya juga rusak.

Sekarang, adalah tingkatan ketiga. Ini adalah tingkat kesabaran dan akhlak yang mulia. Anda menerima insiden ini sebagai musibah, dan bahkan hati Anda tergerak melihat si penabrak yang kini juga dalam kondisi kesusahan. Jika si penabrak itu bukan pemilik mobil, tapi sekadar sopir, pasti dia juga ketakutan akan dipecat atau disuruh mengganti kerusakan oleh tuannya, si pemilik mobil.

Maka Anda memaafkan si penabrak, sama sekali tidak meminta ganti rugi. Bahkan Anda, yang saat itu kebetulan masih punya uang berlebih, malah memberikan uang semampunya kepada si penabrak untuk membantu biaya perbaikan mobilnya! Ini semata-mata Anda lakukan karena mengharap ridho Allah SWT.

Nah, dari semua tingkatan kesabaran, tingkatan ketiga ini mungkin bagi Anda terasa musykil, terkesan mengada-ada. Masa ada sih orang yang sebaik itu? Di Jakarta, kota yang keras dan kejam, tak kenal perasaan solidaritas sosial ini?

Jawabannya, tingkatan kesabaran semacam ini tidak mustahil dan bisa terjadi. Karena hal semacam ini sudah dicontohkan oleh Rasulullah dengan akhlaknya yang mulia. Begini ceritanya:

Menurut suatu hadist, diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW suatu saat pernah meminjam uang dari seseorang, dengan janji utang itu akan dilunasi pada tanggal tertentu. Namun, sebelum tanggal pengembalian yang dijanjikan itu, orang itu datang dan dengan kasar dan tidak sopan, menuntut Rasulullah agar melunasi utangnya saat itu juga.
“Hai, Muhammad! Kembalikan uangku sekarang!” begitu kira-kira ucapan orang tersebut secara lantang, ketika Rasulullah saat itu sedang berada bersama beberapa sahabatnya.

Cara menagih utang itu sangat keterlaluan, tidak etis, dan menyalahi perjanjian, sehingga banyak sahabat lain jadi marah. Tetapi Rasulullah bersabar.

Karena saat itu Rasulullah tidak punya uang cukup, beliau pun lalu meminjam uang dari sahabat-sahabatnya yang ada di situ untuk membayar utang. Rasulullah mengembalikan utangnya pada orang itu, dan kemudian bahkan memberi tambahan –meski tidak diminta—kepada orang itu. “Inilah bayaran utangku, dan ini kutambahkan beberapa dinar sebagai sedekah untukmu,” kira-kira begitulah ucapan Nabi Muhammad SAW.

Semoga kita semua diberi tingkatan kesabaran dan akhlak yang mulia, seperti yang diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW. Amiiinnn….!

Jakarta, 16 Mei 2013
Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)