Jangan Perlakukan Jokowi Seperti Obama

Ya, ini nasehat saya buat Anda semua yang "terlalu ngefans" sama Jokowi. Oh, jangan salah paham. Saya tidak benci Jokowi, malah saya mendukung dia jadi gubernur DKI Jakarta (walau sayangnya saya tak punya hak suara, karena sudah jadi warga Depok, Jawa Barat).

Saya percaya, Jokowi pada dasarnya baik. Tetapi biarkanlah dia bekerja dengan tenang. Biarkan dia membuktikan pada para pemilih bahwa dia memang layak dipilih jadi gubernur DKI. Terlalu banyak dielu-elukan dan dipuji kanan-kiri bisa membuat orang lengah, bahkan bisa kontraproduktif. Membuat film tentang Jokowi ketika beliau baru menjabat (belum setahun!) dan praktis belum membuktikan banyak hal (meski harus diakui, ada beberapa langkah terobosan), adalah langkah yang terlalu cepat. Alhamdulillah, belum ada yang berencana mau bikin patung Jokowi!

Cobalah lihat contoh (buruk) kasus Barack Obama. Ketika dia baru dipilih jadi Presiden AS, ujug-ujug sudah diberi hadiah Nobel Perdamaian! Bayangkan, Nobel Perdamaian itu bukan penghargaan sembarangan. Waktu itu pun banyak juga yang protes, kenapa Obama diberi hadiah Nobel. Prestasinya apa?

Oleh Panitia Nobel dijawab, memang belum ada prestasi nyata, tetapi Obama dianggap memberi inspirasi bagi dunia, sebagai warga kulit hitam (dianggap warga kelas bawah) yang pertama bisa menjadi Presiden AS (untuk ukuran pengaruh, Presiden AS setara dengan presiden dunia).

Persoalannya baru muncul kemudian. Apakah Obama menunjukkan langkah-langkah atau prestasi konkret ke arah perdamaian? Ternyata banyak kontroversi. Janji menutup penjara Guantanamo, yang terbukti banyak melanggar HAM para tahanan, ternyata sangat lamban terealisasi. Tentara AS tetap bercokol di Irak dan Afganistan, meski jumlahnya dikurangi.

Obama malah membiarkan "operasi pembunuhan tanpa pengadilan", dengan mengizinkan pesawat tanpa awak AS terbang dan membom banyak warga sipil Afganistan, yang dengan gampangnya disebut sebagai "teroris." Bahkan sekutu AS sendiri, pemimpin Afganistan Hamid Karzai, mengecam aksi pesawat-pesawat tanpa awak ini.

Obama juga banyak kompromi (baca: tunduk) pada Israel, sehingga proses perdamaian Palestina-Israel makin tak jelas juntrungannya. Sekarang Obama berancang-ancang untuk menghabisi Suriah, satu-satunya negara Arab yang masih tegak melawan Israel.

Terakhir, Obama membela tindakan NSA (badan keamanan nasional AS) yang melakukan penyadapan terhadap jutaan percakapan telepon warga sipil. Ini tindakan yang dianggap melanggar hak privasi warga, dan memancing reaksi keras dari dalam negeri dan bahkan dari sekutu-sekutu AS di Eropa.

Dengan semua "prestasi" itu, hadiah Nobel Perdamaian itu jadi pudar maknanya di tangan Obama. Nah, jadi jangan biarkan nasib Jokowi menjadi seperti Obama!

Jakarta, 12 Juni 2013

Satrio Arismunandar
081286299061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)