Kereta Api Terakhir ke Surga (Kisah Hikmah)

Pagi ini, ketika berangkat ke kantor naik KRL Commuter, dari stasiun Depok Baru ke Cawang, saya melihat seorang anak muda. Perawakannya sedang, biasa saja, berkaos T-shirt dan berkacamata. Tampaknya mahasiswa, karena dia nemakai jaket hitam bertulisan “Fisika UI”.

Sepanjang perjalanan, sambil berdiri dia asyik dengan gadgetnya, tidak tengok kiri-kanan. Saya lirik, terlihat tulisan beraksara Arab. Ternyata dia lagi membaca Al-Quran di gadget itu, yang mungkin sudah dia download secara digitral.

Saya lalu membayangkan, ini suatu “khayalan mistis,” bagaimana jika seluruh gerbong rangkaian kereta ini berisi orang yang semuanya sibuk berdoa, berdzikir, bertasbih, bertahmid, bertakbir, bersholawat, dan membaca Al-Quran. Wah, jangan –jangan ini kereta yang sedang menuju surga! Sedangkan saya, mantan wartawan yang kebetulan ada di situ, ikut terangkut ke surga juga dong..he..he..he…

Soalnya, pernah ada yang bilang bahwa orang dinilai dari lingkungan tempat dia mangkal. Jadi, jika Anda karena satu dan lain hal bisa berada di forum orang saleh di masjid, yang sedang sibuk berdoa, berdzikir, dan memuji nama Allah SWT, maka pahala yang dilimpahkan ke majelis itu juga terkena ke Anda. Anda ikut kecipratan pahala dan berkahnya. Nama Anda pun ikut dicatat oleh malaekat sebagai bagian dari majelis yang dimuliakan.

Tetapi kalau Anda senang kongkow-kongkow bersama pecandu narkoba, meskipun Anda bukan pengguna, jika ada penggerebekan oleh polisi, ya jangan salahkan polisi jika Anda ikut digaruk ke sel tahanan. Paling tidak untuk sementara, sampai ada pembuktian bahwa Anda benar-benar bukan pengguna/pengedar narkoba.

Nah, kembali ke soal kereta tadi, saya jadi teringat, pada puluhan tahun lalu di TVRI ada drama berjudul kalau tak salah: “Kereta Terakhir ke Surga.” Kisahnya bersifat simbolis, mistis, religius. Ada kereta api yang sudah mau berangkat ke surga, tetapi sementara masih menunggu di peron stasiun, sampai orang-orang yang mau ke surga masuk ke dalam gerbong.

Nah, ada seorang pengusaha kaya, pejabat, atau pokoknya seorang penting dalam konteks keduniawian, yang selalu menunda-nunda masuk ke gerbong. Ketika diingatkan, dia selalu beralasan, “Wah, maaf. Saya masih ada urusan penting yang masih harus saya selesaikan… Nanti deh, saya akan masuk ke gerbong. Tunggu dulu ya…” Begitulah selalu jawabannya, ketika diminta masuk ke gerbong oleh petugas stasiun.

Sampai suatu ketika, dia mendadak sadar bahwa jam keberangkatan sudah sangat mepet. Terburu-buru, takut terlambat, dia segera ke stasiun . Tetapi ketika sampai di sana, stasiun sudah kosong senyap. Cuma ada seorang petugas stasiun, yang mengatakan, “Maaf, Pak. Kereta api terakhir ke surga sudah berangkat… Bapak sudah ditunggu-tunggu sejak tadi, tapi karena jadwal keberangkatan sudah tidak bisa ditunda lagi, akhirnya kereta berangkat tanpa bapak…”

Drama ini meskipun sederhana, dimainkan oleh aktor-artis lokal (yang saya sudah lupa namanya), sangat mengesankan bagi saya. Intinya, urusan dunia ini tidak akan pernah ada habis-habisnya. Jika Anda bilang, untuk urusan akhirat nanti dulu deh, saya mau menyelesaikan dulu urusan ini dan itu (pekerjaan, karir, kekayaan, bisnis, dsb), percayalah Anda tak akan pernah punya waktu.

Sehingga jangan menjadikan itu sebagai alasan untuk terus menunda-nunda mendekat kepada Allah SWT. Karena Anda tidak pernah tahu, kapan kehidupan Anda akan berakhir, dan apakah pada saat terakhir itu Anda memang sudah “siap berangkat” dan sudah masuk dalam daftar penumpang kereta api terakhir ke surga…

Jakarta, 27 Juni 2013

Satrio Arismunandar
081286299061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI