Ketika Sandal Anda Dicuri Orang (Momen Berkah)....


Mungkin Anda pernah mengalami hal ini. Hal kecil dan sepele sebetulnya, tetapi bikin jengkel. Sandal Anda dicuri orang ketika Anda sedang sholat di suatu tempat, atau Anda kecopetan ketika sedang belanja di pasar, atau sedang di dalam bus yang penuh penumpang.

Apa reaksi kita jika mengalami hal itu? Bisa beragam. Tetapi yang sering saya lihat adalah orang cenderung memaki, mengumpat, mengeluh, atau menyumpahi maling tersebut. Yah, itu memang hak Anda untuk bereaksi apa pun. Tetapi, jika Anda melakukan hal itu, Anda sebetulnya telah menyia-nyiakan momen berharga. Apa itu? Yaitu, momen doa yang makbul.

Saya diajari tentang hal ini oleh seorang ustadz di Masjid Lautze, Jl. Lautze No. 89, Jakarta, yakni masjid yang didirikan oleh Haji Karim Oei. Waktu itu (saya sudah lupa persisnya, mungkin sekitar tahun 2005), saya masih bekerja sebagai Producer di Divisi News Trans TV dan kebetulan sedang membuat dokumenter Perjalanan Islam di Indonersia. Salah satu episodenya memang membuat profil tentang Masjid Lautze dan kehidupan Muslim Tionghoa di Indonesia.

Ustadz itu mengatakan ke saya, salah satu doa yang dijamin dikabulkan Allah SWT adalah doa orang teraniaya. Nah, ketika kita jadi korban kejahatan atau kecopetan, status kita sebetulnya adalah orang teraniaya.

Oleh karena itu, ketika tertimpa “musibah” kehilangan tersebut, manfaatkanlah momen langka itu untuk berdoa apa saja, memohon hajat yang Anda perlukan. InsyaAllah, akan dikabulkan. Tetapi kalau Anda terpancing kemarahan dan sibuk memaki-maki atau menyumpahi orang (sekalipun orang itu pencuri), berkah doa itu hilang.

“Saya pernah mengalami kehilangan sandal ketika sholat di masjid. Saya lantas berdoa, semoga tahun itu saya diizinkan Allah SWT untuk bisa pegi Umroh. Padahal saya tidak punya uang saat itu. Tahu apa yang terjadi? Entah bagaimana prosesnya, tanpa dinyana, ada seorang dermawan yang tahu-tahu menawarkan, untuk membayari ongkos saya beribadah Umroh. Maka meski awalnya tidak punya uang, jadilah saya tahun itu pergi Umroh. Alhamdulillah, doa saya terkabul,” tutur sang Ustadz, yang kebetulan warga Muslim keturunan Tionghoa itu.

Sang ustadz itu lalu memberitahu saya “kiat-kiat” lain, memanfaatkan momen doa makbul, yang sering tidak diperhatikan orang. Yaitu, doa ketika sehabis acara akad nikah, dan doa seorang yang baru masuk Islam (mualaf). “Ketika sedang dibacakan doa itu dan banyak orang meng-amin-kan doa, Anda cepat menyisipkan doa Anda sendiri, sesuai kebutuhan Anda sendiri. Pada momen itulah, doa Anda sebetulnya telah ikut di-amin-kan oleh banyak orang lain,” ujar sang ustadz. InsyaAllah, doa itu juga akan dikabulkan Allah.

Jakarta, 3 Juni 2013

Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI