Penerapan Kartu Commet KRL Bikin Antrian Panjang di Stasiun Depok Baru


Pagiku hari ini dimulai dengan sesuatu yang menjengkelkan. Ketika berangkat ke kantor dari Depok II, mau naik KRL Commuter dari Stasiun Depok Baru, ternyata di loket antriannya panjaaaang banget. Mungkin panjang antriannya lebih dari 60 meter!

Karena penggunaan kartu Commet yang elektrik itu (baru mulai dioperasikan awal Juni 2013), penanganan tiket elektrik untuk tiap calon penumpang lebih lama dari tiket kertas biasa. Calon penumpang pagi ini jumlahnya ada ratusan, sedangkan jumlah loket cuma 5 (total untuk yang kelas ekonomi dan commuter). Mana semua orang buru-buru mengejar waktu, maka situasi antri ini bikin hati kesal.

Aku sendiri dari stasiun Depok Baru harus turun di Stasiun Cawang, dan dari situ naik bus Patas 89 jurusan Blok M- Tanjung Priok. Jumlah bus P 89 ini cuma dua. Jadi, jika sampai Stasiun Cawang sudah pukul 7.30, aku bakal kehabisan bus dan harus cari kendaran pribadi omprengan (tarif Rp 5.000 - Rp 6.000).

Tapi ini bikin stres karena belum tentu mobil omprengan ini ada pada saat kritis yang dibutuhkan. Sedangkan aku harus sampai di kampus Kwik Kian Gie School of Business, Jl, Yos Sudarso, Sunter, pukul 8.00. Toleransi keterlambatan cuma 15 menit. Kalau terlambat sampai 5 kali dalam sebulan, bisa dapat Surat Peringatan.

Ya... inilah dinamika menjadi karyawan swasta, bukan lagi wartawan TV yang bisa masuk-pulang kantor secara fleksibel. Tapi hidupku secara fisik kini lebih sehat dan lebih bugar, karena tubuhku banyak bergerak dan secara tidak langsung itu kan olahraga (mengejar bus, antri di stasiun, jalan kaki dari angkot ke stasiun, dan dari kantor ke halte bus, dst.)

Jakarta, 5 Juni 2013
Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)