Percakapan Tiga Anggota Intel tentang Jokowi (Hasil Sadapan CIA)


Alkisah terjadi pertemuan antara tiga orang anggota intel RI di suatu tempat di Jakarta. Mereka adalah anggota Intel TNI, Intel Polri, dan Intel BIN. Pertemuan koordinasi bulanan semacam ini adalah hal rutin, dan yang jadi koordinator dan tuan rumah biasanya intel BIN.

Percakapan mereka ternyata disadap oleh intel CIA di Jakarta, namun hasil sadapan ini ketika dikirim ke Langley, Virginia (lokasi CIA Headquarter) bocor oleh seorang peretas (hacker) yang kebetulan anggota komunitas Facebook AHM (Aliansi Hacker Marhaen). Demi kepentingan nasional, hasil bocoran itu di-share di sini. Rupanya pembicaraan para intel ini adalah menyangkut prospek Jokowi menjadi Capres pada 2014. Berikut hasil sadapannya:

Intel BIN: Berbagai survey menunjukkan, popularitas Jokowi meningkat dan paling tinggi di antara para tokoh lain, jika maju untuk pilpres 2014. Gimana pendapat TNI? Nggak masalah Negara dipimpin sipil?
Intel TNI: Yah, jika itu sudah jadi kehendak rakyat. Zaman sudah berubah. Sekarang TNI tidak mau pusing merekayasa siapa yang jadi capres. Yang penting Pancasilais, setia pada UUD 45 dan mendukung NKRI.

Intel BIN: Saya pikir juga begitu. Jokowi dari tiga aspek itu aman. Dia juga Islam, mewakili simbol mayoritas, tapi bukan Islam radikal. Nasionalis-lah…
Intel TNI: Dia juga Jawa, tapi tidak Jawa-sentris. Artinya acceptable dan cukup mengayomi buat seluruh warga RI.

Intel BIN: Tetapi siapa pasangan Wapres yang cocok buat Jokowi? Gimana kalau Prabowo?
Intel TNI: Wah, apa Pak Prabowo mau jadi nomor 2 di bawah tokoh sipil yang dianggap yuniornya pula? Beliau kan dominan sekali. Nanti banyak friksi…

Intel BIN: Aburizal Bakrie?
Intel TNI: Dia banyak kasus. Urusan lumpur Lapindo saja belum selesai. Nanti malah membebani Jokowi…

Intel BIN: Megawati?
Intel TNI: Masa dua-duanya dari PDI Perjuangan?

Intel BIN: Wiranto?
Intel TNI: Era beliau sudah lewat. Nanti ada kasus HAM dikorek-korek lagi…

Intel BIN: Hatta Rajasa?
Intel TNI: Jadi Menko Perekonomian saya pikir sudah jabatan maksimal untuk Hatta.

Intel BIN: Gita Wirjawan? Atau Sri Mulyani?
Intel TNI: Belum bosan ya di bawah rezim neoliberal? Sri Mulyani juga masih kena kasus Century. Repot nantinya…

Intel BIN: Kalau tokoh Islam, seperti Hidayat Nur Wahid?
Intel TNI: Dibandingkan tokoh PKS lain, yang sudah lupa daratan di kursi kekuasaan, dia memang agak mendingan. Tetapi kasus impor daging sapi akan terus membelit lembaga PKS sampai 2014. No way!

Intel BIN: Kalau Jusuf Kalla?
Intel TNI: Aah, itu lumayan. Tapi sebaiknya kita cari generasi lebih muda, biar ada regenerasi…

Intel BIN: Anas Urbaningrum?
Intel TNI: Ha..ha..ha… bercanda ya? Kalau dia bisa selamat dari kasus Hambalang saja sudah harus sujud syukur seribu kali…

Intel BIN: Nah, saya pikir Dahlan Iskan bolehlah. Banyak bikin gebrakan dan lumayan populer…
Intel Polri: (Yang selama ini berdiam diri, mendadak memotong bicara) Wah, jangan deh… Tidak! Sebaiknya tidak!

Intel BIN: Lho, kenapa?

Intel Polri: Aku lagi pusing nih. Kalian sih enak, bisa omong apa saja. Secara nggak resmi, aku kan juga ditugasi mengamankan asset para pimpinanku, yang punya rekening gendut dan simpanan di mana-mana. Lha, kalau Jokowi-Dahlan jadi pasangan RI-1/RI-2, gimana aku bisa mengamankan aset para jenderal???

Sumber: AHM (Aliansi Hacker Marhaen) yang meretas traffic informasi CIA.

Jakarta, 4 Juni 2013
Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI