Pertentangan Kelas dan Logika Sesat dalam Isu BBM

Saya paling sebal membaca logika sesat, yang sering terlalu disederhanakan, dalam propaganda untuk mendukung kenaikan harga BBM. Misalnya:

1. Menolak kenaikan harga BBM = mendukung orang kaya memboroskan BBM

2. Menolak kenaikan harga BBM = mendukung mafia migas yang mendapat untung dari harga BBM murah

3. Menolak BLSM = tidak pro orang miskin

4. Menolak kenaikan harga BBM = orang yang tidak rasional, hanya sekadar emosi

Pemerintah tampaknya hobi banget memainkan isu "pertentangan kelas" kaya vs miskin dalam isu BBM. Seolah-olah dengan menaikan harga BBM, pemerintah sangat pro orang miskin....

Padahal, kalau betul-betul dibedah, pemerintah sangat pro orang kaya:

1. Banyak konglomerat ngemplang pajak, milyaran sampai trilyunan, nggak masalah

2. Banyak pejabat dan aparat hidup mewah dengan fasilitas negara, dan punya rekening gendut yang tidak masuk akal, juga tidak masalah

3. Orang miskin sulit pinjam uang, meskipun pinjamnya kecil saja, karena tak punya jaminan. Dengan mudah orang kaya dapat pinjaman besar-besaran. Kalau nanti nggak sanggup bayar karena salah kelola, nanti kan ditalangi pemerintah (ingat skandal Century, BLBI, dll)

4. Rakyat kecil (yang memang sudah hidup di batas garis kemiskinan) disuruh berhemat, tapi para pejabat migas tidak pernah dikurangi penghasilan dan fasilitasnya yang serba wah...

5. Nah, sekarang ketika pemerintah main main mudahnya saja menaikkan harga BBM, saya tanya:

- Apakah pernah ada mafia migas yang ditangkap, diadili, dan dihukum? Siapa? Berapa banyak? (yang saya maksud mafia BBM ini bukan kelas sopir angkot atau pedagang BBM dalam botol di pinggir jalan, tetapi yang mainnya kelas miliaran, bahkan triliunan)
- Apakah sudah ada langkah efisiensi dan menghilangkan berbagai kebocoran dalam pengelolaan migas? Di mana? Kapan dilaksanakan?
- Apakah pernah ada pengurangan fasilitas mewah yang kita tahu saat ini dinikmati para pejabat di sektor migas? Di mana? Kapan? Dalam bentuk apa?


Capek deh.....

Jakarta, 19 Juni 2013

Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI