Rakyat Kecil Di-Fait Accompli untuk Menerima Kenaikan Harga BBM

Perumpamaannya begini. Anda punya teman yang hobby mabok dan main judi. Maka hidupnya morat-marit karena hobby buruk itu. Suatu saat dia datang ke rumah Anda, menangis gaya lebay dan bilang mau minta atau pinjam duit Rp 500.000.

Alasannya, anaknya sudah 4 bulan tidak bayar SPP, dan jika besok tidak dibayar minimal Rp 500.000, anaknya akan dikeluarkan dari sekolah. Semua teman lain sudah diminta bantuan, tapi tak ada yang mau kasih. Tinggal Anda, satu-satunya teman yang masih diharap bisa mengerti kondisi dia.

Anda kini di-fait accompli. Jika Anda kasih dia Rp 500.000, Anda tidak yakin duit itu berarti banyak, karena hobby judi dan minum-minumnya masih berlanjut. Suatu saat dia kemungkinan besar akan datang lagi dan minta duit lagi. Dari Rp 500.000 itu Anda juga tidak yakin semuanya buat SPP anak. Mungkin sebagian juga ditilep buat main judi atau beli minuman keras.

Tapi jika tidak Anda kasih, Anda akan tampak sebagai teman yang "kejam," teman yang tidak pengertian, teman yang tega membiarkan seorang anak sahabat diberhentikan dari sekolah. Keputusan harus diambil sekarang karena besok deadline membayar tunggakan SPP.

Itulah yang terjadi pada kenaikan harga BBM sekarang. Rakyat kecil di-fait accompli untuk berkorban demi "kepentingan nasional," sementara kita tahu SBY tidak tegas terhadap para konglomerat yang mengemplang pajak, para mafia migas yang kemungkinan juga setor uang ke partai Demokrat atau kroni sekitar SBY, para pejabat migas yang fasilitasnya tetap mewah dalam kondisi ekonomi apapun (kalau toh perusahaan rugi, bonus tetap harus diberi ke pejabat), ada sisa anggaran departemen/kementerian tiap tahun yang dihabiskan buat kegiatan jor-joran, dll.

Jadi itulah campur aduk perasaan rakyat terhadap kenaikan harga BBM. Jadi, secara MORAL saya menolak kenaikan harga BBM manakala masalah-masalah kronis, pemborosan, ketidakefisienan, korupsi, dll khususnya di sektor migas ini dibiarkan saja, malah dilestarikan.

Tetapi secara TEKNIS-PRAKTIS-PRAGMATIS saya terpaksa menerima kenaikan harga BBM karena kondisi darurat kronis yang dihadapkan ke rakyat. Itulah sikap saya!

Jakarta, 19 Juni 2013

Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)