Teknik Menulis Feature a'la Majalah Tempo (Bagian 5)


TRANSISI

Anda sedang menulis feature dengan catatan panjang yang mencakup macam-macam fakta tentang pokok persoalan yang akan Anda tulis. Setiap potong informasi sama halnya dengan sebuah batu bata yang harus digabung dengan batu bata lain agar terbentuk bangunan cerita. Di antara sejumlah "batu bata" ada transisi -- "adukan semen" yang merekatkan batu bata-batu bata itu menjadi keseluruhan cerita.

Transisi bisa berwujud satu kata, rangkaian kata, kalimat, atau mungkin paragrap. Ia punya dua tugas.
1. Ia memberi tahu pembaca bahwa Anda pindah ke materi yang lain.
2. Ia meletakkan materi yang lain itu pada perspektif yang selayaknya.

Dalam penulisan berita, transisi mudah dilihat. Penulis memadu fakta-fakta menjadi pemaparan pendek-pendek yang satu sama lain direkatkan menjadi satu cerita.

Contohnya:
Para penjahat bertopeng yang mengacungkan senjata merampok bank 400 ribu dolar pagi ini.
Para bandit masuk pintu depan jam 09.15, memerintahkan langganan dan pegawai bank tengkurap di lantai, kemudian menguras laci-laci uang tunai dan kotak uang.
Selama perampokan itu, terdengar sekali tembakan, tapi tak ada yang luka.
Kemudian, sersan polisi William Bowling menemukan mobil kosong dua kilometer dari bank. Ia tidak menemukan uang.
Dekat mobil itu, polisi menemukan kantong-kantong uang kosong yang bercap
bank tersebut.
Sebelum perampokan itu, polisi sudah diberi tahu agen-agen FBI bahwa ada tiga perampok bank dari luar kota yang diperkirakan beroperasi di kota itu.
Tapi, kata seorang juru bicara FBI, ketiga perampok yang berumur 20 tahunan itu tidak cocok identitasnya dengan perampok yang dilaporkan itu.


Transisi harus sedemikian rupa, hingga pembaca tidak boleh merasa terganggu olehnya.

TEKNIK PENULISAN

Sampai di sini, Anda sudah mempunyai unsur-unsur lengkap untuk menulis feature. Lead adalah kepala, struktur adalah kerangkanya, ending berarti ekornya, dan transisi adalah tali sendi yang mengikat unsur-unsur menjadi satu.
Penulis harus memakai teknik untuk menjaga agar semuanya berada pada tempatnya. Meskipun banyak teknik untuk itu, ada tiga yang pokok.

1. Spiral. Setiap alinea (paragraf) menguraikan lebih terinci persoalan yang disebut alinea (paragraf) sebelumnya.
2. Blok. Bahan cerita disajikan dalam alinea-alinea yang terpisah, secara lengkap. Catatan: bila paragraf terlalu panjang, potong saja menjadi beberapa bagian lebih kecil.
3. Mengikuti Tema. Setiap alinea (paragraf) menggarisbawahi atau menegaskan lead-nya.

Kebanyakan penulis profesional memilih beberapa teknik, tergantung panjang dan jalannya cerita. Ini dilakukan supaya orang tidak bosan karena membaca teknik yang itu-itu juga.
Dalam menulis, beberapa petunjuk dasar dipergunakan untuk menyajikan tulisan dengan cara yang paling menarik supaya menawan pembaca.

Alinea pendek. Paragraf atau alinea yang panjang hanya membuat pembaca segan membaca karena mengira tulisan itu susah dibaca. Potonglah paragraf yang kelihatan terlalu panjang.
Ingat bahwa Anda menulis dengan gaya pers, bukan bahasa formal. Guru-guru bahasa memang menekankan perlunya pengelompokan materi yang berkaitan dalam satu paragraf. Tapi wartawan yang praktis dengan segera mengorbankan bentuk itu supaya mudah berkomunikasi.

Tulislah singkat dan sederhana. Kalimat majemuk yang panjang kadang kala memang benar menurut tata bahasa. Tapi bila ternyata pembaca tersesat dan bingung, penulis itu gagal berkomunikasi. Tapi jangan lantas menjadi fanatik pada kalimat pendek. Kalau kalimat Anda hanya terdiri atas pokok kalimat, kata kerja, dan obyek terus-terusan, pembaca akan mengantuk setelah membaca dua paragraf.

Menyusun feature yang membuat pembaca tidak mengantuk, gampang saja. Setiap kalimat harus gampang diikuti dan mudah dipahami. Kadang-kadang kalimat sederhana bisa melakukan fungsi ini. Tapi kalau itu-itu saja yang dipakai, orang akan jemu.
Penggunaan kalimat sederhana memperkecil risiko salah menggunakan kata sambung. Sebab, dalam pers, walaupun beberapa aturan tata bahasa sering di-"abaikan", kalimat harus logis dan benar tata bahasanya.

KISAH NYONYA SULAIMAN

Setelah Anda memiliki alat-alat dasar untuk membuat feature, mari kita susun sebuah feature dari kejadian ini:

Dalam tugas sebagai seorang reporter kepolisian Anda mendengar dua polisi bercerita tentang seorang wanita tua yang menyapu halaman di depan rumahnya pada pukul 2.00 pagi setiap hari. Polisi mengatakan kepada Anda bahwa wanita itu tidak hanya menyapu persis di depan rumahnya, tapi juga sepanjang gang. Karena ingin tahu, Anda ikut mobil patroli polisi dengan harapan bisa bertemu dengan wanita itu.

Tepat pukul 2 malam polisi sampai di Jalan Kurcaci, dan benar, Anda melihat wanita itu sedang menyapu. Polisi menghentikan mobilnya dan menyalami wanita itu yang kemudian membalas senyum. Anda mendekati wanita itu, kemudian memperkenalkan diri sebagai wartawan. Salam basa-basi telah Anda lakukan dan seterusnya.
"Mengapa Ibu menyapu setiap jam 2 malam?"
"Saya tidak ingin tetangga melihat saya dan mengira saya berusaha menjadi orang yang baik hati. Gang ini kotor dan petugas balai kota tidak membersihkannya, maka saya pikir harus ada orang yang membersihkannya," jawabnya.
Nah, Anda telah menemukan calon cerita feature, maka Anda pun meneruskan.

"Maaf, Ibu namanya siapa dan tinggal di mana? Saya ingin membuat cerita tentang Ibu," kata Anda.
"Cerita? Saya tidak ingin dimuat di koran. Saya tak mau tetangga tahu."
"Saya maklum," kata Anda. "Tapi saya harap Ibu berpikir kembali karena masyarakat ini perlu mengembangkan semangat itu, dan Ibu menjadi teladan. Mungkin banyak orang nanti akan mulai bangga pada lingkungan mereka dan mulai melakukan pekerjaan untuk kepentingan masyarakat. Juga, bila bapak-bapak membaca tulisan ini, mereka akan mulai membersihkan gang ini."
Wanita itu mempertimbangkan alasan Anda, bimbang sebentar, kemudian setuju.
"Kalau engkau pikir ada manfaatnnya, baiklah ...."
"Tentu," Anda jawab.
"Nama saya Selasih Sulaiman, dan saya tinggal di sana, Jalan Kurcaci nomor 16," katanya.
"Berapa umur Ibu? Sudah berapa lama Ibu melakukan hal ini?"
"Umur saya 69 tahun -- dan saya sudah melakukan hal ini sejak suami saya meninggal tahun yang lalu. Saya tidak punya pekerjaan, tetangga saya semuanya sibuk, selalu bekerja, maka yang kecil inilah bagian saya."
"Selain bapak polisi ini, apa ada orang lain yang berhenti dan menyapa Ibu?"
"Malam-malam begini sedikitlah orang yang keluar," katanya sambil tertawa kecil. "Kadang-kadang anak-anak muda lewat di sini kalau Minggu pagi. Mereka mainkan klakson. Mereka tidak mengganggu saya. Mereka selalu melambaikan tangan.
"Suatu saat ada pencuri. Polisi ini mengetahuinya. Waktu itu saya akan keluar menyapu dan melihat orang yang sedang bersembunyi di balik semak. Maka, saya masuk lagi dan menelepon polisi. Kedua polisi yang baik hati ini datang dua menit kemudian dan menangkap orang itu yang sedang merangkak ke jendela tetangga sebelah."
Polisi itu mengangguk dan tertawa kecil.
"Apakah gang ini selalu kotor?"
"Tidak," wanita itu mengakui. "Tidak selalu kotor, tapi wanita tua seperti saya ini perlu beramal. Karena suami saya sudah meninggal dan anak cucu sudah dewasa saya harus melakukan sesuatu."
"Apakah Ibu khawatir akan keselamatan Ibu?"
"Tidak, tidak, bila ada kawan-kawan polisi di dekat saya. Dua pemuda ini selalu mengontrol setiap malam untuk melihat apakah wanita tua yang gila ini aman. Saya menyapu setengah jam dan mereka selalu datang pukul 2.10 kemudian pergi jam 2.20, seperti arloji saja."
"Apakah Ibu senang dengan tetangga?"
"Ya, mereka baik-baik," katanya. "Anak-anak memanggil saya Nenek dan selalu datang pada saya. Saya bikinkan kue untuk mereka asal ibu mereka tidak melarang. Para pria di sini juga baik-baik, membantu saya mengangkat barang-barang. Malah mereka mengecat rumah saya dengan gratis. Dan wanitanya, ketika saya agak sakit bulan Januari yang lalu, mereka merawat saya. Tidak banyak wanita tua beruntung seperti saya ini."
Dengan tertawa gembira, ia menambahkan, "Mungkin saya sudah tua, tapi saya berusaha berpikir muda. Itulah kunci hidup supaya menyenangkan, berpikir muda."

Anda mengucapkan terima kasih kepadanya dan naik lagi ke mobil polisi. Anda duduk dan memperhatikan dia sebentar. Ia membungkuk di atas sapunya, bernyanyi kecil, sebuah lagu Sunda. Jalannya terhuyung-huyung, langkahnya hati-hati. Rambutnya yang memutih diatur rapi. Anda mengingat matanya yang jernih, dan mukanya sudah berkerut karena usianya. Kerutan wajahnya mencerminkan kegembiraan karena mereka membentuk pola sekitar mata dan mulutnya yang selalu dihiasi senyum selama 69 tahun.

Anda memiliki feature nomor wahid! Sebagai seorang reporter yang baik, Anda memanfaatkan kepribadian dan sopan santun Anda untuk membujuk wanita tua itu agar berbicara. Anda memancing semangat pengabdian kemasyarakatan wanita itu untuk memberi alasan kepadanya supaya bicara. Beberapa pertanyaan lain bisa dicari jawabannya untuk menghasilkan tulisan yang lebih baik, tapi sementara itu Anda tahu bahwa Anda telah mempunyai segala unsur yang diperlukan. Langkah berikutnya adalah menulis cerita itu.

Memilih lead: Melihat materi yang ada, Anda tahu bahwa cerita itu akan berjalan dengan sendirinya untuk lead deskriptif, ringkasan, kutipan atau lead yang bercerita. Lead lain mungkin juga, tapi Anda pastikan bahwa materi itu lebih baik dengan lead yang sudah disebut tadi. Karena menyangkut orang, Anda menentukan lead deskriptif kegemaran Anda - atau lead yang bercerita.

Anda coba lead deskriptif dulu:
* Hanya lampu terang dan gerakan sapu yang teratur yang memecahkan kesunyian malam, pada saat wanita tua itu menjalankan tugasnya membersihkan gang pada pukul dua malam.

Lead deskriptif ini memusatkan perhatian pada keadaan yang istimewa (jam dua malam orang menyapu jalanan). Setelah itu penulis merangsang minat pembaca dengan menyorot wanita tua dan sapunya:

Nyonya Selasih Sulaiman, 69 tahun, sudah sekitar setahun menyapu gang di Jalan Kurcaci, setiap jam dua malam, hampir setiap hari.

Lead ringkasan lebih sederhana. Dengan bahan feature yang kuat, lead ini bisa efektif:
Pukul dua pagi setiap hari, Nyonya Selasih Sulaiman menyapu gang depan rumahnya.

Pemakaian unsur waktu (pukul dua pagi) di situ tidak sekadar kata-kata percuma, karena unsur waktu itu sangat unik dan menarik perhatian.

Lead yang bercerita agak efektif juga, tapi mengurangi unsur kuat action-nya:
Menyusuri sepanjang gang pada pukul dua malam, wanita tua itu sibuk menyapu sambil menembangkan nyanyian Sunda yang gembira.

Misalkan Anda pilih lead yang deskriptif. Setelah alinea atau bagian berikutnya yang disebut "perangkai," Anda teruskan:

"Saya sudah melakukan hal ini sejak suami saya meninggal tahun lalu," Nyonya Sulaiman menjelaskan dengan senyum ramahnya. "Saya tidak punya pekerjaan lain. Semua tetangga saya sibuk, selalu bekerja, maka yang kecil inilah bagian saya."
Keheningan tugas malam ini hanya terganggu oleh patroli rutin mobil polisi. Petugas patroli Aritonang dan Sujiwo mendatangi gang itu pada saat Nyonya Sulaiman ada di luar.
"Ia wanita yang baik. Bila tidak ada tugas lain, kami senang mendatangi daerah ini," kata Aritonang.
"Kedua anak ini berpatroli setiap malam untuk melihat apakah wanita tua gila ini aman," kata Nyonya Sulaiman gembira. Meskipun ia menyebut dirinya "wanita tua gila," Nyonya Sulaiman menunjukkan pandangan hidup seorang realis.
Mengakui bahwa gang itu tidak selalu kotor, ia menjelaskan, "wanita tua seperti saya ini perlu beramal. Karena suami saya sudah meninggal dan anak cucu sudah dewasa, saya harus melakukan sesuatu."
Mula-mula, ia enggan berbicara tentang tugas malamnya membersihkan sampah di gang. Tetangganya tidak tahu pekerjaan itu.
"Saya tidak ingin tetangga melihat saya dan mengira saya berusaha menjadi orang yang baik hati. Gang ini kotor dan petugas balai kota tidak membersihkannya, maka saya pikir harus ada yang membersihkannya," katanya. "Saya tidak ingin ini dimuat di koran. Saya tidak mau tetangga tahu. Mengapa engkau risaukan saya keluar jam 2 malam?"
Hanya dengan imbauan bahwa ada kebanggaan masyarakat, ia mau bercerita dan berharap bahwa warga kota lainnya akan mengikuti jejaknya, tapi pada siang hari.
"Malam-malam begini sedikitlah orang yang keluar," katanya. "Kadang-kadang anak-anak lewat di sini kalau Minggu pagi. Mereka mainkan klakson. Mereka tidak menggangu saya. Mereka selalu melambaikan tangan."
Pekerja malam hari itu pernah satu kali menjadi penjaga tetangga yang sedang tidur dari kejahatan.
Suatu hari ketika ia sedang menyapu, Nyonya Sulaiman melihat seorang pria "bersembunyi di balik semak. Maka, saya masuk lagi dan menelepon polisi. Kedua polisi yang baik hati ini datang 2 menit kemudian dan menangkap orang itu yang sedang merangkak ke jendela tetangga sebelah."
Pada siang hari, tetangga di kiri kanan rumahnya dan sepanjang gang memanggil Nyonya Sulaiman "Nenek". Matanya yang sayu penuh perasaan bila bercerita tentang tetangganya. "Mereka baik-baik," katanya. Anak-anak memanggil saya 'Nenek' dan selalu datang pada saya. Saya bikinkan kue untuk mereka asal ibu mereka tidak melarang. Para pria di sini juga baik-baik, membantu saya mengangkat barang-barang. Malah mereka mengecat rumah saya dengan gratis."
Tetangganya, para wanita, merawat Nyonya Sulaiman ketika ia agak sakit bulan Januari yang lalu, katanya.
"Tidak banyak wanita tua yang beruntung seperti saya ini."
"Mungkin saya sudah tua, tapi saya berusaha berpikir muda, Itulah kunci hidup supaya menyenangkan, berpikir muda."

Setelah wawancara itu, Anda menghubungi beberapa tetangga untuk memperoleh materi yang baik untuk penutup yang wajar dan efektif.

Tetangga sepanjang gang memberi tangan hangat.
"Nenek itu adalah yang paling aneh yang dimiliki lingkungan di sini," kata Ny. Tanzil Setiawan, tetangga sebelahnya. Dan diteruskannya, "Kami mencintainya benar-benar."
Meskipun Nyonya Sulaiman berusaha menyembunyikan pekerjaannya pada jam dua malam, semua tetangga mengetahui hal itu.


(Selesai)

Jakarta, 5 Juni 2013

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)