Teknik Menulis Feature a'la Majalah Tempo (Bagian 3)


Lead deskriptif.

Lead deskriptif bisa menciptakan gambaran dalam pikiran pembaca tentang suatu tokoh atau tempat kejadian. Lead ini cocok untuk berbagai feature dan digemari reporter yang menulis profil pribadi.
Lead yang bercerita meletakkan pembaca di tengah adegan atau kejadian dalam cerita, sedangkan lead deskriptif menempatkan pembaca beberapa meter di luarnya, dalam posisi menonton, mendengar, dan mencium baunya.

Pemakaian ajektif (kata sifat) yang tepat adalah kunci untuk lead deskriptif. Seorang reporter yang baik bisa membuat tokohnya "hidup", seolah-olah muncul di tengah-tengah barang cetakan yang dipegang pembaca.
Reporter sering mencoba memusatkan perhatiannya pada satu unsur yang paling mencolok dari sosok dan penampilan tokohnya untuk diilustrasikan.

* Wajah Syaiful Rozi bin Kahar samasekali tak mengesankan bahwa ia seorang bajak laut. Ia berpembawaan halus, sopan, dan ramah (TEMPO, 28 Agustus 1993, "Perompak yang Halus dan Ramah").
Untuk kebanyakan pembaca, lead itu mendebarkan. Pembaca seolah-olah terpaksa menerima kehadiran seseorang yang berperangai halus, padahal ia bajak laut yang ganas.

Tokoh untuk lead ini tidak harus manusia. Objek tidak berjiwa pun bisa mempunyai "personalitas" yang bisa ditangkap secara efektif oleh pembaca dari sebuah lead deskriptif yang baik.
* Laksana tarian peri langit, asap membubung di atas Hotel Bali Beach yang membara terpanggang api (TEMPO, 30 Januari 1993, "Akhir Legenda dan Sejumlah Misteri Bali").

Lead deskriptif bisa menjadi karikatur yang efektif, seperti sketsa seorang pelukis, yang menekankan pada ciri pokok dan mengabaikan perincian yang tidak menarik.
Atau sebuah lead deskriptif bisa menampilkan tokohnya dalam perwatakan yang menarik, dengan cara menggambarkan sebuah latar (dekor) yang tepat.

* Bola mata Juani berkaca-kaca ketika mengintip kemenakannya, Soleka, yang sedang mandi sore itu. Dari balik pagar sumur yang jarang, ia melihat kain basahan Soleka sering tersibak (TEMPO, 2 Januari 1993, "Kasmaran Maut di Sarang Elang").
Menyadari bahwa selalu ada kemungkinan untuk membuat lead deskriptif, maka tidak mengherankan bila banyak reporter yang terpikat oleh lead jenis ini.

Lead kutipan.

Kutipan yang dalam dan ringkas bisa membuat lead menarik, terutama bila yang dikutip orang yang terkenal. Kutipan harus bisa memberikan tinjauan ke dalam watak si pembicara.
Ingat, lead harus menyiapkan pentas bagi bagian berikutnya dari cerita kita, sehingga kutipannya pun harus memusatkan diri pada sifat cerita itu.

Sebuah contoh lead kutipan begini:
* "Tangkap hidup atau mati." (TEMPO, 29 Januari 1994, "Hidup atau Mati: Gendut Dicari").
Kutipan keras itu diucapkan Kapolri Letnan Jenderal Banurusman. Umumnya pembaca akan langsung tergaet, ingin tahu bagaimana nasib orang yang sudah dipastikan harus ditangkap hidup atau mati itu.

Kerugian lead semacam ini adalah bahwa kutipan yang dipilih bisa keluar dari isi cerita, bila tekanan pokok diletakkan kepada kutipan itu saja.
Misalnya Anda mewawancarai seorang tukang ojek tentang rencana pembangunan kawasan Kota, Jakarta Pusat. Mungkin ia mengeluh, tentang rencana yang bakal menutup rezekinya itu dan berkata, "Kawasan Kota mau ditutup sampai Pelabuhan Sunda Kelapa? Wuih..." (TEMPO, 26 Juni 1994, "Menyulap Kawasan Kota").

Kutipan itu bisa menarik perhatian, sehingga seorang reporter mungkin memakainya sebagai lead. Tapi kutipan itu tidak secara tepat menggambarkan perasaan si tukang ojek itu secara keseluruhan. Bila wartawan tidak bisa memberikan penjelasan pada pembaca kapan kutipan itu keluar dan dalam kondisi bagaimana, jangan-jangan kutipan itu memang tak ada kaitannya langsung dengan isi cerita.

Lead pertanyaan.

Lead ini efektif bila berhasil menantang pengetahuan atau rasa ingin tahu pembaca.
Sering, lead ini dipakai oleh wartawan yang tidak berhasil menemukan lead yang imajinatif. Lead ini gampang ditulis, tapi jarang membuahkan hasil terbaik.

Dalam banyak hal, lead ini cuma taktik. Wartawan yang menggunakan lead ini tahu bahwa ada pembaca yang sudah tahu jawabannya, ada yang belum. Yang ingin ditimbulkan oleh lead ini rasa ingin tahu pembaca: yang belum tahu, mestinya terus ingin membacanya; sedangkan yang sudah tahu dibuat ragu-ragu apakah pengetahuannya cocok dengan informasi bung wartawan.

Banyak editor enggan memakai lead ini karena pembaca serinq dibuat kesal oleh jebakannya. Biasanya lead bercerita atau deskriptif lebih disukai.
Meskipun demikian, tidak berarti bahwa lead pertanyaan lebih rendah mutunya daripada yang lain. Kadang-kadang ada cerita yang bisa diberi lead pertanyaan secara wajar.
Seorang wartawan Sekretariat Negara yang menulis feature tentang kenaikan gaji pejabat tinggi bisa menulis begini:
* Berapa gaji Presiden Soeharto sekarang? (TEMPO, 23 Januari 1993, Presiden Naik, DPR Naik).
Seperti juga lead-lead yang lain, lead pertanyaan hanya bisa efektif bila materinya memang secara wajar bisa diberi lead pertanyaan.

Contoh lain:
* Apa yang membuat sekelompok orang ngotot, menolak pindah, meski gubuk tempat mereka tinggal terus dirayapi oleh air yang menggenang? (TEMPO, 27 April 1991, "Kedungombo").

Lead menuding langsung.

Bila reporter berkomunikasi langsung dengan pembaca, ini disebut lead menunjuk langsung. Ciri-ciri lead ini adalah ditemukannya kata "Anda" yang disisipkan pada paragraf pertama atau di tempat lain.

Keuntungannya jelas. Pembaca -- kadang-kadang tidak secara sukarela -- menjadi bagian cerita. Penyusunan kata-katanya melibatkan Anda secara pribadi dalam cerita itu.
Misalnya seorang reporter yang mangkal di kantor imigrasi dan menemukan adanya kesalahan cekal terhadap seseorang yang tidak bersalah, mungkin membuat lead demikian.
* Bila Anda punya nama "kodian", harap hati-hati. Salah-salah Anda kena cekal, tak boleh ke luar negeri (TEMPO, 30 Januari 1993, "Gara-gara Nama Sama".)

Lead seperti itu langsung melibatkan pembaca secara pribadi, rasa ingin tahu mereka sebagai manusia disinggung: jangan-jangan namanya atau nama keluarga dekat atau teman dekatnya tergolong nama kodian. Menggunakan lead seperti ini memang terasa sebagai taktik untuk memikat.

Ada contoh lain. Lead ini secara langsung menyeret pembaca ke dalam persoalan dan membawanya untuk membaca tulisan secara keseluruhan.
* Bila harus memilih antara diet kolesterol dan penyakit jantung, tentu Anda memilih yang pertama (TEMPO, 5 Februari 1994, "Para Eksekutif, kolesterol dan Jantung".)

Yang perlu diingat, membuat lead yang menuding langsung seperti contoh tersebut memerlukan imajinasi yang kuat. Sebab, ada bahaya di sini, salah-salah Anda membuat lead yang cenderung kedengaran sok dan amatir. Misal:
* Kalau (Anda) mau hidup enak dan terhormat, jadilah eksekutif di perusahaan konglomerat (TEMPO, 6 Februari 1993, "Eksekutif Jutaan Rupiah".)

Berbeda dengan yang sebelumnya, meski tetap punya daya tarik (hidup enak dan terhormat tentunya diminati umumnya orang), yang ini terasa kurang memikat. Soalnya, tak semua orang punya kesempatan menjadi eksekutif, apalagi di perusahaan konglomerat. Dengan kata lain, lead ini kurang melibatkan banyak pembaca secara pribadi.

Lead penggoda.

Lead penggoda ini adalah cara untuk "mengelabui" pembaca dengan cara bergurau. Tujuan utamanya menggaet perhatian pembaca dan menuntunnya supaya membaca seluruh cerita.
Lead jenis ini biasanya pendek dan ringan. Umumnya dipakai teka-teki, dan biasanya hanya memberikan sedikit, atau sama sekali tidak, tanda-tanda bagaimana cerita selanjutnya.
* Angka yang ditunggu-tunggu itu keluar juga: sekitar 50. (TEMPO, 4 Januari 1992, "Angka Misterius Santa Cruz".)

Dari kalimat itu pembaca belum tahu pasti kunci cerita tentang angka 50 itu. Justru karena itu keingintahuannya dibangkitkan, dan untuk memenuhi keingintahuannya itu, mau tak mau, ia akan membaca kelanjutan kalimat tersebut, sampai tahu apa yang dimaksudkan dengan "angka 50" itu. Setelah pembaca tahu teka-teki angka 50 itu (dalam hal ini adalah tentang jumlah korban kekerasan militer di kuburan Santa Cruz, Dili, pada tahun 1991), tergantung cerita itu sendiri apakah cukup menawarkan daya tarik untuk diikuti terus, atau tidak.
Cara lain menampilkan lead jenis ini, mengiming-imingkan (memamerkan) potongan fakta di depan hidung pembaca supaya terpancing untuk terus membaca:

* Pendatang baru itu tampak misterius dan agak menakutkan. Namanya memang bagus, Chlamydia pneumoniae, tapi wataknya merepotkan para peneliti (TEMPO, 19 Februari 1994, "Chlamydia yang Mempersulit Diagnosa").

Pembaca yang tak tahu apa atau siapa nama itu, tentunya bisa punya asosiasi macam-macam membaca lead itu: apakah itu seseorang, atau benda, atau apa. Barulah di kalimat-kalimat berikutnya diceritakan yang sebenarnya: “Itulah kuman penyebab penyakit radang paru-paru, yang tidak tergolong jenis bakteri, tapi juga bukan virus. Para ahli mengatakan, kuman itu membawa sebagian sifat bakteri, sebagian lagi sifat virus.”

Pembaca yang sudah tahu tentang kuman itu pun diharapkan tetap ingin membaca artikel ini, karena diiming-iming dengan kata "misterius" dan "menakutkan". Benarkah si Chlamydia itu semisterius dan semenakutkan sebagaimana ia ketahui, atau kurang dari itu, atau lebih menakutkan?

Lead nyentrik.

Hijau sayuran
Putihlah susu
Naik harga makanan
Ke langit biru


Reporter yang imajinatif -- meskipun tidak puitis -- bisa mencoba lead seperti ini pada saat menulis cerita tentang kenaikan harga. Lead ini memikat dan informatif. Gayanya yang khas dan tak kenal kompromi itu bisa menarik pembaca, hingga ceritanya bisa laku.
Lead ini paling ekstrem dalam bertingkah. Tapi kekurangajarannya bisa menggaet pembaca, bila reporter bisa mengikuti langkah pertamanya itu dengan cerita yang lincah dan hidup. Tapi nada lead ini susah dijaga sepanjang keseluruhan cerita.

Beberapa koran enggan memakai lead ini. Memang ada bahayanya. Wartawan hidup dalam dunia kata-kata. Lead nyentrik membuka peluang wartawan untuk mengobral permainan kata hingga memualkan. Hanya kebijaksanaan yang tegas yang bisa mencegah banjirnya permainan kata itu.
Lead nyentrik bisa juga hanya melukiskan suara bunyi-bunyian. Misalkan: "Tak dududuktak. Duk." (TEMPO, 5 Januari 1985, "Mereka Bergerak, Selebihnya Silakan Lihat.")

Lead gabungan.

Di surat kabar sering ditemukan lead yang merupakan gabungan dari dua atau tiga lead, dengan mengambil unsur terbaik dari masing-masing lead.
Lead kutipan sering digabungkan dengan lead deskriptif.
* "Bukan salahku bahwa aku belum mati sekarang," kata Fidel Castro dengan senyum lucu (TEMPO, 7 Mei 1994, "Castro, Revolusioner yang Belum Pensiun").
Lead penggoda bisa digabung dengan lead kutipan.

(Bersambung ke Bagian 4)

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI