Wajar, kan? (Joke tentang Kenaikan Harga BBM)

Pagi ini ketika Paijo berangkat naik angkot ke stasiun, oleh kenek dia diminta bayar Rp 4.000. Padahal tarif angkot biasanya Rp 2.500. Jawab si kenek: “Yaaah, harga BBM kan sudah naik. Jadi jika tarif angkot Rp 4.000, wajar kan?”

Dari stasiun Cawang, karena kehabisan bus arah Tanjung Priok, Paijo terpaksa naik omprengan ke kantornya di Sunter. Tarif omprengan biasanya Rp 5.000 sampai Rp 6.000. Namun kali ini si pemilik mobil omprengan minta Rp 7.500. Ujar si sopir: “Maklum deh, Pak. Harga bensin kan udah naik, jadi tarif saya naikkan jadi Rp 7.500. Wajar kan?”

Sampai di kantor, “boss” sekolah swasta tempat Paijo bekerja bikin pengumuman. Kata pimpinan sekolah: “Mulai hari ini dan seterusnya, tugas luar kota dibatasi. Fasilitas kue dan aqua gelas, untuk dosen yang bertugas menjaga ujian, juga ditiadakan. Kita perlu menghemat, karena harga BBM naik. Wajar kan?”

Malam itu, Paijo ada janji kencan dengan pacarnya di daerah sekitar Senayan. Ketika bertemu, sang pacar --yang berwajah mirip artis Korea-- bicara tanpa basa-basi: “Maaf, kita sebaiknya putus saja. Harga BBM naik, ekonomi makin sulit. Aku perlu cowok yang lebih bonafid, yang lebih bisa diandalkan daripada kamu. Wajar kan?”

Terakhir besoknya, istana Presiden didemo oleh mahasiswa yang protes kenaikan harga BBM. Presiden dituntut mundur. Presiden pun marah, dan menyuruh paspampres mendatangkan salah satu perwakilan demonstran. “Mengapa kamu minta saya mundur?” hardik Presiden.

Si aktivis mahasiswa menjawab: “Menaikkan harga BBM itu adalah langkah paling mudah bagi pemerintah untuk mensiasati krisis APBN, yang terancam jebol justru karena salah kelola dari pemerintah sendiri. Tetapi Bapak tidak sigap bertindak memberantas kebocoran, korupsi, ketidakefisienan sektor energi, dan membuat APBN dalam krisis. Harga BBM mahal karena pemerintah beli BBM lewat calo di Singapura, padahal seharusnya beli langsung ke negara asalnya. Kenapa praktik yang jelas-jelas merugikan Negara ini dilestarikan? Karena ada fee-nya? Ada komisinya? Karena ada sumbangan buat partai Bapak? Jadi kami meminta Bapak mundur saja. Wajar kan?”

Jakarta, 26 Juni 2013

Satrio Arismunandar
081286299061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI