Benarkah Tanpa Agama, Dunia Akan Damai?

Ada cukup banyak orang bilang, kalau semua agama dihapuskan, dunia akan damai. Bahkan musisi top The Beatles, John Lennon, implisit juga bilang begitu dalam syair salah satu lagunya, "Imagine." Komentar saya: Pernyataan itu menarik, enak dikutip, enak dijual sebagai tema seminar, sekaligus romantis. Tetapi sayang sekali, isi pernyataan tidak benar.

Tanpa agama, dunia ini akan tetap penuh konflik karena pada dasarnya semua orang memang berbeda, punya kepentingan berbeda, dan selalu ada orang yang ingin mendahulukan kepentingannya sendiri dengan menginjak kepentingan orang lain.

Benar, tanpa agama tidak ada lagi konflik antar agama atau antar-sekte atau aliran agama. Tetapi orang akan tetap berkonflik bahkan siap perang karena rebutan harta, rebutan tanah, rebutan uang, rebutan kekuasaan, rebutan perempuan, atau rebutan laki-laki (untuk yang perempuan atau yang homo), dan seterusnya. Jangankan orang lain, kakak-beradik yang satu keluarga, satu agama, satu etnis/ras yang sama, bisa bunuh-bunuhan karena rebutan harta warisan.

Makanya ada film dengan setting Perang Dunia II yang menggambarkan situasi prajurit Jerman dan prajurit Amerika. Ketika hari Natal, kedua pihak berhenti melakukan pertempuran untuk sementara karena sama-sama merayakan Natal. Selesai Hari Natal, perang berkecamuk lagi. Dalam film ini justru faktor agama yang membuat pertempuran berhenti, walau cuma sementara. Tetapi karena ada beda kepentingan yang dipaksakan oleh satu pihak terhadap yang lain, perang terus berlangsung sampai ada yang kalah.

Mungkin bagi yang mendukung "penghapusan agama" akan mengatakan: 1) bila tanpa agama minimal akan berkurang satu penyebab perang; 2) bila tanpa agama, uang untuk operasional / membangun gereja, masjid dsb bisa dialihkan untuk kemanusiaan, rumah sakit, pendidikan dsb.

Jawaban saya: Agama pada dasarnya bukan sumber konflik, tetapi sumber kedamaian. Tetapi agama bisa dijadikan sumber konflik, itu tergantung manusianya. Sama seperti harta. Harta bisa jadi sumber konflik, tapi bisa menjadi sumber kebaikan, jika digunakan secara benar (persis menjawab sanggahan nomor 2).

Tidak logis, jika demi "perdamaian" maka agama harus dihapuskan dengan alasan agama adalah sumber konflik. Apakah kita juga harus menghapus harta benda karena harta adalah sumber konflik? Agama malah menyuruh orang mengamalkan hartanya untuk kebaikan. Di Islam jelas ada kewajiban berzakat. Dalam konsep/tradisi/sejarah Islam, masjid bukan sekadar tempat ibadah tapi berbagai kegiatan kemasyarakatan yang besar maslahatnya.

Dengan menghapus agama, kita juga kehilangan manfaat agama yang menyuruh orang beramal dan berbuat kebajikan. Kerugian yang diderita akibat hilangnya agama bisa jadi jauh lebih besar daripada "keuntungan" yang diraih dari lenyapnya agama. Agama sebagai lembaga formal mungkin bisa hilang, tapi apakah manusia bisa hidup tanpa spiritualitas dan religiositas?

Jakarta, 29 Juli 2013

Satrio Arismunandar

Comments

Anonymous said…
Tentu saja bisa! Lihat sendiri negara-negara superpower sekuler di dunia (Inggris, Jepang, US), mereka jauh lebih berkembang dan pikirannya lebih terbuka dibanding negara yang dikunci oleh agama (Indonesia, Arab, Pakistan, Thailand).

Anda didoktrin untuk selalu memuja agama dan tuhan anda di atas segalanya, bahkan hidup anda sendiri, menutup mata anda terhadap pembantaian terbesar sepanjang sejarah yaitu perang salib yang jelas-jelas demi kepentingan agama "tanah suci", "orang kafir", dll. Silakan google sendiri bagaimana sejarahnya agama sebagai 'the greatest genocide in human history'.

Agama itu adalah alat untuk mengontrol massa, seperti yang anda katakan. Dengan satu ayat, sejuta orang bisa dikerahkan secara mutlak. Tanpa agama, kenapa harus ada pembunuhan? Bukannya sudah ada undang-undang hukum yang mengatur soal itu? Kalaupun agama dihapuskan, apakah berarti hukum tidak berlaku?

Jaman dulu, dunia memang terisolasi sehingga masyarakatnya homogen. Sekarang, abad 21 jaman globalisasi masyarakatnya sudah sangat majemuk. Tidak usah lihat jauh, di Indonesia sudah terlalu banyak suku dan tradisi, doktrin-doktrin agama tidak lagi pada tempatnya dan waktunya.

Agama adalah sumber konflik, menurut para filosofer Yunani adalah alat politik untuk menguasai orang. Coba anda pikir, ketika ada perintah yang membawa agama, apakah anda akan pikir panjang? Ketika ayat-ayat dikumandangkan, apakah anda akan mempertanyakan kebenarannya? Ketika sesuatu diharamkan, anda didoktrin untuk anti terhadapnya tanpa pikir panjang lagi. Budaya seperti ini merusak, egois, dan sangat tertutup pada perubahan.

Dengan menghapuskan agama, anda mengurangi satu kategori pengelompokkan orang yang sangat riskan terhadap diskriminasi. Seandainya tidak ada agama, sesama manusia akan lebih menghormati karena mereka merasa SAMA, tidak dibedakan oleh AGAMA. Kita sudah dibedakan oleh ras, warna kulit, bahasa daerah; mengapa harus sengaja menambah satu hal lagi untuk dijadikan alasan diskriminasi?

Ini abad 21 bung! Ritual dan doktrin jaman peperangan tidak bisa diterapkan di jaman modern. Sosiologis selalu mengatakan masyarakat akan selalu berkembang, begitu pula budayanya. Dengan berkutat pada satu kitab yang stagnan dan tidak akan pernah berkembang, masyarakatnya pun tidak akan pernah angkat kaki dari sana, dengan kata lain, terbelakang.

Silakan anda belajar lagi tentang psikologi agama.

Sekian.
Anonymous said…
Agama?
tidak perlu dipungkiri lagi,adalah alat pembuta massal.
Agama membantu orang menuju kehidupan yang lebih baik.
Perang salib melibatkan lebih dari puluhan juta tentara yang mengatas namakan diri mereka sebagai Crusader,Jihad,Templar,dan sebagainya. Semua dibutakan agama,hanya demi merealisasikan apa yang tertulis di Alkitab. Perebutan TANAH SUCI?
Itu? yang anda sebut sumber kedamaian?
Genosida lebih dari puluhan juta jiwa terbesar dalam sejarah umat manusia berlatar belakang pada suatu hal yang belum tentu benar "AGAMA"
Paus dengan rahasia Vatikan yang dibawa ke liang kubur,Mekkah dan Rasul yang jadi saksi Nabi.
AGAMA? hahaha.
anda hidup dijaman modern Abad 21. Agama dibentuk pada masa2 gelap dimana manusia butuh pengarahan,masih kuno.Sampai sekarang masih dipercaya? Jenius.

1 hal yang perlu kita percayai,Tuhan. tapi untuk kepercayaan tentang agama,sebaiknya anda berpikir lebih dalam sebelum anda semakin fanatik dan buta.
Parta Krisna said…
"Tuhan menciptakan manusia, tidak agama. Manusialah yang menciptakan agama. Tapi jangan mengambil agama dari manusia, karena apabila kamu melakukan itu, maka kamulah yang akan menjadi agama mereka."

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI