Berlatih Kungfu Shaolin di KRL Commuter Jakarta-Bogor

Siapa nyana, KRL Commuter Jakarta-Bogor akhir-akhir ini setiap pagi, saat jam berangkat ke kantor, ternyata telah menjadi sarana ideal untuk berlatih kungfu Shaolin. Terutama sejak berlakunya tarif progresif, yang membuat tarif terasa murah, dan penumpang kereta jadi membludak. Akan saya jelaskan jurus-jurus yang bisa dilatih di KRL tersebut:

Pertama, jurus lari “Terbang di Atas Rumput.” Bagi Facebooker “generasi tua,” yang menggemari komik silat Panji Tengkorak karya Hans Jaladara, mungkin ingat bahwa Panji pernah mengajarkan ilmu lari ini pada muridnya. Nah, ilmu lari ini perlu jika kita ingin mengejar kereta yang terlihat baru mau masuk ke stasiun, sedangkan kita masih sekitar 50 meter dari stasiun.

Kedua, jurus “Sabar Seribu Tahun.” Jurus ini dipraktikkan ketika Anda harus antri di gerbang tempat menempelkan kartu elektronik Commet (Commuter Electronic Ticketing) yang ternyata sangat lambat responsnya itu (lebih cepat yang manual). Apalagi jumlah gerbangnya sedikit, cuma 2-3 buah, sedangkan arus penumpang sangat banyak. Jurus ini juga dipakai ketika Anda meninggalkan stasiun di tempat tujuan, karena untuk keluar stasiun pun ternyata harus antri panjang. Padahal bus yang mau Anda tumpangi terlihat sudah mau jalan di depan stasiun.

Ketiga, jurus kera (Monkey Fist). Kalau di film silat Hong Kong, jurus ini diperagakan oleh aktor kawakan Chen Kuan Tai. Jurus ini diperlukan untuk bisa bergerak gesit masuk ke gerbong, atau lincah naik ke atap gerbong (ini berlaku untuk kereta kelas Ekonomi).

Keempat, jurus “Ilmu Badan Besi” (lihat film “the Invincible Armour” yang dibintangi Liu Chung Liang dan Huang Chen Lie). Jurus kekebalan, yang awalnya dimaksudkan untuk kebal menghadapi bacokan senjata tajam ini, diperlukan untuk mendesak masuk ke gerbong manakala penumpang di dalam gerbong sudah sangat padat. Bahkan di pintu gerbong pun sebetulnya sudah tak ada ruang untuk berdiri dengan lega.

Kelima, jurus ular (Snake Fist). Jurus yang dikuasai Jacky Chen dalam film “Snake in the Eagle’s Shadow” ini diperlukan, agar tubuh kita bisa luwes di dalam gerbong, ketika ditekan dari kanan-kiri dan depan-belakang. Jadi bisa melejit atau nyeplos di sela-sela kepadatan.

Keenam, jurus “Berat Badan Seribu Kati.” Jurus ini berfungsi untuk menjaga kestabilan dan kuda-kuda Anda, ketika menghadapi dorongan dari kanan-kiri dan depan-belakang, serta ayunan (swing) yang disebabkan oleh pergerakan kereta. Maklum kereta Commuter terkadang suka mengerem atau menambah kecepatan tiba-tiba.

Ketujuh, jurus katak (Frog Fist). Jurus ini awalnya bertujuan melatih ketahanan menyelam dan menahan napas dalam air. Nah, dalam konteks gerbong yang sangat padat, ini melatih Anda untuk mampu menahan napas agar tidak megap-megap pingsan, ketika badan dan paru-paru dihimpit dari depan.

Alhasil, saya sampaikan apresiasi pada PT. Kereta Api Indonesia, yang secara tak disengaja telah memaksa para pengguna kereta untuk melatih fisik dan kemampuan kungfu mereka. Selain membuat tubuh jadi sehat dan bugar, siapa tahu dari antara para penumpang bisa dihasilkan atlet-atlet olahraga beladiri yang bisa diandalkan, untuk diikutsertakan di Asian Games atau Olimpiade. Siapa tahu, bukan? Kita kan harus selalu berpikir positif.

Jakarta, 19 Juli 2013
Satrio Arismunandar.

Penggemar karya Kho Ping Hoo, Gan KL, O.K.T, Ganes TH, Hans Jaladara, Djair, Hasmi, Wid NS, Kus Bramiana, Teguh Santosa, Yan Mintaraga, Har, dll.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)