Etika dan Moralitas Menurut Sartre dan Kant (Part 2)


Etika Kebebasan Sartre


Kant dan Sartre masing-masing secara terpisah menawarkan "imperatif moral," yang seperti Aturan Emas (Golden Rule), merupakan panduan umum satu-kalimat, yang bisa diperlakukan sebagai sebuah kerangka etis (ethical framework).

Sartre menyatakan, dalam menciptakan manusia yang kita inginkan untuk menjadi (seperti manusia) itu, tidak ada satu pun dari tindakan-tindakan kita yang pada saat yang sama tidak menciptakan citra manusia, sebagaimana yang menurut pikiran kita seharusnya memang demikian.

Untuk memilih menjadi yang ini atau yang itu, adalah untuk menegaskan pada saat yang sama, nilai apa yang kita pilih, karena kita tidak akan pernah bisa memilih kejahatan. Kita selalu memilih kebaikan, dan tidak ada yang bisa menjadi baik bagi kita tanpa menjadi baik bagi semua manusia. Artinya, dalam setiap tindakan apapun, saya menciptakan citra tertentu manusia, dari pilihan saya sendiri. Dalam memilih diri saya sendiri, saya memilih manusia.

Dalam setiap saat, saya berkewajiban melakukan tindakan-tindakan yang menjadi contoh (exemplary acts). Bagi setiap manusia, segala sesuatu terjadi seolah-olah seluruh kemanusiaan selalu menatap dirinya, dan seluruh kemanusiaan membimbing dirinya sendiri dengan apa yang ia lakukan.

Dan setiap manusia seharusnya berkata pada dirinya sendiri, "Apakah saya benar-benar jenis manusia yang memiliki hak untuk bertindak dengan cara tertentu, di mana kemanusiaan mungkin membimbing dirinya sendiri berlandaskan pada tindakan-tindakan yang saya lakukan?" Jika kita tidak menanyakan hal ini kepada diri sendiri, berarti kita menyembunyikan kecemasan (anguish) kita.

Sartre tampaknya percaya, ia telah menurunkan wawasan ini dari prinsip-prinsip pertama. Ia tampaknya tidak berpikir bahwa imperatif ini memiliki nilai preskriptif. Jika Sartre dianggap mengembangkan suatu etika, maka ia melandaskan etikanya pada nilai kebebasan.

Jika pandangan Sartre ini dinyatakan kembali dalam bentuk preskriptif, bunyinya menjadi: Ketika memilih sebuah langkah tindakan, asumsikan bahwa seluruh umat manusia akan menggunakan diri Anda sebagai model dan akan membuat pilihan yang sama pada situasi yang sama.

Sartre bahkan sudah mengembangkan suatu cara, untuk memastikan bahwa tak seorangpun bisa menghindar dari penerapan imperatif ini. Imperatif itu bekerja seperti ini:
Jelas, banyak orang percaya bahwa ketika mereka melakukan sesuatu, mereka sendiri adalah satu-satunya yang terlibat dalam tindakan itu. Maka, ketika seseorang bertanya kepada mereka, "bagaimana jika setiap orang bertindak seperti yang Anda lakukan?", mereka hanya mengangkat bahu sambil menjawab: "Tidak setiap orang bertindak seperti itu." Namun, benar-benar, orang seharusnya selalu bertanya pada dirinya sendiri, "Apa yang akan terjadi jika setiap orang memandang segala sesuatu dengan cara seperti itu?"

Kalimat terakhir ini bukan sekadar pengulangan dari yang pertama, "melihat segala sesuatu dengan cara seperti itu" merujuk ke sikap dari sejumlah orang yang tidak perdulian. Dengan kata lain, Anda menanyai seseorang, "bagaimana jika setiap orang bertindak seperti yang Anda lakukan," dan orang itu hanya mengangkat bahu. Kemudian Anda terus bertanya, "bagaimana jika setiap orang hanya mengangkat bahu, ketika ditanyai dengan pertanyaan seperti itu?" Seperti dikatakan Sartre, tidak ada cara untuk menghindar dari pikiran yang mengganggu ini, kecuali mungkin dengan menipu diri sendiri (self-deception).

Imperatif Sartre mencakup seluruh perilaku manusia. Bahkan, jika kita berada sendirian di tengah gurun pasir, kita tidak bisa menghindari tanggung jawab dari bertindak dengan cara yang --menurut pikiran kita-- akan dilakukan oleh setiap manusia lain dalam situasi yang sama.

Bahkan, dalam peristiwa yang langka, ketika kita menghadapi situasi yang sepenuhnya baru, pilihan dari tindakan-tindakan yang tak pernah dihadapi oleh siapapun sebelumnya, kita harus memperhitungkan kemungkinan bahwa seseorang, di suatu waktu, akan berada dalam situasi yang sama. Dan, kita menanyai diri sendiri: "Apakah saya ingin mereka untuk bertindak seperti ini juga?" Jadi, cakupan imperatif ini jauh lebih luas daripada Aturan Emas, yang benar-benar hanya mencakup interaksi personal antara orang yang setara (equals).

Universalisasi pilihan-pilihan individual Sartre ini mengingatkan pada aturan moralitas tertinggi Kant, yakni imperatif kategoris. Berdasarkan imperatif kategoris itu, manusia wajib bertindak dengan cara tertentu hanya jika berdasarkan prinsip yang melandasi tindakan Anda itu dapat menjadi hukum universal.

Kant melandaskan imperatif kategoris dan seluruh moralitas pada nalar (reason), yang menurutnya menentukan secara a priori apa yang benar dan yang salah. Imperatif kategoris menuntut seseorang untuk secara sederhana tinggal "berbuat begini" atau "jangan berbuat begitu," apapun situasi yang dihadapinya. Sebaliknya, Sartre menegaskan bahwa tidak ada hukum moral a priori, dan bahwa hukum formal Kant itu tidak memadai sebagai bimbingan bagi tindakan konkret dalam kehidupan sehari-hari.

Etika Sartre bukanlah sebuah etika otonomi seperti Kant, namun sebuah independensi moral, individualitas terhadap mana subyek menolak ketundukan terhadap suatu hukum eksternal, karena menganggap dirinya sendiri sebagai satu-satunya sumber nilai. Jadi, apa yang dilakukan orang itulah yang menentukan moralitasnya.

Dari sudut pandang eksistensial, segala sesuatu --tindakan, kepercayaan, perasaan, dan sikap-- adalah soal pilihan. Namun, tidak ada patokan moral dan tidak ada standar nilai-nilai yang obyektif untuk membimbing dalam membuat keputusan tentang pilihan-pilihan itu.

Setidaknya ada tiga kritik Sartre terhadap teori moral Kant. Pertama, berkaitan dengan karakter abstrak dari sistem moral Kant. Menurut penafsiran Sartre, dalam mengembangkan sistem moralnya, Kant berharap mampu merumuskn precept moral yang akan membimbing orang keluar dari predikamen moral. Bagaimanapun, jenis teori moral yang dibayangkan Kant --menurut pembacaan Sartre-- tidak sanggup memperhitungkan kesatuan (singularitas) manusia dan situasinya, dan karena itu pada akhirnya ia tidak mampu membimbing tindakan.

Kritik kedua Sartre mempertanyakan individualisme Kant. Bagi Sartre, imperatif kategoris mensyaratkan anggapan sebelumnya tentang adanya relasi antara individu-individu yang bebas. Dari perspektif ini, etika Kant adalah suatu ekspresi dari bad faith, karena etika Kant mencoba melandaskan imperatifnya dalam pilihan otonom seseorang, yang bisa didefinisikan sebagai pilihan yang mematuhi hukum moral.

Karena Kant mereduksi apa yang seharusnya hasil dari hubungan antar-personal (interpersonal) menjadi proses keputusan intrapersonal, Kant hanya dapat melegitimasi sistem moralnya dengan mistifikasi individualistik. Hal yang terakhir ini akan menyisihkan kecemasan dan tanggung jawab, yang dalam faktanya, hanya bisa dipertahankan oleh etika nilai-nilai.

Terakhir, Sartre mengritik "otoritarianisme" dalam teori moral Kant dan cast nalar. Bahkan jika etika Kant tidak bersifat abstrak dan individualistik, fakta bahwa kriteria moralitasnya adalah bersifat hukum yang universal dan tanpa syarat (universal and unconditional law), suatu fakta yang Kant tampaknya mencoba mempostulatkan sebagai terbukti dengan sendirinya (evident), mengisyaratkan bahwa Kant menggunakan suatu otoritas moral arrogated. Dengan demikian, cara Kant ini berkontradiksi dengan kebebasan, yang dianggap menjadi basis bagi sistem etisnya.

Meskipun para pemikir eksistensialis seperti Sartre tidak menawarkan patokan moral untuk menghakimi keputusan-keputusan etis, mereka memberi bobot arti penting yang sangat besar pada otentisitas. Mereka percaya, orang yang baik adalah yang mengakui kebebasan dan tanggung jawabnya, dan membuat pilihan-pilihan otentik.

Hanya melalui penerimaan terhadap tanggung jawab kita maka kita menjalani hidup dalam otentisitas. Untuk bisa bertanggung jawab, dan untuk hidup secara otentik, berarti secara intensional kita harus membuat pilihan-pilihan tentang kehidupan dan masa depan kita. Karena itu, untuk menemukan makna dalam kehidupan, individu harus menciptakan dunianya sendiri dan nilai-nilainya, dengan membuat pilihan-pilihan otentik.

Etika adalah soal tanggung jawab individu. Jika eksistensi mendahului esensi, maka orang tidak bisa menggunakan hakikat manusia sebagai dalih untuk membenarkan perbuatan jahat dan pilihan-pilihan buruk. Dalam pandangan Sartre, bahkan tidak ada yang dinamakan hakikat manusia. Manusia itu bebas dan sendiri. Sendiri karena Tuhan tidak eksis. Sebagai akibatnya, manusia tidak punya seseorang pun yang harus disalahkan kecuali dirinya sendiri.

Jakarta, Juli 2013

Satrio Arismunandar

Filsafat FIB UI

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)