Kebebasan Menurut Jean-Paul Sartre (Part 1)

Kebebasan menurut pemikiran Sartre bukanlah termasuk jenis-jenis kebebasan seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya. Dalam perspektif Sartre, kebebasan itu bersifat eksistensial, yakni kebebasan menyeluruh yang menyangkut seluruh pribadi manusia dan tidak terbatas pada salah satu aspek saja.

Kebebasan ini mencakup seluruh eksistensi manusia dan merupakan bentuk kebebasan tertinggi. Orang yang bebas secara eksistensial seolah-olah “memiliki dirinya sendiri.” Ia mencapai taraf otonomi, kedewasaan, otentisitas dan kematangan rohani. Ia lepas dari segala alienasi atau keterasingan, yakni keadaan di mana manusia terasing dari dirinya dan justru tidak “memiliki” dirinya sendiri.

Pemikiran Sartre bisa dicirikan lewat diktum sederhana: "eksistensi mendahului esensi." Ini berarti bahwa manusia tidak memiliki jiwa, hakikat, diri (self) atau esensi yang sudah ditentukan sebelumnya. Kita eksis tanpa kendala atau batasan apapun yang membuat kita harus eksis dalam cara tertentu. Kita eksis terlebih dahulu, dan sesudah itu barulah kita merumuskan esensi kita melalui cara kita hidup.

Sartre memberi contoh dengan sebuah segitiga dan sebuah pena. Baik segitiga maupun pena memiliki bentuk, esensi atau fungsi yang mendahului eksistensi konkretnya. Misalnya, agar sesuatu bisa disebut segitiga, ia harus memiliki tiga sudut dan jumlah ketiga sudut itu adalah 180 derajat. Hal semacam ini tidak bisa diterapkan pada manusia.

Pandangan Sartre yang menyatakan bahwa manusia hadir di dunia tanpa diri (self), jiwa atau esensi yang sudah ditentukan sebelumnya, bertentangan dengan sebagian besar tradisi filsafat Barat.

Menurut Sartre, ada dua macam entitas dalam eksistensi: being-in-itself dan being-for-itself. Beings-in-itself adalah segala sesuatu yang tak memiliki kesadaran, yang dapat dikatakan memiliki esensi, yang eksis secara independen dari pengamat manapun dan yang membentuk seluruh benda (things) di dunia.

Sedangkan beings-for-itself adalah yang memiliki kesadaran, di mana kesadaran itu membuatnya secara keseluruhan berbeda dari benda lain (things), dalam relasi mereka baik terhadap diri mereka sendiri maupun terhadap satu dengan yang lain, dan terhadap benda-benda lain.

Kebebasan adalah kekuasaan untuk melakukan sesuatu, dan ini adalah bagian dari kesadaran. Jadi, perbedaan antara sadar dan tidak sadar, antara for-itself dan in-itself, pada faktanya adalah sama dengan perbedaan antara bebas dan tidak-bebas (determined).

Jakarta, Juli 2013

Satrio Arismunandar

Dikutip dari seminar hasil penelitian di Filsafat FIB UI

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)