Kebebasan Menurut Jean-Paul Sartre (Part 2)


Argumen Sartre Bagi Kebebasan


Dalam bab "The Problem of Nothingness" di buku Being and Nothingness, Sartre memaparkan tiga argumen utama mengapa kita bebas, yang berputar di sekitar tiga tema: a) Mempertanyakan; b) Absensi (ketidakhadiran); dan c) Destruksi. Ketiganya itu tergantung pada kapasitas for-itself untuk negasi.

1. Mempertanyakan

Sartre mengungkapkan, ada aspek yang penting tentang kemampuan mengajukan pertanyaan. Ini mengingatkan kita pada pernyataan Descartes yang terkenal, "Saya berpikir, maka saya ada." Descartes mengungkapkan, fakta sederhana bahwa saya tidak akan pernah bisa meragukan eksistensi saya, memberikan satu-satunya kepastian yang dimungkinkan. Ketika saya meragukan atau mempertanyakan eksistensi saya di dunia, bagaimanapun juga, saya tidak bisa meragukan bahwa saya sedang berpikir.

Bagi Sartre, pengajuan pertanyaan itulah yang penting secara ontologis, bukan penting secara epistemologis. Pertanyaan yang dimaksud Sartre tidak bersifat Cartesian, tentang pengetahuan dan batas-batasnya. Terdapat kebenaran ontologis universal tentang situasi manusia, di mana fenomena pengajuan pertanyaan telah mengangkat satu hal penting: negasi. Sartre berargumentasi bahwa pertanyaan itu memperkenalkan negativitas ke dalam dunia, atau mengungkapkan ke-tidak-an (non-thing-ness) di dunia, setidak-tidaknya lewat tiga cara yang berbeda.

Pertama, setiap pertanyaan mengandung kemungkinan jawaban negatif. Setiap pertanyaan mengandaikan dua hal: sesuatu yang dipertanyakan dan seseorang yang mengajukan pertanyaan. Sebuah pertanyaan juga selalu mengharapkan jawaban. Jawaban itu mungkin negatif, dan dalam hal ini adalah negasi pertama, atau non-being, yang diintroduksikan oleh pertanyaan tersebut. Jika saya bertanya "Apakah Anda melakukan korupsi?", jawabannya mungkin singkat dan sederhana: "Tidak." Ini adalah negasi pertana dan yang paling jelas.

Kedua, setiap pertanyaan mengandaikan keadaan ketidaktentuan (indetermination), yakni tidak mengetahui jawaban. Hal ini bukan hanya bahwa jawaban terhadap pertanyaan tertentu mungkin sekadar "Tidak," namun juga penting bahwa dengan mengajukan pertanyaan itu, si penanya menempatkan dirinya --atau setidak-tidaknya mengakui-- berada di dalam keadaan ketidaktentuan. Yakni, keadaan tidak mengetahui jawaban. Ini adalah bentuk negasi keduia.

Ketiga, setiap pertanyaan memiliki jawaban, dan jawaban itu memaksakan suatu pembatasan (limitation) terhadap dunia. Pada akhirnya. Sartre menunjukkan bahwa setiap pertanyaan juga mengandaikan terdapat kebenaran dari hal yang ditanyakan tersebut. Dengan menanyakan "pukul berapa sekarang?", kita dengan diam-diam menerima bahwa ada waktu yang benar, bahkan sekalipun kita saat itu tidak bisa menyatakan seperti apa persisnya kebenaran itu.

Itulah sebabnya skeptisisme tidak konsisten dan sulit dipahami pada tingkatan praktis dan yang kita alami. Kita tidak bisa hidup dengan meragukan segala sesuatu, bahkan sekalipun Descartes dapat secara singkat melakukan hal itu secara teoritis (dan itu pun bisa diperdebatkan). Fakta bahwa pertanyaan mengasumsikan adanya kebenaran dari hal yang ditanyakan dan bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut adalah "ya" atau "tidak," ini berarti apapun jawaban yang diberikan, suatu pembatasan telah diintroduksikan ke dalam dunia. Ini adalah bentuk negasi ketiga.

Sartre menyimpulkan dari sini bahwa terdapat negasi, non-being, dan kita dilingkupi oleh Nothingness (ketiadaan). Hal mempertanyakan dan kapasitas bagi negasi adalah sesuatu yang tidak bisa diredusir ke benda-benda (things), atau obyek yang memiliki esensi. Sartre berargumentasi, di dalam Ada terdapat semacam ruang tak-terisi atau Nothingness, dan Nothingness inilah yang memungkinkan munculnya negasi atau nihilisasi. Maka hal ini, kemudian, adalah suatu butir ontologis. Dengan menganalisis eksistensi manusia, menjadi tampak bahwa kita me-negasi, dan Sartre berargumentasi bahwa hal ini hanya dimungkinkan jika nothingness adalah bagian dari struktur relasi manusia-dunia.

2. Destruksi

Bayangkanlah jika gedung Universitas Indonesia tempat kita kuliah tiba-tiba runtuh dan hancur berkeping-keping karena gempa bumi dahsyat. Dalam tingkatan tertentu, mungkin saja dikatakan bahwa tidak ada destruksi (kehancuran), karena yang terjadi hanyalah massa bangunan universitas mengalami redistribusi. Yang kita pahami pada tingkatan pra-refleksif, atau pra-yudikatif (pre-judicative) --yakni, sebelum penilaian-- adalah destruksi ini.

Umumnya, kita tidak harus membuat penilaian refleksif bahwa gedung universitas sudah hancur, bahkan sekalipun memang begitulah kenyataannya. Kita mengambil jarak dari "yang terberikan" atau "given" (reruntuhan bangunan universitas) untuk melihatnya dalam kerangka yang "bukan," yakni gedung Universitas Indonesia dalam kondisi puncak kemegahannya.

Menurut Sartre, manusia mengintroduksikan kemungkinan destruksi ke dalam dunia (dan mereka pada saat yang bersamaan memahami dan mengintroduksikan kerapuhan ke dalam dunia), manakala secara obyektif itu hanyalah sebuah perubahan. Namun, Sartre mengklaim, hal ini dilakukan bukan melalui tindakan penilaian (judgment). Namun, kita memahami Nothingness dan kita mengambil jarak dari yang terberikan, sebelum refleksi.

Di sini, kembali Sartre bertanya, bagaimana kita bisa menunaikan hal ini jika kita tidak bebas? Bagaimana kita bisa mengambil jarak dari apa yang ada di hadapan kita (misalnya, reruntuhan gedung universitas) untuk mengarah ke apa yang "bukan" (misalnya, gedung universitas dalam keadaan tegak utuh), dan semua itu dilakukan dalam suatu persepsi tunggal, jika kita tidak bebas?

3. Absensi (Ketidakhadiran)

Untuk negasi ketiga ini, ilustrasi yang paling dikenal dari buku Being and Nothingness adalah tentang ketidakhadiran Pierre di kafe. Sartre melangkah masuk ke kafe, karena sudah berjanji untuk bertemu temannya Pierre di sana, dan menemukan bahwa Pierre tidak berada di sana untuk menemuinya, seperti yang dijanjikan semula. Untuk hal yang sederhana ini, tidak diperlukan suatu penilaian refleksif yang mendalam.

Sartre berargumen bahwa ketika ia masuk ke kafe dengan harapan bisa bertemu Pierre, ia segera memperoleh firasat tentang ketidakhadiran Pierre, ketimbang membuat penilaian rasional dan kalkulatif bahwa Pierre tidak hadir. Ketika ia melihat ke orang berikut yang muncul di ambang pintu kafe, ia menihilkan mereka. Yaitu, ia segera melihat mereka dalam kerangka apa yang bukan mereka: Pierre. Dan, Sartre juga tak bisa menemukan ketidakhadiran Pierre di beberapa lokasi persis di dalam kafe tersebut. Hal yang mau ditunjukkan Sartre adalah ketidakhadiran itu menyebar ke seluruh ruangan dan segala yang berada di dalamnya.

Sekarang, ekspektasi Sartre bagi kehadiran Pierre di sana jelas dalam pengertian tertentu menyebabkan ketidakhadiran Pierre terjadi. Namun, Sartre berargumentasi bahwa ia menemukan ketidakhadiran itu, sekali lagi, secara pra-yudikatif. Ia mengetahui hal itu di dalam kafe dan ini --kata Sartre-- adalah "fakta obyektif pada momen tersebut."

Jika kita mencoba melakukan semacam permainan mental, dan membuat penilaian bahwa Presiden juga tidak ada di dalam kafe, hal ini tidak melibatkan kita dengan cara yang sama seperti ilustrasi tentang Pierre, walaupun secara logika itu mungkin benar. Menurut Sartre, hal ini menunjukkan, membuat penilaian bahwa seseorang tidak berada di sana melalui pemikiran refleksif adalah sepenuhnya berbeda dengan secara fenomenologis menemukan dan merasakan bahwa seseorang tidak hadir.

Butir yang ditegaskan Sartre, lagi, adalah bahwa kita tidak bisa memahami ketidakhadiran dan menyadari apa yang tidak ada di dalam kafe jika kita tidak bebas, jika kesadaran tidak dipisahkan secara radikal dari kawasan benda-benda (things).

Jakarta, Juli 2013

Satrio Arismunandar

(Dikutip dari seminar hasil penelitian, prodi Filsafat FIB UI)

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI